
Jangan lupa tekan like dulu yah sebelum baca. Kritik dan sarannya dikolom komentarβ.
.
...
.
πππππππππ
.
...
.
Dimalam pernikahan Max, Sidd menunggu Alia cukup lama. Gadis itu mengambil waktu yang lama untuk berdandan.
"Tuan, kenapa Kau tidak duduk saja. Kepalaku pusing melihatmu mondar mandir seperti itu. Kakak Ipar pasti butuh waktu lama untuk berdandan" celoteh Kabir.
"Berisik Kau," gerutu Sidarth.
Tak berapa lama Alia keluar dari kamarnya, dengan saree maroon yang membalut tubuhnya. Kabir langsung berdiri saat melihat Alia dan tersenyum kagum menatapnya.
"Kakak Ipar," sapa Kabir pelan.
Seketika Sidd membalikkan badannya, dan melihat Alia sudah berdiri dibelakangnya. Sidarth memandangnya mulai dari bawah sampai ke wajah Alia yang tersipu malu. Hatinya bergetar saat menatap Alia, jantungnya semakin berdegub kencang. Ditambah lagi dengan senyumannya yang membuatnya semakin terlihat cantik.
"Tuan, Kau hanya akan memandangnya saja?" tanya Kabir menepuk pundak Sidd hingga mengagetkannya. Alia tampak masih malu.
"Hmmm, yah.., maksudku bukan. Aa-aayo.." ucap Sidd salah tingkah, lalu berbalik dan berjalan terlebih dahulu.
Sidd membukakan pintu mobil untuk Alia, dengan senang hati Alia duduk dibangku depan.
"Selamat bersenang-senang Tuan," ucap Kabir tersenyum lebar.
Sidd mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. Diperjalanan, sesekali ia mencuri pandang menatap gadis disampingnya.
"Kenapa Kau menatapku terus?" tanya Alia yang membuat Sidarth segera mengalihkan perhatiannya lagi.
"Eeheemm, tidak apa-apa" jawabnya kembali fokus menatap ke depan.
"Malam ini Kau, Kau sangat cantik" ucap Sidd memberanikan diri mengutarakan isi pikirannya.
Alia tersipu malu, lalu memandangnya sambil tersenyum manis
"Terima kasih," jawabnya.
Sidd pun tersenyum senang, mobilnya terus melaju kediaman Keluarga Max.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Sesampainya ditempat Max, Sidd dan Alia memberi salam pada kedua Orangtua Max beserta Keluarga yang lainnya.
"Hei Sidd, apa kabar ?" sapa Max sembari memeluknya. "Kau terlihat berbeda sekarang" sambung Max melepas pelan pelukannya.
"Hai.., aaah.. tidak juga," ujar Sidd menepuk-nepuk pelan lengannya. Pandangan Max teralihkan pada wanita dibelakang Sidarth.
"Alia..," sapa Max juga.
"Hai..," tegur Alia sembari tersenyum. "Selamat yah, atas pernikahanmu" sambung Alia menyalaminya.
"Terima kasih. Oh ya Dimana Varun?" tanya Max tidak melihat sosok lelaki itu bersama Alia.
Senyuman Alia perlahan menghilang saat mendengar pertanyaan Max. Ia menatap Sidarth disampingnya.
"Alia datang bersamaku" sahut Sidd cepat.
"Oooh begitu rupanya, tapi kenapa kalian tidak datang bersama. Sudah lama Aku tidak bertemu, Aku merasa sangat merindukannya" ucap Max sumringah.
Sidd dan Alia saling berpandangan tak menjawab, tak lama kemudian Ibunya Max menghampiri dengan membawakan manisan.
__ADS_1
"Siddarth, ini terima manisan dariku. Maafkan Bibi karena tidak hadir dipernikahanmu" ucap Ibunya Max menyuapi Sidarth dengan manisan.
Sontak saja Max kaget dengan perkataan ibunya. Ibunya Max juga menyuapi Alia dengan manisan.
Sebelumnya, saat pertama kali datang tadi, Sidarth dan Alia memnghampiri kedua Orangtua Max terlebih dahulu. Karena Ibunya Max bertanya soal Alia yang datang bersamanya, Sidd terpaksa mengatakan bahwa Alia adalah Istrinya
Max masih tak percaya dengan ucapan Ibunya. Sidd dan Alia masih terdiam saat Max menatap mereka heran.
"Kalian..?" ucapnya sambil memandang Alia dan Sidd.
Alia menunduk tak menjawab, lalu Sidd menggenggam tangannya, membuat Alia sedikit tenang. "Yah, kami sudah menikah" jawab Sidd kemudian.
"Benar-benar sulit dipercaya. Kenapa bisa seperti ini, apa yang terjadi ?" tanya Max merasa sangat penasaran.
Setelah sekian lama berpisah dari sahabat-sahabatnya, ternyata banyak perubahan yang terjadi. Sidarth dan Alia hanya terdiam.
"Teman, Aku hanya khawatir, kalian masih baik-baik saja kan?" tanya Max kemudian.
"Hmm..," angguk Sidd pelan.
"Sayang, Kau disini ? aku mencarimu kemana-mana, ayo upacaranya akan dimulai" tegur Sara menghampiri mereka.
"Maaf, oh ya kenalkan mereka sahabat kuliahku. Siddarth dan Alia Istrinya" ucap Max memperkenalkan mereka.
Sidd memberi salam, Alia bersalaman saling beradu pipi kiri dan pipi kanan.
"Selamat atas pernikahan kalian" ucap Alia.
"Terima kasih," jawab Sara tersenyum.
Sara pun mengajak Alia pergi bersamanya, tanpa disadari Alia menjatuhkan anting saat cipika cipiki dengan Sara tadi. Sidd yang melihatnya dengan cepat memungutnya kembali.
Ritual upacara pernikahan dimulai, Sidd dan Alia berdiri berdampingan sambil melemparkan bunga-bunga pada kedua pengantin.
Sidd kembali terbayang saat pernikahannya dengan Alia, yang tanpa disangka. Dia yang menjadi mempelai laki-lakinya saat itu. Apa itu suatu keberuntungan atau sebuah pengkhianatan. Ia masih merasa bersalah dengan sahabatnya, Varun.
Setelah beberapa lama, Sidd dan Alia mengucapkan selamat lagi pada kedua pasangan dan Keluarga itu. Karena hampir larut malam, mereka kemudian berpamitan untuk segera pulang.
"Yah, terima kasih. Sayang sekali Varun tidak datang" ujar Max terlihat kecewa. Alia malah merasa lega karena tidak bertemu Varun dipesta itu.
"Aliaa..," ucap Sidd memecah keheningan diantara keduanya.
"Hmm," ucapnya berbalik.
Sidd menghentikan langkahnya lalu mengukurkan tanganya. Alia tampak kebingungan. Sidarth kemudian membuka genggaman tangannya, yang ternyata ada anting Alia tadi.
"Anting?"
"Lain kali hati-hati.." ujar Sidd lalu berdiri disamping Alia. Ia menyibakkan rambut Alia ke belakang telinganya, lalu memasangkan anting itu kembali. Sesekali, Sidarth menatap wajah Alia yang begitu dekat. Alia berdebar-debar dengan perlakuan Sidd yang begitu mesra. Setelah selesai Sidd pun berjalan lebih dulu, Alia masih tertegun melihatnya.
Dari kejauhan Varun menahan amarah melihat kemesraan mereka. Ternyata sedari tadi Varun juga datang ke pesta itu, tapi dia langsung berbalik saat melihat kebersamaan Sidd dan Alia yang tampak bahagia saat bercengkerama dengan Max dan Sara tadi.
Varun kembali duduk ke mobilnya, lalu meneguk botol minuman menunggu Sidd dan Alia keluar. Masih terngiang kembali olehnya ucapan Ny. Tara, memang ada sesuatu di antara mereka. Dari tatapan Siddarth memang terlihat ada secercah cinta dimatanya, pikirnya lagi.
Siddarth kemudian mengendarai mobilnya. Semula perjalanan mereka terasa nyaman, namun tiba-tiba sebuah mobil menabrak mereka dari belakang.
Sidd dan Alia kaget bukan kepalang. Sidd menoleh ke belakang, namun tak bisa melihat siapa yang menabraknya.
"Sidd.," ucap Alia mulai cemas dan ketakutan.
"Tenanglah, kencangkan sabuk pengamannya" sahut Sidarth. Sidd menambah kecepatan mobilnya menghindari mobil itu.
Namun, lagi-lagi mobil itu kembali memepetnya hingga Sidd hilang kendali. Sampai ditikungan mobil Sidd terjungkal dan terbalik. Sidd mengalami cedera dikaki dan dikepalanya.
"Aaaaahg..," rintihnya mencoba menggerakan kakinya. Namun, kakinya tersangkut dan sukit untuk ditariknya. Sidd masih bisa mendengar suara Alia yang merintih.
"Sidd.., Sidd..," rintih Alia yang cedera ringan dikepala karena benturan tapi masih sadar dan berusaha meraih tangan Sidarth.
"Alia, Kau baik-baik saja. Tenanglah, Aku akan membantumu" ucap Sidart pelan. Ia kesulitan untuk menggerakkan badannya terhimpit.
Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu mobil yang terbalik itu dan lalu langsung menarik Alia keluar.
__ADS_1
"Aa-alia.," jerit Sidd saat tangan Alia terlepas dari genggamannya.
Alia yang ditarik paksa terkejut dan tak menyangka orang yang membantunya adalah Varun.
"Varrunnn.." ucapnya terperangah. Sidarth yang masih terhimpit juga terperanjat saat mendengar nama itu.
Varun mencoba menarik Alia segera pergi.
"Tunggu dulu, Sidd masih didalam" ujar Alia menarik tangannya. Ia tidak berpikir kalau Varun adalah orang yang mencoba mencelakainya dengan Sidarth.
Namun Varun meraih tangan Alia dan menggenggamnya dengan erat. "Biarkan saja, biarkan dia mati membusuk disana" pungkas Varun.
Sontak saja perkataan itu membuat Alia terkejut. "Aa-apa, jadi Kau yang melakukan semua ini?" tanya Alia tak percaya.
"Yah, dan sekarang Kau harus ikut bersamaku" bentak Varun sembari menariknya pergi.
"Lepaskan Aku! Aku tidak mau. Siiiddd..." jerit Alia mulai menangis. Varun tidak mengindahkan jeritan gdis itu, ia masih saja terus menarik Alia ke mobilnya.
"Siiiddd... Siddd.," teriaknya menangis.
Sidd mendengar teriakan Alia. Ingin rasanya ia berlari untuk menolong gadis itu, namun Ia masih berusaha untuk melepaskan kakinya yang masih terjepit.
"Kenapa Kau malah memanggilnya, bukankah Aku bersamamu" ucap Varun hingga membuat Alia terdiam.
Varun menarik Alia dengan kasar. Gadis itu terus meronta. Saat hendak memasukkan Alia ke mobil, Alia mendorong Varun hingga ia terjeremban. Alia kemudian mencoba untuk melarikan diri.
"AAAALIIIAAA.." teriak Varun murka lalu mengejarnya.
Alia terus berlari menjauh dari Varun. Namun, Varun ternyata lebih cepat darinya, lelaki itu dapat menangkap tangan Alia dan menariknya kembali.
"Varunn, lepaskan Aku..!" ronta Alia.
Plaaaaakkk
Karena hilang kesabaran, Varun terpaksa menampar wajah Alia dengan keras hingga gadis itu tersungkur. Sudut bibirnya pun berdarah.
Varun tak menghiraukan keadaan Alia yang terluka, malah dengan kasar Varun menarik selendang saree Alia hingga sobek. Gadis itu pun terkejut dengan perlakuan Varun. Laki-laki yang pernah dicintainya memperlakukannya dengan tidak senonoh.
"Varruuunn..," tangis Alia. Sebagian tubuhnya terbuka, dengan kasar Varun mencengkram mulut Alia.
"Aku benar-benar telah muak. Kenapa Kau lari dariku?. Bukankah kita saling mencintai, Aku hanya ingin bersamamu Aliaaaa" gerutu Varun ke wajahnya.
Alia semakin ketakutan dan diam tak menjawabnya. Ia bisa mencium aroma alkohol keluar dari mulut Varun saat wajahnya begitu dekat.
"Aku tidak ingin melakukan ini padamu, tapi Kau memaksaku melakukannya" ucapnya marah.
Airmata Alia terus mengucur keluar. Cengkraman Varun mulai melunak. Ia menatap Alia dalam, semakin mendekati bibirnya. Alia yang tak cukup tenaga pasrah, dia pun menutup matanya karena merasa jijik pada perlakuan Varun.
Setelah cukup lama Alia tak merasakan apa-apa. Saat dia membuka matanya, ternyata tubuh Varun sudah terpental.
Sidd sudah berdiri dihadapannya bertarung melawan Varun. Melihat sebagian tubuh Alia yang terbuka, semakin membuat Sidd naik darah. Ia kembali menarik dan menghajar Varun membabi buta.
Varun mencoba menangkis dan membalas serangan Sidd. Namun, ia kalah cepat. Melihat keadaan Alia semakin menambah kekuatan Sidarth untuk menghajar Varun. Sidath meraih tangan Varun dan menghempaskannya ke mobil hingga kacanya pecah.
Kedua pemuda itu sama-sama terluka, Varun karena pengaruh alkohol kalah banyak akhirnya tak berdaya dan pingsan disisi mobil.
Dengan kaki yang berdarah dan kepala yang terluka, Sidd berusaha berjalan perlahan menghampiri Alia. Gadis itu masih terduduk membelakanginya menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
Sidd mengambil ujung selendang sareenya dan menutupi sebagian tubuh Alia kembali. Alia berbalik dan langsung memeluknya erat. Alia menangis sejadinya. Perlahan Sidd melekatkan tangannya memeluk Alia juga. Ia merasa lega gadis itu baik-baik saja. Namun, ia masih tidak terima atas perlakuan Varun yang sudah melecehkannya.
.
...
.
ππΊππΊππΊππΊππΊ
.
...
__ADS_1
.
To be continueβ