
Dukung Author yuks, tekan like, rate dan vote yahπ. Krisannya tulis di kolom komentar yahππ.
.
...
.
πππππππππ
.
...
.
Alia beranjak meninggalkan Cafe Shop setelah bertemu dengan Varun. Meski Varun sudah mengatakan ingin mengantarnya pulang tapi dia tetap bersikeras menolaknya, karena ia takut bila diketahui oleh Ibunya nanti.
Diperjalanan saat menuju Stasiun, tiba-tiba sebuah mobil datang menghampiri dan berhenti didepannya. Seorang lelaki bertubuh kekar keluar dan mencoba menarik Alia ke dalam mobil.
"Siapa Kau, lepaskan Akuuu" teriak gadis itu meronta. Tanpa pikir panjang, Alia menendang bawah perut laki-laki itu dengan keras. Lelaki itu meringis karena kejantanannya terasa mau pecah, ia melepas cengkeraman tangannya pada Alia.
Gadis itu kemudian berlari sekuat tenaganya. Teman-teman lelaki itu terpaksa turun karena buruannya lepas.
"Dasar bodoh, menangani gadis kecil itu saja Kau tidak becus" maki Bosnya jengkel. Lelaki itu masih meringis sembari mengapit kejantanannya. "Kalian cepat kejar gadis itu, CEPAAATT..!!" teriak Bos bandit itu.
Beberapa Anak buahnya bergegas mengejar Alia yang telah melarikan diri terlebih dahulu. Perasaan Alia semakin cemas saat melihat mereka mengejarnya. Alia tampak berlari disela-sela mobil yang berhenti diperapatan lampu merah.
"Alia..," bathin Sidd yang melihatnya berlari ketakutan. Sidd sedang berada diseberang jalan, yang saat itu juga berhenti. Tanpa memperdulikan lampu yang masih merah, Sidd menancap gas motornya menyusul Alia.
Saat hampir dekat, dengan cepat menangkap salah satu dari mereka dan melemparnya ke belakang. Teman-teman bandit itu berbalik arah, menghadang lelaki itu. Sidd menghentikan sepeda motornya dan bersiap menghadapi oara bandit itu.
Alia tak melihat penjahat itu mengejarnya lagi, ia pun berhenti berlari. Dan melihat Sidd sedang bertarung dengan para penjahat itu. Satu persatu dari mereka dikalahkan oleh lelaki itu, hingga tak berlari melarikan diri. Alia merasa lega, karena jiwanya tertolong saat itu. Ia pun berlari ke arah Sidd dan langsung memeluknya dengan erat.
"Sidd..., Aku sangat takut," ucapnya menangis tersedu. Tanpa disadari, Sidd melingkarkan tangannya ke punggung Alia dan memeluknya dengan erat.
"Tenanglah, semua baik-baik saja" ujar Sidd menenangkan. Entah kenapa ia begitu mencemas gadis itu. Namun sekarang ia merasa lebih lega karena bisa menyelamatkannya.
"Ayo, Aku mengantarmu pulang" ajak Sidd. Ia masih khawatir kalau penjahat itu menguntit gadis itu lagi.
Sesampai dirumah, Alia mendapati Ibunya sudah sampai terlebih dahulu.
"Alia, Kau darimana saja ? Ibu cemas memikirkanmu" ucap Ibunya khawatir.
Alia tampak bingung. Wajahnya terlihat pucat. Ibu Parwati mulai menatapnya curiga.
__ADS_1
"Apa hari ini Kau bertemu dengan Varun ?" tanya Ibunya tiba-tiba.
Alia menunduk tidak menjawab.
"Sudah berapa kali Ibu katakan, jangan berhubungan lagi dengannya. Apa Kau tidak mengerti ?" pungkas Ibu Parwati membentak putrinya. Alia tak berani menyahut perkataan Ibunya.
"Ii-ibu.., Aa-aku.," ucapnya terbata-bata.
"Bibi.., sebenarnya Alia pergi bersamaku. Maaf Aku membawanya tanpa meminta izin padamu" sahut Sidd mencoba menengahi.
"Apa..?"
Alia terperangah saat mendengar perkataan Sidd. Tiba-tiba lelaki itu membelanya, dan juga berbohong kepada Ibunya.
"Benarkah?" Tanya Ibu Parwati.
"Iya, hari ini Aku mengajak Alia untuk mencarikan beberapa barang. Sungguh Aku benar-benar minta maaf Bibi π" ujar Sidd memohon. Padahal sebenarnya ia tidak ingin melihat Alia dimarahi oleh Ibunya saja. Sidd terpaksa berbohong.
"Ii-ibu..," ucap Alia menunduk.
Sepertinya Ibu Parwati mempercayai perkataan Sidd. "Ya sudah, tapi lain kali jangan diulangi. Ibu hanya mengkhawatirkan keselamatanmu saja" ucap Ibunya dengan tenang. Siddarth merasa sedikit lega, begitu pun dengan Alia. "Ibu ke dalam dulu," sambung Ibu Parwati, lalu beranjak pergi.
Alia menghembuskan nafasnya. Hari ini Sidd benar-benar menjadi Dewa penolongnya. Pertama menyelamatkannya dari para penjahat itu, dan kedua menyelamatkannya dari kecurigaan Ibunya. Alia menatap Sidd lekat.
"Sidd, terima kasih ya. Kau sudah membantuku hari ini" lirihnya.
"Iya," jawabnya singkat. "Duduklah, Aku akan mengambilkan air untukmu" sambung Alia kemudian.
"Tidak usah, Aku harus pergi" ujarnya.
"Kau tidak boleh menolaknya kali ini" sahut Alia berlalu. Dengan terpaksa Sidd menuruti perkataan gadis itu. Ia kembali menghenyak pelan di sofa lusuh yang terpampang diruangan itu.
Alia menuju dapur untuk membuatkan teh untuk Siddarth. Disana Ibu Parwati sedang meracik masakan untuk makan malam.
"Alia," tegurnya.
"Iya bu," jawabnya menoleh.
"Ibu tahu, Sidd hanya mencoba untuk membelamu tadi." Perkataan Ibunya membuat Alia tersentak. Ia kembali menunduk. Sebenarnya wanita paruh baya itu mengetahui dari tatapan mata Sidd yang tidak ingin menatapnya saat bicara. Saat itu juga ia tahu, kalau Sidd berbohong. "Untuk terakhir kalinya Ibu meminta padamu untuk menjauhi Varun. Ibu tidak ingin kehilangan separuh dari jiwa Ibu lagi. Kau mengerti maksud Ibu kan ?" ujar Ibunya dengan lunak. Alia semakin menunduk.
"Apa Sidd yang membantu mempertemukanmu dengan Varun?" tanya Ibu Parwati.
"Tidak Bu, Aa-aku bertemu dengannya dijalan saat Aku dikejar-kejar penjahat" sahut Alia. Ia tidak ingin kalau sampai Ibunya menyalahkan Siddarth atas perbuatannya sendiri.
Ibu Parwati menghentikan sejenak pekerjaanya. Ia sedikit shock mendengar perkataan Alia yang keceplosan. Namun ia mencoba untuk tenang agar tidak didengar oleh Siddarth diluar.
__ADS_1
"Hari ini Sidd membantumu, lalu bagaimana jika lain kali dia tidak bersamamu. Siapa yang akan melindungimu?" ucap Ibu Parwati dengan tenang. Walau didalam hati ia masih jengkel dengan sikap bandel Alia.
"Iya Bu, Aku mengerti," jawab Alia pelan.
"Ya sudah, katakan pada Sidd untuk makan malam disini. Ibu memasak ayam mentega untuk makan malam. Waktu itu Ibu perhatikan dia sangat menyukainya" ujar Ibunya sembari tersenyum.
"Iya Bu," balasnya sembari berbalik. Alia kembali menghampiri Sidd dengan membawakan secangkir teh untuknya.
"Sidd, maaf ya menunggu lama" ucapnya memberikan teh, lalu duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa," jawabnya sambil meniup perlahan teh yang dberikan Alia. Sidd memperhatikan wajah Alia yang terlihat lesu. "Ada apa, apa Bibi memarahimu lagi?" tanya lelaki itu.
"Tidak," jawabnya singkat. Ia kembali tersenyum. "Oh ya Sidd, hari ini Ibu memasak ayam mentega, Kau tidak keberatan kan makan malam disini?" ucap Alia kembali.
Wajah Sidd tampak sumringah. Tapi Ia mencoba menyembunyikannya. "Tapi Alia, Aa-aaku..," Sidd merasa tidak enak hati, jika terus merepotkan Alia dan Ibunya.
"Ini Ibu yang memintanya, Kau jangan menolaknya. Ok ?" Dengan senang hati, Sidd mengangguk pelan. Lagipula, Ibu Parwati sangat baik kepadanya selama ini.
Sidd berada di rumah Alia hingga waktu makan malam tiba. Alia membantu Ibunya menyajikan makanan, menu utamanya tentu saja ayam mentega yang dimasak tadi Ibunya tadi.
"Sidd, ayo makanlah !" ucap Ibu Parwati tersenyum.
Sidd mengangguk dan menatap makanan yang ada didepannya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera melahap habis. Namun perasaan itu ia tahan karena malu dilihat oleh Alia dan Ibunya. Ia pun makan dengan perlahan, namun sangat menikmatinya.
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Di Kediaman Keluarga Khanna,
Dengan wajah kesal Ny. Tara meletakkan ponselnya. Kabar yang dia terima dari orang suruhannya membuat dia sangat geram.
"Lagi-lagi dia selamat. Haaaahh.. Kalau Siddarth selalu menyelamatkannya, Aku tidak akan bisa menyingkiran gadis itu" gerutu Ny. Tara mengepal tangannya.
"Aku harus mencari cara lain" gumam Ny. Tara didalam hatinya.
.
...
.
πππππππππ
.
...
__ADS_1
.
To be continueβπ