
Selamat berkunjung diceritaku, silakan tinggalkan like dan vote nya, makasih🙏.
.
...
.
💖💖💖💖💖💖💖
.
...
.
"Apaa.., menikah ?"
Ny. Tara tersentak kaget mendengar ucapan Varun. Namun, ia mencoba untuk tenang dalam menghadapi Carun saat ini.
"Iya..," jawab Varun mengagguk.
"Tapi Varun..," Ny. Tara mencoba untuk menyangkal Varun, namun putranya terlebih dahulu berlutut dihadapannya.
"Ibuu...,(berlutut ), Aku rela kehilangan segalanya Bu, asalkan Aku bisa bersama Alia. Aku bahkan rela bekerja sebagai kuli demi orang yang Aku cintai. Aku mohon kepada Ibu, jangan pisahkan Aku dengan wanita yang kucintai" ucap Varun melipat kedua sisi telapak tangannya. Lelaki itu sampai mengeluarkan buliran bening dar kedua matanya.
Ny. Tara memandang wajah Varun yang tampak sungguh-sungguh. Ia meraih kedua tangan Anaknya, dan memeluknya perlahan. Setelah itu, ia berbalik meninggalkan Varun tanpa berkata apapun.
"Ii-ibu..," panggil Varun.
Ny. Tara kembali melangkah menuju kamarnya. Sesampai disana, ia mengunci pintu kamarnya dan mengurung diri hingga pagi menjelang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Varun memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Alia. Walau dengan perasaan cemas dan khawatir, kalau kedatangannya tidak disambut baik oleh Ibu Parwati nanti.
Varun duduk samil menundukkan kepalanya. Ibu Parwati duduk disebelah Alia.
"Kau datang kemari, apa Ibumu tidak akan marah atau mengirim orang untuk menyakiti putriku lagi ?" ketus Ibu Parwati dengan tatapan tidak suka.
"Aku minta maaf Bu," ucapan Varun.
"Lalu, kenapa Kau masih kemari ?" tanya Ibu Parwati menatap heran.
"Ibu, Aa-aaku ingin menikahi Alia Bu," ucap Varun dengan lirihnya.
Sontak membuat Ibu Parwati membelalakan matanya. "Menikah..?" ucap Ibu Parwati memandang Varun tak percaya.
"Varun, apa yang Kau katakan, menikah ?" tanya Alia pula.
"Yah., Aku tidak bisa membiarkan Ibuku selalu menyakitimu. Demi keselamatanmu, Aku akan menikahi denganmu secepatnya. Setelah menikah, Kau senantiasa bersamaku setiap saat, Ibuku tidak akan bisa menyakitimu lagi" jawab Varun dengan yakin.
"Bagaimana mungkin, kalau Kau sampai menikahi Alia itu akan membuat Ibumu semakin murka. Aku tidak akan membiarkan hal itu" pungkas Ibu Parwati.
"Aku mohon Ibu, biarkan Aku menikah dengan Alia. Aku berjanji akan selalu melindunginya. Aku rela berpisah jauh dari Ibuku, Aku akan membawa Alia pergi bersamaku kalau perlu" balas Varun sembari meraih tangan Ibu Parwati.
__ADS_1
Ibu Parwati terdiam sejenak.
"Aku mohon Ibu, jangan pisahkan Aku dengan Alia. Aku sangat mencintainya, berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya Ibu" ucap Varun memohon. Airmatanya tak terbendung, niatnya benar-benar tulus ingin menikah dengan Alia. Alia juga ikut meneteskan airmatanya, karena merasa terharu melihat keseriusan Varun.
Ibu Parwati dapat melihat kebahagiaan dimata putrinya. Ia kembali menoleh kepada Varun yang memohon. "Lalu bagaimana dengan Ibumu?" sahut Ibu Parwati dengan nada pelan.
Varun terdiam sejenak. Ia juga tampak bingung untuk membujuk Ibunya. Semalam, ia juga telah berusaha untuk membujuknya. Namun, ia tidak menanggapi permintaannya untuk menikah dengan Alia.
"Kalau pun Ibuku tidak merestuiku, Aku akan tetap menikah dengan Alia Bu," jawab Varun dengan tegas.
"Tapi, Aku tidak mau merusak hubungan antara Ibu dan Anak" pungkas Ibu Parwati.
"Varun Bibi pasti akan lebih sakit kepadaku, kalau Kau melakukan hal itu. Restu seorang Ibu menentukan masa depan anaknya, karena disetiap perkataannya adalah doa untuk kehidupan anaknya" ujar Alia.
Varun kembali terdiam.
.
...
.
💖💖💖💖💖💖💖
.
...
.
Varun masih tidak bicara dengan Ibunya. Ia mendiamkan wanita paruh baya itu beberapa hari. Ini dilakukan Varun agar Ibunya mengerti dengan perasaannya selama ini.
Karena merasa tidak tahan, diacuhkan Varun beberapa hari Ny. Tara terpaksa menghampiri putranya terlebih dahulu.
Malam itu, saat Varun sedang memeriksa beberapa file dikamarnya Ny. Tara mengetuk pintu kamar dengan pelan.
Tok...tok..tok
Ny. Tara membuka sedikit pintu kamar Varun. "Boleh Ibu masuk?" tanya wanita itu twrlebih dahulu.
Varun mengangguk pelan. Ny. Tara melangkah masuk dan duduk disisi ranjang putranya. Varun kembali mengalihkan pandangan ke layar laptop didepannya.
"Sudah beberapa hari ini, Kau tidak bicara pada Ibu. Kau masih marah kepada Ibu, Nak?" tanya Ny. Tara sembari membelai puncak kepala putranya yang tengah bekerja.
"Ibu merasa sangat kehilangan dirimu. Jika Kau bahagia bersama Alia, baiklah. Ibu akan merestui hubungan kalian" ucap Ny. Tara meneruskan perkataannya.
Sontak Varun menoleh seketika. "Aa-aapa?" Ia masih sedikit tak percaya perkataan itu terlontar dari mulut Ibunya.
"Ibu merestui hubunganmu dengan Alia, menikahlah dengannya !" ucap Ny. Tara mengulang pernyataannya lagi.
Varun melebarkan sudut bibirnya, seakan masih bermimpi mendengar hal itu.
"Ibu tidak sedang bercanda denganku ?" tanya lelaki itu masih tampak ragu.
"Sayang, Ibu tidak bercanda."
__ADS_1
Varun memeluk Ibunya seketika. Hal itu adalah bentuk luapan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
"Terima kasih Ibu. Akhirnya Ibu mengerti perasaanku" ujar Varun tersenyum lebar.
Ny. Tara mengangguk pelan. Lalu mengecup dahi putranya itu.
"Besok kita temui Alia dan Ibunya hmm..," ucap Ny. Tara yang membuat Varun semakin bertambah bahagia.
"Tentu saja Ibu" jawabnya mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya,
Sebelum berangkat ke rumah Alia, Ny. Tara terlebih dahulu memanggil seorang desainer khusus gaun pengantin dan tukang perhiasan kepercayaanya kekediamannya. Ia ingin membelikan gaun pengantin terbaik untuk calon menantunya itu.
Saat itu Varun baru kembali dari kantornya, ia sengaja pulang lebih awal karena hendak berkunjung ke rumah Alia segera. Langkahnya terhenti saat melihat Ibunya sedang berbicara dengan seseorang diruang tengah.
"Iya, Aku ambil yang ini saja" pinta Ny. Tara sambil meraih salah satu gaun terbagus.
"Ibu..," sapa Varun sembari mengerutkan dahinya.
Ny. Tara menoleh saat mendengar suaranya. "Sayang, Kau sudah pulang ? Ayo duduklah !" Pintanya.
Varun pun duduk sambil memperhatikan kesibukan Ibunya. "Varun, ini pasti cocok untuk Alia kan ?" tanya Ny. Tara sambil memperlihatkan perhiasan kalung.
"Maksud Ibu?"
"Sayang, Kau ini bagaimana? Bukankah Kau akan segera menikah, jadi Ibu membeli semua ini untuk Alia. Dan Kita berikan saat berkunjung kesana nanti" jawab Ibunya menjelaskan.
Varun memperhatikan semua barang-barang yang dipesan Ibunya. "Ibu, apa ini tidak terlalu cepat untuk memberikan mereka hadiah?" tanya Varun. Ia merasa Ibunya sangat berlebihan kali ini.
"Hei.., kenapa harus ditunda-tunda jika Kita bisa membelinya sekarang. Lagipula, secara tidak langsung Kita sudah membantu Akia dan Ibunya dalam hal ini, kan?" pungkas Ny. Tara sembari memberikan barang pesananya.
"Ini, tolong dikemas dengan rapi. Karena hari Aku akan menyerahkan semua itu kepada calon menantku" pinta Ny. Tara kepada pelayan-pelayannya.
Ny. Tara kembali menoleh kepada Varun. "Sayang, Kau tidak bersiap-siap dulu? Bukankah sebentar lagi kita akan segera kesana?" tanya Ny. Tara memperhatikan Varun yang tampak bingung.
"Ii-iya Bu, Aku siap-siap dulu" ujarnya sembari beranjak pergi.
.
...
.
💖💖💖💖💖💖💖💖
.
...
.
To be continue
__ADS_1