Classroom To Another World

Classroom To Another World
Perdagangan Budak


__ADS_3

"... Pst, kau pernah dengar …?"


"... Apa …?"


"... Rumornya mereka mulai berkumpul …."


"... Mereka mengumpulkan dan menjual beastman …."


"... Kesempatan bagus untuk menambah koleksi …."


Dans dan Dayat berada di sebuah bar. Mereka memasang telinga tajam-tajam sambil mendengarkan percakapan pelanggan lain. Sudah menjadi kebiasaan para slayer untuk beristirahat dalam bar. Mereka juga bertukar informasi di dalam sana. Dengan kata lain, selain sebagai tempat nongkrong, bar biasanya adalah tempat yang bagus untuk mendapatkan informasi. Cukup diam dan dengarkan suara sekecil apapun.


"... Siapa mereka …?"


"Kultus Bintang Malam yang Berkedip. Pernah dengar …?"


Sudah sangat berbeda Dans dan Dayat. Mereka berdua menjadi lebih pendiam. Lebih cool. Mereka adalah orang yang telah mengalami kejutan hebat dalam hidup mereka. Ada yang mengatakan bila seseorang yang telah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya akan berubah menjadi lebih pendiam. Itulah yang terjadi pada keduanya. Sudah tak bisa bercanda dan bersenang ria keduanya seperti sebelum dipanggil. Bermain-main, dan kau akan sadar saat kepalamu terpenggal.

__ADS_1


Mereka berdua memakai jubah hitam dengan tudung. Mengetahui nyawanya diincar sebelumnya, mereka berdua menjadi lebih waspada. Bukan hanya sekali saja ketika di dungeon, mereka telah diserang berkali-kali dalam hutan, gua, bahkan penginapan. Racun, serangan mendadak, hingga jebakan. Sudah banyak rintangan mereka lalui. Berterima kasih saja pada Suzuka. Tanpanya, mereka telah menjadi pupuk di dalam hutan.


"Kultus Bintang Malam yang Berkedip, apa kau pernah mendengarnya, Suzuka?" Dans bergumam.


Melalui telepati, Suzuka menjawab, 'Aku ingat pernah mendengarnya. Mereka terdengar di penginapan manapun kita pergi. Tebakanku, mereka adalah kultus keagamaan tertentu. Lebih baik jangan terlibat.'


Suzuka menjelma menjadi katana hitam. Dans membawa tubuh Suzuka di belakang punggungnya—dalam jubahnya. Salah satu kemampuannya, dia dapat berkomunikasi dengan kontraktornya, Dans, melalui hubungan telepati. Tugasnya dalam regu mereka, selain pelatih, dia menguping informasi. Mudah baginya untuk menyelundup. Tidak akan ada yang curiga pada katana. Juga, dia memiliki kemampuan penginderaan yang sangat tajam.


"Menurutmu bagaimana, Dayat? Ingin ikut mereka?" Dans menyeringai.


"Budak? Kenapa tidak?" Dayat balik bertanya. "Jujur, sangat sulit untuk berpergian. Kita tidak tahu tempat mana saja yang berada di bawah Pihak Kerajaan. Sebenar hampir semuanya malah. Selama kita berada di kerajaan ini, makan saja susah. Memilikimu budak akan sangat membantu."


Sangat parah memang masalah perbudakan. Melihat dari masalah di Bumi, dahulu Bangsa Barat melakukan perjalanan untuk menemukan dunia baru. Beberapa ada yang melakukan penjajahan di tempat baru temuan mereka. Mereka melakukan penjarahan dan perbudakan. Perbedaan suku bangsa turut menjadi salah satu faktor mengapa bisa terjadi perbedaan hak asasi manusia. Itu baru kasus ketika kejahatan antar manusia dengan manusia. Ciri fisik mereka tidak terlalu jauh. Sekarang di dunia sana, perbedaan fisik antar ras sangat jauh. Pemicu perbedaan hak asasi menjadi semakin parah.


Salah satu pelopor perbudakan adalah Kultus Bintang Malam yang Berkedip. Tidak cukup hanya memperbudak, mereka bahkan membuat doktrin kepercayaan sendiri. Mereka menganggap bila manusia lah ras paling unggul. Manusia lah ras yang seharusnya menjadi pemimpin dan pemilik dunia. Ras lainnya hanyalah pelayan—budak. Semua hal tak manusiawi boleh dilakukan oleh manusia pada mereka. Dengan paham sesat seperti itu, mereka berhasil mendapatkan banyak pengikut. Tentu saja karena menguntungkan. Menjarah orang lain artinya mendapatkan sesuatu. Orang-orang serakah pasti langsung bergabung.


Untuk Dans dan Dayat, mereka berdua murni hanya untuk mendapatkan pembantu. Mereka pergi ke tempat penjualan budak yang diadakan Kultus Bintang Malam yang Berkedip tidak memiliki itikad buruk. Tidak memiliki itikad buruk pada para budak, kalau pada kultusnya masih belum jelas. Sekarang, mereka berdua baru saja masuk ke tenda perkumpulan kultus.

__ADS_1


Di sana mereka berdua disambut oleh seorang lelaki. Lelaki ini memiliki perut besar cenderung obesitas. Dia memiliki kumis tipis di wajahnya. Di atas kepalanya, dia botak kinclong, tak memiliki sehelai rambut pun. Meski begitu tak satupun antara Dans dan Dayat berani menertawakannya. Dilihat dari cincin emas di jarinya, orang ini pasti kaya. Memang pria di hadapan mereka berdua adalah pengedar yang dipercayai Kultus Bintang Malam yang Berkedip untuk melakukan perdagangan.


"Kalian ingin membeli budak?"


"Yaps, agak susah untuk mengurus kebutuhan kami. Kualifikasinya tidak perlu yang terlalu kuat, cukup budak yang tahu pengetahuan umum." Dans tersenyum. Hanya sebatas tata krama ketika menyapa seseorang.


"Pelanggan, kebanyakan milik kami adalah budak beastman dan non-human. Mereka berasal jauh dari negeri manusia. Mana ada yang memiliki pengetahuan umum untuk mengurus kebutuhan rumah tangga? Maksimal, mereka hanya bisa menjadi tukang angkut."


"Tidak masalah. Kami akan melihat-lihat," sahut Dayat.


Pedagang itu mendecakkan lidahnya. Melihat-lihat belum tentu akan membeli. Ketika seorang pelanggan datang hanya untuk melihat-lihat, berarti dia akan membuang waktunya untuk kesia-siaan. Kebanyakan orang yang datang alasan melihat-lihat tidak membeli barang dagangan. Justru, mayoritas dari mereka tidak membawa cukup uang. Hanya penasaran tentang bagaimana rupa non-human.


Tapi mau bagaimana lagi? Sebagai pemilik toko bukan berarti dia bisa bertindak seenaknya. Bukan berarti juga dia berada di posisi atas. Pelanggan-pelanggan dari kalangan kecil masih diperlukan demi kemajuan tokonya. Makanya dia sudi saja membawa Dans dan Dayat berkeliling. Mereka mengunjungi area para budak ditahan dalam sebuah kandang besi. Sudah seperti hewan sungguhan saja mereka.


Bukan hanya beastman, tetapi juga ada dari ras iblis dan forest walker. Beastman mendominasi sebab mereka paling sering ditemui. Selanjutnya disusul oleh ras iblis bertubuh kecil dan berpenampilan seperti manusia, kemudian terakhir adalah forest walker yang jumlahnya bisa dihitung pakai satu tangan. Berada di antara kandang, mirip dengan di kebun binatang. Hanya saja jelas bahwa di dalam sana bukan hewan. Mereka adalah makhluk berakal layaknya manusia. Mereka sama-sama memiliki keluarga dan saat ini terpisah.


Dans dan Dayat prihatin pada kondisi para budak ini. Para budak hanya memakai satu potong kain kasar untuk menutupi tubuh mereka. Makanan untuk mereka tidak tampak sehat. Tidak layak dimakan malah. Mereka tertunduk di dalam kandang, tanpa memiliki harapan bebas. Ada juga beberapa dari mereka yang memandang sinis pada manusia yang berlalu di luar kandang. Jika pandangan mereka bisa membunuh, pasti semua orang di sini sudah mati.

__ADS_1


"Heh… sangat menarik…." Dans mengamati satu per satu dari setiap kandang. Fantastis, di balik rasa prihatin, tak bisa dipungkiri bila non-human adalah unsur fantasi dunia lain. Dia tak akan bisa menemukan mereka di Bumi. "Ras bukan manusia dari berbagai tempat berkumpul di sini. Aku penasaran bagaimana kalian mengumpulkan mereka."


"Pekerja kami sering melakukan perburuan. Kami memiliki beastman dari berbagai suku."


__ADS_2