
Semenjak masternya menyarankannya pergi ke Preceptor Crown Mountain, Zen melakukan perjalanan. Mudah baginya untuk mendapatkan izin dari Pihak Kerajaan. Terutama bila izinnya berkaitan dengan keberhasilan manusia menaklukkan ras-ras. Tentu bukan berarti Pihak Kerajaan mempercayai Zen sepenuhnya. Kekuatan Zen yang terlalu kuat membuat dia bisa memberontak kapan saja. Saat ini masih bisa diatasi dengan kekuatan jumlah, namun bagaimana bila Zen menyiapkan pasukan tersembunyi? Dari sanalah seseorang disuruh untuk ikut sebagai mata-mata. Dia masuk sebagai rekan regu. Dia adalah Pangeran Pertama, Pangeran Albert.
Pangeran Albert adalah seorang lelaki berusia 20-an. Tubuhnya tinggi ramping dengan rambut biru lebat. Dia nampak selalu tersenyum ramah nan hangat yang membuat orang-orang betah berada di sampingnya. Senyumannya itu seakan menghipnotis untuk tetap memperhatikan setiap patah kata yang diucapkannya. Terlebih, dia tampan. Banyak wanita bangsawan dari berbagai wilayah ingin dapat bertemu dengannya. Mereka berharap menjadi tunangan, atau yang lebih baik istrinya. Tetapi keinginan tersebut hanya menjadi isapan jempol semata sebab sang Pangeran tak tertarik pada hal-hal membosankan macam itu.
Sebagai pangeran, dia telah dididik untuk menjadi orang yang logis dan bergerak dengan mengesampingkan perasaan pribadi. Posisinya sebagai Pangeran Pertama sangat menguntungkannya bila ia ingin mendapatkan sesuatu. Dia bisa mendapatkan banyak hal. Namun alih-alih mengambil hal-hal tidak berguna, dia lebih banyak menghabiskan waktunya demi kerajaan. Dia berlatih keras. Mempelajari bukan hanya ilmu pedang, tetapi politik ikut serta. Belum juga menghitung kemampuan public speaking. Keterampilannya saat ini adalah kombinasi dari pelatihan bertahun-tahun semenjak dia kecil.
Kemampuan bertarung Pangeran Albert tidak bisa diremehkan, tetapi juga masih belum dapat dibandingkan dengan Zen yang menjadi kuat dengan cepat. Dalam perjalanan ini, bukan hanya mereka berdua saja. Melainkan ada dua orang lainnya. Keduanya adalah Sekar dan Meta. Mereka menjadi regu empat orang dengan kombinasi amburadul.
Zen bisa memberikan serangan dengan dampak kerusakan besar, Meta mengurusi bagian peralatan, Albert berada di posisi Zen dengan taraf lebih rendah, dan terakhir Sekar tidak diketahui untuk apa. Dalam pertarungan dia tidak berguna. Kombinasi mereka, dapat dikatakan berat sebelah. Zen bisa menggasak sebagian besar lawan sendirian. Jika mereka berempat bersama menjadi 100% kekuatan, Zen sendiri seperti telah menempati 90% kekuatan. Yang lainnya malah menjadi siswa dalam karya wisata.
__ADS_1
Tidak seperti mereka akan bertarung selama 24/7, mereka perlu singgah ke berbagai macam kota. Berkemah di alam liar setiap hari juga merupakan pilihan, tetapi bagaimana rasanya tidak bertemu dengan manusia lain dalam waktu sebulan penuh atau lebih? Silahkan tanyakan pada TNI angkatan laut yang harus bertugas di lautan lepas. Menjadi gila dalam kesendirian rasanya tidak bagus. Maka dari sanalah, untuk mendapatkan kabar terkini dan lain-lain, mereka berhenti dan beristirahat di kota-kota. Bukan hanya beristirahat, kadangkala rumor bagus terdengar di kota yang membuat mereka menetap lebih lama.
Seperti saat ini. Baru-baru ini Zen mendengar rumor bagus di sebuah kota. Rumor yang mengingatkannya kembali tentang kekuatan Dans. Rumor yang mungkin untuk menjadi counter kemampuan serangan Dans yang luka akibat serangan tersebut tidak bisa disembuhkan. Rumor mengenai Burung Phoenix yang terkenal akan keabadian dan kemampuan regenerasinya.
Mendengar rumor yang beredar, konon Burung Phoenix adalah makhluk yang masih bertahan dari Era Kuno. Dia adalah satu-satunya makhluk selain para Dewa yang berhasil bertahan hidup. Berbeda dengan para Dewa yang bersemayam dan menyembunyikan wujudnya dari manusia, Burung Phoenix menjadi eksistensi yang dapat dibuktikan. Banyak saksi mata mengatakan penampakan Burung Phoenix. Bukan hanya saksi mata, Serikat Slayer sekalipun telah menginformasi keberadaan Burung Phoenix di Kepulauan Aloha—sebuah gugusan pulau tak jauh dari daratan utama. Burung Phoenix tinggal pada salah satu pulau yang memiliki gunung api aktif.
Karena area tak mendukung mereka memakai pakaian khusus. Pakaian yang mereka kenakan berupa jubah putih ciptaan Meta yang memiliki efek khusus untuk menyerap panas. Jubah putih tersebut menutupi seluruh tubuh mereka. Pakaian lain di balik jubah juga sama—memiliki efek penyerapan panas. Kemudian, mereka memakai masker dan kacamata. Penampilan mereka amat sangat tertutup. Udara di sana bersifat beracun berkat gunung api. Suhu juga terasa panas.
Sebelumnya sudah banyak ekspedisi untuk menaklukkan Burung Phoenix, tetapi semuanya gagal. Sebagian kecil karena kuatnya Burung Phoenix tidak bisa mereka atasi, dan sebagian besar karena udara di pulau tidak cocok untuk makhluk hidup. Pulau itu sendiri sudah menjadi pertahanan alami bagi Phoenix. Dia bisa hidup, tetapi tidak dengan makhluk lainnya.
__ADS_1
Pangeran Albert bersiul memandang seisi pulau. Lalu dia berkata, "Tak kusangka akan pergi ke pulau ini dalam hidupku." Suaranya terdistorsi menjadi lebih pelan berkat masker. Belum lagi, angin kencang yang menerpa ikut membantu mengaburkan ucapannya. "Apa kau ingin mengukir legenda dengan mengalahkan Burung Phoenix? Apa tidak terlalu nekat untuk mengalahkan makhluk legendaris hanya demi penghargaan?"
"Ini bukan demi penghargaan, ini demi dominasi." Zen maju beberapa langkah mendahului mereka. Wajahnya naik ke atas, memandang puncak gunung yang menjadi sumber bagi aliran lahar—mata air lahar. "Asal kau tahu, salah satu Pahlawan yang kalian panggil memiliki kekuatan yang merepotkan. Seharusnya kalian hanya memanggilku seorang!"
"Anti-Regenerasi kah? Kuakui itu kemampuan yang berguna. Tapi apakah dia bisa melukaimu? Kemampuan untuk menciptakan luka yang tidak bisa disembuhkan tidak ada gunanya dibawa seseorang yang tidak bisa melukai." Pangeran Albert langsung terpikirkan oleh Dans. Hanya ada dua orang yang meninggalkan istana kerajaan, Dans dam Dayat. Kemampuan Anti-Debuff milik Dayat pasti bukan yang dimaksud Zen saat dia tidak menggunakan debuff dalam pertarungan. Terlebih, mereka pergi untuk mencari daya regenerasi terkuat.
"Simpan kata-katamu kecuali kau ingin mereka menjadi sia-sia," timpal Meta. "Zen, aku tidak akan membantah kekuatannya. Tapi pertahanannya yang lemah juga tidak bisa dibantah. Makanya kita ke sini untuk mendapatkan kekuatan yang bisa menebalkan nyawa. Lagi pula, ini pertama kalinya kamu pergi ke laut, 'kan, Sekar?"
Sekar hanya terdiam dengan ekspresi datar ketika Meta bertanya ramah. Bukan keinginannya untuk ikut dalam perjalanan mereka. Satu-satunya alasan mengapa dia mau adalah sebab dari Zen yang mengatakan bahwa dia bisa menjadi kuat. Jika dia menjadi kuat, dia bisa memberontak. Jika dia memberontak, dia bisa pergi dari cengkeraman Zen. Keinginan hanya untuk kembali bersama Dans dan Dayat. Tak lebih dan tak kurang.
__ADS_1