Classroom To Another World

Classroom To Another World
The Next Destination


__ADS_3

Dans terpuruk. Tak bisa lagi ia melanjutkannya pertarungan. Suzuka juga tak mau membantu dengan alasan lanjut adalah bunuh diri. Dari tempatnya, Dans hanya bisa tergeletak sambil melihat Dayat di depan. Dayat mengeluarkan pedang seakan ingin mengajak Zen berduel. Tetapi tentu saja, hasilnya sudah jelas. Zen lah yang akan menang. Perbedaan kekuatannya terlalu jauh.


Dari sana Dans juga dapat melihat Sekar. Sekar keluar dari kamar dan mengikuti Dayat saat pergi. Gadis itu tertegun melihat Dans dan Dayat tergeletak. Baginya kedua lelaki ini sangat hebat dan kuat. Namun di hadapan Zen, dia tidak pernah menyangka akan bertemu sosok sekuat Zen. Dirinya bergetar dan membeku di tempat. Ingin lari ianya. Namun bagaimana dengan Dans dan Dayat.


"Lari…." Dans merintih pelan. Suaranya tak sampai ke Sekar.


Zen berjalan perlahan ke arah Sekar. Dia layaknya penyiksa kejam yang membiarkan korbannya merasakan ketakutan sebelum meninggal. Wajahnya dingin. Dia memandang seram Sekar. Kedua pedang di tangannya ditenteng bak pisau jagal. Seakan Sekar adalah daging mati yang siap akan dipotong.


Sekar, dia ketakutan di tempatnya. Dia menaikkan tangannya setinggi dada, kemudian berusaha menggunakan sihir seperti yang diajarkan Dayat. Sayangnya dia hanya dapat membuat kobaran api kecil. Nyala kecil tersebut dilemparkannya pada Zen. Tidak sampai menyentuh tubuh Zen, kobaran kecil sudah padam di udara. Memang tidak berdaya dia. Belum bisa dikatakan tipe bertarung si Sekar itu.


Semua pemandangan terlihat di pandangan Dans yang mulai menggelap. Dia melihat Zen menggenggam kerah Sekar dan mengangkat gadis itu tinggi-tinggi hingga kakinya tak penyentuh tanah. Sekar berusaha melawan, akan tetapi semuanya sia-sia. Tidak peduli apa yang ia lakukan, Zen tetap bergeming.


"Dilihat-lihat kau lumayan juga. Sip, bawa saja."


\=\=\=


Dans terbangun di penginapan. Napasnya berat dengan dirinya gelisah. Dayat dan Suzuka di dekatnya segera mengarahkan perhatian mereka padanya. Keduanya cemas melihat kondisi teman mereka tidak bisa tenang. Masih di atas ranjang Dans berada. Dia bertelanjang dada dengan setengah tuvuh tertutup selimut.


"Mimpi buruk?" tanya Suzuka.


"Se-Sekar, di mana dia?" tanyanya linglung.


Dayat dan Suzuka terdiam dalam bisu. Mereka saling memandang satu sama lain dan menunggu untuk konfirmasi. Apakah harus memberitahu Dans atau tidak. Kejadian semalam terlalu menyakitkan bagi mereka untuk diingat. Untuk Dans yang terlupa dan baru saja terbangun, mereka tidak ingin memperburuk kondisinya dengan guncangan batin.

__ADS_1


"Aku tanya, di mana dia!" Dans bersikeras.


"Ditangkap," jawab Dayat singkat.


"Maaf kami, Dans. Dia terlalu kuat." Suzuka berkata lirih. "Aku sudah berusaha melawannya. Dia kabur. Dia menerima luka besar di punggungnya. Tapi aku yakin luka itu pasti bisa sembuh sepenuhnya dengan ramuan penyembuhan dan healer istana. Maaf…."


"Ugh… sialan…." Dans merintih.


Dia benci betapa lemahnya dirinya. Tidak dulu, tidak sekarang, tetap mereka dikalahkan oleh Zen. 'Andai aku lebih kuat….' Dirinya memikirkan kembali saat-saat petualangan mereka. Selama perjalanan, mereka menerima pelatihan dari Suzuka. Pelatihan Suzuka sangat efektif untuk mereka. Metode-metode yang merema gunakan adalah metode latihan dari zaman kuno yang kini telah punah. Bila musuhnya orang secara umum, tentu mereka akan menang. Tetapi, meski begitu, mereka masih kurang dalam kerja keras. Dans ingat berapa banyak mereka bercanda dan main-main. Sekarang dia menyesalinya.


"Dans…." Suzuka memanggil dengan suara pelan. Dia cemas memandang Dans yang kesal pada diri sendiri. "Ini bukan salahmu."


"Aku tahu. Aku tahu, tapi… aku merasa tidak berguna."


Dans teringat akan sesuatu. Ia ingat bila pertarungan terjadi ketika dirinya menyelamatkan para budak. "Budak-budak itu. Bagaimana dengan para budak?"


"Hah… kamu ini…." Dayat menghela napas lelah. "Satu saja belum kelar, sudah pindah ke lainnya. Urusan Sekar belum selesai, bro. Jangan terlalu banyak pikiran. Yang ada kepalamu malah botak duluan."


Dans tidak berkata-kata. Dia menatap tajam Dayat, meminta jawaban.


"Baiklah, baiklah, aku mengerti. Jangan menatapku seperti itu!" Dayat menghirup udara dan melakukan napas dalam beberapa kali. Dia menenangkan dirinya sambil membuat narasi mengenai kejadian semalam. "Di sekitar tempat pertarungan, ada banyak mayat budak dengan luka sayatan. Para penjaga menggunakan tombak, pengguna pedang hanya sedikit. Aku tidak perlu menjelaskan siapa penyebabnya, bukan?"


"Zen…," gumam Dans.

__ADS_1


"Kemudian, harus kukatakan ada sisi positifnya." Kali ini Suzuka menceritakan versinya. "Saat aku menger Zen, dia menggunakan prajurit kota sebagai perisai daging. Dia pergi ke pos penjaga dan mengaku sebagai Hero. Menggunakan gelar itu dia menyuruh pasukan untuk mencegatku. Aku membunuh mereka semua. Beberapa budak berhasil lolos dari kota karenanya. Sayang sekali mereka hanya sedikit. Budak anak-anak berhasil ditangkap oleh slayer."


"Ck, itu bukan kabat bagus." Dans mendecakkan lidahnya.


"Kalau berpikir menyelamatkan budak, aku akan mematahkan kembali tulang rusukmu. Dayat mati-matian semalaman untuk mengobatimu, jangan sia-siakan nyawamu. Ini bukan game di mana kamu bisa respawn tanpa batas."


"Tidak, tidak akan. Aku juga tidak sebodoh itu." Dans menggelengkan kepalanya. "Sekarang apa yang akan kita lakukan? Posisi kita sudah ditemukan. Regu pembunuh pasti segera datang."


"Tenang saja, aku sudah punya rencana." Suzuka mendekatkan wajahnya ke wajah Dans. Jaraknya sangat dekat. Terlihat jelas bibir Suzuka membentuk senyuman lebar. "Kau pasti ingin segera menjadi kuat, 'kan?"


"Y-Ya," suara Dans tergagap. 'Kedekatan!'


"Destinasi selanjutnya, Preceptor Crown Mountain!" lanjut Suzuka.


"Preceptor Crown Mountain?"


"Yap, Preceptor Crown Mountain." Suzuka menarik wajahnya. Dia turun dari ranjang dan mengambil beberapa langkah menjauh dari Dans dam Dayat. Di bagian terbuka kamar dia menjelaskan, "Preceptor Crown Mountain adalah salah satu situs zaman kuno yang masih terjaga. Dulunya Preceptor Crown Mountain digunakan sebagai standar kelulusan kandidat peleton di kemiliteran. Di sana ada banyak rintangan yang cocok untuk melatih kalian agar menjadi kuat."


"Pelatihan kemiliteran kah?" Dayat mengelus dagunya.


"Heh, sepertinya menarik." Dans tersenyum tipis. Destinasi selanjutnya akan cocok baginya dalam hal menjadi kuat. Sudah tidak sabar dia berlatih, menjadi kuat, lalu menantang Zen kembali. "Kalau tempat itu tidak menjadikanku kuat, biar kuhancurkan saja tempat itu."


"Tenang, kamu pasti akan menjadi kuat, kok." Suzuka berkata ramah. Tak lama kemudian dia menyeringai dan nadanya menyeramkan. "Tempat yang akan kita kunjungi sudah lama tak terjamah manusia. Monster berkembang biak di sana dan menjadi sangat berbahaya. Lebih baik kaliam berdua pikirkan saja nyawa kalian."

__ADS_1


Dans dan Dayat menelan ludah. Jarang-jarang Suzuka berkata seram dengan suara menekan. Dilakukan hanya ketika membahas hal-hal serius yang Suzuka tidak akan mentolerir tertawa atau meremehkan topik tersebut. Meninjau kembali Suzuka, mereka tidak boleh meremehkan peradaban di era lampau.


__ADS_2