
*Freeze!*
Di dalam kubus light cube, sihir Meta diaktifkan. Suhu di dalam sana berkurang sangat drastis. Darah manusia akan membeku dan seseorang bisa mati oleh dinginnya. ±200° Celcius. Golem yang saat itu berada di dalam kubus suhu dingin seketika berhenti bergerak. Tubuhnya tumbang dan jatuh di batu-batuan keras dengan menciptakan retakan selama prosesnya. Dalam sekejap, bioma berbatu berubah menjadi tundra dingin.
"Berhasilkah?" tanya Zen.
Jujur, bukan hanya Zen, melainkan hampir semua orang di sana tidak berharap bahwa serangan Meta akan berhasil. Bagaimanapun musuh mereka memiliki resistensi dan pertahanan tinggi. Sebelumnya dia bisa hidup di dalam magma. Beda ribuan derajat dari suhu normal. Untuk dapat mengalahkan makhluk tahan banting itu, hanya menggunakan penurunan suhu saja terasa seperti mustahil. Dan ternyata, memang berhasil.
"Entah kenapa, rasanya jadi jauh lebih mudah," gumam Sekar.
"Kadang memang begitu, sih." Zen menyarungkan kedua pedangnya.
"Sekarang bagaimana? Membongkarnya?" tanya Pangeran Albert.
"Kau bisa? Pertahanannya sangat kuat. Kalau Zen sih paling bisa kalau pakai ultimate. Tapi serangannya itu mungkin bakal menghancurkan area terlalu luas. Aku sudah kehabisan mana. Melawan tornado api adalah pilihan bunuh diri. Bahkan punya mana penuh pun aku tidak ingin diserang tornado api."
"Jadiin samsak aja," kata Zen.
__ADS_1
"Jadiin samsak?" Pangeran Albert dan Meta berkata berbarengan.
"Yosh, Sekar, sekarang kamu pakai mantra apa saja, selain elemen api, buat serang dia, ya? Oh, usahakan pakai sihir yang punya daya rusak besar biar bisa beriin damage. Nanti kalau 15 menit tetap gak bisa, aku bakal gantiin kamu," jelas Zen.
"Menyerangnya? Latihan?" Sekar bertanya-tanya.
"Benar," jawaban Zen singkat.
"I-Iya," respon Sekar dengan tidak percaya diri.
Apa yang bisa dia lakukan untuk menghancurkan golem itu? Paling-paling dia justru kehabisan mana duluan dan kelelahan. Hampir tidak ada bedanya dengan latihan biasa. Melawan target yang tidak bergerak itu seperti berlari-lari mengitari lapangan berkali-kali sampai lelah. Sedangkan musuhnya, mereka pasti gak bakal diam saja dan memberikan tantangan. Latihan yang seimbang itu ikut ninja warrior pakai mata tertutup. Biar ada perasaan ngeri gitu. Tapi kalau perintahnya buat menghancurkan, ini lebih seperti tes tertulis mengenai mengatasi konflik yang belum pernah dialami. Mengetes penalaran. Sebuah pertanyaan abstrak diberikan pada murid tanpa memberikan materinya. Dan lagi, ini di pelajaran fisika.
Salah satu dongeng fisika yang ia ingat adalah tentang getaran. Ia ingat ketika seorang penyanyi mencoba membuat suara sekeras mungkin dengan gelas kaca di depan mulutnya. Ia ingat ketika Meta bilang soal getaran yang dapat menghancurkan benda padat menjadi berkeping-keping. Dia hampir meragukan hal ini karena objek uji cobanya—sarung tangan—tidak hancur ketika ia menyalurkan getaran berfrekuensi tinggi. Namun ia belum mencobanya pada benda lain. Maka dari itu, kali ini ia ingin mencobanya pada batu.
Sekar berdiri di hadapan golem. Hawa dingin masuk melalui jubahnya meski sihir Meta telah berakhir. Sekarang yang tersisa adalah suhu dingin yang perlahan berubah hangat. Hawa dingin itu tidak dihiraukan sama sekali oleh Sekar. Dia memandang jari tangan golem yang ukurannya mengalahkan tinggi tubuhnya. Dia sangat kerdil. Seorang gadis kecil. Hanya seorang gadis kecil dengan mimpi sederhana, namun dengan asal-usul yang rumit. Bahkan sekarang pun dia berada di kondisi rumit.
Dia memejamkan matanya, memvisualisasikan serangan yang akan dilakukan. Dalam kegelapan, dia memikirkan sebuah gelombang getaran. Getaran yang merambat cepat dan menghancurkan. Vibrasi berfrekuensi tinggi hingga dapat memecah batu-batuan. Setelah mendapatkan gambaran, dia membuka matanya dengan spontan. Ia mengepalkan tangannya, lalu membukanya. Melihat ke telapak tangan, bukan pukulan kasar yang ia perlukan, melainkan sebuah pukulan yang menghantarkan gelombang. Selanjutnya Sekar memulai langkah.
__ADS_1
Dia mengambil ancang-ancang—menarik tangan kanannya ke belakang. Kemudian dengan cepat namun halus, dia memukul golem batu menggunakan telapak tangan. Tidak ada yang terjadi pada awalnya, namun setelah beberapa detik, getaran mulai beraksi. Batu-batuan dari ujung jari hingga bahu retak-retak sebelum hancur dengan suara keras. Sekar diam di tempatnya melihat bongkahan batu jatuh di depannya. Hebat! Dia merasa bangga untuk berhasil.
Sekar merasa gembira dalam hatinya. Dia tidak tahu mengapa. Padahal orang yang menyuruhnya adalah orang yang dibencinya. Ia berbalik menghadap yang lainnya, melambai-lambaikan tangannya dengan senyuman lebar. Berkatalah ia, "Berhasil! Aku berhasil!" Dia sendiri lupa sudah berapa lama dia tidak sebagai ini.
Tetapi bukan sambutan atas keberhasilan yang ia lihat dari mereka. Zen nampak menyeramkan melihat ke arahnya. Tak berselang, Zen melesat ke arah Sekar dengan kecepatan penuh. Sekar hampir tidak bisa melihat bayangan Zen saking cepatnya remaja itu. Sekar ingin menggunakan sihir sebagai balasan secara refleks, namun tak sempat. Dia merasa tubuhnya ditabrak kuat-kuat hingga terpelanting ke udara. Mendarat di batuan yang keras serta dingin, Sekar merasakan sakit di bagian tulang rusuk.
'Sa-Sakit…!' Sekar merintih dalam batin.
Gadis itu mendongak. Dia melihat Zen yang kini berada di tempatmu. Mengejutkan…. Dia pikir Zen membencinya dan datang untuk menyerangnya, namun pemandangan di depannya di luar perkiraan Sekar. Dia melihat Zen dengan tubuh bagian kirinya—tangan kirinya—dilahap oleh api. Lidah api keluar dari tubuh Golem Phoenix—pada bagian bahu yang terbuka.
Gelombang lanjutan dari serangan lidah api langsung dimulai. Dari bahu golem yang telah terpotong, lidah-lidah api lainnya mulai bermunculan satu demi satu. Mereka layaknya sulur-sulur hidup yang merambat ke arah Zen melewati udara.
Menggunakan tangan kanannya, Zen menarik pedang di pinggang kirinya menggunakan tangan kanan. Dia menyalurkan mana dan melepaskan bilah emas yang memotong semua lidah api—termasuk yang melilit tangan kirinya. Dengan segera, dia melompat mundur untuk mengambil jarak. Sudah merasa bahaya dia di sana. Dan benar saja, tak lama setelah itu lidah api semakin menjadi-jadi.
Dari bahu golem yang telah dipotong keluarlah sebuah bola bercahaya jingga yang teramat terang. Ukurannya hanya kurang lebih sama dengan bola sepak, namun dari sana ada banyak lidah yang menjadi cambuk meliuk-liuk di udara. Area di sekitarnya menjadi panas. Cambuk-cambuk api membakar area sekitarnya. Tundra dingin seketika menjadi panas.
Tapi masih aman. Meta dengan sigap menyiapkan light cube. Dia membuat light cube menyelimuti bola api tersebut. Selanjutnya, Meta menurunkannya suhu secara mendadak dan terus-terusan. Sangat sulit karena bola tersebut menghasilkan panasnya sendiri. Justru hawa dingin di dalam light cube diubah menjadi hawa panas. Terjadi pertarungan peningkatan dan penurunan suhu. Hasil akhirnya, baguslah Meta berhasil menghentikan cambuk dari bola api. Bola api tersebut tidak padam, tetapi juga tidak memancarkannya panas. Warnanya berubah menjadi biru redup.
__ADS_1
Meta menghela napas. Wajahnya tenang ketika dia mendinginkan bola api. Namun setelah dia melihat luka Zen, Meta berubah khawatir dan berteriak, "Zen! Lu-Lukamu!" Dia melihat tangan Zen yang telah terbakar hingga ke dalam tulang. Lengan kirinya sepenuhnya hitam seperti arang.