Classroom To Another World

Classroom To Another World
Si Udin


__ADS_3

Raja Barik von Aldenia memang membuat banyak masalah karena rencananya untuk memanggil Hero dari dunia lain. Pertama, sudah pasti orang-orang yang dipanggilnya tidak semuanya ingin bertarung. Sebagian besar dari mereka ingin kehidupan damai—kehidupan mereka sudah baik-baik saja sebelumnya—. Memanggil mereka secara sepihak adalah kesalahan. Terlebih lagi, bila dalam proses pemanggilan terdapat kesalahan. Bisa-bisa koordinat tempat jatuhnya Hero nyasar jauh. Salah satu contohnya adalah kasus Udin.


Udin atau yang bernama lengkap Arif Syamsuddin juga merupakan salah satu dari Hero terpanggil. Hanya saja dia ke toilet waktu pemanggilan. Hanya kakinya saja yang menginjak lingkaran sihir di kelas. Dia terbawa, namun dengan beberapa masalah. Alih-alih sampai dengan selamat di istana kerajaan, dia justru sampai di langit di tempat acak. Dia jatuh dan nyaris mati. Bila bukan karena lapisan pohon dia sudah dipastikan mati.


Beruntung ada seseorang yang menolong Udin. Saat ini remaja itu terbaring di atas kasur dengan sebagian tubuhnya diperban. Luka jatuh dari ketinggian bukanlah sesuatu hal bisa diabaikan layaknya luka gores kecil. Terlebih, tubuhnya benar-benar kacau setelah menabrak lapisan ranting dan daun.


"Uh… di mana ini?" rintihnya.


Udin memandang sekelilingnya. Asing, itu adalah kata yang muncul di benaknya saat melihat interior kamar. Kamar dengan langit-langit kayu, kasur empuk, dan tampilan mewah tetapi retro. Sudah jelas dan terpikirkan dalam benaknya bahwa ia tidak di ruangan UKS sekolah. Mengingat kembali saat-saat ia jatuh, bulu kuduk Udin berdiri. Dia berpikir bahwa dia ada di ruang UKS (Unit Kematian Sekolah).


Tak lama pintu terbuka. Seseorang masuk dengan pandangan Udin tertuju ke sana. Sungguh, dia merasa sangat asing, aneh, nan terkejut. Laksana pertama kali memandang alien, arah pandangnya tak beralih sama sekali. Bagaimana tidak? Sosok yang baru saja masuk kamar tidak akan pernah dia temukan di Bumi. Mau pergi ke Kutub Utara sampai Kutub Selatan mustahil dia akan menemukan suku lain berwujud mirip dengan sosok di depannya.


Sosok tersebut adalah seorang gadis kecil. Bukan gadis kecil biasa, dia memiliki telinga dan ekor kucing. Bulu-bulu layaknya kucing juga terdapat di beberapa tempat, seperti lengan dan betis ke bawah. Bulu-bulu kucingnya tersebut memiliki warna merah, warna yang sama dengan rambutnya. Selain itu, kedua pupil mata kuning sudah jelas bukan ciri kebanyakan orang Indonesia. Pakaiannya juga asing. Dia mengenakan gaun jingga lengan panjang dengan sepatu boot kulit.


Udin membeku di tempatnya dengan banyak pertanyaan dalam otaknya.


"Kau sudah bangun? Bagaimana? Apa ada yang sakit?" Gadis tersebut duduk di sisi ranjang. Dia menyentuh perban di dada Udin. Memang saat itu Udin bertelanjang dada. Banyak perban melilitnya.


"Adududuh, sa-sakit…." Udin merasakan rasa sakit intensif. Napasnya turut menjadi lebih sulit.


"Maaf, aku menekan terlalu kuat." Gadis itu segera menaruh tangannya.


"Ti-Tidak apa-apa, kok." Udin tersenyum masam. Malah menjadi aneh senyumnya itu. Sudah cocok dia menjadi orang yang baru makan makanan gosong, tapi karena yang masak pacarnya, dia terpaksa bilang enak. "Lebih penting lagi, siapa kamu? Da-Dan di mana ini? Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Namaku adalah Tania dari Ras Catus. Saat ini, kamu berada di Wilayah Felis. Sebelumnya para pemburu melihat cahaya terang di langit beserta dirimu yang jatuh. Mereka mencarinya dan menemukanmu sudah tak sadarkan diri di hutan. Kamu sangat beruntung. Kebanyakan orang mati jika jatuh dari ketinggian itu."


"Jadi aku masih hidup!"


Udin memikirkan kembali saat-saat dia jatuh. Saat-saat ketika angin menerpa wajahnya dan membuat rambutnya melambai-lambai. Untung saja dia baru kembali dari kamar mandi. Bila tidak, celananya pasti basah karena mengompol. Masih ingat dengan jelas dalam kepalanya saat-saat dia berteriak. Bahkan, sekarang dirinya seakan dapat mendengar teriakannya beberapa saat lalu.


"Anu, kamu siapa?"


"Aku? Aku Arif Syamsuddin. Biasanya dipanggil Udin. Aku kurang tahu bagaimana aku bisa sampai ke mari, aku hanya ingat cahaya terang menyilaukan sebelum jatuh."


"Hmm… cahaya terang, ya?" Tania memegang dagunya.


"Apa kau tahu sesuatu?"


"Hah… kayaknya aku akan terjebak di sini untuk sementara waktu." Udin menghembuskan napas berat. Wajahnya tertunduk, meratapi nasib kedepannya. Belum lagi, dia meratapi PR Bahasa Jerman yang harus segera dikumpulkan.


'Tunggu, guruku tidak mungkin datang ke sini, 'kan?'


Melihat Udin galau, Tania cemas. Dia Ras Catus, ras campuran manusia dengan kucing. Tidak tahu dirinya harus bagaimana jika manusia galau. "Mau aku ambilkan bubur? Kamu pasti lapar setelah tepar tiga hari."


"Ti-Tiga hari!" Udin berteriak. Terlalu mengagetkan memikirkan berapa lama dia pingsan. 'Duh, aku orangtuaku pasti khawatir. Bagaimana aku mengabari mereka?'


"Ya, kau pingsan selama tiga hari. Kami tidak memiliki ramuan penyembuh dan Ras Catus tidak ahli sihir penyembuhan. Kami cuma membersihkan luka dan membalut menggunakan perban. Apakah itu tidak nyaman?" Wajah cantik Tania memelas.

__ADS_1


Udin melihat dengan jelas wajah memelas Tania yang tepat di hadapannya. Entah mengapa, dia merasa bahwa Tania sangat imut. Hatinya sedikit terpengaruh. Tapi dia sadar, ini adalah cinta pada pandangan pertama, terlebih dia juga berpikir bahwa reaksi tubuhnya dikarenakan dirinya tak pernah diperlakukan begini oleh perempuan. Kecuali ibunya tentunya.


'Sial, jadi ini sebabnya seseorang pacaran!'


"Ti-Tidak, kok. Ju-Justru aku berterima kasih. Kalau bukan karena kalian, aku mungkin sudah mati." Udin memalingkan wajahnya. Agak memerah dianya. Makanya tidak ingin tunjuk wajah. "La-Lalu, aku memang lapar. Bi-Bisa minta makanan, please…."


"I-Iya, aku akan segera mengambilkannya." Tania beranjak. Dia heran dengan mengapa Udin tidak memandangnya. 'Apakah dia membenciku?'


Tania buru-buru keluar kamar dan menuju dapur. Sementara itu, di sana hanya ada Udin sendirian. Suasana sungguh hening. Kesunyian dirasakan Udin. Bila itu Bumi, setidaknya dia akan mendengar suara motor dan mobil berlalu lalang. Jika tidak begitu, di samping rumahnya suara keras dari mesin las selalu menjadi teman. Suara mesin yang selalu mengganggunya ketika akan mengerjakannya tugas rekaman.


Dalam keheningan itu, dia memandang ke luar jendela. Suasana pagi hari sungguh indah dengan cahaya mentari cerah. Di depannya hanya ada sebuah pohon besar dengan ayunan kayu tergantung, tetapi dia merasa bahwa pemandangan tersebut adalah mahakarya seni rupa. Hal tersebut dikarenakan kesehariannya disibukkan oleh belajar sehingga selalu di dalam kelas. Pelajaran olahraga, sama saja selalu membuat tugas melelahkan. Di rumah Udin bermain smartphone. Jarang baginya menikmati pemandangan alam.


'Isekai kah? Aku sudah banyak menonton kisah isekai dalam anime. Biasanya suatu oknum memanggil pahlawan dari dunia lain, di mana pahlawan itu memiliki kekuatan khusus. Enaknya, jika aku punya kekuatan unik. Apa aku mempunyai satu, ya?'


'Tidak, tunggu. Bukan itu!'


'Seisi kelas bercahaya saat aku dipindahkan. Teman-temanku seharusnya juga ikut. Apa jangan-jangan mereka jatuh ke tengah hutan? Gawat, kalau di isekai ada monster 'gimana? Aku harus segera slametin mereka, 'kan?'


Tanpa disadarinya, Tania sudah masuk ke kamar. Tania membawa nampan dengan mangkuk kayu berisi bubur di atasnya. Tak lupa, sebuah gelas terbuat dari tanah liat juga ada di sana.


"Permisi, aku bawa makanan."


"Ah, iya!" Suara kecil Tania membuat Udin kaget.

__ADS_1


__ADS_2