
Menyorot ke zona lain, kita pergi ke bagian si Udin. Selama beberapa minggu ini Udin terus berlatih dengan Tania. Sebagai tamu dari dunia lain, Udin benar-benar cepat dalam belajar. Dia mendapatkan bonus. Oleh karena itulah dia bisa berdiri di samping Tania yang hidup di dunia keras ini. Dalam posisi pertarungan, kedua orang ini saling melengkapi. Udin menyadari bahwa dirinya memiliki sihir dengan elemen cahaya, sedangkan genetik Tania membuatnya kuat dalam hal fisik. Tania di garda depan, sedangkan Udin mendukung dengan sihir.
Singkat saja, mereka berdua memutuskan untuk pergi berpetualang sendiri. Dasarnya karena Udin tidak cocok untuk berada di sana. Hubungan renggang antara manusia dan beastman membuat ia tidak mendapatkan perlakukan baik. Begitu pula Tania. Dirinya yang dekat-dekat dengan manusia membuat beastman lainnya menjauhinya. Sebenarnya pergi belum tentu akan memberikan hasil yang lebih baik, namun rasanya jauh lebih baik dibandingkan diam saja di sana.
Sekarang, mereka berdua kebingungan membaca peta.
"Sekarang kita ada di sini, seharusnya ke sini…." Tania memelototi peta perkamen di tangannya. Sulit baginya untuk membaca simbol-simbol. Garis antara sungai dan jalan masih sering salah baca.
"Tidak, tidak, kau terbalik." Udin menyahut. Dia baru sadar kalau Tania memegang peta terbalik atas dan bawah. "Ini sebabnya kita kok gak sampai-sampai dari tadi."
"Ma-Maaf…."
"Tenanglah, tidak ada yang mengalahkanmu." Udin mengelus pelan kepala Tania. Lelaki itu juga tersenyum kecil. Kesalahan kecil malah membuat Tania imut baginya. Namun seharusnya dia mengetahui, saat ini mereka berdua tersesat jauh di dalam hutan belantara di antah berantah.
"I-Iya, terima kasih." Tania mengangguk. Dia balik tersenyum pada Udin. "Tapi, sekarang kita harus bagaimana?" Ia memandang ke atas. Di sana daun-daun lebat dari pepohonan memblokir sinar Matahari.
"Hmm…." Dayat memegang dagunya sambil mendongak ke atas. Dia berpikir keras untuk memecahkan masalah mereka. "Rencananya kita akan pergi ke Menara Kuno Alada yang berada di selatan. Tapi karena salah arah, kita malah pergi ke utara. Benar-benar kondisi yang rumit."
Kalau gak pandai baca arah, mending jangan berpetualang. Sesat banget mereka berdua. Tanpa rencana, pokoknya pergi karena ego. Tipikal oramh seperti mereka-mereka ini memang minta di tampol. Keterampilan bertahan hidup mereka di alam liar adalah nol! Kedua amatir ini dengan bodohnya melakukan perjalanan berbahaya.
Dan sekarang semak-semak bergerak. Keduanya berbalik untuk melihat siapa di balik sana. Awalnya mereka menyangka itu adalah pemburu yang dendam pada mereka dan ingin menghajar mereka berdua. Tetapi bukan, itu adalah monster. Monster dari dunia fantasi yang sering membahayakan orang-orang.
__ADS_1
"Awas!" Tania melompat pada Udin. Mereka berdua jatuh berguling-guling.
Bukan bermaksud buruk, tetapi Udin berdiri di jalur monster tersebut. Lebih para lagi, Udin lengah. Dia tidak menyadari kedatangan monster ke arah mereka. Bila terus dibiarkan, ia akan plonga-plongo dan menjadi tiang samsak. Perandaian apalagi yang lebih buruk untuknya? Dia tidak punya keterampilan bertahan hidup, tetapi nekat pergi ke hutan dan berpetualang.
Mereka berdua segera bangkit.
Udin memperhatikan monster yang baru saja mengarah ke mereka. Bila Udin harus mendeskripsikan, monster ini memiliki wujug rusa lengkap dengan tanduk besar. Bukan hanya tanduk, melainkan seluruh bagian tubuhnya jauh lebih besar dibandingkan rusa manapun yang ia lihat di Bumi (hanya melalui aplikasi media sosial karena tidak pernah bertemu langsung). Mengatakannya sebagai rusa, monster tersebut juga garang—mirip badak. Mata tajamnya memandang mereka berdua.
"Hati-hati. Nama monsternya adalah rusa badak. Serudukannya bisa menumbangkan pohon!" Tania memperingatkan.
'Nama monsternya aneh banget!' batin Udin.
Jangan memikirkan nama monster. Dari pada itu, rusa badak tersebut sudah bersiap-siap. Dia menendang tanah beberapa kali menggunakannya kaki kanan depan. Selanjutnya dia berlari secepat tenaga ke arah mereka berdua. Medan hutan yang sulit sama sekali tidak mengganggu kecepatannya.
*Dugh!*
Udin malah memejamkan matanya dan bersiap-siap akan tabrakan monster. Kemudian terdengarlah suara keras. Bukan dari monster yang menabrak tubuhnya, melainkan Tiana lompat ke arah monster tersebut dan memberikan tendangan melayang yang menerbangkan tubuh monster rusa.
"Udin, aku tahu kamu takut, tapi berusahalah untuk tetap tenang. Takut dan gemetar di situasi ini malah akan memperburuk kondisi kita. Cepat gunakan sihirmu untuk memberikan luka pada monster. Kekuatan dari sihirmu sangat kuat, bukan?"
Udin mengingat kembali latihannya bersama Tania. Mereka melakukan pelatihan di bawah terik matahari, berkeringat dan merasakan nyeri di malam hari, kemudian berjuang sekuat tenaga untuk menjadi cukup kuat di alam liar (meski tidak bisa dibandingkan dengan Dana dan Dayat). Pencapaian pertama mereka adalah mengalahkan para pemburu yang menghina mereka sebelumnya. Udin mengingat-ingat kembali ketika saat dia menciptakan butiran cahaya untuk sihir pertamanya.
__ADS_1
Dan itu pula sihir yang ia gunakan sekarang. Dia mengarahkan telapak tangannya ke rusa badak tersebut, mulai fokus merasakan energi mengalir di sana, kemudian mulai membayangkan bentuk dari sihir. Terciptalah butiran-butiran cahaya kuning di sana. Butiran cahaya kuning yang berputar-putar di atas telapak tangannya.
"Tiana! Menyingkirlah! Aku akan menyerangnya!"
Tiana mendengar. Dia menyingkir dari jalur serangan.
Dengan aba-aba itu, Udin membuat pose melempar, kemudian butiran-butiran cahaya kuning melesat. Mereka melayang di udara dan mengarah langsung ke rusa badak. Dalam waktu singkat, serangan Udin mendarat tepat di tubuh si rusa. Sayangnya satu. Mereka tidak memberikan dampak sama sekali.
Si rusa sampai kebingungan. Dia terdiam di tempatnya. Dalam benak dia sampai berpikir, apa-apaan serangan lemah itu? Tahu begini aku langsung bunuh saja tuh anak. Ingin tertawa, tapi takut dosa. Kasihan orang yang ditertawakan. Dia sudah memberikan usaha terbaiknya bagaimanapun juga. Meski ujung-ujungnya tetap gagal, sih.
"Udin…." Tiana merintih.
Haruskah dia marah? Sedih? Atau harus takut? Di satu sisi dia tahu Udin melakukannya demi dirinya, tapi kalau tidak ada dampaknya macam gini, apa gunanya? Bukankah tendangan kakinua tadi lebih cepat dan berguna?
Suasana canggung di sana.
Maka dari itulah, mari kita pergi untuk menyoroti zona lain. Kita berkunjung ke tempat para beastman tinggal, tempat di mana kelompok pemburu yang menyerang dan meremehkan Udin dengan aman, nyaman, dan tentram bersantai dan bercakap-cakap satu sama lainnya.
"Hei, kami yakin mengalah pada bocah itu?"
"Tekad bocah manusia itu telah bulat. Aku melihatnya dari matanya. Dia benar-benar, dia sungguh ingin bebas dan tidak ingin diremehkan. Bocah manusia itu mengingatkan pada diriku ketika masih kecil. Aku dulu sangat mengagumi ayahku yang merupakan seorang pemburu."
__ADS_1
"Oh…."
Tiana dan Udin, mereka berdua tak layak berpetualang.