Classroom To Another World

Classroom To Another World
Golem


__ADS_3

Burung Phoenix selalu berada di dalam kawah di puncak gunung. Untuknya, di sana adalah tempat teraman. Kebanyakan predator yang berusaha memburunya kewalahan duluan ketika melewati lereng gunung. Kombinasi antara angin beracun, suhu panas, dan Medan curam adalah benteng alam yang akan menggugurkan para penantang. Di sini banyak tim ekspedisi menemui kegagalan mereka. Mereka terjatuh. Jika bukan sungai lahar, batuan keras nan tajam akan menyambut di bawah. Rintangan alam itu sangat mempengaruhi kelancaran ekspedisi.


Meski bagi Zen dan kawan-kawan tidak banyak berpengaruh.


Perjalanan mereka melewati jalur udara. Salah satu alat ciptaan Meta lainnya adalah sebuah skateboard yang dapat terbang di langit—sebut saja airboard. Dengan bantuan alat itu, medan curam di bawah sama sekali bukan halangan. Adapun udara beracun sebab bercampur dengan debu vulkanik, pakaian buatan Meta mengatasinya. Tantangan mereka adalah mempertahankan sikap seimbang di atas airboard. Itupun mudah bagi mereka dengan pelatihan selama beberapa jam. Alhasil, mereka bisa sampai ke puncak dengan cepat.


Di puncak gunung, mereka berdiri di tepian kawah. Melihat ke bawah, kubangan danau magma cair memenuhi kawah dengan warna jingga-merah. Terkadang letupan terjadi yang menciptakan kembang api lahar. Sekali mereka jatuh ke sana, mereka akan mengatakan halo ke pada malaikat pencabut nyawa. Sekarang pun hawa panas dapat dirasakan dari tempat mereka. Hal itu sudah diperhitungkan. Pakaian buatan Meta juga memiliki resistansi panas. Meski tidak akan tahan bila masuk ke magma cair, itu lebih baik dibandingkan berkubang dalam udara panas.


"Bukankah Phoenix seharusnya di sini?" ujar Pangeran Albert.


Mereka hanya melihat danau magma di bawah. Tidak ada makhluk mitologi seperti burung yang terbakar di sana. Tidak ada satupun di antara mereka dapat menjawab pertanyaan Pangeran Albert. Keempatnya terus memandangi danau magma cair, mencari-cari detail terkecil dari gambar panorama yang dapat direkam mata mereka. Tetapi mau segi manapun, mereka tidak bisa mengidentifikasi keberadaan makhluk hidup di dalam sana. Jangankan Phoenix, sisa-sisa bukti bahwa makhluk itu berada di sini sekalipun tidak dapat dilihat.


Orang-orang akan kembali ketika mengetahui kotak yang mereka cari berisi kekosongan—tidak menemukan barang carian. Namun bagi mereka, mereka yang telah melakukan perjalanan lama, terutama Zen, akan merasa sangat sayang untuk pergi dengan tangan kosong. Lebih lagi ini memang aneh. Laporan masuk mengenai keberadaan Phoenix direkam Serikat secara konstan. Tim khusus Serikat yang mengawasi Phoenix juga melihatnya dalam frekuensi yang sama dalam setiap bulannya. Seharusnya burung itu ada di sana. Tidak ada pun pastinya berada di dekat sana.

__ADS_1


"Tunggu, bagaimana wujud Phoenix?" tanya Zen.


"Bukannya burung, ya?" jawab Meta.


"Benarkah?" timpal Zen meragukan. Bila kita menyingkirkan kacamatanya, akan terlihat alisnya seperti guru BK sedang menginterogasi murid yang ketahuan merokok di sekolah. "Sumber informasi dari orang-orang adalah burung yang terbang di langit, tidak ada kejelasan berapa ukurannya, bagaimana bunyinya, dan warna tubuhnya. Informasi dari regu ekspedisi nihil. Laporan mereka mengatakan bahwa mereka diserang kobaran api berbentuk burung yang dipercaya sebagai sebatas serangan Phoenix. Tidak ada yang pernah melihat wujudnya."


"Jangan-jangan…," Meta dan Pangeran Albert bergumam bersamaan.


Sekar mengangkat tangannya tinggi-tinggi di atas kepala. Menyalurkan mana ke telapak tangan, dia membuat aliran listrik menyelimuti seluruh tangan kanannya. Selanjutnya ia menyalurkan arus listrik untuk menyambar ke danau magma. Listrik menyebar ke seluruh area danau magma setelah bersentuhan dengan permukaan. Menjadi ombak elektro yang melakukan hit menyeluruh.


Terlalu berbahaya berdiri di tanah yang tak stabil, mereka menaiki airboard dan melayang di langit. Dari sini mereka menyadari akan sesuatu tentang kawah gunung. Dengan segera, masing-masing dari mari memasang kewaspadaan. Mereka bersiap-siap akan kedatangan musuh yang telah mereka sambut. Zen memegang kedua gagang pedang, Sekar bersiap dengan sihir petir lainnya, Meta bersiap-siap dengan senapan sihir, dan Pangeran Albert menarik pedangnya. Kemudian benar saja, muncul lah makhluk yang menjadi musuh mereka.


Dari dalam danau magma, mulai terlihat wujud tangan raksasa. Tangan raksasa itu terbuat dari batu yang amat sangat keras dan diselimuti magma. Tangan yang baru dibasuh dengan air memiliki butiran-butiran air tersisa, dalam kasus tangan raksasa itu, dia memiliki magma sebagai pengganti air. Tangan besar itu menggenggam bibir kawah. Dia menarik tubuh penuhnya yang masih terendam dalam danau magma. Bila seseorang berdiri di samping tangan raksasa tersebut, dia akan dengan mudah merasa kerdil.

__ADS_1


Zen, Meta, Sekar, dan Pangeran Albert. Kini tidak satupun dari mereka berpikir bila makhluk yang akan mereka lawan memiliki bentuk burung. Legenda tentang Burung Phoenix yang mereka dengar salah. Lebih tepatnya, kurang tepat. Lawan yang akan mereka lawan bukanlah seekor burung yang terbang di langit, melainkan golem batu yang teramat keras.


Golem, sebuah makhluk dari benda mati yang telah diprogram untuk melakukan tindakan tertentu, biasanya seorang penyihir akan membuat golem dari batu atau tanah liat sebagai bahan yang banyak ketersediaannya di dalam namun juga kokoh. Keunggulan dari penggunaan golem adalah mereka bekerja non-stop tanpa dibayar. Mereka hanya memerlukan pasokan energi minim untuk bekerja. Posisi mereka sama dengan robot. Sebuah alat yang tidak memiliki perasaan dan nafsu, mereka adalah bawahan setia yang akan melakukan tugas apapun, termasuk mati. Dari itulah penyihir yang bisa membuatnya golem akan mendapatkan posisi penting di kerajaan.


Sekarang di hadapan mereka berempat bukanlah golem biasa, melainkan golem dari sisa-sisa peninggalan Era Kuno. Selain ukurannya besar, pertahanannya teramat kuat. Dia bisa bertahan di dalam magma bersuhu ribuan derajat celcius dan tekanan yang tak main-main. Benda kolosal itu berdiri di bibir kawah dan memandang mereka berempat yang berterbangan di langit. Tak kalah dengan seorang bocah yang memandang laron terbang dan akan menangkapnya.


"Jadi begitu, lawan kita bukan Burung Phoenix, tetapi Golem Phoenix."


*Flame!*


Golem itu menyemburkan bola api raksasa dari mulutnya.


Yah… sebenarnya bukan mulut saat dia tidak memiliki mulut, tetapi anggap saja mulut ketika sebuah rongga di wajah berada di petak mulut pada proporsi tubuh manusia.

__ADS_1


Abaikan saja masalah soal mulut dan bukan, kini bola api raksasa menjelma menjadi bentuk burung. Dia layaknya misil kendali mengincar Zen dan kawan-kawan. Meninggalkan jalur udara panas di jalur ia melayang, sengatan suhu tinggi mendekati Zen dan kawan-kawan setiap detiknya. Sangat cepat dan terus berkobar. Seakan-akan bola api adalah burung api yang hidup.


Meta mengatasi masalah burung api. Salah satu senjatanya adalah light cube—sebuah kubus berwarna biru transparan yang berpijar. Bentuknya selalu kubus, tetapi sifat materialnya dapat berubah-ubah tergantung apa yang dimanipulasikan Meta. Light cube dapat berubah menjadi kenyal seperti jeli, keras seperti baja, atau menembus objek lain pun bisa dilakukan. Meta mengendalikan light cube untuk mengurung mereka berempat di dalam sana. Burung api yang melesat hancur dalam ledakan ketika menabrak light cube Meta.


__ADS_2