Classroom To Another World

Classroom To Another World
Musuh Bebuyutan (1)


__ADS_3

Atas saran Zen, mereka berempat masuk gerbang tak berpintu yang mencurigakan itu. Awalnya normal-normal saja. Mereka berjalan di dalam gelap dengan light cube Meta memancarkan cahaya dan menjadi penerang. Mereka berempat berjalan santai sambil ngobrol hal-hal tidak berguna.


Hingga makin ke dalam, salah satu dari mereka tidak sengaja menginjak pemicu jebakan. Ketika mereka menginjak batu tertentu, anak panah menyerbu. Beruntung Zen cepat tanggap dan menangkis anak panah dengan membuat hembusan angin kencang dengan mengayunkan pedangnya.


Akan tetapi tidak berhenti dengan satu jebakan. Semakin mereka masuk, mereka bertemu banyak jebakan lain. Ular besar dengan bisa beracun, lantai terbuka dengan banyak duri di dalamnya, kobaran bola api raksasa yang mengejar mereka, hingga terjebak dalam kolam asam. Beruntung ada Zen sebagai tumbal. Regenerasinya membuat dia, menurut hasil voting, menjadi pembuka jalan dan menghadapi semua jebakan.


Kalau bukan regenerasinya, dijamin ia pasti akan mati. 11 kali terpenggal, 9 kali jantung tertusuk, 7 kali terendam dalam kolam asam, 6 kali tergencet tembok, 4 kali semua titik vital terkena tusukan, dan banyak lagi. Zen dikorbankan untuk menonaktifkan perangkap. Pilihan lain selain menyingkap semua perangkap adalah dengan meledakkan semua tempat. Mereka tidak akan melakukannya sehubungan item incaran mereka masih di dalam.


Adapun hal yang lebih menyebalkan dari pada harus terkena perangkap, yaitu mereka tidak menemukan harta karun apapun ketika sampai di ujung. Mereka menemukan altar batu gelap yang terukir berbagai relief. Selain itu, jaring laba-laba dan sarang semut adalah temuan mereka sejauh ini. Sungguh membuat frustasi.


Terlebih lagi, mereka menyadari bila jebakan disetel ulang. Sekali Zen melangkahkan kakinya, menginjak ubin yang salah, kobaran api mendatanginya dan membakarnya. Tidak berdampak padanya sebagai pemilik Inti Phoenix, namun ini mengingatkannya bahwa ia harus terkena jebakan sama seperti sebelumnya. Tidak, tidak ada yang tahu jebakan apa lagi yang menunggu mereka.


Maka dari itu, Zen memerintahkan Meta untuk menggunakan pendeteksi dari light cube. Niatnya mencari jalan lain. Mereka ingin memetakan area sekitar dan memperkirakan bagaimana bila membuat terowongan.


Hasilnya di luar dugaan. Light cube Meta menemukan sebuah ruangan besar tak jauh dari tempat mereka. Keberadaannya terpisahkan dinding dari pada mereka. Awalnya mereka akan mengabaikannya begitu saja mengingat tidak ada apa-apa di sini, namun keputusan keempatnya berubah di saat juga ada tanda-tanda manusia lain.


Dari sini, kemudian Zen memutuskan untuk menggali terowongan. Dia menghunuskan pedangnya ke dinding dan membuat lubang besar. Secara normal akan mustahil. Tetapi perlu diingat, Penulis membuat genre fantasi bukan tanpa alasan. Alasannya agar bisa memberikan alasan atas semua kejadian tidak masuk akal. Urusan Zen yang hunusan pedangnya dapat melubangi dinding dengan lubang seukuran manusia, dia mengalirkan sejumlah besar mana untuk melapisi bilah pedang.


*Boom!*


Terciptalah manusia dengan kekuatan super.

__ADS_1


Zen menggali dengan menghunus dan menebaskan pedang pada dinding lubang buatannya. Dia menggali sesuai arahan Meta, terus ke atas. Hingga akhirnya, mereka sampai di depan ruangan tempat pertarungan Dayat dan Suzuka melawan Suzuka, masuk ke dalam, lalu berpapasan Zen dengan teman-teman sekelasnya.


Suzuka menyergap Zen dari belakang yang bisa diantisipasi. Pandangan mata mereka berdua saling bertemu. Mungkin inilah yang disebut dari mata turun ke hati. Tetapi itu bukan cinta atau perasaan kasih, melainkan rasa benci dan kesombongan.


Zen menyeringai. Tak luput pula cemoohan keluar dari mulutnya. “Kau adalah gadis cebol waktu itu. Usahamu untuk melindungi Sekar gagal waktu itu. Apa menurutmu sekarang kau bisa mengambilnya dariku?”


“Kita lihat saja!” Suzuka membentak dengan mata berkobar amarah di dalamnya.


Mereka saling beradu pedang. Zen hanya menggunakan satu pedang, namun keterampilannya menyamai kemampuan Suzuka dalam menggunakan wakizashi. Zen memiring-miringkan tubuhnya demi menghindari serangan Suzuka. Sekali Suzuka membuat celah, Zen menendang perut Suzuka menggunakan tulang kering kakinya.


Suzuka melayang di udara. Arah ia melayang membawanya ke tempat Dayat dan lainnya. Dia memegangi perutnya yang sejenak terasa sakit. ‘Sial, bahkan sebagai Administrator aku bukan apa-apa di hadapannya….’


“Ada apa, Nona Administrator? Kau lebih menyedihkan dari sebelumnya?”


Perkataan Zen bukan hanya cemoohan demi memancing emosi, tetapi ada benarnya. Gaya bertarung Suzuka sangat anggun dan halus. Serangan-serangan dari wakizashi yang membelah udara terasa lembut dan membelah dengan tepat. Serangannya tenang. Tapi sekali lengah, maka jangan jengkel ketika serangan kuat mendarat titik vital dan arah pertarungan segera berbalik seratus delapan puluh derajat.


Zen menilai adu pedang singkat di antara mereka berdua. Serangan Suzuka beberapa kali lebih cepat, ayunannya menggunakan lebih banyak tenaga, dan setiap serangan diluncurkan dengan terburu-buru. Mulai berubah dari gaya bertarung Suzuka yang sebenarnya.


“Oh, apakah kau marah karena aku mengambil Sekar?” Zen menarik kedua pedangnya. Di setiap tangannya, dia memegang pedang. Setiap pedang memiliki wujud sama. Mereka adalah pedang kembar. “Wah, wah, tak kusangka makhluk dari dunia ini bisa memiliki simpati pada Pengunjung. Bukankah kami adalah alat untuk melawan Raja Iblis dan memperkuat pengaruh kalian?”


“Kami tidak begitu. Bukan semua dari kami.” Suzuka berkata pelan. Kata-kata yang seharusnya disampaikan pada Zen, namun ia mengucapkannya lirih sebagai bisikan pada dirinya sendiri. “Dayat, pergilah membawa Telur Emas. Berikan itu pada Dans. Hanya dia yang bisa menandingi Zen.” Fokus Suzuka di peperangan. Perintahnya adalah keputusannya. “Aku akan membuka celah.”

__ADS_1


“Eh? Ah, baik!” jawab Dayat.


“Jangan harap kalian akan punya waktu!” Zen mengarahkan ujung pedang kanannya ke Dayat. Sekejap mata, tubuh Zen berada di hadapan Dayat. Dia akan menebas. Pedang di tangan kirinya telah terangkat ke atas.


*Wush!*


Sebelum serangan sempat terjadi, ledakan angin menerbangkan tubuh Zen.


Zen bersalto di udara dan membuat pendaratan yang mulus. “Sepertinya kalian masih memiliki kawan, benar?” Zen berubah serius. Dia lebih waspada akan serangan sergapan.


Cloudia menampakkan dirinya. Dia melayang. “Aku akan membantu~”


Dari melayang diam di atas udara, tubuh Cloudia menukik. Dia terbang layaknya burung elang akan menangkap ikan di dalam danau. Cepat dan ganas. Ia membawa angin yang mengamuk di sekitar dirinya. Amukan angin itu adalah bola angin yang bila meledak dapat membuat tubuh lawannya melayang.


“Hou, mari kita lihat!”


Zen mengeluarkan aura bertarungnya. Aura emas meledak dari tubuh Zen dan menciptakan selubung energi yang menghempaskan udara menjauhi dirinya. Selubung energi itu---yang merupakan aura Zen---memiliki duri lancip di setiap sisinya.


Dengan aura bertarung kuat terlepas, kekuatan mentah Zen menjadi beberapa kali lebih kuat. Bom angin dari Cloudia terasa bukan apa-apa baginya. Langkahnya seakan terbang. Dan yang paling menyeramkan adalah kecepatan. Dari awalnya di depan, tiba-tiba sudah berada di belakang.


“Ini… bukan arena bertarung kita…, bukan…?” Udin melongo melihat pertarungan.

__ADS_1


Udin dan Tiana, mereka berdua mematung di tempat. Keduanya tengkurap di lantai sambil memperhatikan pertarungan dari jauh. Mereka tahu bahwa mereka hanya akan menjadi beban. Masuk ke dalam pertarungan setingkat ini, mereka hanya akan hancur.


__ADS_2