
"Aku terima laporanmu mengenai hancurnya Kultus Bintang Malam yang Berkedip, tapi kenapa kau membawa budak itu!" Raja Balik Aldenia berkata kesal pada Zen. Di atas kuris tahtanya, dia memandang ke bawah, bukan hanya untuk melihat Zen, melainkan juga untuk merendahkan lelaki itu.
"Um… yah… kau tahu, menurutku dia cakep. Makanya aku bawa dia pulang." Cara menjawab Zen tidak sungguh-sungguh. Dia seakan merendahkan lawan bicaranya.
"Kau…." Sang Raja menggeram.
"Sudah, sudah, dari pada itu, aku lebih tertarik pada kemampuan sihirnya. Kalian pasti sudah mengetahuinya, bukan? Menggunakan Persepsi Magis, rasa auranya berbeda dengan manusia biasa. Aku ingin meneliti bagian itu," timpal Zen sebelum Raja Barik sempat membuka mulut.
"Hah… baiklah. Selama tidak mengganggu progres penghimpunan kekuatan melawan Raja Iblis, aku memberimu kebebasan." Sudah kehabisan kata-kata Raja Barik untuk beradu argumen.
Zen telah menunjukkan dirinya sebagai kartu cemerlang. Mana mungkin Raja Barik akan membiarkan Zen pergi begitu saja. Melihat laporan bahwa Zen tidak ragu melawan temannya, menyandera kawan-kawan Zen tampaknya tidak akan begitu berguna. Melawan Zen sendiri rasanya juga tidak mungkin. Dia terlalu kuat. Yang ada assassin dan orang-orang suruhan lainnya lah yang akan dihajar. Pilihannya adalah ketika Zen tidur, akan tetapi keamanan istana kerajaan akan ditertawakan bila ada assassin masuk di sana. Mereka tidak ingin Zen menjadi musuhnya.
Tanpa penghormatan, bubar jalan. Itu yang Zen lakukan. Ada tata krama dan aturan sendiri saat di hadapan raja, tetapi Zen tidak peduli. Dia dengan muka bodo amat pergi meninggalkan ruang tahta melewati pintu gerbang besar yang dijaga beberapa prajurit di depan dan di belakangnya.
Berbelok ke lorong lain, Zen berada di lorong sepi. Sebuah kebetulan. Istana kerajaan hampir selalu ramai selama 24/7 karena pelayan dan penjaga pasti memiliki pekerjaan. Kebetulan dan keberuntungan Zen berada di tempat sepi. Di sana, ia terbatuk beberapa kali dengan batuk yang keras. Napasnya menjadi tak teratur. Dia hampir tersungkur ke lantai yang beruntung masih bisa ditahan. Sebelah tangannya memegang dinding dan sebelahnya lagi memegangi dadanya.
"Hah… hah… hah…." Dia melihat telapak tangannya sendiri. Tangannya gemetaran. Pandangannya ikut sedikit kabur. "Masih belum cukup… aku masih terlalu lemah…. Dengan kekuatan yang hanya segini, aku pasti akan mati. Aku harus menjadi lebih kuat!"
Dari belakang, datang seseorang. "Wah, kukira siapa, ternyata Zen. Ada apa?" Dari suaranya Zen bisa tahu dia seorang wanita. Suaranya terdengar sangat familiar. Lebih tepatnya, Zen tahu siapa orang di belakangnya.
__ADS_1
Zen segera memperbaiki posisi berdirinya. Ia berdiri tegak dan gagah. Masih belum berbalik dan memperlihatkan punggungnya. Dia berkata, "Anda sendiri, apa yang Anda lakukan, Tuan Putri Sistina?"
"Aku mencarimu," jawab Sistina. "Budakmu berontak."
"Ah, begitu ya. Maaf merepotkan." Zen berbalik. Wajahnya datar tanpa ekspresi, menunjukkan keseriusannya kali ini. "Kalau tidak salah, dia berada di lapangan latihan. Prajurit-prajurit menjaganya, bukan? Aku akan ke sana untuk mengurusnya." Dia berjalan melewati Putri Sistina begitu saja.
Di lapangan latihan, Sekar dikelilingi oleh para penjaga. Bukannya sedih dan ketakutan gadis kecil itu, dia malah menunjukkan amarah dan memandang tajam pada mereka semua. Sebelumnya dia sudah berusaha untuk melarikan diri. Entah sihir atau serangan fisik, dia sudah mencobanya. Sayang sekali tidak memberikan hasil apapun. Justru dia mendapatkan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Para penjaga ini sebenarnya bisa saja mengalahkan atau melumpuhkan Sekar. Tetapi mereka tidak berani bila sampai harus melukai tawanan yang didapatkan oleh Zen. Belum lagi sebelumnya Zen sudah menyatakan bahwa Sekar adalah miliknya. Siapapun yang berani melukai Sekar atau memperlakukan gadis itu dengan buruk, harus berurusan dengan Zen. Makanya dari tadi para penjaga cuma membentuk formasi melingkar untuk mengurung Sekar.
"Yare, yare, kalian ini sangat ribut dan merepotkan." Zen masuk ke dalam lapangan dengan ekspresi malas. Secara tersirat dia menyatakan bahwa masalah ini adalah masalah kecil. Dan para penjaga yang tidak bisa mengatasi masalah kecil adalah sesuatu hal memalukan.
"Tu-Tuan Pahlawan Zen, kami kesulitan menahannya."
"Hiyah!" Sekar mengepalkan tinjunya. Dia memukul Zen.
Hasilnya sudah sangat jelas. Zen hanya perlu satu tangan untuk menangkap pukulan Sekar, kemudian dia meringkus tubuh Sekar hingga gadis tersebut jatuh ke tanah. "Dengar, gadis kecil, kau bukan siapa-siapa di sini. Kedua penjagamu memang lebih kuat dari kebanyakan orang, tapi mereka bukan apa-apa di hadapanku. Tidak ada yang bisa menolongmu. Menyerah saja dan turuti perkataanku. Itu lebih baik dari pada aku harus menyakitimu."
Sekar terus meronta. Akan tetapi semua usahanya sia-sia saja. Ia bahkan merasakan rasa sakit di lengannya. Ini membuatnya lemas dan tak berdaya. Dia akhirnya pasrah dan berhenti berusaha. Bukan dengan lapang dada atau menerima begitu saja, akan tetapi memang sangat menyakitkan di bahu untuk melawan balik. Di tanah, dia mengutuk Zen dengan suara pelan.
__ADS_1
*Sing!*
Dari kejauhan sebuah pisau dilemparkan.
Zen terpaksa melepaskan tangannya untuk melompat menghindari lemparan pisau yang mengarah padanya. Tetapi tak berhenti hanya satu saja pisau melayang padanya, beberapa pisau lain mengikuti di belakang. Udah saja lukisan untuk menangkap salah satu pisau dan menepis sisanya menggunakan pisau tersebut.
"Kalau kau ingin menyerang secara mendadak, jangan lakukan itu dari depan. Targetmu akan tahu dari mana kau datang."
*Trank!*
Sekelebat bayangan hitam melesat ke arah Zen. Dalam sekejap, dia sudah menutup jarak dan menebaskan pisau dari atas ke bawah, tepat mengarah di kepala Zen secara simetris. Zen menggunakan satu pisau sebelumnya untuk menangkis serangan dari orang ini.
Zen tersenyum si tipis mengamati sosok di depannya. Rambut poni hitam asimetris dengan bagian kanan menutupi setengah wajah, kulit kuning langsat agak gelap, kemudian pakaian serba hitam. "Yo, kau baru saja kembali dari misi, Kusuma."
Kusuma menekan kuat-kuat pisaunya. Dia membuat dorongan hingga bisa digunakan untuk memberikan tolakan. Di udara, dia bersalto beberapa kali. Ketika mendarat, bukannya di tanah ia masuk ke dalam bayang-bayang. Nampak lah bayang-bayang hitam 2 dimensi bergerak ke sana-sini. Ini adalah kemampuan Kusuma untuk bergerak di dalam bayangan.
"Langkah Bayangan. Sejak dulu sampai sekarang kau masih memakai kemampuan itu. Sama sekali tidak ada perkembangan dalam variasi."
Kusuma muncul di belakang Zen. Dia menebas, tetapi berhasil ditangkis. Ia terus menerus memulai ulang serangannya dari berbagai sisi. Sayangnya setiap serangan yang ia lakukan selalu saja berhasil dan diantisipasi oleh Zen dengan sangat santai. Tidak memerlukan mana bagi Zen untuk menghadapi semua tebasan. Di matanya terlihat sangat jelas.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Kusuma menyerah. Dia berdiri di atas tanah. Terpisah jarak beberapa meter antara dia dengan Zen. "Hentikan! Apa yang kau lakukan pada gadis kecil!"
"Merepotkan saja, kenapa orang-orang selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil?"