
Cloudia mengelus kepalanya yang sakit juga pening sebab kejedok tembok. Ketika dia bangun, di hadapannya adalah wakizashi kayu milik Suzuka yang sudah tertodong pada dirinya. Suzuka berdiri di depannya dengan raut muka datar.
“Ini kekalahanmu.”
“U-Uhhh… baiklah. Aku menyerah~” Masih bisa tersenyum Cloudia meski dia kalah. Tidak seperti akan menjadi aib ketika kalah. Toh juga, dia tidak memiliki kewajiban sampai mempertaruhkan nyawa. “Kalian bisa mengambil Telur Emasnya.”
Dayat berjalan mendekat. Dia menggunakan sihir penyembuhan pada luka di punggungnya. Ia berhenti ketika sejajar dengan Suzuka. “Bagus jika kau mengakui kekalahan. Sekarang, bisa kau beri tahu kami di mana Telur Emas disimpan?”
“Um yah… berada di ruangan tersembunyi aku bisa mengambilkannya,” jawab Cloudia. “Tapi sebelum itu, aku harus mengatakan kalau hanya ada satu Telur Emas. Semenjak Bencana Raya, produksi Telur Emas berhenti akibat hancurnya fasilitas.”
Hanya satu? Mendengar ini membuat Dayat berpikir bahwa mereka hanya memiliki satu teman yang akan meningkat kekuatannya. Dia sendiri yang merasa bahwa dirinya lemah ingin memperoleh penambahan kekuatan, tetapi lebih baik memberikan Telur Emas ke pada Dans.
Dans, meski belum sebanding dengan Zen, dia adalah orang dalam regu mereka yang paling bisa beradu melawan Zen. Memiliki satu tombak panjang yang bisa menusuk lawan lebih baik dari pada beberapa pedang tumpul yang tidak berguna.
“Maaf, aku tidak menduga ini,” ujar Suzuka.
“Tidak, ini bukan salahmu,” sahut Dayat.
Mereka berdua dibawa Cloudia pergi ke ruang rahasia. Berada di ujung ruangan, salah satu ubin dapat terangkat dan menunjukkan tangga menuju ke bawah. Mengikoti lorong panjang yang gelap nan sempit, mereka akhirnya sampai di buntu. Di depan mereka adalah sebuah podium dengan Telur Emas tegeletak di sana.
Namanya mendeskripsikan wujudnya. Telur Emas berwarna keemasan dengan delima merah berada di empat sudut telur yang berjarak sama. Ada pula batu zamrud hijau berukuran lebih kecil dari delima yang terletak di antara setiap batu delima. Kemudian, terdapat cincin emas yang mengitari tubuh Telur Emas dan menjadi tempat batu zamrud bersama delima menempel.
__ADS_1
Di atas podium, Telur Emas tersebut memiliki bantalan merah yang menjadi tempat ia bersemayam. Dirinya juga dilindungi kaca tipis nan jernih dan melindunginya dari debu. Cahaya lampu dari langit jatuh tempat pada dirinya, menyinarinya dengan warna emas megah,
“Tidak terlalu istimewa.” Dayat berkomentar datar.
“Katakan itu pada artefak berusia ribuan tahun. Apa menurutmu aku akan mengelapnya sampai berkilau setiap hari? Tidak! Setelah aku menutupinya dengan kaca, aku tidak mengurusnya lagi! Sudah beruntung satu telur ini bisa bertahan sampai hari ini!” Cloudia kesal. Perempatan urat terlihat jelas di atas dahinya.
“Maaf, maaf, kupikir ketika melihat Telur Emas ini akan seperti mendapatkan pedang legendaris yang mampu menebas Raja Iblis atau apalah itu.” Dayat tersenyum canggung. Merasakan kesulitan dan rumit itu, selain mengamati kasus korupsi, juga bisa didapatkan saat ingin menenangkan cewek yang sedang ngambek.
“Sudah, sudah, bagus kiat mendapatkan satu.” Suzuka menepuk-nepuk punggung Cloudia. “Terima kasih sudah menjaganya untuk kami.”
“Ya, baiklah.” Cloudia bersedekap. “Ini tidak ada hubungannya denganku tapi, boleh aku tahu siapa yang akan memiliki Telur Emas terakhir itu? Selain kalian, ada satu orang di atas dan empat orang di ruangan terpisah.” Ia menambahkan, “Tidak apa-apa kalau tidak ingin menjawab. Aku tidak memaksa.”
“Tunggu, empat orang di ruangan lain?” Dayat bertanya-tanya.
“Zen….” Dayat bergumam.
“Begitu ya.” Suzuka membuat jeda napas. “Terima kasih sudah membantu kami sampai di sini. Tapi kami akan segera menemui rekan kami di atas sana.”
“Eh? Sudah selesai? Sayang sekali, Cloudia jadi sendirian, nih~” Cloudia berpura-pura menangis. Kedua telapak tangannya menutupi wajah. “Apa kalian tidak ingin bermain lebih lama lagi bersama Cloudia?”
“Bukan tidak mau, tapi keadaan memaksa.” Suzuka tersenyum kering pada Cloudia. Tangannya bergerak memegang punggung Dayat, dan perlahan ia membawa remaja itu pergi. Tidak aka nada habisnya meladeni Cloudia yang menurutnya memiliki sifat kekanak-kanakan. “Ayo pergi, Dayat. Pasti Dans sudah bosan menunggu.”
__ADS_1
Kemunculan Zen dan kawan-kawan yang akan membuat terowongan di dalam tanah berada di luar prediksi mereka. Sedikir membuat Suzuka merasa heran mengenai mengapa mereka masuk ke ruang hukuman dari pada langsung ke puncak. Imajinasinya mengatakan kalau Zen dan kawannya salah jalan (dan itu benar), tetapi logikanya menalar kalau Zen memang sengaja memanfaatkan mereka akan membuka jalan.
Menilai Zen yang bisa sampai ke mari, pasti ada informan. Namun Suzuka yakin bila informan itu tidak memiliki informasi yang lengkap. Paling tinggi sampai letak fasilitas Preceptor Crown Mountain dan mitos tentang benda di dalamnya. Dari sana, mengetahui keberadaan regu Dans, Zen memanfaatkan mereka untuk mencapai harta terakhir sedang Zen akan menjarahnya. Menjarah dari musuh yang kelelahan akan lebih mudah dibandingkan melawan musuh berkondisi prima.
Yah, abaikan saja praduga mengenai Zen. Masalah lebih besar ketika remaja ini bersama teman-temannya sudah sampai ke tempat mereka. Melewati gerbang, Zen diikuti Meta, Sekar, dan Pangeran Albert menampakkan dirinya.
“Hah, hah, tak kusangka kami salah jalan. Beruntung kalian datang. Mereka sangat membantu sebagai kompas, ‘kan, Meta?”
“Benar. Gara-gara kamu kita terjebak dalam ruangan sialan. Beruntung radarku mendeteksi sekelompok individu. Tak kusangka itu adalah kalian. Terima kasih karena berkat kalian aku bisa menggali terowongan menggunakan light cube untuk bisa langsung ke sini.”
“Yo, lama tidak bertemu, Tuan Dayat.”
Sekar diam tak berkata. Dia memandang Dayat dengan mata dingin.
“Ya. Sebuah takdir kita bertemu, Zen, Meta, Pangeran Albert.” Dayat berhenti sejenak menatap Sekar. “Apa kau baik-baik saja, Sekar?” Dia sedikit cemas mengingat gadis kecil tak bersalah itu. Ekspresi kakunya ketika memandang Zen terganti oleh rasa hangat dan kerisauan.
“Oke, cukup sampai di sini kita bertukar salam. Telur berwarna emas itu pasti harta karun dari tempat ini, bukan?” Zen menyeringai melihat Telur Emas di tangan Dayat. “Kuberi kau dua pilihan. Pilihan pertama, serahkan telur itu dan pergilah. Atau pilihan kedua, kau kuhajar, telur itu kujarah, lalu kau pergilah. Oh, dengan anggota tubuh yang tersisa tentunya.”
“Maaf, aku menolak!”
*Set!* *Trank!*
__ADS_1
Suzuka mengendap ke belakang Zen dan mendaratkan serangan menggunakan wakizashi. Zen memblokir. Dia menarik cepat salah satu pedangnya.