Classroom To Another World

Classroom To Another World
Musuh Bebuyutan (3)


__ADS_3

Dans telah sampai. Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa semua temannya telah terbantai. Dihadapan regu Zen, mereka hampir tidak bisa berkutik. Yang bisa dihitung kontribusinya adalah Suzuka dan Cloudia—dua orang Administrator dari dunia ini. Meski begitu, mereka berdua tetap bisa dikalahkan oleg Zen seorang. Udin dan Tiana tidak perlu dihitung. Sejak awal mereka adalah beban tim. Kemudian untuk Dayat, menyedihkan untuk dia kalah melawan Meta. Bukan menyedihkan sebab kalah di hadapan perempuan, tetapi dia dibantai terus menerus. Di sana bagian bahwa dirinya menyedihkan.


"Selesai. Semua rekanmu sudah kalah. Melanjutkan pertarungan akan sia-sia belaka. Bagaimana jika kau ikut menyerah bersama mereka dan serahkan benda itu?" Zen menawarkan. Dia acuh pada tubuh Suzuka dan Cloudia yang tergeletak. Pengacuhan seacuh-acuhnya, mirip pengendara yang tidak menggubris bangkai tikus di tengah jalan. Dia dengan wajah datar memandang Dayat. "Aku benci menggunakan jalan kekerasan. Jangan memaksaku."


"Benci menggunakan jalan kekerasan? Apakah itu bercanda model baru? Kau sendiri yang mulai, keparat! Dari mengambil uang perjalanan kami, Sekar, dan sekarang, kau juga ingin mengambil harta karun yang telah kami dapatkan? Kau ingin menjadi sekuat apa?" pertanyaan Dayat yang dilepaskan penuh amarah dan suara keras.


"Menyebalkan," celetuk Zen.


Sekejap, Zen berada di hadapan Dayat. Tangannya mengepal, akan memukul perut Dayat. Sebelum kena, Dans sudah muncul di sana pula. Dia menangkap kepalan tangan Zen sebelum serangan mendarat ke tubuh Dayat. Kedua remaja itu bergerak amat cepatnya. Dayat yang berada di tengah sama sekali tidak menyadari pergerakan mereka berdua. Pertama sebab keduanya di level yang berbeda, dan kedua sebab dia kelelahan. Fokusnya perlahan pudar berkenaan dengan energinya menghilang.


"Wah, wah, kawan baikku Dans. Bisa menyingkir?"


"Dalam mimpimu!"


Terjadi pertarungan di antara mereka berdua. Keduanya yang merupakan tipe serangan saling beradu pedang dengan kecepatan tinggi. Memang, faktor yang paling tinggi dari seorang penyerang yang fokus memberikan kerusakan besar adalah kecepatan dan kekuatan. Meski tanpa pertahanan, Hero tipe assassin akan mengalahkan musuhnya tanpa memberikan kesempatan menyerang bagi musuh tersebut. Dan di sini, baik Dans maupun Zen, kurang lebih mereka berdua adalah tipe assassin yang mengandalkan kecepatan serta kekuatan dalam bertarung.


*Dentang!* *Dentang!* *Dentang!*


Setiap detik berlalu, bukan hanya satu suara dentingan besi yang terdengar. Namun secara konstanta terus menerus terus ada suara pedang dari mereka berdua yang saling bertumbukan dengan ganas. Tiap-tiap pertabrakan pedang di antara mereka, pasti terbentuk bunga api dari gesekan besi. Mereka berdua yang sama-sama kuat dan cepat, konfrontasi di antara mereka berdua membuat ruangan bergetar.


Tentu saja, ada perbedaan besar di antara kekuatan mereka berdua. Zen, yang memiliki Keabadian Phoenix, dia kurang memedulikan pertahanannya. Tanpa perhatian pada pertahanan, dia terus menyerang dengan liar dan ganas menggunakan kedua pedangnya. Tak peduli luka apa yang diderita olehnya, luka itu segera sembuh dalam hitungan detik.


Di sisi satunya, Dans kewalahan. Terutama sebab pedang yang ia gunakan hanyalah pedang biasa. Pedang tersebut retak dan terkikis setiap kali senjata mereka bertabrakan. Pedang biasa yang dibuat oleh pandai besi biasa tidak memiliki kesempatan bersaing melawan pedang Zen.


*Blam!*


Satu serangan kuat membuat Dans terdorong mundur. Dia menangkis serangan Zen menggunakan pedangnya, sampai-sampai senjatanya itu patah dan cuma menyisakan pangkalnya.


Zen, tanpa mengucap sepatah katapun, menyiapkan pedangnya dan siap untuk melesat. Dans bersiap menangkis meski dengan pedang yang sudah tak utuh.

__ADS_1


Namun tiba-tiba ….


*Boom!*


Suara ledakan terjadi, tepat jatuh di tempat Zen.


Bocah itu sempat menghentikan langkahnya sepersekian detik sebelum sesuatu apapun itu ******* tubuhnya. Dan belum sempat dia melihat apa yang baru saja terjadi ….


*Dam!*


Jalur api terbentuk dari sebuah bola api yang melesat ke arah Zen. Bola api tersebut menabrak dan meledak di punggung Zen.


Kemudian belum sampai asap dari ledakan menghilang, *Woosh!* Angin kencang berhembus menerpa Zen dan menabraknya hingga membentur dinding.


Sampai retak dan Zen agak masuk menjorok ke dalam. Padahal harusnya dinding-dinding di ruangan ini cukup kuat dan memiliki resistensi tinggi untuk tidak hancur.


Tak berhenti sampai di sana serangan yang mengenai Zen. Berikutnya tongkat-tongkat batu naik dan mereka satu per satu melesat ke arah Zen. *Stab!* *Stab!* *Stab!*, Menusuk-nusuk pemuda itu dan memaku tubuhnya di dinding.


Selanjutnya Dans sendiri kurang tahu apa yang terjadi. Dia merasa tubuhnya berat seakan dicengkeram oleh sesuatu yang besar dan keras, seperti sebuah tangan yang tercipta dari batuan solid. Dia dibawa menyelam ke tanah tanpa bisa melawan.


.


Kabut menghilang. Ruangan yang kacau nampak kembali.


Pangeran Albert ada di sana. Dia mendekat ke Zen yang masih terpaku di dinding dan bertanya, “Kau membiarkan mereka pergi begitu saja?”


*Bom!*


Zen mengeluarkan aura bertarungnya dan meledakkan tempat ia berada juga sekitarnya. Membuat tongkat batu musnah dan dinding sedikit hancur. Dia berdiri tegap sambil menyarungkan kedua pedangnya. Regenerasinya bekerja dan satu per satu lukanya menutup.

__ADS_1


“Biarkan saja,” ujarnya, “Tujuan kita ke mari adalah mendapatkan {Telur Emas}. Lagi pula, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu lagi dengan mereka.”


Pangeran Albert tetap saja merasa ngeri melihat kemampuan regenerasi Zen. Luka separah itu, bila manusia normal yang menderitanya, mereka dijamin pergi ke alam lain.


Selain Pangeran Albert dan Zen, di sini masih ada Meta dan Sekar. Tim empat orang yang dibawa Zen semenjak sebelumnya.


“Sekarang, mari berdiskusi tujuan selanjutnya,” ucap Zen.


\=\=\=


Dans dibawa oleh siapa yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Dia baru dapat mengamati sosok yang membawa dia juga teman-temannya ketika sudah agak jauh. Dirinya baru saja dikeluarkan dari dalam tanah dan kini memperhatikan satu per satu mereka berempat.


Yang pertama berwujud raksasa tanah. Tubuhnya terbuat dari campuran berbagai mineral logam. Wujudnya seperti golem. Tubuhnya menjulang tinggi hingga tiga meter.


Selanjutnya seperti balon air. Dans melihatnya sebagai balon air yang mengembang.


Berikutnya adalah angin. Mirip bak bola angin yang berotasi dan menerbangkan debu-debu ditempatnya.


Dan satu lagi, dia berwujud sebagai kobaran api. Berwujud layaknya manusia dengan kobaran api memenuhi tubuhnya.


“Gah, akhirnya kita membawa mereka!” ucap sosok mineral logam.


“Merepotkan saja. Kenapa kita harus melakukan pekerjaan ini?” timpal wujud bola air.


“Mereka sangat lemah. Apa perintah Baginda Ratu tidak salah?” timpal bola angin yang entah di mana mulutnya.


“Kalian diamlah! Apakah kalian ingin berontak dari perintah beliau?” Manusia api tersebut membentak pada tiga rekannya.


Pandangan Dans silih berganti pada satu per satu dari mereka. Dia mendengarkan dialog antara keempat sosok itu. Dan setelah usai, dia pun bertanya, “Si-Siapa kalian?”

__ADS_1


“Oh, manusia ini bisa bicara dengan kami, ya? Seperti yang dikatakan Baginda Ratu.” Sosok mineral menyelam ke dalam tanah dan muncul di hadapan Dans. “Yo, salam kenal, manusia. Kami adalah Four Symbol. Kami adalah pasukan dari kerajaan roh.”


__ADS_2