
Tidak cocok bertarung, jadi ya tidak bertarung. Mereka berdua lari terbirit-birit dengan rusa badak mengejar mereka berdua. Ranting-ranting rendah dan akar-akar mencuat menjadi rintangan dalam pelarian mereka. Tidak jarang keduanya harus tergores ketika ranting kering berada di jalur mereka. Tidak butuh waktu lama, pakaian mereka benar-benar acak-acakan, kacau balau, seperti kapal pecah.
"Udin! Gunakan sihirmu!"
"Tidak ada yang berguna! Tendang saja dia!"
"Mana mungkin! Kakiku yang bakal patah!"
Begitulah perdebatan mereka. Sama sekali tidak bermutu. Mereka terus berdebat sambil lari dengan gaya yang menyedihkan. Padahal kalau mereka sedikit menggunakannya akal, Tiana bisa melompat ke atas pohon dan berpindah-pindah ke pohon lain, sedangkan Udin bisa membutakan pandangan meski serangannya tidak akan berguna. Dengan begitu, setidaknya mereka bisa membeli waktu.
Andai kata ini dalam pelajaran olahraga lari maraton, niscaya mereka menang.
*Stab!* *Stab!* *Stab!*
Lembar bulu burung melesat dari langit. Mereka menusuk di tubuh rusa badak.
Hal tersebut sontak membuat Udin dan Tiana berhenti. Mereka menyadari bahwa monster yang mengejar mereka berhenti. Terdengar pula suara keras dari monster tersebut ketika dia tumbang. Keduanya berbalik dan menemukan beberapa buku burung besar menancap di tubuh monster tersebut. Bukan hanya di permukaan, melainkan masuk sangat dalam. Serangan tersebut saja berhasil menumbangkan si monster.
__ADS_1
Sebab mencari di kiri-kanan dan depan-belakang tidak menemukan apa-apa, mereka memandang ke langit. Mengejutkan bagi mereka untuk melihat makhluk manusia setengah burung melayang di atas mereka. Bagi Udin, dia menemukan makhluk fantasi lain dan bagi Tiana dia melihat makhluk fantasi lain.
Makhluk tersebut seperti peraduan antara manusia dengan burung. Tubuhnya hingga kepala masih mirip dengan manusia normal, namun kedua tangan serta kedua kakinya sudah menyerupai burung. Dari lengan hingga ujung jari dia memiliki bulu memanjang dan menjadi sayap, sedangkan di kakinya dia memiliki ceker menggantikan kaki. Bulu-bulunya berwarna hijau dan semakin cerah semakin ke ujung. Warna sama juga di rambutnya. Untuk kakinya, dia memiliki warna kuning pada bagian yang menyerupai burung.
'Burung apaan, tuh?' Udin menganggapnya sebagai makhluk fantasi lain.
Untuk Tiana, dia sebagai penduduk asli dunia ini tahu makhluk di atas langit itu. Salah satu dari keempat ras selain manusia dan beastman, 'Iblis!'
Seharusnya teritorial tempat para iblis tinggal amat sangat jauh dari tempat mereka. Terlebih, Udin dan Tiana baru saja keluar hati ini. Berlari pun mustahil untuk membawa mereka pergi jauh. Sudah jelas bahwa iblis di atas mereka berdua memiliki maslahat tertentu untuk bisa sampai ke mari. Udin tentu tidak kepikiran apa kepentingan si iblis, begitu pula Tiana. Akan tetapi gadis itu mendengar dongeng-dongeng tentang betapa tingginya ambisi ras iblis di masa lalu untuk menguasainya dunia.
Iblis burung itu turun di hadapan mereka berdua. Dia memandang tajam pada keduanya. Pandangannya menatap tajam Udin dan Tiana. Remaja dan manusia kucing balik memandang. Mereka menemukan kedua bola mata si iblis burung berwarna hitam pekat. Barulah pupil mata memilih warna berbeda. Dipandang oleh iblis ini, rasanya dipandang oleh singa yang tidur siangnya terganggu—menggetarkan jiwa dengan penuh rasa takut. Tak satupun di antara Udin dan Tiana berani bergerak. Mereka membeku di tempat dengan keringat dingin mengucur.
Bukan sebab dia tidak pernah bertemu manusia. Hanya saja rasanya asing untuk memandang Udin. Asal-usul Udin yang berasal dari dunia lain membuat dia berbeda dari manusia kebanyakan, manusia yang banyak dilawan oleh iblis. Di satu sisi terasa familiar, di sisi lain terasa asing. Deja vu. Seperti berada di ruangan dengan dekorasi sama sepenuhnya, tetapi ruangan tersebut berada di tempat berbeda.
"A-Anu, apakah ada yang salah?" Udin memberanikan dirinya untuk bertanya. Sebetulnya, dia masih takut. Membayangkan bulu-bulu akan menusuk tubuhnya, membuat usus dan isi perutnya terburai, dia tidak berani melawan. Dia sendiri sadar bila Tiana sendiri tidak akan bisa banyak membantu. Mereka adalah calon mayat selanjutnya bila melawan.
"Yang Mulia… Raja Iblis… menyuruhku menemui… seorang manusia… yang terdampar…. Dia berkata…, manusia itu akan… bersama… ras beastman… dari suku kucing…. Beliau memerintahkan hamba… untuk membawa manusia itu… ke hadapan beliau…."
__ADS_1
'RAJA IBLIS!' Udin berteriak di dalam benak.
Sekali atau dua kali, Udin pernah membaca novel tentang karakter utama terdampar di dunia lain. Mereka akan menggapai puncak dengan kekuatan unik setingkat cheat. Dalam perjalanan mereka juga akan bertemu dengan orang-orang kuat yang akan membantu mereka kuat. Bila benar ini adalah saatnya Udin menjadi kuat, sosok dengan pangkat Raja Iblis tentulah bisa membantunya. Akan tetapi, apakah benar akan baik-baik saja?
Udin tidak hanya memikirkan untuk bertemu orang kuat yang akan menjadikannya kuat pula, tetapi memikirkan bagaimana sikap individu tersebut. Bawahan Raja Iblis saja bisa menghajar monster yang tidak bisa dikalahkan oleh Udin dan Tiana. Apalagi bosnya. Udin akan langsung menjadi debu hanya dengan hembusan napas, setidaknya itulah yang dipikirkan si Udin.
"Apakah… kamu menolak… ajakannya…?"
Wajah si iblis semakin mendekat. Semakin dekat dan dekat, hingga Udin menekuk punggungnya agar mendapatkan jarak. Canggung rasanya saat wajah mereka berdua dekat.
"Le-Lebih baik kita terima saja ajakannya." Tiana mengambil inisiatif. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Udin. Kemudian dia berbisik, "Maaf, ini demi para beastman. Aku tidak ingin iblis membuat onar di wilayah para beastman. Para pria akan berperang di garis depan bila sampai terjadi peperangan, dan anak-anak serta perempuan yang ditinggal akan menjadi sengsara. Paling buruk, mereka akan diserang ras lain untuk dijadikan budak. Aku tidak ingin ras beastman diambil kebebasannya."
Memang dengan berat hati Tiana menyatakannya. Ini adalah sebuah dilema, di mana ia ingin menyelamatkan seseorang atau menyelamatkan tanah airnya. Kemungkinan kedua terdengar lebih bagus karena bisa membuat lebih banyak orang akan selamat, tetapi membiarkan seseorang menderita begitu saja, membiarkan seseorang menjadi tumbal untuk sesuatu yang bukan urusannya, terasa sangat menyedihkan. Sayangnya mau bagaimana lagi, sekarang ras beastman berada di titik rendah. Sangat mudah menangkap mereka.
Udin ragu untuk menerima. Memikirkan Raja Iblis terlalu beresiko baginya untuk datang. Tetapi, tapi, bila dia menolak, penolakannya akan berdampak terhadap ras beastman. Meskipun mereka lebih ke arah sinis padanya dan membenci dirinya, akan tetapi fakta bila mereka telah menyelamatkan nyawa Udin tak bisa dibantah lagi. Dia berhutang budi pada mereka.
"Baik, aku akan ikut."
__ADS_1
"Bagus… manusia…." Iblis burung tersebut tertawa dengan kicau sumbang.