Classroom To Another World

Classroom To Another World
Pembasmian Phoenix


__ADS_3

Hal di luar perkiraan ketika Phoenix ternyata bukanlah burung, melainkan golem. Mereka melakukan pertarungan untuk mengalahkan golem yang tinggal di puncak gunung. Zen dan kawan-kawan menaiki airboard sedangkan sang golem menyemburkan bola-bola api yang menjelma menjadi burung api. Serangan dari golem tidak terlalu sulit diatasi, tetapi serangan mereka juga tidak terlalu memberikan dampak. Pertahanan golem terlalu kuat untuk mereka hancurkan.


*Clank!*


Zen mendekat ke Golem Phoenix. Menebaskan kedua pedangnya secara bersamaan, dia sama sekali tidak menimbulkan luka. Justru pedangnya bergetar karena benturan. "Merepotkan," bisiknya ketika melihat serangannya sama sekali tidak berguna. Selanjutnya dia segera melayang menggunakan airboard sebelum serangan golem mengenainya.


*Crt!* *Bzrt!*


Sekar melemparkan menyerang dengan aliran listrik. Serangannya merambat ke seluruh tubuh golem. Sayang sekali tidak memberikan dampak apapun. Serangannya sama sekali tidak meninggalkan bekas. Hanya merambati seluruh tubuh golem.


*Trank!*


Pangeran Albert memegang pedangnya dengan kedua tangan. Dia mengangkat pedangnya di atas kepala dan menebas ke bawah. Serangannya menargetkan pergelangan tangan si golem. Sayangnya, sama seperti yang lain, tidak ada bekas luka apapun di sana. Justru dia harus berhadapan dengan serangan balik si golem yang mengibas-ngibaskan tangannya. Ia sempat terjatuh. Beruntung Zen melesat cepat dan menangkapnya.


"Kau tidak apa-apa."


"Maaf, aku malah terjatuh."


Di sisi lain, Meta menggunakan light cube pada kaki golem. Sama sekali tidak memberikan kerusakan, tetapi ketika dia menariknya, Golem tersebut kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh, berguling-guling di lereng gunung, hingga akhirnya jatuh tengkurap di kaki gunung. Beberapa bagian tubuhnya terendam dalam aliran lahar, namun sama sekali tidak memberikan dampak. Alam di pulau ini seakan tidak mempengaruhi dirinya, justru dia mencorengkan jejak besar di sepanjang gunung berapi.


"Good job," ujar Zen pada Meta. "Meski aku ragu apakah berdampak."

__ADS_1


"Kalau muji jangan setengah-setengah kenapa, sih?"


Perlahan, golem besar itu bangkit. Tubuh berbatunya berwarna gelap berdiri tegak dengan wujud teramat kokoh. Dia memandang Zen dan kawan-kawan ketika mereka mendekat. Lalu ia memulai serangan dengan kobaran burung api yang mengejar mereka berempat. Bukan hanya satu atau dua, dia terus-terusan memuntahkan kobaran burung api.


Kobaran burung api bukanlah hal yang susah bagi mereka. Meta hanya perlu melebarkan light cube miliknya untuk menutupi mereka berempat dan membuat semua sisinya menjadi padat. Sisanya adalah ledakan yang tidak perlu dipedulikan. Cengkeraman tangan Golem mungkin kuat, tetapi tidak bisa menggaet mereka yang ada di langit. Nah, sekarang saatnya memikirkan serangan kuat untuk menghabisinya.


"Ada yang punya ide?" tanya Zen.


"Menyerah, aku tidak bisa memikirkannya." Pangeran Albert mengangkat tangan dan menjawab cepat. "Ukuran golem itu akan menyulitkannya untuk keluar dari pulau. Bila sampai masuk ke dalam air, dia akan tenggelam selama-lamanya pada kemungkinan jatuh ke dalam palung. Mundur saja. Lagi pula kita tidak harus mengalahkannya."


Sekar hanya diam. Dia memalingkan mukanya ketika Zen menatapnya. Sikapnya masih cukup acuh pada Zen. Agaknya dia memendam dendam pada Zen yang telah membawanya secara paksa. Beruntung Meta dan Albert bisa menjadi teman baik baginya. Jika bukan karena itu, dia akan melawan Zen hingga titik darah penghabisan.


"Aku rasa kita bisa menggunakan sihir skala besar," sahut Meta.


"Es, aku berpikir membekukan dia di dalam light cube. Aku tidak menjamin dia akan langsung kalah dalam sekali serangan, namun lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tetapi aku membutuhkan waktu himpun. Selama itu light cube tidak akan bisa digunakan. Kita akan rentan."


"Seakan-akan kami bertiga tidak berguna," celetuk Zen. "Aku akan maju untuk mengalihkan perhatiannya. Kau, Albert, gantikan aku saat ada masalah. Lalu Sekar, tetaplah diam di samping Meta. Jaga awasi kalau ada serangan mengarah ke kalian. Mengerti?"


"Menahan monster sebesar itu…." Pangeran Albert ingin mengeluh. Dia mencium bau-bau kematiannya kalau sampai terkena serangan langsung. Satu atau dua mungkin bisa, tapi bagaimana jika diserang secara beruntun?


"Apa? Kau menolak?" Mata Zen memandang tajam padanya. "Kita ke sini bukan untuk melakukan demokrasi. Dan gelar Pangeran yang kau miliki tidak ada harganya di sini. Apa kau ingin aku mengarang alasan jika kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan kami?"

__ADS_1


"Tidak, tidak, tidak, mana mungkin aku melakukannya."


"Oke, kalau begitu tidak ada keberatan." Zen berjalan menuju Phoenix. Kedua tangannya semakin erat menggenggam pedang setiap langkahnya. Sorot matanya hanya fokus pada makhluk di hadapannya. "Aku mulai!"


*Ssshhh!*


Dengan suara udara yang mendesis pelan, Zen secara tiba-tiba sudah berada di dekat tubuh besar Golem Phoenix. Dia menarik pedangnya bersamaan, mengalirkan mana ke dalamnya, dan menciptakan kedua bilah pedang bersinar kuning. "Pusaran Pedang!" Memekikkan nama jurusnya, dia membuat serangan bilah-bilah kuning keemasan melesat. Setiap bilah mendarat di tubuh sang golem. Mereka tidak melukainya, tetapi serangan ini membuat Phoenix terpaku perhatiannya pada Zen.


*Bom!*


Satu pukulan besar dari lengan Phoenix mendarat di tempat Zen berdiri. Tetapi remaja itu sudah tidak ada di sana. Dia melompat ke langit dengan kedua pedang disilangkan satu sama lain. Kini tubuhnya jatuh. Dia terjun bebas menerjang golem besar di bawahnya. "Twin Strike!" Serangan mengenai leher golem, tetapi sama sekali tidak memberikan dampak serangan.


"Yah, yah, dia memang sangat kuat. Tebasan pedangnya bisa membelah besi kalau dia serius. Sayang sekali pertahanan musuhnya kali ini terlalu tinggi. Seorang individu memang terbatas kekuatanya, ya?" Meta bermonolog.


"Apa maksudmu?" sahut Sekar.


"Maksudnya, andalkan kawanmu lebih banyak jika kau kesusahan. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri," tambah Meta sambil tersenyum manis yang ia tunjukkan pada Sekar.


Meta mulai bersiap-siap akan sihir besar yang akan ia lakukan. Light cube yang sebelumnya menjadi ruang pelindung bagi mereka menghilang. Meta mengatur ukuran light cube sebesar yang ia bisa. Semakin besar dan semakin besar. Ukuran rusuknya menyamai setengah lapangan sepakbola, tetapi Meta terus memperbesar ukurannya sampai menandingi Golem Phoenix. Barulah setelah itu dia menggerakkan light cube agar Phoenix berada di dalamnya. Zen ikut berada di dalam saat kejadian. Namun masih belum masalah selama sihir belum diaktifkan. Ini seperti berada di dalam sungai kering yang akan diisi air ketika hujan akan datang.


"Yap, yap, semakin besar ukurannya, semakin sulit dikendalikan. Tapi cukuplah untuk ukuran Phoenix."

__ADS_1


Langkah selanjutnya adalah membuat sihir es pada seluruh isi light cube. Kurang cocok juga bila disebut es, lebih tepat kalau menurunkan suhu. Rencana Meta adalah menghancurkan benda menggunakan perubahan suhu yang sangat ekstrim. Entah apakah bisa menghancurkannya atau tidak, ini merupakan pertaruhan. Tentu, bisa saja mereka pergi. Airboard selalu bisa digunakan kapanpun. Mereka tidak harus mengalahkan Phoenix. Melihat Phoenix yang bukan merupakan burung saja bisa menjadi bukti bahwa legenda bahwa Phoenix abadi salah.


Bagian paling krusial adalah ketika Meta merapalkan mantra. Rapalan sendiri seperti melakukan penyusunan program dalam pemrograman komputer. Lama rapalan berjalan segaris lurus dengan seberapa rumit sihir dan mana yang dikonsumsi. Kerumitan sihir dipengaruhi model atau efek sihir. Dalam kasus Meta, model sihirnya cukup sederhana, yaitu penurunan suhu. Akan tetapi cakupan areanya luas yang membuat konsumsi mana meningkatkan pesat. Ini memerlukan tambahan waktu untuk menuangkan mana. Di sinilah Zen dan Albert saling bergantian untuk mengulur waktu. Satu lelah dan satunya ganti. Terus seperti itu hingga mantra rapalan Meta selesai.


__ADS_2