Classroom To Another World

Classroom To Another World
Makhluk Hitam


__ADS_3

Dans dan kelompoknya melanjutkan perjalanan. Sejak perjalanannya ini, mereka tidak menemukan masalah yang berarti. Paling-paling hanya hewan beberapa kali menyerang. Mereka menjadi ajang latihan untuk Udin yang dapat mengalahkan mereka secara instan menggunakan pedang yang dibentuk dari sihir cahayanya — pedang cahaya.


Kemudian setelah perjalanan beberapa hari, sampai juga akhirnya mereka ke desa selanjutnya. Akan bagus kalau desa ini lebih baik dari sebelumnya atau setidaknya sama. Sayangnya, situasi di sana sedang buruk dan runyam. Baru saja sampai di sana, mereka disambut dengan suhu panas api yang membakar setiap rumah. Para warga berlarian, sebagian lainnya bertarung dengan sosok hitam, dan lainnya lagi sudah menjadi mayat yang tergeletak di tanah.


"Cepat! Kita harus membantu mereka!" bentak Dans.


Suzuka merubah dirinya menjadi katana dan berperan sebagai senjata Dans. Kali ini gift milik Dans benar-benar berguna. Kemampuannya yang memblokir kemampuan regenerasi musuh membuat sosok-sosok hitam tak dapat beregenerasi setelah ditebas. Bide dari yang dialami Zen. Sayangnya hanya Dans saja yang dapat mengalahkan mereka dengan mudah. Cloudia, Udin, dan Tiana kesulitan ketika melawan sosok-sosok hitam itu. Setiap serangan mereka hampir sia-sia dengan musuh yang pulih kembali.


Yang paling berguna di sana adalah kemampuan angin Cloudia. Dia masih bisa menerbangkan mereka meski tak bisa membunuhnya. Lumayan sebagai pengatur waktu dan menunggu Dans untuk melakukan eksekusi akhir.


Kemudian kemampuan milik Dayat lumayan bermanfaat. Gift-nya yang membuat dirinya tidak dapat mendapatkan status buruk sangat berguna untuk menolong warga yang terjebak di dalam rumah yang terbakar. Dia bisa masuk ke sana tanpa takut terbakar oleh api. Harus hati-hatinya pada atap yang akan ambruk.


Syukurlah mereka dapat mengakhirinya. Tapi tetap saja, musuh mereka yang tak berperasaan benar-benar berbahaya. Bahkan sampai akhir pun tidak ada satu dari mereka yang melarikan diri. Setiap dari mereka terus bertarung hingga semuanya hancur. Ini tentu saja menambah korban jiwa di pihak Forest Walker.


Suzuka menduga bahwa mereka mirip Golem atau robot yang akan menjalankan perintah apapun itu. Tanpa memiliki perasaan dan niatan mengkhianati, mereka adalah bawahan yang paling cocok digunakan oleh seseorang yang dicap buruk. Dan Melarosa, penyihir yang telah hidup ratusan tahun dengan membawa kutukan, adalah yang paling cocok untuk melakukannya. Kemudian mengingat umurnya, tak ayal lagi bila dia memiliki pengetahuan yang tak diketahui sampai mana.


Tapi itu nanti untuk berurusan dengannya. Hal yang harus mereka kerjakan untuk saat ini adalah menenangkan Forest Walker di desa ini. Setelah semuanya usai, Dans mencari informasi dengan bertanya ke salah satu dari mereka. Akan tetapi kejadian ini sungguh membuat penduduk desa ini mengalami masalah batin. Beberapa dari mereka berusaha kehilangan keluarganya, beberapa kehilangan anggota tubuh, dan banyak kondisi mengenaskan lainnya. Untunglah setidaknya ada satu orang yang bisa diajak bicara. Nampaknya dia termasuk salah satu pejuang yang selamat.

__ADS_1


"Terima kasih telah menolong kami. Tanpa kalian, desa ini pasti sudah hancur," ujarnya.


"Sama-sama," jawab Dans, "Tapi sayang sekali kami datang ketika desa ini diserang. Nanti saja kamu datang lebih cepat, pasti ada lebih banyak orang yang bisa diselamatkan."


"Tidak, itu sudah bagus untuk membantu." Dia bersikeras. "Ngomong-ngomong, siapa dan apa tujuan kalian?"


"Hanya pengembara biasa," kata Dans, "Tujuan kami ke mari adalah untuk datang ke Menara Putih Kegelapan. Di desa sebelumnya kami dapatkan informasi bahwa yang benar, tapi kami sama sekali tidak dapat menemukannya."


"Ya, kalian sudah di jalan yang benar. Semakin dekat kalian ke tujuan kalian, sosok hitam itu akan semakin sering kalian temui. Aku sarankan untuk tidak pergi ke sana. Terlalu berbahaya untuk melawan banyak musuh."


"Maaf, tapi pertahanan desa ini sangat lemah setelah serangan tadi. Bahkan hewan buas pun mungkin dapat menghancurkannya. Orang-orang yang tersisa kebanyakan tidak bisa bertarung. Tolong selamatkan mereka juga jika kalian pergi ke sana, kumohon."


Niatnya Dans mau langsung pergi saja setelah mendapatkan informasi yang cukup. Toh juga, mereka perlu segera sampai sebelum Zen. Tapi melihat desa ini yang kacau balau dan banyaknya korban,nl rasanya tidak nyaman bila langsung pergi begitu saja tanpa memberikan bantuan. Ditambah lagi, hari ini sudah mulai sore. Hewan buas yang menjadi lebih liar waktu malam, Dans ragu orang-orang di sini dapat bertahan dari gempuran mereka bila ada.


Maka dari itulah mereka memutuskan bermalam di sana untuk sehari.


\=\=\=

__ADS_1


Zen bersama Della lanjut berjalan di dalam hutan. Sinar matahari terhalang dedaunan lebat hutan dan yang berhasil menembusnya membentuk bayangan rimbun. Memang seperti itu pekerjaan Forest Walker — menjaga hutan dan melindunginya. Bahkan alam yang dibiarkan tetap liar dapat menghancurkan dirinya sendiri.


Pohon yang terlalu tinggi dan terlalu tinggi dan lebar daunnya akan memblokir cahaya untuk tanaman yang lebih rendah di lantai hutan. Bila seperti itu, untuk kedepannya tidak akan ada tumbuhan baru. Tanaman muda kesulitan tumbuh berkat tumbuhan tua berdaun lebat.


Selama perjalanan itu mereka berdua tidak benar-benar menemui masalah berarti. Hanya hewan-hewan kecil dan serangga yang diusir. Berkat sihir aneh tak kasat mata Della yang menyelimuti area sekitar lima meter dari mereka, tidak ada serangga yang mendekati mereka. Serangga yang merupakan hewan kecil justru berbahaya karena sulit diawasi. Kau tidak akan tahu apa yang terjadi bila mereka menggigitmu. Di dunia nyata, salah satu kemungkinan terburuknya adalah terkena demam berdarah. Dan untuk dunia fantasi seperti itu, tak aneh bila ada serangga yang dapat meracuni dan membunuh orang dalam hitungan menit.


Hal bagus selama perjalanan ini adalah hutan yang semakin longgar. Dapat dirasa cahaya matahari yang menembus dedaunan semakin banyak. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa mereka sebentar lagi akan sampai di tanah terbuka.


Kemudian benar saja, mereka sampai ke sebuah desa suatu suku Forest Walker. Itu adalah desa yang sebelumnya dilewati oleh Dans dan kawan-kawannya. Dan lalu kemudian sama seperti nasib Dans dan kawan-kawannya, Zen bersama Della mendapatkan sambutan "ramah" dari penduduk desa sana.


"Mereka ngajak gelut, ya?" gumam Zen.


Remaja itu sudah bersiap-siap dengan meletakkan kedua tangannya di gagang pedangnya. Massa yang semakin mendekat, lebih dekat lagi Zen akan menarik pedangnya dan menebas mereka — itulah niatannya.


Namun sebelum itu dia dihentikan oleh Della.


Della maju selangkah mendahuluinya. Mata datar tanpa minatnya memandang para Forest Walker di hadapannya. Dan dengan itu, Della melepaskan kutukan yang membuat penyerang mereka tiba-tiba saja terjatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2