Classroom To Another World

Classroom To Another World
Menara Putih Kegelapan


__ADS_3

Zen mengangkat salah satu pedangnya, bersiap akan mengayunkan dan mengirim bilah angin terbang dari sana.


Rencananya, Zen akan mengirim serangan terbang memasuki ladang ilalang dan menghancurkan inti yang ada di tengahnya


Tapi belum sempat, sesuatu menghentikannya.


Itu adalah Meta.


Ketika mendengar Zen dan Della melakukan perjalanan kemari, Meta segera menyusul. Takut saja kalau sampai ada apa-apa terjadi pada mereka berdua.


"Meta? Kenapa kamu di sini?"


"Nyusul kalian," jawab Meta, "Jadi, apa yang kalian berdua lakukan di sini?"


"Cuma mau masuk ke Menara Putih Kegelapan."


Meta mengernyitkan dahinya.


Yang menjadi masalah di sini adalah kata "cuma". Sejauh informasi Meta adalah Menara Putih Kegelapan bukan tempat yang lazim dikunjungi orang umum. Ini adalah situs bersejarah. Bukan taman kota yang setiap harinya ramai dengan orang-orang. Dan dari semua itu Zen menambahkan kata "cuma"? Gak salah, nih?


Della menjelaskan situasi mereka.


Dia menjelaskan soal ladang ilalang yang terpasang sihir khusus dan mereka sedang mencoba menembusnya. Hanya itu yang Della jelaskan. Ini membuat Meta bertanya pada Zen apa saja yang mereka lalui selama ini, dan memang banyak peristiwa penting yang harusnya diceritakan. Peristiwa mulai dari Zen dan Della yang tak sengaja menjadi terkenal, makhluk hitam misterius, dan para Forest Walker.


Penjelasan Della sebelumnya terlalu kurang.


Ini seperti mengambilkan setetes air saat disuruh mengambilkan air. Memang tidak salah. Hanya saja kalau tujuan mengambil air itu adalah untuk minum, jelas setetes air tidak cukup.


Meta menggelengkan kepala.


"Sekarang kalian mau ke sana? Tapi aku meragukan cara kalian."


Rencananya adalah Zen akan melepaskan serangan yang masuk ke padang ilalang dan menghancurkan inti tempat itu dalam sekali serang. Cuma, efek dari sihir di tempat itu adalah π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘›π‘‘π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜ π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› π‘šπ‘Žπ‘›π‘”π‘ π‘Ž. Tentu saja siapapun yang membuatnya tidak akan seceroboh itu untuk membiarkan suatu individu mendekati inti dari tempat tersebut. Yang artinya, serangan Zen akan dipindahkan secara acak dan menjadi sia-sia.


"Lagi pula bukannya tadi kalian bilang kalau tempat ini seperti lingkaran? Kalau Menara Putih Kegelapan ada di dalamnya, bisa jadi intinya di dalam sana."


Tepat.


Della dan Zen tidak memikirkan kemungkinan tersebut.


"Bagaimana kalau kita menggali terowongan bawah tanah?" ide Meta yang tak terpikirkan Zen dan Della.


Della mengkonfirmasi bahwa efek dari sihir di area tersebut tidak mempengaruhi hal-hal di bawah tanah. Itu mungkin dilakukan untuk menggunakan ide Meta.


Sebelumnya tidak mungkin bagi Zen dan Della menggunakan ide yang disarankan Meta. Zen yang merupakan ahli pedang kurang efisien kalau menjadi kuli bangunan dan Della yang ahli pada sihir debuff jelas memiliki spesifikasi berbeda. Yang bisa melakukan itu adalah penyihir yang dapat memanipulasi elemen atau penyihir yang sebenarnya umum ditemui di dunia ini, tapi itu tidak ada di dalam regu Zen. Namun sekarang ada Meta yang bisa melakukannya.


Melakukan itu ada satu masalah.


Mereka tidak akan bertemu dengan regu Dans yang terjebak di dalam padang ilalang.

__ADS_1


Sungguh malang….


\=\=\=


Menggunakan ide Meta, alhasil Zen dan Della menembus padang ilalang tanpa masalah.


Di depan mereka adalah tanah kosong yang gersang. Sama sekali tidak ada tumbuhan di sana dan di bawah mereka adalah tanah kering penuh akan retakan. Suhu di sini tidak terlalu panas. Sama seperti di area hutan malahan. Iklimnya tidak beda. Maka kesimpulannya, ketidakwajaran ini merupakan perbuatan seseorang, dan orang itu seharusnya berhubungan dengan Menara Putih Kegelapan.


"Hanya tanah kosong."


"Apa benar ini tempatnya?"


"Tunggu, aku melihat sesuatu."


Hanya Della dengan kemampuan uniknya yang dapat melihat. Di depan mereka merupakan menara tinggi besar yang menjulang ke langit. Della sampai mendongak ke atas untuk melihat puncak dari menara itu.


"Sihir ilusi, ya?"


"Heh… ini jadi seperti penelusuran gaib," komentar Zen, "Apa ada cara agar kami juga dapat melihatnya?"


"Tunggu sebentar."


Della maju selangkah.


Kemudian sambaran petir mengamuk dari tanah dan naik ke atas. *Zrt!* *Zrt!* *Zrt!*. Seusai itu, nampaklah bangunan putih di hadapan Zen dan Meta.


"Jadi ini tempat yang disebut Menara Putih Kegelapan?" kata Meta, "Aku tidak tahu soal bagian 'kegelapan', tapi ini memang 'menara putih' yang megah."


*Srak!* *Srak!* *Srak!*


Tapi sebelum mereka bergerak, serigala-serigala bayang melesat dari rumput-rumput ilalang. Banyak dari mereka keluar bersamaan. Mereka melompat ke atas dan menerkam ketiganya.


*Slash!*


Zen menarik pedangnya dan memusnahkan mereka dalam sekali tebas.


Dia bersiap bila musuhnya bangkit lagi, tapi tanda-tanda itu tak ada.


"Kalah dalam satu serangan." Zen menyarungkan pedangnya. "Musuh yang sangat baik."


Mereka bertiga masuk ke Menara Putih Kegelapan melewati sebuah pintu lebar di salah satu sisi menara itu.


Di dalam sana gelap. Namun setelah Zen menginjakkan kakinya ke dalam ruangan, tiba-tiba cahaya menyala. Terungkap ruangan luas dengan pilar-pilar putih sebagai penyangga yang berbaris rapi.


*Ssh!* *Ssh!*


Suara desis angin terdengar.


Sesuatu dengan cepat bergerak mengelilingi mereka bertiga.

__ADS_1


Dengan cepat dan tepat, sesuatu itu menyambar mereka bertiga dalam tenang.


*Trank!*


Sesuatu itu menyerang mereka bertiga, namun penghalang tembus pandang Meta memblokir serangan mereka.


Terlihat wujud musang dengan kaki depan berupa bilah melengkung. Tubuhnya berwarna hitam dan mata merah β€” sama dengan sosok sebelumnya. Musang-musang itu bergerak dengan melayang di udara.


"Kebanyakan orang akan langsung mati."


"Mengingatkanku pada makhluk mitos asal Jepang yang bernama Kamaitachi(1)."


Zen menarik kedua pedangnya dan menuju musang di batas penghalang Meta.


*Slash!*


Menebas, tapi musang bayangan tersebut menghindar.


Yang lainnya datang dengan melesat cepat dan menyerang Zen dari sisi lainnya. Kemudian ketika Zen terfokus pada satu dari mereka, yang lainnya menyerang.


Jumlah mereka yang banyak dan main keroyok cukup membuat Zen kerepotan melawan mereka. Sesekali dia sampai terluka.


Luka itu kurang berarti di bawah efek Keabadian Phoenix.


Tapi merepotkan.


Gerakan mereka yang cepat membuat Zen kewalahan. Kemudian kerja sama dan koordinasi mereka sangat bagus. Mereka berpasangan menyerang dari sisi-sisi yang beragam.


*Step!*


Zen melangkah mundur, masuk ke penghalang Meta.


"Aku benci mengakuinya, tapi aku kesulitan melawan mereka," kata Zen, "Bisa kau kalahkan, Della?"


"Maaf saja, tapi gerakan mereka terlalu cepat," jawab Della, "Mataku tidak bisa mengikuti mereka."


"Kalau begitu serahkan padaku," ujar Meta.


Meta mengangkat tangannya dan menciptakan bola api berwarna jingga. Semakin ke pusat bola api, warnanya makin cerah hingga diakhiri warna putih.


Dia melemparkan bola api itu ke sembarang sisi.


Ketika bola api mengenai dinding, bola api tersebut berganda jumlahnya. Dari satu menjadi dua, dua menjadi empat, dan seterusnya. Dalam waktu singkat ruangan tersebut dipenuhi bola-bola api yang membara.


*Boom!* *Boom!* *Boom!*


Bola api yang mengenai musang hitam itu meledak dan melenyapkan mereka.


\=Note\=

__ADS_1


Kamaitachi adalah sejenis yōkai dalam mitologi Jepang, biasanya di daerah Kōshin'etsu. Ada beberapa pandangan mengenai bagaimana wujud dan tingkah lakunya, tetapi yang umum menyatakan bahwa Kamaitachi adalah sekumpulan musang yang bercakar tajam, bergerak bagai hembusan angin, dan melukai kulit kaki manusia. ~ Wikipedia


__ADS_2