Classroom To Another World

Classroom To Another World
Akhir Pertarungan


__ADS_3

Zen menggunakan kemampuan yang ia dapatkan dari Keabadian Phoenix.


Self-Injury Phoenix.


Itu merupakan kemampuan yang memiliki daya hancur besar.


Dans yang berdiri di sana, dia memasang kewaspadaan dan bersiap akan serangan Zen.


Akankah dia bisa menangkisnya?


Dia sendiri ragu akan hal itu.


Kekuatan penghancur Zen jauh berada di atasnya. Satu-satunya aspek yang menurutnya bekerja melawan Zen adalah gift miliknya untuk menggoreskan luka yang tak dapat dipulihkan, yang sayangnya ini juga tak berguna di hadapan Zen.


Tubuh abadi, energi tak terbatas, dan kehendak bebas tanpa kekangan — itulah Zen saat ini. Mahluk liar yang tak dapat ditunjukan!


Setidaknya, dia punya kemanusiaannya.


Zen menghentikan serangan yang ia himpun. Suhu tinggi yang sebelumnya terasa kini menghilang. Udara berangsur-angsur kembali seperti seharusnya.


"A-Apa? Ada apa?" tanya Dans.


Zen memandang ke langit, pada apa yang ada di balik punggung Dans. "Sayang sekali, ya. Sepertinya ini akan jadi merepotkan."


Dans berbalik dan melihat apa yang terjadi di sana.


Mellarosa memanggil belasan cermin dan dari sana "Doppelgänger" bermunculan serentak. Meta dan Cloudia berhadapan dengan mereka semua, dan hasilnya mereka kewalahan.


Parameter dari "Doppelgänger" yang dipanggil Mellarosa, mereka memiliki serangan yang tajam, gerakan mereka lumayan cepat, meski daya tahan mereka lemah yang membuat para "Doppelgänger" itu dapat dibunuh dengan satu serangan. Serangan AoE (Area of Effect) dapat menghapus mereka sekaligus, namun jumlah mereka yang banyak dan masing-masing yang sambung-menyambung serangan tidak memberikan Meta maupun Cloudia waktu menghimpun serangan kuat.


Kedua orang itu dibawa pada posisi merugikan.


Di depan mereka, Mellarosa tengah menghimpun serangan kuat.


Tak diketahui serangan macam apa itu, namun aliran angin berkumpul ke arahnya seakan terserap olehnya. Di sekitar tubuhnya, warna hitam berkumpul. Puncaknya ada di tangan kanannya, di mana ada sebuah bola berpendar warna ungu gelap.


“{Kita harus menghentikannya,}" pikiran Suzuka ditransmisikan ke kepala Dans, "{Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi dari kumpulan energi itu, dia akan membuat serangan besar.}"


Dans terpaku pada perkataan Suzuka itu. Dia baru mulai mempersiapkan ulang kuda-kudanya.


Tapi sebelum itu, Zen telah maju mendahuluinya.


Zen melesat sambil membawa kedua pedang kembarnya. Dia menyambar menuju ke kumpulan "Doppelgänger" dirinya, mengabaikan apapun yang ada di jalannya. Semakin dekat, dia menyiapkan pedangnya. Dan sampai di sana, Zen mengayunkan pedangnya.


Zen menebas pada tiap-tiap "Doppelgänger" dirinya yang mendekat. Satu tebasan membunuh satu dari mereka.

__ADS_1


"🖤Wah~ Usaha yang bagus." Mellarosa menyeringai. "Sihir terkuat yang kupelajari ini tak akan bisa kau hancurkan."


Zen tak peduli.


Dia mengayunkan pedang ke udara dan mengirim bilah angin kembar ke Mellarosa.


Sayangnya bilah angin itu menghilang ketika mendekati Mellarosa.


"🔹Doom Sign: Annihaltion Summoning🔹"


*Gemuruh!*


Mellarosa melemparkan bola berpendar ungu ke langit.


Bola itu meledak saat mencapai ketinggian tertentu, kemudian kegelapan menyebar hebat. Kegelapan yang menyebar membentuk lapisan awan berwarna hitam legam di langit berbentuk lingkaran. Dari sana suatu makhluk yang sulit digambarkan muncul. Perawakannya tak jelas.


Entah apa yang berasal dari dalam sana, namun tentakel-tentakel raksasa bermunculan dan mata raksasa berada di pusatnya. Mata tersebut berwarna merah dengan pupil hitam yang menatap tajam.


"Fufufu… aku telah meneliti sihir gelap selama ratusan tahun, dan inilah puncaknya!" Mellarosa tertawa gila. "Sejak dulu, umat manusia memanggil 'Pahlawan' untuk menyelamatkan dunia. Tapi bagaimana kalau memanggil sosok yang berlawanan dari 'Pahlawan'? Inilah hasilnya! Aku memanggil momok yang akan menghancurkan dunia!"


"Dasar penyihir gila," umpat Zen, "Kau juga akan hancur saat dunia ini hancur."


"🖤Tidak akan, sayang~. Aku akan pergi ke dunia lain saat itu terjadi."


Gagal.


Tiap tentakel yang muncul dari sana memiliki pertahanan dan daya tahan tinggi. Serangan Zen hanya menggores, gagal memotong mereka.


*Sis!* *Sis!* *Sis!*


Tak hanya sampai di sana, duri-duri juga diterbangkan menuju Zen oleh makhluk itu.


"Windlord Sword Style: Hurricane!"


Zen menyilangkan pedangnya, berputar, kemudian melepaskan pusaran badai emas.


Serangannya ini menepis duri-duri dari yang sebelumnya menuju ke arahnya jadi diterbangkan ke segala arah.


Tapi kini serangan selanjutnya dari makhluk itu datang.


Makhluk itu menggunakan tentakelnya untuk menyerang terus-terusan. Semua serangan menyerang Zen dan semakin lama temponya makin cepat.


"Windlord Sword Style: Assault Attack!"


Zen bergerak cepat sambil menebas apapun yang masuk di area serangnya. Tentakel-tentakel tergores setiap kali Zen berpijak di tempat mereka.

__ADS_1


Sembari terus menyerang apapun yang ada di dekatnya, Zen berlari menuju ke mata raksasa yang menjadi pusat makhluk tersebut.


Dan saat Zen berjarak dekat dengan mata itu.


*Stab!* *Stab!* *Stab!*


Makhluk tersebut menembakkan duri-duri yang langsung menusuk dan menembus tubuh Zen.


*Dam!*


Tak sampai situ, makhluk itu menggunakan tentakelnya untuk memukul Zen, hingga remaja itu dikirim jatuh dengan kecepatan tinggi.


Di tempat jatuhnya, Zen membentuk kawah kecil.


Tubuhnya terluka parah.


Bahkan jika Keabadian Phoenix memberikan kekekalan pada Zen, tetap pemulihan tubuhnya tidak instan. Luka parah memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama. Dan di waktu itu, makhluk tersebut memiliki kesempatan untuk memangsa kawan-kawan Zen.


Meta melemparkan bola api raksasa.


Cloudia menghembuskan badai kuat.


Della menatap dan mengirimkan kutukan.


Tapi di antara mereka bertiga, tak ada satupun yang memberikan kerusakan berarti. Makhluk tersebut bergeming dan mengeluarkan suara besar menggema yang mengerikan — bak suara seram misterius dari dasar lautan tak berdasar.


"🖤Percuma saja. Bahkan bila dia adalah makhluk yang berkebalikan dari para 'Pahlawan', dan kalian merupakan 'Pahlawan', ada jurang kekuatan di antara kalian." Mellarosa memandang tempat jatuh Zen. "Bocah itu mungkin bisa mengalahkannya, tapi itu berkat keabadiannya yang membuatnya tidak kalah. Menghitung kekuatan kalian, kalian tak bisa mengalahkannya."


"Kita lihat saja!" bentak Dans.


Dans mengangkat katananya — Suzuka — ke atas di atas kepalanya. "Prinsip Kehancuran…." Dia memusatkan tenaganya di sana, bilah Suzuka pun berwarna hitam yang semakin legam. Itu bukan warna hitam dari pewarna, melainkan warna hitam dari cahaya yang tak dipantulkannya — kegelapan murni. "Tebasan Semesta!"


*Slash!*


Sebuah tebasan yang senyap diluncurkan Dans.


Tebasan itu memotong makhluk itu beserta lapisan gelap di langit. Kemudian seakan dihisap oleh kehampaan, makhluk itu beserta lapisan hitam menghilang tanpa jejak, menyisakan langit biru tanpa awan.


"A-Apa-apaan itu?" Mellarosa terperangah.


Prinsip Kehancuran yang Dans pelajari dari Suzuka adalah kemampuan untuk menghancurkan "hukum dunia". Serangan dari Prinsip Kehancuran adalah serangan dengan kekuatan "absolut" yang dapat menghancurkan apapun. Bahkan bila serangan tersebut tidak mengenai lawan, tebasannya tetap memiliki akan kena lawan. Serangan dengan kemungkinan berhasil 100%.


"Selanjutnya tersisa kau!"


Dans mengarahkan ujung katananya pada Mellarosa.

__ADS_1


__ADS_2