
Mereka pergi ke kota terdekat sebagai tindakan istirahat. Eksplorasi mereka kali ini cukup membuahkan hasil dengan loot berupa Inti Phoenix. Inti Phoenix yang berbentuk bola api bak mentari itu berada di dalam light cube. Dia awalnya dibawa Meta sebagai orang yang mengendalikan light cube. Namun selanjutnya, Zen mengambil light cube tersebut dan membawa Inti Phoenix.
Bukan tanpa alasan. Menurut legenda, dikatakan bahwa Inti Phoenix memiliki efek penyembuhan tingkat tinggi hingga memperbarui sel-sel yang telah menua. Orang yang berhasil menyerap Inti Phoenix akan mendapatkan keabadian. Kemudian menurut Goldwin, Administrator yang melatih Zen, dia mengkonfirmasi kebenaran tentang khasiat Inti Phoenix. Jika bukan begitu, mana mungkin mereka akan mempercayai legenda yang tumpang-tindih.
Sekarang mereka berada di penginapan. Malam hari ini sunyi. Kota tepi laut itu tidak banyak dikunjungi orang sebab bukan spot bagus untuk berburu. Makanya mereka bisa mendapatkan penginapan bagus dengan harga murah. Mereka memesang dua kamar yang pembagiannya antara laki-laki dan perempuan.
Meta dan Pangeran Albert berjalan-jalan ke luar untuk mencari angina dan melihat-lihat kondisi. Hanya ada Zen dan Sekar di sana. Zen, bagaimanapun juga, sangat disayangkan karena tangan kirinya harus diamputasi. Dan Sekar, ia mendapatkan luka di tulang rusuk sebab Zen menghempaskannya dengan cepat.
Sekar membuka pintu kamar Zen. Dia memandang remaja itu yang duduk di sisi ranjang dengan light cube berisi Inti Phoenix melayang di atas bahu. Sekar merasa canggung dan tidak enak pada Zen. Dia melihat tangan kiri Zen yang kini tengah buntung. Bukan salahnya, namun dia merasa tidak nyaman.
“Masuklah. Jangan hanya berdiri di depan pintu.” Zen menyadari Sekar di depan pintu yang telah terbuka. Dia berkata tenang.
Sekar berjalan perlahan ketika dia masuk. Pandangannya terpaku pada lengan kiri Zen. Ketika dia berada di hadapan Zen, dia berkata, “Ma-Maaf, ka-karena aku….”
“Tidak perlu minta maaf,” potong Zen. “Aku lah orang yang mengajakmu ikut dalam perjalanan ini. Aku juga yang membawamu dari Dans dan Dayat. Sudah menjadi tanggungjawabku untuk memastikan keamananmu. Menyelamatkanmu waktu itu, itu juga sudah menjadi tanggungjawab dan keputusanku.”
“Ta-Tapi, tapi, kalau saja aku tidak lengah….” Terdengar suara isakan dari sela-sela kalimat Sekar. Adegan ketika lengan Zen terbakar masih terlintas jelas di dalam bayangan benaknya.
“Menyesal tidak ada gunanya. Aku tidak akan melarangmu jika kau menangis. Tapi jika kau menyesal, aku tidak mengizinkannya.”
“Ke-Kenapa? Bukankah kau tidak bisa menggunakan gift-mu dengan satu tangan? Ilmu pedang ganda, tidak bisa digunakan hanya dengan sebelah tangan. Kalau begini….” Suara Sekar semakin pelan. Dirinya menahan tangisan di kerongkongan. Kata-katanya ikut berhenti ketika dia berhenti berbicara karena tidak ingin tangisannya ikut. “Kalau begini kamu akan menjadi lemah.”
__ADS_1
Sekar bersedih. Dia meneteskan beberapa air burtir air mata yang merembes melewati pipinya sebelum jatuh ke lantai. Saat itu dia merasakan tangan hangat membelai kepalanya. Mendongak, dia melihat Zen tersenyum tipis padanya dengan tangan kanan mengelus kepalanya.
“Gadis kecil sepertimu tidak usah memikirkan hal-hal rumit. Biarkan yang lebih tua mengurus semuanya. Anak-anak seusiamu justru seharusnya bermain, bukan bertarung. Jangan memikirkan hal-hal yang di luar usiamu,” kata-kata Zen ini membuat hati Sekar menjadi lebih tenang.
“Terima kasih.” Sekar menunduk malu saat mengatakannya. Entah apa yang merasuki dirinya, namun dia merasa bahwa kata-kata Zen terasa hangat. “Kalau begitu, setidaknya bisa beritahu aku mengapa kau membawaku ikut? Kau tahu aku lemah. Bahkan kau membawaku sebagai bahan latihanku. Kenapa kau ingin aku menjadi kuat?”
“Hm… kira-kira kenapa, ya?” Zen mendongak ke atas dengan jari telunjuknya menempel di dekat bibir. “Mungkin karena rasmu,” jawabnya singkat. Ia memandang kedua mata Sekar.
“Ras?”
Sampai garis besarnya saja. Sekar tahu bahwa setidaknya terjadi pertikaian antara ras di dunia. Dari ras manusia, iblis, forest walker, dan beastman, mengapa mereka berempat bertarung? Padahal perbedaan suku di dalam ras bisa berdamai sedang mereka memiliki perbedaan. Samakah antara orang gurun dan orang kutub? Tidak, mereka berbeda. Tapi mengapa ras manusia di sini bisa akur?
“Um.” Sekar mengangguk. “Mereka bilang aku gabungan keempat ras. Iblis dari suku harpy, forest walker elf, beastman dari suku harimau, dan manusia. Aku aneh.”
Zen tertawa kecil. “Benar-benar kombinasi yang aneh. Burung dengan harimau dan aktivis lingkungan dengan perusak lingkungan.” Ia lanjut tertawa cekikikan. Memikirkan kombinasi garis keturunan menjadi lucon tersendiri untuk Zen.
“Apakah buruk?”
“Tidak, tidak, kau sama sekali tidak buruk.” Zen berhenti tertawa. Ia pun berkata, “Hanya saja, jangan memanggil dirimu aneh. Sebut dirimu unik.”
“Unik?”
__ADS_1
“Ya, unik.” Zen sedikit menceritakan kisah menganai dirinya. Dia mengatakan, “Bukan hanya kamu yang menjadi unik, aku pun juga unik sebelum dating ke mari. Aku memiliki kulit gelap dan rambut keriting. Di sekolah hanya sedikit orang yang memiliki penampilan begini. Karena itulah aku menganggap diriku berbeda. Tapi, yah, itu unik, bukan?”
“Kak Zen, apa kamu seorang bangsawan? Ibu bilang hanya orang kaya dan bangswan yang bisa bersekolah. Rakyat jelata harus bekerja karena bisa mati karena miskin. Karena Kak Zen tidak pandai berdagang, kupikir kamu seorang bangsawan.”
“Ah….” Zen teringat saat-saat dia menawar harga. Dia sama sekali tidak pandai melakukan penawaran. Sekalinya menawar, dia memasang harga tidak manusiawi. Sering ia mendapatkan barang lebih mahal dari harga pasar. Atau kalaupun tidak, dia membawa dompet yang tidak berkurang isinya.
Kini, mendengar anak kecil berkata tepat di depan wajahnya, Zen membeku. Mana mungkin kali ini dia berkata bahwa tidak bisa menawar adalah hal yang unik? Kali ini jelas-jelas karena kurangnya pengalaman.
“Duniaku sangat hebat. Orang-orang bisa pergi ke sekolah, anak yang lahir di keluarga pas-pasan bisa pergi ke sekolah.” Dalam hati ia menambahkan, ‘Sayang sekali yang miskin sudah beda lagi nasibnya. Mereka gak beda dengan orang miskin di sini yang harus ikut kerja.’
“Benarkah? Apa di sana ada sihir?” Sekar bertanya dengan penuh ingin tahu.
“Kami tidak memiliki sihir di sana, tapi kami mengembangkan ilmu pengetahuan. Kau masih ingat dengan airboard ciptaan Meta, bukan? Di sana kami memiliki kendaraan besar yang bisa mengangkut ratusan orang.” Di dalam benak dia menambahkan, ‘Meski aku belum pernah naik pesawat dan lebih suka pakai airboard-nya Meta.’
“Hebat!”
“Yaps, tempatku berasal sudah mengembangkan peradaban selama ribuan tahun. Kami masuk ke era modern. Apa kamu mau ikut jika ada cara ke sana?”
“Boleh?”
“Fumu!”
__ADS_1