Classroom To Another World

Classroom To Another World
Perjalanan ini…


__ADS_3

Zen memulai perjalanannya bersama Della.


Hanya mereka berdua dalam perjalanan ini. Pangeran Albert dan Meta ada urusan sendiri, sementara Sekar memutuskan untuk berlatih. Zen sendiri, meski pahlawan lain sibuk pada misi masing-masing, Zen yang baru saja menyelesaikan misinya sendiri punya hari libur. Sedangkan untuk Della, dia yang kurang dianggap dibiarkan begitu saja jadinya punya banyak free time.


Dan sekarang dimulailah petualangan mereka berdua dengan peralatan yang minim. Zen dengan pedang kembarnya dan Della dengan pakaian seragamnya yang sudah compang-camping. Penampilan mereka ini menarik perhatian di tempat umum, terutama Della. Ini bikin orang pada mikir: Itu cewek diapain sampai kayak gitu? Terus apa cowoknya gak peka?


Tapi ya… sudahlah.


Bagi mereka berdua yang penting itu skill, bukan skin.


Gak mungkin juga mereka melakukan perjalanan jauh cuma pakai kaki. Meta yang biasanya jadi transportasi juga gak ikut. Makanya Zen dan Della bergabung dengan karavan para pedagang dan menawarkan diri mereka sebagai pengawal.


Awalnya mereka berdua diremehin dan dianggap bocah aneh. Di sini Zen menyarankan, “Gimana kalau kalian lawan kami saja?”


Makanya ada duel singkat di antara mereka, tapi tanpa Zen turun tangan sekalipun Della bisa mengatasinya.


Menggunakan sihir kutukan miliknya, Della hanya perlu menatap satu per satu dari mereka dan melancarkan debuff secara diam-diam. Dia membuat semua pingsan kurang dari semenit.


“Kemampuan yang bagus,” itulah pujian yang keluar dari mulut Zen.


Dan begitulah ceritanya mereka berdua diizinkan ikut karavan.


.


\=Hari Pertama\=


Dimulai dari pagi hari perjalanan. Mereka berdua berada di karavan penuh kebosanan. Beberapa orang coba berbicara pada keduanya, namun mereka berdua seakan memiliki dinding transparan yang membuat orang-orang ragu untuk mendekat. Atmosfer di dekat mereka terasa menekan.


Bukan karena itu merupakan sihir atau skill, melainkan itu karena karakter keduanya. Zen jarang berbicara dengan orang asing dan dia tidak benar-benar memiliki alasan untuk melakukannya, kecuali beberapa patah kata saja. Della yang merupakan introvert dan asosial termenung tenang selama perjalanan.


Setidaknya mereka bertemu dengan mood booster selama perjalanan.

__ADS_1


Itu adalah sekelompok goblin. Makhluk hijau cebol yang merupakan monster lemah. Kebanyakan orang yang bisa mengalahkan mereka, kecuali ketika mereka bergerombol. Dan hari ini sial, karena jumlah mereka cukup banyak.


Hanya saja, di hadapan Della itu semua tidak ada dampaknya.


Tatapan matanya cukup baginya untuk menghantarkan kutukan. Dengan menatap mereka, dia membuat kerumunan besar goblin berhenti dan membeku. Kemudian Zen menarik salah satu pedangnya dan melakukan eksekusi cepat ke mereka dan kembali ke karavan sedetik kemudian.


Perjalanan berlanjut dalam keheningan dan rasa canggung hingga mereka sampai ke kota selanjutnya.


.


\=Hari Kedua\=


Perjalanan berlanjut dengan karavan yang sama. Mereka lanjut setelah semalaman transit di sebuah kota. Dan kali ini, jumlah orang yang ikut pada karavan bertambah. Alasannya: Kekuatan kombinasi Zen dan Della menyebar dengan cepat. Bagi para pedagang yang takut kena serang monster, ikut bersama orang yang kuat adalah pilihan termurah dari pada harus menyewa pengawal.


Zen dan Della tidak peduli selama tujuan mereka tercapai. Tidak seperti orang-orang itu berisik dan mengganggu mereka. Bahkan bila keduanya diperalat sebagai penghalau monster tanpa bayaran… yah, mereka masih punya hati nurani untuk menolong orang.


Perlakuan yang mereka dapatkan cukup baik mengingat keduanya sebagai ujung tombak dan perisai. Tapi diakibatkan sikap keduanya yang bodo amat, mereka berdua menolak perlakuan spesial dan lebih memilih menyendiri ketika berkemah.


.


\=Hari Ketiga\=


Semalam sebab mereka tidur di luar atau berkemah, Della yang tidak terbiasa terkena masuk angin. Fisiknya memang lemah bila dibandingkan teman-temannya semenjak tidak mendapatkan pelatihan yang memadai. Zen ingin menolong, tapi karena cuma masuk angin jadi dia abaikan saja. Bukan seperti itu penyakit kronis — pikirnya.


Tapi para anggota karavan lain tidak berpikir demikian. Mereka mengkhayalkan yang tidak-tidak, sebab salah satu dari mereka berasumsi: Mana mungkin ahli sihir sekuat Della terkena masuk angin. Di sini mereka sampai bongkar muatan untuk mencari obat paling manjur sehingga perjalanan mereka terhambat.


Soalnya, memang kelihatan kasihan saat ada cewek yang sakit-sakitan dalam perjalanan. Dan faktor yang paling menentukan adalah pikiran, “Jangan sampai dia sakit karena dia penjaga kita.”


Setidaknya Della mendapatkan barang bagus. Dia memperoleh pakaian baru dan senjata dari para pedagang. Cuma karena dia tidak terbiasa memakai pakaian dari era ini, jadi dia menolak itu semua dan tetap memakai pakaian lamanya yang sudah bau dan compang-camping.


Satu-satunya yang diterima Della adalah sebuah tongkat sihir, tapi karena dia tidak tahu cara pakainya, Della malah menggunakannya untuk memukul monster dan membuatnya patah.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak tahu kalau itu sebenarnya item mahal. Para pedagang yang tahu betul berapa nilainya terdiam dan tercengang melihat benda mahal rusak karena pemakaian yang kasar. Cuma mereka juga tidak bisa meminta pengembalian uang karena itu bukan barang pinjaman, melainkan barang pemberian.


Setelah suatu barang diberikan, terserah mau diapakan oleh pemiliknya.


.


\=Hari Keempat\=


Zen berpikir bila mobilitas mereka terlalu lambat kalau terus bersama karavan itu. Bersama karavan yang berhenti hanya karena hal-hal kecil. Makanya dia memutuskan berlari sambil menggendong Della.


Jangan tanyakan detil tidak masuk akal dari seseorang yang menggendong temannya dan berlari sejauh puluhan kilometer. Sejak itu merupakan dunia sihir, semua ketidakmasukakalan dapat dijawab dengan satu jawaban yang sama, yaitu: Itu adalah sihir.


.


\=Hari Kelima\=


Berkat cara yang digunakan Zen, kemampuan mobilitas mereka sangat tinggi dan sekarang mereka telah sampai di kota perbatasan. kota terakhir yang setelah melewati ini maka mereka akan meninggalkan wilayah kerajaan yang memanggil mereka ke dunia ini. Mereka tidak langsung pergi pada hari itu juga dan memilih untuk istirahat. Meski Zen tidak dapat kehabisan stamina secara teori sebab memiliki Keabadian Phoenix, namun masih mungkin untuk lelah secara mental dan kehilanganmu niat.


Selama perjalanan sebelumnya mereka tidak menemukan hambatan yang berarti. Beberapa monster yang mereka dapat dikalahkan oleh tatapan mata Della. Semua monster itu tewas berkat kutukan Della dari sihir kutukan. Gift-nya memang luar biasa untuk dapat melakukan pekerjaan dengan mudah.


.


\=Hari Keenam\=


Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa seperti itu terus. Sejak hari-hari sebelumnya mereka berdua 100% mengandalkan alam untuk kehidupan sehari-hari. Mencari makanan dengan berburu, membersihkan badan di sungai (untuk Zen saja), dan lain sebagainya. Mereka tidak memegang uang sepeser pun saat ini. Dan karena Zen ingin membeli beberapa bumbu makanan, mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam dungeon dan mendapatkan beberapa loot. Ide itu juga disetujui oleh Della yang selama beberapa hari ini juga sudah bosan makan makanan yang begitu-begitu terus.


Dungeon yang mereka jarah tidak terlalu besar, tetapi cukup populer di antara para slayer di kota itu. Mereka berdua mempekerjakan seseorang sebagai pengangkut barang, dan melakukan perburuan besar di dalam sana. Gak tau dan kelewatannya, monster yang mereka bantai terlalu banyak sampai-sampai membuat slayer lainnya kesulitan mendapatkan jarahan selama beberapa hari ke depan. Tapi tentu saja mereka bodo amat, pagi pula mereka mendapatkan uang dari itu.


.


Dan perjalanan mereka terus berlanjut….

__ADS_1


__ADS_2