
Dans tidak tahu mengapa serigala hitam yang menjadi musuh mereka tiba-tiba meninggalkan pertarungan. Tapi apapun itu, yang pasti ini merupakan hal baik untuk mereka.
Mereka berenam; Dans, Dayat, Suzuka, Udin, Tiana, dan Cloudia, berkumpul kembali setelah hal buruk yang terjadi. Kondisi mereka tidak bisa dibilang baik, tapi juga tidak kritis. Pertarungan tadi menguras tenaga mereka, terutama saat tidak ada senjata yang efektif.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Dans.
"Sakit banget," celetuk Udin, "Bisa-bisa ada makhluk macam itu."
"Kenapa tidak lari saja?" kata Tiana, "Kemampuanmu itu cocok untuk kabur, 'kan?"
"Kabur pun aku cuma akan berputar-putar," jawab Udin. "Lagi pula, Tiana, apa kamu tidak bisa lebih halus padaku? Huhuhu…."
"Cukup kalian semua.” Suzuka menyela. “Sekarang bagaimana? Apa yang akan dilakukan selanjutnya?”
Mereka berhasil sampai di tujuan mereka dengan entah bagaimana.
Menara putih besar berdiri tinggi di hadapan mereka. Itu adalah markas musuh. Mereka menduga di dalam sana akan ada banyak makhluk seperti yang telah mereka lawan.
Seharusnya mereka langsung masuk saja karena memang harusnya mereka ke sana, hanya saja kondisi mereka kini tidak sedang baik-baik saja.
Mereka sudah kelelahan dari sebelumnya, dan buruknya tidak ada penyembuh atau tipe pendukung di antara mereka berenam. Masuk ke dalamnya dan bertemu dengan banyak musuh, bila tanpa kemampuan bertarung, itu mirip dengan bunuh diri.
“Yosh, mari kita pergi ke sana,” ajak Dans.
“Apa kau yakin?” tanya Suzuka.
“Kita tidak bisa membuang waktu. Kita tidak tahu kapan Zen akan datang.”
Kemudian atas pernyataan Dans yang terkesan gegabah itu (harusnya mereka istirahat dulu beberapa menit), perjalanan mereka dilanjutkan dalam menara tersebut.
Beruntungnya tidak ada monster selama perjalanan mereka.
Di sana ada bekas-bekas pertarungan. Masih baru. Bekas gosong di lantai pertama akibat bola api Meta masih terasa hangat ketika disentuh.
Dans terpikir bila regu Zen baru saja masuk dan melakukan raid — penyerbuan.
Lantai dua dan lantai-lantai lainnya, mereka lalui dengan kondisi yang sama dengan lantai pertama — tidak ada musuh dan ada bekas pertarungan. Memperkuat spekulasi Dans.
Siapa lagi yang mungkin melakukan penyerangan seperti itu di dunia ini?
Sangat jarang ada orang yang mampu mencapai tingkat kekuatan para pahlawan dari dunia lain, atau bahkan Administrator yang telah Zen kalahkan.
Mereka sampai di lantai teratas.
Di sana, mereka berenam bertemu dengan Della yang lagi duduk manis di depan pintu ruang tahta.
“Della? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Dayat.
Della tak langsung menjawab. Dia berdiri sambil menatap tajam mereka satu per satu, lalu barulah dia berkata, “Kukembalikan pertanyaan itu pada kalian: Apa yang kalian lakukan di sini?”
__ADS_1
“Biar kutebak; Alasanmu di sini pasti karena Zen, ‘kan?” Udin bangga akan deduksi yang ia lontarkan, “Sudah pergi saja dan biarkan kami lewat. Kami tidak akan menyakitimu.”
Suasana diam dengan rasa canggung.
Mau itu Della atau anggota regu Dans tak ada yang berbicara.
Membuat Udin merasa tak nyaman.
“Yah, kita lihat saja siapa yang akan menyakiti siapa,” ucap Della lirih.
*Swoosh!*
Angin tiba-tiba berhembus dari punggung Della.
Gadis itu mengaktifkan kutukan dari matanya dengan ia menatap tajam. Berbagai macam kutukan pelumpuhan, pingsan, dan lainnya dilepas bersamaan.
Serangan itu membuat Tiana, Cloudia, dan Udin tersungkur. Dans terpengaruh, tapi berusaha terus bangkit, Suzuka juga sedikit terdampak. Yang sama sekali tak terkena adalah Dayat dengan gift anti status buruknya.
“Beberapa dari kalian tidak terjatuh,” gumam Della, “Menarik.”
\=\=\=
Di dalam ruang tahta, pertarungan antara Mellarosa melawan Zen dan Meta berlangsung sengit.
Zen mengeluarkan aura bertarungnya hingga batas teratas. Tubuhnya diselimuti hembusan kuning-merah yang berkobar dan menyala.
*Slash!* *Slash!* *Slash!*
Tapi meski demikian, Mellarosa masih bertahan.
Dia membuat sulur-sulur hitam dan menembakkannya ke arah Zen dan Meta. Serangan sulur ini, bila terkena mereka akan mendapatkan banyak kutukan dan status buruk
Serangan ini juga cukup kuat untuk menghancurkan penghalang yang diciptakan Meta dalam waktu kurang dari 10 detik..
Itu sebabnya Zen hampir tak mendapatkan celah untuk menyerang.
Dia tak bisa membuyarkan fokusnya dari serangan sulur.
“Fufufu… kau memang kuat, anak muda. Tapi kemampuanmu tidak ada apa-apanya di hadapanku.”
Dari sisi lain, Meta tiba-tiba muncul di belakang Mellarosa.
Sebelumnya dia menggunakan sihir cahaya untuk melakukan mimikri dan menyembunyikan dirinya.
Dari sana, Meta menciptakan bola api dan mendorongnya ke arah Mellarosa.
*Boom!*
Bola api meledak dan asap naik.
__ADS_1
Tapi tak berselang lama, sulur-sulur muncul dari gumpalan asap.
Meta menaiki airboard miliknya dan terbang menjauh ke sisi ruangan.
“Bisa menyerang dari titik butaku.” Mellarosa menyeringai. “Terdengar seperti gabungan mage dan assassin.”
*Swoosh!*
*Scarth!* *Scarth!* *Scarth!*
Zen menyilangkan kedua pedangnya, lalu membuat tebasan memutar 360 derajat. Dia mengirim bilah-bilah keemasan yang memotong sulur-sulur di sekitarnya.
Kemudian dia melompat mundur dan sampai di sisi Meta.
“Kau juga lumayan, Nenek Lampir.” Zen berkata dengan tatapannya yang serius. “Sejauh ini kau adalah musuh paling merepotkan yang belum menerima seranganku selama pertarungan.”
“🖤️Apa kau mulai tertarik padaku?” kata Mellarosa dengan senyumnya nakalnya, “🖤️Tapi kamu tidak bisa mendapatkanku, lho~.”
“Dan tidak ada yang suka milf tua sepertimu,” timpal Meta, “Sekarang itu jaman—”
“Hentikan, Meta. Lanjutannya berbahaya.” Zen menginterupsi.
“🖤️Ara~ Kejamnya~.” Mellarosa mengarahkan tangannya ke depan. “Aku ini memiliki hati serapuh kaca, lho~. Datanglah: Cermin Ajaib yang Menggambarkan Seseorang.”
Mellarosa memanggil cermin ke medan pertarungan.
Cermin tersebut memiliki ukuran lumayan besar — bila orang dewasa berdiri di hadapannya, maka seluruh tubuhnya dapat dipantulkan. Cermin itu menghadap ke Zen.
Zen melihat dirinya di dalam cermin.
Pantulan bayangan yang sama dengan aslinya.
Namun kemudian, bayangan Zen di dalam cermin berangsur-angsur berwarna gelap sebelum menghitam.
Bayangan Zen tersebut keluar dari cermin kemudian cermin tersebut hancur.
“Bagaimana? Sangat mirip denganmu, ‘kan?” Mellarosa tertawa kecil. “Cermin yang mencerminkan apa yang ada di depannya, kemudian menciptakan versi minion-ku dan menjadi pasukanku. Apa kau bisa melawan dirimu sendiri?”
“Serangan yang meniru serangan musuh. Dengan logika 5 ditambah -5 akan menjadi 0,” ujar Zen, “Tapi apa kau tidak menghitung temanku?”
“Oh? Gadis itu, ya?” Bayangan Mellarosa melebar dan dari sana sulur-sulur naik. “Aku lebih kuat dari kalian berdua. Tujuanku menggunakan cermin itu hanya untuk menguji sihir baruku.”
“Lebih kuat dari kami? Siapa yang lebih kuat dari siapa.”
Zen menyiapkan keduanya pedangnya dalam posisi ancang-ancang.
*Boom!*
Dia melepaskan aura bertarungnya dan membuat keberadaannya terasa lebih menekan. Dan lebih tinggi, api berwarna jingga-merah berkobar mengelilinginya.
__ADS_1
“Kobaran Phoenix: Kehidupan Nirbatas!”
Zen melesat maju dan “Doppelgänger”-nya juga mengambil langkah sama.