Classroom To Another World

Classroom To Another World
Beastman?


__ADS_3

Beberapa hari dihabiskan Udin dengan termenung di atas ranjang. Bukannya dia ingin, tetapi luka parah di tubuhnya memaksa. Beruntung Tania mau mendampingi Udin. Setidaknya remaja itu tidak bosan karena kesendirian. Juga, sudah tak terhitung berapa kali Udin merasakan kecemasan mendadak. Hal tersebut lumrah ketika dia berada di lingkungan yang benar-benar asing baginya. Terkadang Udin memikirkan kembali sekolah, teman, dan orangtuanya. Dia sangat tertekan karena memikirkan cara untuk kembali. Beruntung, Tiana selalu mengatakan, "Tenang saja." Udin menjadi lebih tenang.


Selain itu, selama ini Udin telah mendapatkan informasi mengenai tempatnya berada. Tidak banyak yang diketahui karena beastman sebagai informan juga memiliki informasi terbatas. Setidaknya Udin tahu bahwa sekarang dia berada di dunia fantasi, dunia di mana keberadaannya sihir ada dan nyata. Awalnya dia sungguh kagum dengan Tiana yang menghidupkan api kecil di atas tangan. Udin langsung saja minta untuk diajari. Karena Tania sendiri tidak ahli dalam sihir, makanya ia mengalihkan topik. Tania menceritakan tentang ras apa saja yang ada di dunia.


Pertama adalah beastman. Ini adalah ras Tania dan keluarganya. Ras beastman memilih keunikan berupa tubuh mirip pencampuran antara manusia dengan hewan. Kemampuan beastman unggul dalam kekuatan fisik dan insting mereka benar-benar mirip dengan hewan. Bila dikatakan kelemahannya, kebanyakan beastman tidak ahli dalam sihir. Sebagai contohnya Tania, dia mirip dengan kucing. Dia bisa mempertajam dan menguatkan daya tahan kukunya. Tulang-tulangnya sangat lentur. Dia membanggakan dirinya ketika tidak terluka setelah dijatuhkan dari ketinggian belasan meter.


Kedua adalah ras forest walker. Mereka merupakan ras yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam hutan dan dikatakan sebagai penjaga hutan. Sangat jarang bertemu dengan mereka. Melakukan kontak dengan mereka tak kalah bahayanya. Mereka sangat teritorial dan akan mengusir tamu tak diundang. Kemampuan bertarung mereka dikatakan tak tertandingi saat berada di dalam hutan.


Ketiga adalah ras iblis. Tidak banyak catatan tentang mereka. Salah satu teori dari pendahulu Tania menyatakan bahwa ras iblis adalah monster berakal. Kekuatan mereka adalah yang terbesar di antara semua ras. Ras ini sangat menjunjung tinggi kekuatan. Raja mereka—yang bergelar Raja Iblis—sangat kuat menurut catatan. Pernah dikisahkan bahwa satu Raja Iblis bisa meratakan satu negara. Sekarang pergerakan mereka senyap. Tidak ada informasi mengenai pergerakan mereka.


Keempat adalah manusia, ras dengan kebudayaan paling panjang. Sihir, fisik, dan kemampuan lainnya adalah yang terlemah, tetapi mereka menutupi kelemahan menggunakan kebudayaan. Dalam peperangan melawan ras iblis ratusan tahun lalu, semua ras berpikir bahwa manusia akan punah. Tetapi tidak, umat manusia berhasil mengembangkan sihir yang terus diwariskan dan diteruskan. Ras yang dulunya terlemah, sekarang mendominasi dunia.


Satu hal yang Tania bersama rasnya benci terhadap manusia adalah, kenyataan bahwa manusia cenderung chauvinisme. Mereka menganggap ras mereka sebagai terbaik. Dan dampaknya, Tania menceritakan bahwa tak jarang ras beastman diserang dan dijadikan budak. Bahkan, dia menceritakan bila ayahnya dulu pernah menjadi budak dan dipaksa bertarung di arena sebagai ajang hiburan. Kalau bukan karena Tania, bisa-bisa Udin berada di tiang gantungan saat bangun. Ini juga mengapa hanya Tania yang berada di kamar Udin.


Udin bingung harus bersikap bagaimana. Secara genetik, dia memang manusia. Akan tetapi dia sama sekali tak memiliki hubungan dengan manusia dari dunia ini. Justru orang-orang sepertinya Tania lah Udin lebih dekat. Meminta maaf? Apakah layak? Bila sebagai perwakilan umat manusia, jelas bahwa dirinya sendiri tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


"Anu, Tania, aku minta maaf jika keberadaanku membuatmu dan beastman lainnya sedih. Tapi aku sangat berterima kasih untuk bertemu denganmu."


"Aku tidak apa-apa. Lagi pula, aku yakin jika kamu adalah orang baik, Udin. Baumu sangat berbeda dengan orang-orang jahat yang memperbudak beastman." Tania tersenyum. Entah apa yang di balik wajahnya. Udin tak bisa memperkirakan.


Sekarang Udin baru memikirkan bila dirinya lama tak mandi.


Setelah sehat, Udin berjalan-jalan ke seisi mansion. Sudah dijelaskan oleh Tania jika keluarganya adalah Tuan Tanah, tapi tetap saja wow bagi Udin melihat mansion abad pertengahan secara langsung. Tidak terlalu berlebihan menganggapnya sebagai turis karena pada dasarnya berasal dari dunia lain. Di sana Udin disuguhkan oleh hiasan berupa senjata yang dipajang di dinding. Menurut cerita Tiana, ayahnya merupakan seseorang yang menjunjung tinggi kekuatan. Maka wajar bila kebanyakan adalah senjata. Udin kebingungannya untuk memberikan apresiasi.


Selanjutnya, keluar dari mansion, Udin dibawa berkeliling desa. Rasanya benar-benar membuat Udin rindu pada pasar di desa yang ia kunjungi ketika liburan semester. Tetapi juga lebih tradisional dari pada pasar dalam pikiran Udin. Pasalnya, kebanyakan orang menggunakan barter alih-alih uang. Padahal dalam pikiran Udin, dia membayangkan orang-orang akan menggunakan koin emas dan perak untuk transaksi mirip film fantasi barat yang ditontonnya di bioskop. Nampaknya dia terlalu optimis. Menurut penjelasan Tania sih dikatakan kalau wilayah mereka terlalu terpencil. Keberadaan uang sangat jarang, terutama saat mereka tidak bisa membangun relasi dengan manusia.


Bila ada harapan bagi Udin, itu adalah Tania. Tania menggenggam kedua tangan Udin dan tersenyum padanya. Dia dengan lembut mengatakan pada Udin untuk tenang saja dan menyerahkan semuanya padanya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Selama dia bersama Tania, semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu hal perlu dikhawatirkan.


*Bugh!*


Tetapi tak akan semudah harapan mereka. Meski Tania adalah putri dari Tuan Tanah bulan berarti dia memiliki kuasa absolut. Beberapa orang tidak peduli dengan kata-kata Tania. Mereka menendang, memukul, dan menghajar Udin habis-habisan. Mereka adalah pemburu waktu itu. Mereka menyiksa Udin di tempat terpencil. Rasanya sakit. Sangat memuakkan menjadi tak berdaya. Satu-satunya hal yang disyukuri Udin adalah bila hanya dirinya saja yang dihajar. Dia bersyukur karena Tania tidak terlibat.

__ADS_1


"U-Udin, ka-kamu tidak apa-apa?" Tania bertanya dengan cemas. Di hadapannya adalah Udin yang terduduk di bawah tembok kayu dengan penuh akan luka memar. Darah mengalir dari hidungnya. "Lu-Lukamu! Bagaimana lukamu?


Udin kesulitan menjawab. Seluruh tubuhnya sakit. Meski begitu, dia perlahan menggerakkannya mulutnya. "Ha… ha…. Jadi begini nasibku, ya…."


"Ka-Kamu jangan mati dulu."


"Tidak, aku tidak akan mati." Kelopak mata Udin hanya terbuka sedikit. Melalui celah sempit di bawah kelopak mata itulah dia memandang sosok Tania. "Hanya saja, aku berpikiran bila menjadi lemah sangat menyebalkan. Kau pasti juga berpikir begitu, bukan?"


"Kamu tidak lemah. Mereka hanya kuat."


"Tidak, itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku dihajar."


"Duh, kamu ini…." Kedua tangannya menggenggam tangan remaja itu. Tangan mereka diletakkan di atas paha Udin. Wajahnya mendekat dengan dia melanjutkan, "Apa yang kau mau? Aku akan membantumu sebisaku?"


"Tania… mari kita menjadi kuat?" Udin berusaha tersenyum dengan wajahnya yang penuh luka.

__ADS_1


__ADS_2