Classroom To Another World

Classroom To Another World
Preceptor Crown Mountain


__ADS_3

Dalam perjalanan mereka, Zen dan kawan-kawan melalui jalur udara. Lebatnya hutan, luasnya rawa, dan banyaknya monster sama sekali bukan gangguan bagi mereka. Menggunakan airboard, bukan hanya cepat, tetapi juga melatih fokus dan pengendalian mana mereka. Tentu, mereka tidak melakukan perjalanan selama 24/7. Istirahat ketika akan lemah merupakan salah satu cara untuk memiliki kemungkinan hidup lebih tinggi.


Sayang sekali menggunakan airboard membuat mereka tidak menyadari kelompok Dans. Pepohonan di bawah terlalu lebat dan suara hembusan angina di atas mendistorsi suara. Terlebih, mereka merasa tidak memiliki urusan untuk mendongak ke bawah sepanjang waktu. Fokus demi mendapatkan waktu tercepat dalam mendapatkan tujuan awal adalah yang mereka lakukan saat ini.


Kini mereka berempat berada di kaki sebuah gunung yang disinyalir sebagai Preceptor Crown Mountain. Bagaimana mereka tahu? Mereka melihat peta. Peta yang telah digambar Goldwin dan tersimpan secara digital dalam kartu memori buatan Meta.


Mereka berempat turun dan berpijak pada sebuah batu besar di ujung rawa.


“Kita turun di sini, Kak Zen?”


“Menurut peta, jalan masuknya justru di kaki gunung.”


Mereka mengamati gunung batu megah di hadapan mereka. Bukan gunung yang terbuat dari batuan hitam dan bernuansa suram, kali ini gunung di hadapan mereka sungguh memberikan nuansa alam yang asri lengkap dengan pepohonan lebat, lumut yang menempel di batu, tanah basah nun subur, serta berbagai fauna tinggal di sana.


Namun jangan salah. Mereka yang memiliki warna cerah memukau lihai menyembunyikan racun. Di dalam gunung yang bernuansa alami itu, di dalamnya tersimpan monster-monster berbahaya yang tidak akan ragu meremukkan lebih dari 20 tulang mereka secara bersamaan. Mereka adalah monster-monster tanpa perasaan.


Bahaya dan ancaman di Preceptor Crown Mountain tak dapat disangkal. Baru saja mereka mendaratkan kaki dan berpijak di batu, mereka merasakan getaran. Keempatnya melompat secara bersamaan untuk mengambil jarak dari apapun itu yang datang.


“Raahhh…!”


Keempatnya memandang batu pijakan yang kini menjelma menjadi golem batu. Ukurannya dua sampai tiga kali lebih besar dari manusia biasa. Tangan-tangannya yang terbuat dari batu kokoh dan menghancurkan segerombol pohon saat berayun. Setiap melangkah, dia membuat Bumi bergetar. Raungannya menghembuskan angina dan memberikan intimidasi.


“Golem lagi? Biar kukalahkan dia dengan jurus baruku!” Tangan Sekar terkepal.


*Slash!* *Dar!*


Zen menarik pedang menggunakan tangan kanannya. Di saat menebaskan pedang di udara, bilah berwarna emas yang juga diselimuti api membara terwujud. Bilah emas itu melayang dan menyayat tubuh golem. Menciptakan ledakan. Dalam satu serangan, Zen berhasil menghancurkan golem batu dan mengangkat debu menjadi tirai penutup panggung.


“Maaf, tapi aku ingin mencoba kekuatan baruku.” Zen tersenyum kecil.


“Kak Zen curang! Padahal aku juga ingin memukulnya!” Sekar menggembungkan pipinya. Malah membuatnya imut ketika ngambek.

__ADS_1


“Sudah, sudah, sebentar lagi kita akan mengatasi banyak musuh,” ucap Zen sambil mengelus kepala Sekar.


Hubungan mereka berdua berangsur-angsur membaik semenjak peristiwa Zen kehilangan tangan kiri. Sekar perlahan-lahan menunjukkan kedekatannya pada Zen. Bahkan, kini dia tidak ragu menggunakan sebutan kakak.


Zen sendiri, setelah dia kehilangan tangan kiri, beruntung dia berhasil menyerap Inti Phoenix. Dia membayangkan menyerap Inti Phoenix akan seperti novel-novel kultivasi dari Negeri Tirai Bambu dan beruntung dia berhasil. Sekarang dia memiliki afinitas api dan kemampuan regenerasi Phoenix. Menumbuhkan anggota badan bukan hal yang mustahil. Lebih jauh, sel-sel yang mengalami penuaan diremajakan. Artinya dia abadi selama tidak dibunuh.


“Bagaimana mengatakannya, ya? Baguslah kalian menjadi dekat.”


“Hmm? Apa maksudmu, Albert? Apa kami seperti musuh?”


“Benar, aku dan Kak Zen ‘kan selalu damai?”


Zen dan Sekar saling menimpali komentar Pangeran Albert tentang hubungan mereka berdua. Padahal jelas bahwa Sekar pernah ingin membunuh Zen saat pertemuan pertama mereka.


“Sampai kapan kalian mau bercanda? No kidding, please?” sahut Meta.


“Maaf, Kak Meta.”


Di hadapan Meta adalah light cube yang salah satu sisinya menunjukkan gambar peta area mereka berada saat ini. Sulit untuk membacanya. Bukan karena gambar diambil dengan kualitas buruk, tetapi style gambar Goldwin mirip denah yang ada di undangan pernikahan. Hanya menunjukkan poin-poin penting. Dari sini ke sini, dari ini ke mari. Tidak menunjukkan jarak maupun skala. Juga, informan mereka sudah tidak mengunjungi Preceptor Crown Mountain selama ratusan tahun. Objek petunjuk pada peta kebanyakan sudah ditelan alam.


“Permisi, aku menemukan pintu batu yang mencurigakan. Apa kita harus masuk ke mari?” Pangeran Albert memanggil dari kejauhan. Tangannya menunjuk sebuah pintu batu yang menganga lebar seperti pintu masuk gua.


Pintu batu tersebut tidak memiliki daun pintu. Dua pilar batu berwarna putih menjadi penyangga di sisi kanan dan kiri. Semakin ke atas, warnanya semakin gelap. Puncaknya pada sisi atas dari pintu. Warnya gelap mengidentifikasi sebagai obsidian. Ada pula beberapa pola relief terukir. Sayang hampir tidak bisa dinikmati karena aus termakan zaman.


Di belakang pintu batu sepertinya sudah terkena tanah longsor. Di sana adalah timbunan tanah miring yang licin. Memang sebuah keajaiban untuk pintu besar itu tidak ikut terkubur bersama tubuhnya. Atau mungkin arahnya memang membawa mereka ke bawah tanah?


Di depan pintu menganga itu, nuansa seperti akan masuk ke rumah sakit terbengkalai terasa. Orang yang tidak terlatih dalam pertarungan hidup-mati akan berdiri bulu kuduknya. Meta dan Pangeran Albert saja sampai merinding.


“Hmm? Di peta ini tidak dikatakan kalau ini merupakan pintu masuk.” Meta memperbesar peta yang ditampilkan.


“Kalau menurutku sudah benar ini. Master Goldwin mana mungkin bisa membuat peta yang 100% bisa dipahami? Pasti ada sedikit kemelencengan.”

__ADS_1


“Aku ngikut kakak-kakak sekalian saja. Soalnya gak tahu apa-apa.”


“Pernyataan Zen terdengar masuk akal.”


Meta memandangi mereka satu per satu. Dia lalu menghembuskan napas dan berujar, “Kalian, tidak bisakah lebih kritis?”


“Sudah!” jawab tiga dari mereka serentak.


“Ugh, baiklah. Mari kita masuk….” Hanya persetujuan yang bisa diberikan oleh pihak yang kalah dalam voting. Kekuatan jumlah adalah basis utama memenangkan pemilihan.


Jadi mau apa lagi? Mereka berempat masuk ke dalam pintu mencurigakan itu.


Sekejap saja baru pergi kelompok Zen, sekarang ganti kelompok Dans yang datang. Dans bernapas berat sebab dia lah yang paling banyak bertarung. Sebelumnya, ketika dia mengetahui Zen terbang di atas mereka, kelimanya mempercepat langkah untuk sampai ke mari.


“Sial, mereka sudah pergi.” Dans merintih.


Dayat melihat-lihat medan secara seksama. Dia menyadari bila pertarungan barus saja terjadi di sini. Terlihat dari bekas ledakan dan hawa panas. “Tenanglah, kawan, mereka baru saja pergi. Kita masih bisa menyusul mereka.”


“Tenang, sepertinya mereka mendaki gunung. Aku tahu rute rahasia,” ujar Suzuka.


Suzuka mendekat ke pintu tak berdaun yang baru saja dimasuki Zen dkk., namun dia tidak masuk. Ia menuju ke salah satu sisi, di mana longsoran tanah menimbun di sana.


“Di sini. Seharusnya ada pintu yang mengarah langsung ke puncak dari sini. Gerbang dengan atap obsidian ini adalah area hukuman. Di dalamnya ada banyak benda bahaya. Seingatku, di sampingnya ada lorong bertangga yang akan membawa kita langsung ke puncak. Langsung ke halaman akademi lama.”


“Minggir, biar aku gunakan sihir angin!” sahur Dayat.


*Wush!*


Hembusan angin dari sihir Dayat menyingkap sebuah pintu besi usang yang telah kotor karena tanah. Selanjutnya Dans mendobrak paksa pintu besi menggunakan serangan yang diperkuat dengan mana. Sisanya, mereka mendaki ratusan anak tangga yang menuju ke puncak.


Yah….

__ADS_1


Sayang sekali Zen dkk. salah jalan….


__ADS_2