Classroom To Another World

Classroom To Another World
Master


__ADS_3

Kekuatan para Hero masing-masing tidak dapat diremehkan, bahkan yang terlemah sekalipun. Oleh karenanya untuk meningkatkan potensi mereka, masing-masing ditempatkan di pos penjagaan berbeda-beda untuk melakukan berbagai tugas. Sebagai contohnya adalah Zen mendapatkan tugas penaklukan. Pemberian tugas ini tentu saja mempertimbangkan kekuatan masing-masing Hero. Tidak mungkin untuk memberikan tugas yang malah akan membuat mereka terbunuh.


Sekarang salah satu Hero baru saja kembali. Dia adalah Kusuma. Sekembalinya dia, dia malah melihat Zen tanpa bersalah melakukan kekerasan pada anak kecil. Tak bisa dimaafkan! Dia merasa kesal melihat kawannya melakukan tindakan tak terpuji itu. Ingin melawan, tetapi ia malah diantisipasi.


"Hah… sudahlah. Tidak ada gunanya berdebat denganmu." Zen berjalan menjauh. Dia mengaktifkan setiap individu yang ada di sana. Sekar dibiarkannya tetap di tanah. Sedang tidak baik kondisinya untuk memulai pertarungan.


Masuk ke dalam istana kerajaan, dia bertemu dengan temannya yang lain. Meta Tetrasia, dia sudah menunggu Zen semenjak tadi. Ia berdiri dengan punggungnya menyandar dinding. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Dia tersenyum tipis memperhatikan Zen yang menghampirinya.


"Penampilanmu unik," ujar Zen.


Penampilannya, alih-alih mengikuti tema medieval european, style berpakaian Meta lebih ke arah cyberpunk. Dia mengenakan jaket lengan panjang biru terang celana jeans. Terdapat pola persegi bertumpukan di bagian bahu kiri, di mana sisi setiap persegi seakan berpendar dengan warna biru yang lebih gelap. Ia memakai kacamata berbingkai warna biru, sama dengan jaketnya. Selain itu, dia memakai jam tangan digital.


"Menarik. Tak kusangka orang sepertimu punya waktu untuk memuji penampilan. Biasanya kau selalu saja serius dan hanya fokus untuk mendapatkan kekuatan atau berlatih. Bertemu denganku pun kau hanya meminta senjata atau obat-obatan. Apakah dunia akan kiamat?" tanya Meta.


"Jahat, begini-begini aku masih manusia," timpal Zen.


"Sudah, sudah, kembali saja ke topik utama." Meta beranjak dari tempatnya. Dia berdiri tepat di hadapan Zen. "Master memanggilmu. Ada yang ingin beliau sampaikan ke padamu."


"Master?" Zen mengangkat sebelah alis.


"Apa? Kenapa? Apa kau mau izin sakit dan mengabaikannya?"

__ADS_1


"Tidak. Hanya saja, sangat jarang sekali dia ingin bertemu denganku. Biasanya akulah yang harus datang duluan menemuinya atau membuat permintaan untuk bertemu dengannya. Beliau sampai memanggilku, maka seharusnya ini adalah sesuatu yang sangat penting. Aku hanya ingin tahu ada masalah apa dia sampai memanggilku ke tempatnya."


"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan." Meta berbalik. Dia menjauh pergi. "Kau akan tahu setelah bertemu dengannya." Dia tiba-tiba berhenti. "Satu lagi." Meta tanpa melihat ke belakang melemparkan sebuah pil pada Zen. "Itu hanya obat pemulihan biasa. Seharusnya bisa membuatmu lebih baik. Juga, beliau tidak terburu-buru. Kau bisa santai untuk menemuinya."


Zen perasaan estetika melihat obat yang diberikan Meta. Masalahnya adalah, obat itu tidak seperti pil yang ia temukan di puskesmas di Bumi atau berupa cairan ramuan yang umum di dunia ini. Obat tersebut berwarna-warni dan memiliki bentuk beruang. Alih-alih obat, menurut Zen itu adalah permen jeli. Terlebih lagi, bentuknya yang mirip beruang benar-benar memberikan tampilan menarik dan cocok untuk diberikan pada anak-anak. Setelah memasukkannya ke dalam mulut, obat tersebut memiliki rasa manis.


Kemudian mengenai masternya Zen. Dia adalah seorang Administrator, mirip dengan Kurokami. Zen bertemu dengannya ketika menjalankan suatu misi, di mana orang ini kemudian mengajarkan Zen tentang Wind Lord Sword Style. Sebagai Administrator, dia tidak ingin terlalu berelasi dengan Pihak Kerajaan. Lebih tepatnya, dia tidak ingin membuat masalah yang tidak diperlukan. Dapat dibayangkan akan menjadi apa keributan nantinya. Keberadaan seseorang yang disakralkan, tentu kerajaan akan mengklaim diri mereka diberkahi. Padahal cuma orang mampir.


Saat ini Zen sudah bertemu dengan masternya. Mereka bertemu di dalam sebuah dungeon, di sebuah ruangan rahasia dalam dungeon. Tentu alasannya untuk menghindari perhatian berlebih. Percakapan mereka hampir selalu menjadi tukar menukar informasi rahasia yang tidak boleh bocor di kalangan publik, terutama Pihak Kerajaan. Curang namanya ketika seni pedang sekuat itu dipelajari oleh satu batalion.


"Lama tidak berjumpa, Master."


"Oh, kau datang juga akhirnya, Zen."


"Terima kasih sudah memanggilku, Master."


"Tak masalah. Lagi pula masalah kali ini juga ada hubungannya dengan perkembangan dunia ini untuk ke depannya." Goldwin tersenyum ramah. "Sebelumnya, silahkan duduk. Pertarungan kemarin pasti sangat melelahkan untukmu."


Goldwin memang tidak setengah-setengah. Dia sudah mengubah ruangan ini mirip dengan ruang konsultasi pada anak remaja yang memiliki masalah batin—dibuat senyaman mungkin. Ruangan ini saja seakan bukan bagian dari dungeon. Dungeon biasanya memiliki lantai dan dinding batu, tetapi di sini dinding dilapisi dengan kertas dinding putih dengan pola bunga matahari berwarna emas. Terdapat sofa memanjang dan meja. Goldwin duduk di kursi kantoran di seberang meja.


Semua furnitur ini dibuat oleh Meta.

__ADS_1


Zen menurut saja. Dia duduk di sofa dan menunggu Goldwin berbicara padanya. Matanya tak berani beralih sebab menunggu informasi sensitif yang akan diucapkan Goldwin. Hilang fokus sedikit saja, bisa jadi dia akan kehilangan informasi penting. Bila sampai terjadi, bisa-bisa misi malah berakhir dengan hasil memalukan.


Masih tersenyum dengan ramah. Goldwin memancarkan aura ramah ketika memandang Zen. "Sekarang, Nak Zen, menurutmu akan menjadi seperti apa adanya di masa depan?"


"Hmm? Bukankah kau yang lebih tahu?"


"Jawab saja."


"Um… jika aku boleh menyatakan pendapatku, jika peperangan ini terus dilanjutkan, hasil manapun tidak akan baik. Jika manusia menang ras iblis akan diperbudak, begitu pula sebaliknya. Terlebih lagi sejarah di dunia ini masih belum terlalu panjang. Tidak ada catatan mengenai apa yang terjadi bila memperbudak ras lainnya. Jadinya, ras manusia atau yang manapun akan merasa fine saja saat melakukannya."


"Aku setuju denganmu, sih. Makanya aku mau mengangkatmu menjadi muridku. Tetapi, caramu juga terlalu keras. Mengambil gadis kecil, menyerang temanmu sendiri, kemudian memisahkan diri dari rekan-rekanmu. Tidak semua orang bisa menerima pemikiranmu. Juga, ini terlalu berbahaya untuk dirimu sendiri." Wajah Goldwin berubah serius.


"Itu tidak ada hubungannya. Aku hanya curiga pada Pihak Kerajaan. Aku yakin mereka pasti masih menyembunyikan senjata ultimate mereka." Jawaban Zen juga serius. Biasanya dia sudah serius, tetapi kali ini terdapat masalah yang lebih rumit. "Minimal aku ingin bisa menghancurkan seluruh kerajaan sendirian."


"Kau rakus."


"Ya."


"Hah… punya murid keras kepala itu merepotkan." Goldwin menghela napas. "Baiklah, kalau begitu pergilah ke Preceptor Crown Mountain. Seharusnya kau bisa menjadi kuat di sana. Akan kugambarkan petanya."


"Terima kasih, Master."

__ADS_1


Dan ini akan membawa Zen bertemu Dans dan Dayat.


__ADS_2