Classroom To Another World

Classroom To Another World
Cloudia


__ADS_3

Dayat, Suzuka, Udin, dan Tiana, mereka berempat masuk ke dalam ruangan besar di bawah tanah. Ketika Udin menggunakan sihir cahayanya untuk mengungkap penampakan ruangan, mereka dapat melihat ruangan luas dengan ubin persegi saling menyusun menutupi dinding, lantai, serta langit-langit. Putih. Mereka menemukan satu warna yang sama di sisi manapun.


“Hati-hati, seharusnya dia akan muncul.” Suzuka memperingatkan.


“Dia? Siapa dia?” tanya Udin.


“Sama sepertiku, seorang Administrator. Tugasnya adalah untuk menjaga jika ada orang yang ingin mengambil Telur Emas. Secara formal, kita seharusnya mendapatkan kartu lulus tes sebagai bukti agar dia membiarkan kita. Jika tidak ada ….”


“Kita harus mengambilnya secara paksa, ‘kan?” Dayat melengkapi.


“Yaps, benar sekali~” itu bukan suara Suzuka.


Mereka berempat berbalik secara spontan sebab mendengar suara asing dari belakang punggung. Memandang sekilas, mereka menemukan seorang wanita telah menyelinap di antara mereka. Wanita itu melompat pergi ketika mereka berempat memandangnya.


“Namaku Cloudia, sang Penjaga Kejayaan. Senang bertemu kalian.” Cloudia melayang di udara saat memperkenalkan diri. Dia tersenyum lebar yang menunjukkan betapa riang dirinya. Seakan-akan saja tak pernah ada beban di dalam hidupnya. Dia bisa tersenyum bagai orang yang sekalipun tak pernah menyentuh pahitnya dunia.


Dayat memperhatikan seksama perwakan wanita itu. Seorang wanita yang nampak muda, berusia belasan tahun. Cloudia memiliki rambut pendek berwarna putih layaknya awan. Terdapat jepit rambut berupa bulu burung mengikat poninya. Jepit rambut itu berwarna putih bersih bak bulu burung dara. Aksesoris lainnya, dia memakai kacamata dengan pupil biru cerah di baliknya. Kulitnya putih, tubuhnya ramping serta ringan, dan dia mengeluarkan rasa bersahabat. Sikap secara lebar bisa digambarkan sebagai bahwa ia merupakan gadis periang dengan masa depan cerah laksana langit biru luas.


“Lama tidak bertemu, Suzuka. Bagaimana kabarmu?”


“Terima kasih atas keramahannya. Tapi, apakah kau masih bertugas?”


“Maksudmu menjaga Telur Emas?”


“Ya.”


“Apa kau ingin mencurinya secara illegal?”


“Aku tidak akan menyebutnya illegal saat hokum sudah tak berlaku.” Suzuka menyipitkan matanya, memberikan ancaman. Bila arah pembicaraan di luar keinginannya, dia akan bertarung. Dia adalah ular kobra yang siap menyergap mangsanya.

__ADS_1


“Boleh kuanggap itu sebagai ya?” Nada bicara Cloudia masih terdengar ramah, namun auranya berbeda. Dia juga memberikan aura mengancam pada siapapun yang ingin mengambil benda yang dilindunginya. “Yah, bukan berarti aku tidak tahu batasnku, sih.”


“Maksudmu?”


“Ketika Bencana Raya terjadi, saat ribuan hulu ledak mega nuklir membuat kekacauan, fasilitas Preceptpr Crown Mountain masih berfungsi. Ada seorang Guru Besar yang selamat. Mulai sekarang kau menjadi penguji bagi orang yang ingin mengambil Telur Emas, begitu katanya. Jadi kalian hanya perlu mengalahkanku. Mudah, bukan?”


“Kau tidak akan mengeluarkan semua kekuatanmu, ‘kan?” tanya Udin.


Mengingat kembali betapa bahayanya bila Suzuka mengeluarkan semua kekuatannya, akan merepotkan saat makhluk setingkat Suzuka melakukan hal sama. Tidak ada Dans di sini. Hanya ada dia dan Suzuka saja yang bisa menjadi ujung tombak. Udin dan Tiana kita anggap saja mereka sebagai penonton.


“Fufufu….” Cloudia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dalam prosesnya, dia membuat angina rebut berhembus kencang menerpa mereka semua. “Sayang sekali Guru Besar itu tidak mengatakan berapa besar skala kekuatan yang kukeluarkan. Dia keburu mati akibat radiasi nuklir. Aku akan bertarung serius, lho~”


“Begitu ya.” Suzuka berucap dingin. Detik selanjutnya, dia sudah berada tepat di depan Cloudia, lengkap dengan wakizashi kayu di tangan kanannya yang menebas udara. *Grab!*, sayang sekali Cloudia menangkap wakizashi itu. Suzuka pun berkata, “Jangan salahkan aku kalau kau rusak!”


“Fufufu… seakan-akan kau bisa menghancurkanku!” Cloudia meneriakkan kata terakhir pada kalimat. Bersamaan, dia membuat angin yang bertiup kencang.


Suzuka terhempas. Dia lenyap ketika di udara dan sudah muncul di samping Dayat.


“Noob, apa kalian piker bisa mengalahkanku!”


Tak berselang dari Suzuka menutup mulut. Cloudia benar-benar menggila. Dia membuat hembusan angina di sana-sini. Ruangan tenang nan gelap sebelumnya serasa dilanda pesta oleh sekumpulan orang barbar. Bukan orang barbar biasa. Mereka ialah orang barbar yang cara pestanya dengan menghancurkan barang-barang sebanyak mungkin.


“Meski begitu….” Dayat melompat ke sana-sini. Dia berusaha menghindari inti angin ribut yang terus tercipta di tempat yang tidak disangka-sangka. “Lebih mudah mengatakannya dari pada melakukannya.” Baru saja dia mendarat, dia sudah disambut ledakan angin. Ledakan angin itu mengganggu keseimbangannya!


Di sisi lain, Udin dan Tiana berada dalam kondisi menyedihkan. Dasar-dasar pertarungan saja mereka berdua tidak memiliki. Berada di medan perang ini membuat mereka terlihat menyedihkan. Di awal-awal, mereka berdua terkena ledakan udara. Keduanya terus terhempas ke mana-mana, mengikuti arah angina membawa tubuh mereka. Tidak peduli bagaimana usaha mereka untuk melawan, mereka gagal pada usaha menjaga keseimbangan. Bagaimanapun juga, arena pertarungan ini bukan untuk mereka.


Pertarungan ini antara Suzuka dan Dayat melawan Cloudia.


Suzuka meliuk-liuk di udara. Dia bergerak dengan cepat dan lembut, halus dan anggun. Seakan semua kekacauan tidak mempengaruhi langkahnya. Ia bergerak mendekati Cloudia dengan wakizashi di tangan kanannya. Dia menebas ketika Cloudia di dalam jangkauan serangnya. Namun sama seperti sebelumnya, Cloudia dengan mudah mengantisipasi.

__ADS_1


Aura hitam berbentuk kabut perlahan menyelimuti mata wakizashi. Cloudia merasakan firasat buruk ketika dia menangkis wakizashi menggunakan lengannya.


“Eh~” Meski demikian nada dari kata yang keluar dari mulutnya menyebalkan. “Kau ingin menggunakan serangan yang lebih kuat kah?”


*Blar!*


Ia membuat ledakan udara di antara dirinya dan Suzuka. Ledakan tersebut membuat tubuh mereka berdua terpental. Keuntungan bagi Cloudia sebagai penyerang jarak jauh dan kerugian bagi Suzuka sebagai petarung jarak dekat.


“Kau pikir ‘kan kuberi kesempatan?”


*Set!*


Dari belakangnya, Dayat menebaskan pedangnya yang telah diselimuti mana---energi sihir. Tebasannya sergapan itu meninggalkan garis biru lurus di jalurnya dan mengenai punggung Cloudia.


“Heh~ kau menyergapku?” Tubuh Cloudia menjelma menjadi bulu puluhan bulu burung. Tak lama, tubuhnya kembali terwujud di belakang Dayat. “Asal kau tahu, serangan biasa tidak bisa melukaiku. Lho~”


*Slash!*


Dia mencakar menggunakan jari-jarinya. Dari cakarannya tercipta lima bilah angin yang berasal dari setiap jari di tangannya.


“Ugh….” Dayat merintih. Dari punggungnya terbuka lebar luka dari sayatan. Mengabaikan rasa sakit, dia berbalik dan memberikan tebasan. Sayang lagi-lagi Cloudia berubah menjadi bulu burung dan mewujudkan dirinya belasan meter dari sana.


Melihat sekilas luka di punggung Dayat, dia menyimpulkan, “Biar kutebak, pasti Anti-Regenerasi, ‘kan? Seranganku seharusnya membuat darahmu tumpah, tapi Anti-Debuff membuat tubuhmu terus bekerja seperti yang seharusnya. Bukan kemampuan yang berguna. Nyatanya kau tetap akan mati ketika terkena serangan kuat dan terus menerus. Aku hanya perlu merobek setiap urat, otot, dan pembuluh darah di dalam tubuhmu.”


Dayat bergeming. Sorot mata tajamnya fokus pada Cloudia. Ujung lancip pedangnya dia arahkan pada wanita itu.


“Sekarang, matilah!” Cloudia melesat cepat ke arah Dayat. Menghempaskan angin di jalurnya dan membuat udara ribut dalam prosesnya, dia melesat langsung ke Dayat sebagai targetnya. Namun di sinilah dia lengah….


*Slash!* *Bam!*

__ADS_1


Sebuah bilah hitam melayang di udara dan langsung menghantam tubuhnya. Dia terhempas ke dinding dan menciptakan suara dentuman keras ketika benturan. Ia terjatuh. Saat berusaha bangkit di depannya adalah Suzuka yang mengarahkan ujung wakizashi pada dirinya.


“Selesai, kau kalah.”


__ADS_2