
Zen danDella berada di depan ladang ilalang. Di sana Della menyadari bahwa ada suatu sihir perangkap terpasang di seluruh ladang ilalang.
“Fiuh, untung ada kamu.” Zen bersiul. “Kalau aku sendirian pasti langsung masuk.”
“Ya, syukurlah,” kata Della datar, “Itu bukan sihir yang ada di dunia ini, jadi bisa dikatakan sebagai sihir gelap. Siapapun yang masuk ke dalamnya, saat dia akan ke luar dari sana, dia akan dipindahkan ke area dalam. Selain itu, dalam waktu-waktu yang acak mereka juga akan dipindahkan ke area acak di dalam ladang ilalang.”
“Merepotkan,” celetuk Zen, “Sekarang bagaimana?”
“Bagaimana kalau memutarinya?” saran Della.
“Patut dicoba.”
Dan dengan cara yang demikian itu mereka berdua berjalan memutar melewati jalur lain.
Memang sih ladang ilalang itu merupakan anomali di tempat ini. Selama perjalanan mereka melewati sekitaran ladang ilalang, mereka sama sekali tidak menemukan satupun hewan. Menggali ke tanah, Zen juga tak menemukan cacing maupun serangga.
“Apa ini juga termasuk efek ladang ilalang itu?”
“Bukan, lebih seperti hawa seram yang terasa menyebar. Ini bagian dari sihir gelap lainnya.”
Berjalan, berjalan, dan terus berjalan, hingga mereka pada akhirnya sampai ke tempat yang sama seperti titik awal. Ladang ilalang tumbuh melingkari area yang luas. Butuh setengah hari bagi Zen dan Della untuk mengelilingi keliling ladang ilalang tersebut.
“Padahal kalau dilihat dari sini ukurannya tidak terlalu luas, tapi saat berkeliling jauh lebih luas,” gumam Zen.
“Kita memang berada di dunia yang tak logis. Apa kau berharap sesuatu yang normal?” timpal Della.
Mereka terdiam selama beberapa saat, membuat suasana menjadi sepi senyap yang bahkan suara jangkrik sekalipun tak terdengar.
“Sekarang apa?” tanya Della.
“Mau makan siang?” tawar Zen, “Aku tidak akan menawarkan ‘mau makan apa’ padamu, sih,” jawab Zen.
“Baik, silahkan menikmati waktumu dengan berburu.” Della membalikkan badannya dan memandang ladang ilalang. “Aku akan coba mengobservasinya lagi. Mungkin ada petunjuk yang bisa membawa kita melewati tempat ini.”
“Oke.”
Zen pergi meninggalkan Della sendirian di sana. Tidak seperti akan ada hewan buas atau monster yang bermunculan. Dan bahkan bila pun ada, Della memiliki cukup kekuatan untuk melawan mereka. Tatapan matanya mematikan dan lebih dari cukup untuk mengalahkan sebagian besar dari mereka sendirian.
__ADS_1
Della duduk di tanah dengan tangan melingkari lutut.
“Agak lembab. Suasananya nyaman.”
Zen masuk ke dalam hutan. Makin menjauhi area padang ilalang, suara burung mulai terdengar mematuk kesunyian.
“Biarpun bisa memburu monster, kita tidak punya bumbu-bumbuan,” gumamnya pelan, “Aku harus bagaimana?”
Meski awalnya diliputi kebingungan dalam benaknya, tapi Zen dapat menemukan mangsa buruan yang cocok untuk mereka. Itu adalah burung yang kebetulan dia temukan ketika memandang langit. Makhluk itu memang yang paling mudah ditemukan berkat kicauannya. Selain itu, karena arah evolusinya yang memudahkan mereka melarikan diri — bukan menyerang — mudah memburu mereka selama sergapan berhasil.
Dan dengan hasil buruan tersebut, Zen kembali ke tempat Della.
“Punten, gimana kabarnya?”
“Sepertinya aku mulai paham soal seni sihir gelap yang terpasang.” Della memandang Zen. “Kamu bisa memasak itu?”
“Cuma sebatas memanaskannya di atas api.”
“Itu yang selama ini kita lakukan.”
“....”
“....”
\=\=\=
Sementara Zen dan Della melakukan aksi konyol mereka dalam percobaan memasak daging burung (yang tak dikenal apa jenisnya), Dans dan rekan-rekannya berada di dalam pertarungan sengit. Masing-masing dari mereka sangat kelelahan dan kewalahan melawan serigala-serigala hitam itu.
Dans yang sedari tadi bertarung menggunakan tinjunya makin lama tangannya terasa semakin berat, Udin yang menghindar terus-terusan mulai ngos-ngosan, begitu pula dengan Suzuka, Tiana, dan Cloudia. Dayat yang merupakan tanker berada di situasi yang lebih buruk lagi. Musuhnya ada banyak dan dia telah dikepung.
Ngeri deh pokoknya.
Berbanding terbalik dengan dua orang pendiam tadi yang saat ini mencoba memanggang daging burung (yang tidak diketahui jenisnya).
Bila saja Zen dan Della segera masuk tadi, mereka mungkin bisa menolong regu Dans, dan dengan itu setidaknya beban regu Dans bisa lebih berkurang. Sayang sekali acara masak dan makan keduanya membuat keenam lainnya kesusahan.
\=\=\=
__ADS_1
“Rasanya tidak terlalu enak,” kata Zen.
“Bukankah itu yang biasanya kita makan,” timpal Della, “Toh juga, apapun yang kamu makan ujung-ujungnya akan jadi feses.”
Akhirnya, setelah uji coba memasak yang lumayan lama dan penuh kegagalan, berhasil lah mereka berdua membuat masakan dan menghabiskannya.
Kini apakah mereka akan bertemu dengan regu Dans?
“Sekarang, bagaimana cara menembus padang ilalang itu?” tanya Dans.
“Sepertinya ada semacam inti di dalamnya, yang kalau itu dihancurkan efek sihirnya akan hancur,” ujar Della.
“Tapi karena akan tersesat kalau sampai masuk ke sana, jadi kita perlu serangan jarak jauh, ya?” kata Zen, “Seharusnya aku bisa menyerang sampai jarak ratusan meter. Tapi aku punya masalah.”
“Apa itu?”
“Perutku agak mules. Tunggu aku buang air besar dulu.”
Dan regu Dans pun harus menunggu waktu lebih lama lagi….
\=\=\=
Di tempat lain, yaitu kerajaan tempat Zen dan lainnya dipanggil, Meta melakukan penelitian mengenai Telur Emas yang mereka dapat di Preceptor Crown Mountain sebelumnya. Bisa saja dia langsung menggunakan item itu dan mendapatkan manfaatnya, cuma rasanya sayang saja untuk melakukan hal tersebut. Maksudnya: Kenapa kita tidak membuat cara membuatnya dan membuat duplikatnya sehingga kita dapat meningkatkan kekuatan secara massal?
Namun tentu saja, tidak akan semudah itu untuk meneliti objek yang berasal dari peradaban jauh lebih maju. Sehebat-hebatnya Meta pada akhirnya tetap saja dia anak yang bahkan belum lulus dari bangku sekolah menengah atas. Dan hal yang bisa dilakukan ketika sudah buntu adalah bertanya pada yang tahu. Dan satu-satunya yang tahu adalah Goldwin — salah satu administrator setingkat Suzuka dan guru Zen.
“Kau bertanya cara pembuatan Telur Emas?”
“Ya.” Meta mengangguk.
“Maaf saja, tapi bahkan aku sekalipun kurang tahu.” Goldwin menjelaskan, “Tiap-tiap Administrator umumnya memiliki perannya sendiri. Contohnya Kurokami no Yakusoku — Suzuka — yang mengeliminasi eksistensi berbahaya dan mengancam dunia atau lainnya yang bertugas menjaga Telur Emas itu. Kemudian untuk kelangsungan pekerjaan mereka, tiap-tiap Administrator dibekali keterampilan tertentu.”
“Jadi karena tugasmu bukan menciptakan Telur Emas, kau tidak memiliki bekal kemampuan untuk menciptakannya?” tebak Meta.
“Anak pintar.” Goldwin memuji Meta dengan senyuman yang terpampang jelas.
“Kalau begitu, tugasmu apa, ya?” tanya Meta, “Dari dulu seperti pengangguran.”
__ADS_1
Goldwin terdiam. Keheningan dan perasaan canggung terasa di dalam ruangan itu.
Barulah setelah jeda singkat tersebut, Goldwin mengatakan, “Ngomong-ngomong muridku pergi ke Menara Putih Kegelapan. Dia mungkin butuh bantuanmu karena tempat itu berbahaya. Sini! Kuberikan petanya.”