Classroom To Another World

Classroom To Another World
Bunga


__ADS_3

Ada banyak budak di dalam kandang yang berbeda-beda. Mereka dipamerkannya layaknya hewan dalam kebun binatang. Kehidupan mereka tidak dapat dikatakan layak. Mereka sangat kotor dan bau, terlebih pedagang budak tidak peduli akan kebersihan mereka. Di antaranya banyaknya tawanan budak di sini, terdapat satu yang menarik perhatian Dayat.


Budak satu ini berada di kandang tersendiri, tidak ada kawannya. Dia dikurung dalam jeruji besi berbentuk kotak bervolume kecil. Saking kecilnya, dia hanya bisa duduk dengan kaki ditekuk. Tempatnya, dia dijemur di bawah terik mentari tanpa minum. Ia memiliki rambut perak pendek acak-acakan. Kulitnya berwarna putih dengan beberapa luka gores dan lebam. Terlihat pula tulang rusuknya menonjol dari dada. Sangat kasihan memang. Terlebih dia adalah seorang gadis kecil.


Dayat mendekat. Dia terpikat akan penempatan gadis itu yang terpisah. Ia bertanya, "Halo, apakah kamu bisa bicara?"


Tidak ada jawaban. Gadis itu mendongak Dayat dengan tatapan mata kosong. Pupil aquamarine di matanya menatap kekosongan. Bila harus dikatakan, dia adalah seseorang tanpa harapan hidup. Kehidupan telah berantakan dan tidak ada harapan lagi untuk hidup. Jika pun ia tetap hidup, kehidupannya tidak akan bermakna. Satu-satunya alasan mengapa dia terus hidup adalah bahwa dirinya tidak diizinkan untuk mati dan dia takut akan kematian.


"Para budak pendiam, Tuan Pelanggan."


Dayat segera berbalik, dan menemukan pedagang budak di belakangnya. "Uh, yah, aku penasaran kenapa dia berada di tempat terpisah. Kulihat, budak lainnya dikelompokkan sesuai suku atau asal mereka."


"Dia agak unik." Si pedagang maju mendahului Dayat. Dia berhenti dan berjongkok tepat di depan kandang gadis budak dalam jeruji besi. "Dia bukan budak yang kami tangkap dari alam liar, dia diserahkan orangtuanya kepada kami. Tentu, kami memberikan bayaran pada orangtuanya."


"Dengan kata lain, orangtuanya menjual dirinya?" Dayat mengoreksi.


Apa bedanya menyerahkan dengan imbalan dan menjual?


"Inilah permainan kata para pedagang, Tuan." Ia menunjukkan wajahnya dengan senyum tipis pada Dayat. "Bukankah orangtua yang menjual anaknya itu kejam dan tidak punya hati? Kami hanya mengganti istilah dari menjual menjadi memberikan. Tapi yang manapun, keduanya tetap memiliki tindakan sama."


"Para pedagang memang curang, ya? Mereka pintar memainkan kata-kata." Dans mendekat. Dia berdiri sejajar dengan Dayat.


"Sudah, sudah, jangan memikirkan soal pedagang. Sekarang aku baru ingat bila budak satu ini adalah budak kami yang paling sesuai dengan kriteria kalian. Dia sebelumnya hidup di wilayah manusia sebelum dijual pada kami." Pedagang itu menatap gadis budak bukan sebagai manusia, dia memandangnya sebagai hewan. Padahal, wujud gadis tersebut sangat mirip dengan manusia.


"Begitu kah? Berikan detailnya!" pinta Dans.


"Gadis ini… ayahnya adalah ras campuran antara iblis harpy dengan beastman harimau. Kemudian ibunya adalah campuran antara manusia dengan elf. Kedua orangtuanya tidak diterima di manapun karena ras mereka. Dari sanalah, karena mereka tidak bisa hidup dengan tidak jelas, dan karena ibu serta dirinya mirip dengan manusia, maka mereka berdua tinggal di wilayah manusia sementara si ayah bekerja di luar."


"Heh… kisah yang sangat menyedihkan, ya?" komentar Dayat.

__ADS_1


"Kemudian di sanalah kami menemukan dia. Yah, kami membuat perjanjian kecil dengan kedua orangtuanya. Intinya, mereka harus menyerahkan anak itu bila ingin diabaikan."


"Lalu, apakah kedua orangtuanya?" tanya Dans.


"Mati. Keduanya mati karena depresi," jawab si pedagang acuh. Seacuh membunuh seekor kecoa di kamar mandi. Tidak ada harga untuk nyawa non-human. Wajah datarnya melirik Dans dan Dayat.


"Menarik. Dengan kata lain, dia adalah ¼ iblis, ¼ harpy, ¼ forest walker, dan ¼ manusia. Lebih spesifik, dia mewarisi gen harpy yang merupakan iblis burung, manusia harimau, dan penduduk hutan. Lalu, dia juga mewarisi kepintaran homo sapiens. Aku penasaran apa jadinya dia di masa depan. Berapa harganya?" tanya Dans.


"Eh? Apakah Anda yakin ingin membelinya? Dia mungkin tidak akan berguna bagi kalian berdua. Dia hanya seorang anak kecil."


"Berguna atau tidak, itu kami yang putuskan," sahut Dayat. "Tugasmu adalah mengurus administrasi." Dia tersenyum percaya dirinya. Sangat yakin dirinya untuk memiliki gadis kecil itu. Bahkan bila bukan demi keuntungan, rasanya dia tetap ingin mengambilnya.


Dengan begitu, mereka berdua membeli gadis kecil itu sebagai budak. Harganya relatif murah. Sesuai dengan perkiraan kinerjanya oleh pedagang budak. Bukan tanpa alasan mengapa dia diperkirakan tidak berguna. Gadis itu masih kecil, sekitar 8 tahun. Tidak mungkin dia bisa melakukan pekerjaan kasar di usianya. Untuk pengetahuan umum, usia mentalnya masih kurang. Paling banter dia cuma bisa membawakan minuman. Itupun akan sangat lambat. Tanda-tanda ketidakbergunaan sudah terlihat ketika mereka pergi dari toko budak.


Alih-alih dilayani, mereka malah melayani. Di perjalanan pulang Dayat menggendong si gadis di punggungnya. Gadis tersebut tetap memiliki tatapan kosong tanpa harapan hidup. Bukannya meringankan pekerjaan, dia malah menambah pekerjaan. Belum lagi pakaian kotor dan baunya sangat mengganggu.


"Kenapa aku harus menggendongnya!"


'Fufufu, senangnya dianggap sebagai wanita. Apakah malam ini kamu mau menghabiskan malam denganku?'


Di penginapan, mereka menarik perhatian. Pasalnya budak baru mereka sangat bau. Langsung saja Dayat pergi ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Sementara itu, Dans membuat permintaan pada resepsionis untuk membawa bal besar ke kamar mereka. Si resepsionis tahu jika mereka ingin memandikan budak mereka. Dia menolak. Dia baru mengizinkan setelah Dans berjanji akan membersihkan bekas basah apapun di kamar mereka nanti.


Di dalam kamar, Dayat menggunakan sihir air dan api untuk mengisi bak yang telah disediakan menggunakan air hangat. Dia menggunakan penghasil busa dari biji sapindus rarak. Agak menyiksa batinnya ketika harus memandikan seorang gadis kecil. Di tempat lain, Dans pergi ke luar untuk membeli pakai wanita. Batinnya tersiksa saat ada yang bertanya, "Itu pakaian buat siapa?", "Kok, kamu belinya baju buat cewek. Ukurannya kecil lagi? Ada apa, Mas?", atau, "Heh, culik anak kecil itu gak baik. Mau saya laporin?"


Pokoknya, kedua lelaki ini menderita.


"Hah… hah… hah…." Keduanya bernapas berat. Mereka duduk di lantai, tertunduk dengan kelelahan. Di hadapan mereka adalah gadis budak duduk di atas ranjang. Ia mengenakan pakaian baru.


Dia, si budak ini, memakai gaun berwarna kuning dengan pita pink melilit pinggangnya. Rambut pendeknya telah rapi dengan jepit rambut mengikat poni. Di kakinya, ia memakai sepatu merah jambu. Tubuhnya telah bersih dan harum, berterima kasih pada kerja keras Dayat. Dia sudah tidak mirip budak, dia akan dipandang sebagai gadis kota biasa. Masalahnya, pandangan matanya masih tetap saja kosong.

__ADS_1


" Gak pernah nyangka bakal sesusah ini buat ngurus budak," keluh Dans.


"Anta mending. Lah gue? mandiin kena tekanan batin, bro," timpal Dayat.


"Bodoh, aku juga kena tekanan mental. Lo gak tau gue ditanyain apa saja."


Katana di punggung Dans berubah menjadi kabut hitam. Kabut mengelana ke seisi ruangan sebelum akhirnya menjelma menjadi sosok Suzuka yang duduk di sebelah gadis budak. Wanita berkimono itu melingkarkan tangannya pada budak—memeluknya. Dia berkata, "Sudah, sudah, memang tugas lelaki untuk bekerja keras demi wanita, khukhukhu. Sekarang, kalian akan memanggilnya dengan apa? Tidak mungkinlah juga kalian akan memanggilnya kau, kamu, atau hei, 'kan?"


"Benar juga. Emaknya kita beri dia nama siapa?" gumam Dans.


"Aku tidak pintat memberi nama…," tambah Dayat.


Keduanya memandang langit-langit, menunggu sebuah inspirasi jatuh ke dalam kepala mereka. Sulit untuk mendapatkan ide nama. Tak pernah mereka menyangka akan sesusah ini. Biasanya, dalam pelajaran membuat dialog, mereka akan menamai tokoh dengan Tono atau Tina. Buat saja asal-asalan. Tetapi dalam kehidupan nyata, mereka tidak bisa memberikan nama secata asal. Harus ada makanya.


"Bagaimana dengan Sekar!" ujar Dayat.


"Sekar?" Suzuka memiringkan kepalanya.


"Sekar adalah kata yang berasal dari mekar. Harapanku, dia akan menjadi seperti bunga yang mekar di kemudian hari. Sebagai gabungan dari keempat ras, aku ingin dia menjadi bunga yang mekar dengan berbagai macam warna."


"Sekar?" Dans mengusap dagunya. "Tidak buruk."


"Baiklah, mulai hari ini namamu Sekar!" Dayat menunjuk Sekar. Dia tersenyum senang nan riang. Sangat terpampang jelas di wajahnya. Dans juga Suzuka merasakan aura kebahagiaan dari Dayat yang sudah seperti orangtua ketika melihat anaknya mengambil langkah pertama dalam belajar berjalan. "Aku yakin itu adalah nama bagus…."


"Ciee… yang udah kayak bapak-bapak," sindir Dans.


"A-Apa? Aku salah di mana?" Dayat bingung.


"Khukhukhu, apa kamu menyukai gadis kecil?" Suzuka terkikik.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?"


Keributan terjadi di antara mereka bertiga. Tanpa sepengetahuan mereka, Sekar menggumamkan sesuatu. Ia menggumamkan nama barunya itu. "Se-kar…." Ia mengucapkan dengan terputus setiap suku katanya. Dalam benaknya, dia merasakan suatu kehangatan yang telah lama ia rindukan. Sebuah kenangan mengenai orangtua yang hampir ia lupakan.


__ADS_2