Classroom To Another World

Classroom To Another World
Kenangan


__ADS_3

Sekar teringat kembali akan masa lalunya. Masa lalu ketika dia masih tinggal bersama orangtua yang merupakan keluarga tersayangnya. Mengingat kembali hari-hari ketika dia masih hidup dalam ketenangan dan ketentraman di dalam hutan. Hari-hari menyenangkan dan menenangkan yang menjadi kenang rapuh.


Dia bersama ibunya mengunjungi taman bunga. Sangat terpencil tempatnya. Hanya ada mereka berdua di sana. Meski begitu, Sekar merasa tenang. Dia mendengarkan dengan seksama semua perkataan ibunya.


"Taman yang indah, bukan, anakku."


Sekar kecil tak menjawab. Dia termenung memandang wajah ibunya yang mengarah padanya. Sebagai anak kecil, dia belum dapat memikirkan sebuah jawaban.


"Apa kau masih tidak memahaminya?" tanya ibu Sekar tanpa mengharap jawaban. "Tidak apa-apa. Suatu hari nanti, aku yakin kamu pasti akan menjalani masa-masa berat. Suatu hari nanti, aku yakin tidak akan ada yang mau menerimamu. Tetapi aku juga yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus."


Hanya terdiam, itulah tanggapan Sekar dulu. Dia masih belum dapat memahami kata-kata sulit. Dia hampir tidak memahami maksud dari kata-kata ibunya.


"Ibu minta maaf membuatmu terlahir di kondisi sulit, tapi… tapi… percaya lah… dan kumohon… jangan berpikir bila dunia sudah berakhir."


\=\=\=


Sekar terbangun. Cahaya matahari yang masuk melalaikan jendela menunjukkan waktu pagi. Semalam, dia tidur dengan Dayat memeluknya dan posisinya masih sama saat pagi. Kalau kalian tanya mengapa, alasannya karena di ruangan mereka hanya ada dua ranjang. Dans berbagi dengan Suzuka (dalam wujud katana) dan Dayat bersama Sekar. Hal ini membuat Sekar harus memindahkan tangan Dayat yang mengikat tubuhnya. Dia melakukannya perlahan—tidak ingin membangunkan Dayat.


Berdiri di depan jendela, Sekar memandang ke luar jendela. Masih agak gelap di luar, namun sudah terlihat beberapa orang menata lapak. Memandang kedai di kanan-kiri jalan, dia teringat kenangan bersama ibunya ketika dia berjalan-jalan bersama.


"Apa kau rindu orangtuamu?"


Sekar berbalik untuk melihat siapa orang yang baru saja mengatakan itu. Dia menemukan Suzuka di sana. Seorang wanita yang sedikit tinggi darinya, mengenakan model pakaian asing, dan sangat menawan. Sebelumnya Sekar tidak terlalu memperhatikan, sekarang dia menyadari bila terdapat hawa kharismatik pada diri Suzuka.

__ADS_1


"Um, sedikit…." Sekar mengangguk.


Suzuka maju beberapa langkah hingga jaraknya dengan Sekar hanya beberapa belasan sentimeter. Dia membungkuk hingga wajahnya tepat di depan wajah Sekar. "Mau menceritakannya pada kakak ini? Tidak apa, anggap saja aku adalah kakak perempuanmu. Tidak usah sungkan."


"Apa tidak apa-apa? Orang-orang marah saat aku cerita."


"Tidak apa, semua sudah berbeda." Suzuka tersenyum manis.


Sekar memejamkan matanya. Dia memikirkan ingatan tentang keluarganya yang saat ini telah kabur. Semenjak dia menjadi budak secara paksa, dia dipaksa menjadi berguna—menjadi alat untuk melayani. Hal-hal tidak berguna seperti kenangan, ia dipaksa untuk melupakannya.


"Dulu, aku memiliki ibu yang sangat penyayang. Dia sangat baik padaku. Dia juga cantik. A-Ayahku juga baik. Dia jarang pulang karena mencari makanan untuk kami, tapi dia sangat baik. Mereka berdua… aku sangat menyayangi kedua orangtuaku. A-Aku, aku sangat ingin bertemu mereka berdua."


"Tapi sudah tidak mungkin, 'kan?" timpal Suzuka.


Sekar menangis. Air mata menggenang dan merambat melewati pipinya. Dia tidak ingin mempedulikan ucapan Suzuka, tetapi tak bisa dipungkiri rasanya sakit di dalam hatinya. "Terkadang, ibu akan membawaku ke pasar. Kami membeli kebutuhan. Kadang-kadang, ibu juga memberikanku jepit rambut. Aku sangat senang saat itu. Aku… aku…."


Suzuka langsung memeluk tubuh Sekar. Terkejut si Sekar. Dia tiba-tiba merasakan kehangatan dari tubuh Suzuka. "Tidak apa-apa, di sini ada kakak, lho. Kamu bisa menangis sepuasnya, tidak usah ditahan. Di sini tidak akan ada yang akan marah padamu hanya karena kamu merengek," ucapan Suzuka sangat lembut di dengarkan dan meresap dalam sanubari.


"I-Iya, hiks…." Sekar menangis. Dia membenamkan wajahnya pada tubuh Suzuka. Tangannya melingkar, memeluk balik Suzuka. Pada pagi itu dia mencurahkan semua perasaannya kepada Suzuka. Tak peduli siapa Suzuka, tak peduli apa bisa dipercaya, tak peduli Suzuka sebagai orang asing. Sekar membutuhkan seseorang untuk bersandar. Beban terpendam dalam dirinya, setidaknya ada orang lain yang ikut mengetahuinya.


Tak lama Dans dan Dayat terbangun. Berisik. Mereka berdua menganggap tangisan Sekar sebagai alarm keras yang membangunkan mereka. Tidak, mereka tidak marah karena Sekar menangis. Melihat gadis itu bisa menuangkan perasaannya, keduanya tersenyum dari jauh. Sejak awal mereka menginginkan rekan, bukan alat tanpa perasaan. Dengan begini mereka bisa memastikan rekan baru mereka benar-benar seorang gadis kecil, sosok yang manusiawi, bukan orang yang ingin menusuk mereka dari belakang.


"Sudah baikan?" tanya Suzuka.

__ADS_1


"Um." Sekar mengangguk. Dia menarik wajahnya. Mendongak ke atas, dia melihat wajah Suzuka dipenuhi senyuman manis. "Maaf menggunakanmu sebagai sandaran. Pakaianmu, maaf membuat pakaianmu basah."


"Sudah, sudah, apa salahnya gadis kecil menangis?" Suzuka menepuk pelan kepala Sekar. "Aku tidak marah, kok. Justru aku senang kamu mengandalkan kakakmu."


"Terima kasih."


"Ngomong-ngomong …." Suzuka melirik Dans dan Dayat yang masih di atas kasur. "Apa kalian hanya akan memberikan satu pasang pakaian pada gadis ini? Memakai gaun saat pertarungan, di bagian bawahnya bukan celana. Apa kalian memiliki maksud lain ketika dia menggunakan sihir untuk terbang?"


"A-Apa maksudmu?" Dans tergagap.


Bukan berarti dia memiliki maksud lain yang dipikirkan Suzuka, akan tetapi membeli pakaian adalah bagiannya. Seakan-akan dia bersalah bila pakaian Sekar salah. Tiba-tiba saja dia merasa social credits-nya jatuh di mata Dayat dan Suzuka. 100%, dia tidak memiliki niat buruk pada Sekar. Dia adalah seorang lelaki tanpa pengalaman dengan wanita.


"Dans, aku dengan bangga menganggapmu sebagai teman sekelasku dan rekan seperjalanan serta petualangan. Aku tidak menyangka kau akan 'terjatuh' sampai segitunya." Dayat memandang Dans layaknya dia memandang kecoa. Tinggal kecilkan tubuh Dans, ubah warnanya menjadi emas kecoklatan, kemudian geprek dia menggunakan sandal. Beruntung tidak ada sihir untuk mengubah orang menjadi kecoa.


"Ara~, Dayat, apa kau berpikir kau lebih baik dari padanya? Bukankah kau malah lebih parah? Kau yang memandikannya, bukan?"


"Niatku murni hanya untuk membersihkan tubuhnya. Aku tidak ada niat untuk melakukan yang aneh-aneh." Dayat membusungkan dadanya pada penyangkalan.


"Itu tetap termasuk *** harassment. Apa kau mau kupanggilkan FBI?" Suzuka menyeringai. Sosoknya menjadi iblis dalam dongeng dan akan keluar dari buku cerita ketika akan tidur.


"Di mana kau belajar kata-kata itu?" Dans dan Dayat serempak.


"Sudah, sudah, kalian hanya perlu menurutku. Oke?"

__ADS_1


__ADS_2