
Malam hari, saat Dayat dan Sekar masih tertidur lelap, Dans terbangun. Dia membuka lemari dan segera memakai setelan bertarung. Tak lupa dia mengenakan tudung hitam untuk menutupi tubuhnya. Bersatu dengan kegelapan malam, penampilan hitamnya sulit dilihat. Dia mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pembunuh.
'Kau yakin akan melakukannya?'
"Ya. Jika aku tidak membebaskan budak-budak itu, mereka selamanya hanya akan hidup menderita. Mereka telah dizalimi dengan menjadi budak tanpa alasan yang bisa dibenarkan."
'Aku tidak yakin dengan tindakanmu. Bahkan jika kau berhasil membebaskan mereka, mereka akan tetap terlantar di kota ini. Paling-paling prajurit akan datang dan menangkap mereka. Kau hanya akan mengiris air.'
"Tidak apa-apa. Setidaknya aku ingin memperingatkan pada Kultus Bintang Malam yang Berkedip untuk berhenti. Aku akan menjadi musuh mereka!"
Dans membuka jendela. Dari sana dia melompat ke luar. Dia bergerak dengan berlarian di atas atap. Ketika berakhir, dia melompat ke atas atap satunya. Kecepatannya Dans sangat gila untuk ukuran manusia. Menggunakan mana di kakinya untuk meningkatkan kecepatan, dia sangat cepat. Malam itu sangat gelap, sulit untuk melihat. Bagi Dans, cahaya bintang-bintang sudah cukup sebagai penerang. Cahaya redup sekalipun menjadi lebih bersinar saat semakin gelap.
Perlu beberapa menit untuk sampai. Dia sudah berada di tempat penjualan budak kemarin hari. Suasana sangat sepi senyap. Beberapa penjaga membawa tombak di beberapa titik. Mereka mengantuk sehingga pandangan mata mereka sudah tidak benar. Beberapa dari mereka sama sekali tak siaga. Mereka menancapkan tombak di tanah. Jelas sekali mereka sangat meremehkan keamanan karena sudah berada di dalam kota.
Tak masalah, hal tersebut justru memudahkan Dans. "Kurokami," bisiknya. Dengan katana hitam di tangannya, dia bergerak cepat dan senyap. Dia membunuh satu per satu dari penjaga. Mereka yang setengah tertidur tidak menyadari kepala mereka terpenggal, sedangkan mereka yang waspada segera melihat bilah hitam katana menuju leher mereka dan menerbangkan kepala mereka.
Tidak ada satupun penjaga yang berhasil melaporkan serangan. Mereka menjadi regu 4 orang dan tersebar di beberapa titik. Dan mudah bagi Dans untuk menumpas keempat dari mereka sebelum mereka sempat mengambil tindakan perlawanan.
'Dasar, mereka lemah sekali.'
__ADS_1
Dans mengayunkan katana di udara. Sisa darah yang menempel terciprat. "Mau bagaimana lagi? Perlengkapan mereka saja cuma tombak kayu dengan ujung besi. Perlengkapan setingkat itu biasanya untuk pemula yang tugasnya maju dan mati setelah memberikan serangan."
Dia menuju ke salah satu jeruji besi, tempat para budak ditawan. Melihat ke dalam, sangat memprihatinkan melihat para budak hanya mengenakan pakaian dari kain bekas yang kasar. Sangat tipis. Padahal udara malam sangat dingin. Dans sendiri mengakui bila udara malam sangat dingin. Terlebih lagi, bukan hanya orang dewasa. Anak-anak memakai pakaian yang sama. Memang tidak akan peduli jika mereka mati.
'Kudengar ajaran Kultus Bintang Malam yang Berkedip sangat intoleran pada non-human. Tetapi sampai tidak peduli nyawa anak-anak tak bersalah dan menganggap mereka sebagai benda, aku merasa mereka keterlaluan. Padahal ras lainnya juga berasal dari manusia. Mereka bermutasi oleh radiasi dan bisa sembuh sebab keberadaan mana. Keturunannya bermutasi menjadi berbagai ras.'
"Biasa, manusia tidak suka perbedaan. Bila mereka memiliki jalan untuk menyingkirkan yang lainnya, tentu mereka akan melakukannya. Dalam sejarah negaraku suku, Bangsa Barat melakukan penjajahan pada pribumi."
*Clank!* *Clank!*
Dans menebas dua kali jeruji besi dari arah berlawanan. Terbentuklah lubang persegi panjang dari potongan jeruji. Melihat besi-besi berjatuhan, seakan memberikan harapan baru pada mereka. Akhirnya mereka bisa ke luar dan melakukan serangan balik! Setidak itulah harapan di dalam benak mereka.
Dans sendiri tahu jika bila setelah ke luar dari jeruji besi masih ada kota yang luas. Di pinggir kota masih ada dinding benteng, di dalamnya banyak prajurit dan penjaga, dan banyak slayer berkeliaran. Kemungkinan mereka bisa keluar sangat kecil. Belum lagi, berhasil keluar pun masih ada perjalanan panjang untuk kembali ke tanah asal mereka. Itupun bila ingat jalan dan itupun bila mereka bisa melawan hewan buas dan monster. Seseorang tanpa senjata dan hanya mengandalkan tubuhnya yang lemah, hampir mustahil untuk melakukannya.
Tetapi, jika ada sebuah keajaiban, jika ada sebuah kebetulan, jika ada sebuah kemungkinan sekecil apapun, menurut Dans layak dicoba. Pilihannya adalah mencoba kemungkinan kecil itu dan hancur jika gagal, atau diam saja dan hancur. Setidaknya dengan pilihan pertama masih ada perjuangan untuk dilalui dan kemungkinan kecil untuk bertahan. Dengan begitu, Dans tidak akan ragu untuk menebaskan Kurokami no Yakusoku untuk memotong jeruji besi.
Setelah selesai menebas semua kandang, suasana seketika menjadi ramai. Budak yang telah lama ditahan menunjukkan amarahnya. Dia menghancurkan semua tenda di lapangan terbuka itu. Para penjaga satu per satu keluar sambil membawa senjata mereka. Mulai terjadi pertarungan antara budak lelaki dewasa melawan para penjaga. Sementara itu, budak wanita dan anak-anak melarikan diri. Mereka melewatinya jalan manapun di kota ini yang bisa mereka lalui. Kemunculan mereka mengejutkan para warga. Tidak di sini atau di sana, suasana menjadi ricuh.
Akhirnya sudah dapat tertebak, meski begitu Dans ingin melihat sampai akhir. Hanya saja, hal tak mengejutkan baginya adalah bahwa dia mendengar suara familiar dari balik punggungnya. Bukan suara Dayat atau Sekar, melainkan seseorang yang pernah menyerangnya dan dia benci terhadap orang ini.
__ADS_1
"Hou… jadi ini yang kau lakukan?"
Dans melompat dan mendarat di atap bangunan lain. Memperhatikan sosok yang baru saja datang, Dans geram. Dia merapatkannya gigi-giginya. Saking bencinya, dia mengarahkan niat membunuh yang intens. Siapa lagi orang ini kalau bukan Zen.
"Zen? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Apa yang kulakukan? Hahahaha, kau sungguh bertanya. Sangat lucu." Zen tidak menganggap pertanyaan Dans dengan serius. Dia cekikikan. "Sebenarnya tidak akan ada untungnya kau bertanya. Tapi karena kau sudah bertanya, tak apalah untuk kujawab." Zen memandang ke bawah. Di sana adalah para budak dari ras lain yang berhamburan seperti semut. "Aku datang untuk menghancurkan Kultus Bintang Malam yang Berkedip, sih."
"Menghancurkan mereka? Untuk apa?"
"Dengar, Pihak Kerajaan tidak sebodoh yang kau kira. Beastman dan forest walker, jika mereka bersatu dengan ras iblis, umat manusia sendiri tidak akan memiliki cukup kekuatan untuk meladeni ketiganya bersamaan. Kultus Bintang Malam yang Berkedip dianggap membuat masalah karena menangkap non-human sebagai budak."
Dans tidak percaya pada information barusan. Baginya, itu artinya ras manusia tidak sekuat yang ia kira. Jika dia berkelana, menyatukan ketiga ras lainnya, bukankah itu berarti manusia bisa dikalahkan? Caranya memang tidak akan semudah membalik telapak tangan, namun tetap saja ada kemungkinan untuk mengalahkan manusia. Informasi seperti ini, dia berpikir ini adalah informasi terpenting selama perjalanannya.
"Hmm? Apa kau berpikir menyatukan ketiga ras?"
"Benar!"
"Hah… menyerah saja. Kau tidak akan berhasil." Zen mengeluarkan kedua pedangnya. Masing-masing pedang di pinggangnya dia pegang di masing-masing tangannya. "Bahkan jika di masa depan kau akan bisa, aku akan membuatmu tidak bisa melakukannya."
__ADS_1