Classroom To Another World

Classroom To Another World
Pertarungan Akhir (2)


__ADS_3

Kelompok Dans berhadapan dengan Della.


Dalam sekejap, tuga dari mereka langsung terjatuh tak berdaya berkat kutukan Della.


“Zen ada di dalam, jika kalian mencarinya.”


“Kenapa kau memberitahu kami?”


“Aku tidak bisa mengalahkan kalian semua. Kurasa menahan sebagian dari kalian lebih baik dari pada langsung kalah.”


“Dan kenapa kami harus mengikuti perkataanmu?”


“Atau kalian lebih suka terlambat?” Della menggertak.


Tujuan Dans dan kawan-kawan ke mari adalah menggagalkan “apapun itu” yang Zen lakukan berhubungan dengan Penyihir Menara — Mellarosa.


Mereka tidak tahu apa yang mungkin terjadi, tapi intinya, mereka tidak bisa membiarkan Zen menjadi lebih kuat dan menjadi tak bisa dikalahkan.


Bisa saja mereka menghadapi Della terlebih dahulu, namun yang membuat Dans ragu adalah kemampuan Della.


Awal-awal kedatangannya ke dunia ini, Dans tidak menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya. Dia tak terlalu tahu menahu tentang kekuatan teman sekelasnya.


Della memang mengatakan bahwa dia tak bisa mengalahkan mereka berenam, tapi bagaimana bila kekuatannya cukup untuk menghabiskan waktu Dans?


Kelompok Dans yang saat ini dikejar waktu sebelum Zen menyelesaikan “apapun itu”, Dans ragu bila harus membuang lebih banyak waktu lagi di sini.


Karena itulah Dans memutuskan untuk maju.


Dia melewati Della yang berdiri tenang diikuti oleh Dayat dan Suzuka. Mereka bertiga masuk melewati lubang kecil yang dibuat Meta sebelumnya.


“Baiklah.” Della berkata setelah jeda kesenyapan. “Sekarang, apa yang akan aku lakukan pada kalian?”


\=\=\=


Kembali ke pertarungan Zen.


Zen menaikkan kekuatannya hingga batas tertingginya. Aura merah keemasan yang menyelimuti tubuhnya meledak-ledak dan berwujud seperti duri.


“Kobaran Phoenix: Kehidupan Nirbatas.”


Zen mengobarkan api Phoenix dalam dirinya. Dan dengan kobaran besar itu dia maju menerjang musuh-musuhnya.


“Doppelganger” Zen yang diciptakan Mellarosa juga bergerak mengikutinya. Tetapi ada satu hal yang tak diikuti “Doppelganger” itu, yaitu teknik Zen.


Cermin ciptaan Mellarosa memiliki kemampuan membuat apa yang dipantulkannya, tetapi bukan berarti kemampuan “meniru” dan “menciptakan”-nya ini tidak memiliki batasan.


Batasan-batasan pada teknik Mellarosa ini membatasi dirinya untuk tidak dapat membuat pasukan yang kelewat overpower. Andai saja “batasan” ini tidak ada, tentu Mellarosa akan membuat pasukan yang membuat Raja Iblis ketar-ketir, tapi tidak. Dia tidak bisa.


Mellarosa bukan makhluk yang Maha Mengetahui dan tidak Maha Menciptakan.


Dia sebatas “penyihir” yang meningkatkan kebijaksanaannya dengan mengisolasi diri.


Seni serta pengetahuan mengenai “peradaban kuno” yang pernah berjaya ribuan tahun lalu, satu orang individu memiliki batasan untuk dapat menyalip peradaban yang diciptakan oleh kelompok besar masyarakat.


Dan peninggalan dari masa lampau; Seperti Phoenix, adalah hal yang belum berhasil ia duplikasi.

__ADS_1


*Rumble!* *Rumble!*


*Boom!*


Udara bergemuruh ketika Zen menggunakan kekuatan penuhnya.


Dia melesat cepat diselimuti jalur emas kemerahan yang tertinggal, dan dengan satu perjalanan, dia menghancurkan apapun yang dilaluinya.


“Doppelganger” yang mengarah padanya hancur akibat panas yang dipancarkan Zen. Sudah begitu, Zen masih terus melesat ke arah Mellarosa.


“Guh!”


Kini wanita penyihir itu jadi lebih serius.


Dia memasang penghalang berwarna langit malam dan mengerahkan semua sulur-sulur kegelapan pada Zen.


Tapi seakan tak berarti, Zen terus melesat maju.


Tak terhentikan.


Dan dalam sekejap, dia berhasil melumpuhkan Mellarosa.


Zen menjatuhkan tubuh penyihir itu dan dia mengunci dengan naik di atasnya. Pedangnya didekatkan ke leher Mellarosa. Bahkan tanpa menyerang Mellarosa secara langsung, aura yang keluar dari tubuh Zen memberikan luka bakar pada penyihir itu.


Zen mengecilkan keluaran auranya hingga berwarna putih transparan supaya penyihir itu tak terluka lebih jauh.


“Selesai,” ucap Zen dingin, “Menyerahlah.”


“🖤️Fufufu… bukannya kamu mainnya terlalu kasar, anak muda?” Mellarosa masih tersenyum.


“Menyebalkan.” Zen merengut. “Tidak bisakah kau lebih serius?”


Zen menyingkirkan pedangnya dari leher Mellarosa. Dia berdiri dan berbalik. Ada lawan lain yang telah menunggunya; Dans, Dayat, dan Suzuka.


\=\=\=


Dans, Dayat, dan Suzuka memutuskan untuk langsung masuk saja.


Melewati celah kecil yang diciptakan Meta, mereka menonton adegan pertarungan Zen.


Hawa di sana panas berkat aura Phoenix yang Zen miliki.


Kemudian, setelah pertarungan berakhir dengan Zen mengunci Mellarosa, mereka bertiga melihat Zen yang berbalik pada mereka.


“Yo, lama tak jumpa, ya, Dans?” sapa Zen.


“Itu juga berlaku untukmu,” balas Dans, Dengan pandangan tajam nan serius. “Sayang sekali kamu masih sehat.”


“Aku tidak tahu apa tujuan kalian ke sini, tapi bila kita bertarung, ini akan menjadi pertarungan 3 sisi,” ujar Zen, “Apa kau yakin bisa menang?”


“Jadi begitu, ya.” Mellarosa bangkit. Dia tetap tersenyum dengan senyumannya yang menggoda. “Kamu tidak membunuh atau melumpuhkanku agar pertarungan ini menjadi 3 sisi. Itu cukup bijak. Tapi apa menurutmu aku akan bekerja sama denganmu?”


“Dan jika aku kalah, apa menurutmu kau bisa berteman dengan mereka?” Pupil mata Zen berada di sudut matanya saat melirik Mellarosa di belakangnya. “Pertarungan 3 sisi juga terdengar lebih bagus untukmu, bukan?”


“Baiklah~ 🖤Mari kita mulai pestanya~!”

__ADS_1


*Blar!* *Boom!* *Dar!*


*Zrss….


Meta meledakkan bola api yang menghasilkan asap tebal.


Zen sekali lagi mengaktifkan auranya di level tertinggi.


Mellarosa mengeluarkan sulur-sulur bayangan dan membiarkannya mengamuk.


Suzuka mewujud sebagai senjata Dans.


Hanya tersisa Dayat si Tanker yang bingung pakai serangan apa.


(Tanker tidak benar-benar memiliki serangan kuat.)


Serangan yang saling bertumbukan meledak hebat menghancurkan dinding bangunan.


Della yang kali itu tengah berhadapan dengan Udin, Tiana, dan Cloudia, dia merasakan angin kuat menerpa. Beruntung saja di belakang punggungnya adalah pintu yang kokoh. Di kanan kiri pintu tersebut dinding hancur semuanya.


Medan pertarungan berubah menjadi area terbuka.


Zen berhadapan dengan Dans. Mereka berdua saling beradu ilmu pedang dengan intens. Suara tabrakan besi terdengar berurutan. Tiap detik, 5 atau lebih suara dentangan terdengar berirama.


“Lumayan juga.” Zen terus menyerang. “Sebelumnya kau sangat lemah.”


“Jangan remehkan aku.” Dans berusaha mengikuti irama ayunan pedang Zen. “Aku telah berlatih.”


Masih ada perbedaan kekuatan di antara mereka berdua.


Zen lebih unggul. Gaya bertarungnya yang secara liar melepaskan serangan terus-terusan membantai lawan, dia tak membiarkan musuh menyerang. Dalam pertarungan ini, dia tak memasang pertahanan. Serangan yang menahan musuh adalah pertahanannya.


Di sisi lain, Dans tidak benar-benar memberikan kerusakan besar. Area serangnya lebih sedikit dibandingkan Zen, namun berkat gift-nya, kerusakan menjadi lebih absolut.


Di samping mereka pertarungan 3 sisi dari Mellarosa, Meta, dan Dayat.


Meta menembakkan sihir es, api, air, tanah, dan ragam lainnya ke Dayat.


Dayat menangkis dengan perisainya.


“Hanya bisa berlindung? Menyedihkan,” kata Meta.


“Kalau berani turun sini! Beraninya nyerang dari langit!” bentak Dayat.


Kemudian selain mereka berdua, Mellarosa menyerang dengan serangan berarea luas pada mereka berdua.


*Zrss!* *Zrss!* *Zrss!*


Meta menangkis dengan menciptakan penghalang sedangkan Dayat cuma menggunakan perisainya.


Gift Dayat yang membuat dia tak memiliki status buruk, Dayat adalah musuh alami Mellarosa, dengan catatan serangannya menjangkau Mellarosa.


Pasalnya, Mellarosa yang merupakan ahli sihir melayang di udara — sama seperti Meta.


“🖤Mari meriahkan hari ini~”

__ADS_1


__ADS_2