Classroom To Another World

Classroom To Another World
Teman Sial


__ADS_3

Dans duduk di sebuah kedai. Dia menikmati makanan yang terdiri dari rebusan kentang. Ekspresinya acuh. Dia fokus makan dan mengabaikan Suzuka yang duduk berseberangan darinya. Jangan tanya mengapa. Saat ini dia berubah menjadi pribadi yang serius setelah Sekar dibawa oleh Zen. Bukan berarti menjadi jahat, ia hanya sedang kesal. Kekesalan karena lemah dan kesal karena tidak bisa melindungi orang-orangnya. Kini, di dalam imajinasinya, ia memikirkan apa saja yang bisa terjadi pada Sekar.


Gadis kecil yang bernama Sekar itu lemah dan tidak berdaya, setidaknya begitulah menurutnya. Melihat bagaimana manusia perlakuan manusia pada ras lainnya, sudah ada pikiran buruk mengenai Pihak Kerajaan di dalam benak Dans. Dia berpikir Sekar dicambuk setiap harinya dan tidur di lantai dingin. Atau dia berpikir bahwa gadis itu akan dianiaya oleh semua orang, terutama Zen. Dia berharap semoga saja teman-temannya yang lain akan mau membantu Sekar. Berharap. Hanya itu yang kini ia bisa lakukan.


"Makanlah dengan pelan, nanti tersedak," ucap Suzuka.


Namun Dans sama sekali tidak menghiraukan. Dia terus makan secepat yang ia bisa. Hingga kejadian tak dimau pun terjadi. Dans benar-benar tersedak. Dia terbatuk keras berkali-kali. Cukup untuk membuat pelanggan terpikat perhatiannya. Tapi setelah mereka mengetahui kalau cuma tersedak, mereka kembali fokus pada urusan sendiri.


"Hah… sudah kubilang kau bisa tersedak." Suzuka meminumkan air pada Dans. Gelas berisi air bening sudah berada di sana semenjak tadi dan sebenarnya Dans bisa mengambilnya sendiri. Hanya saja dengan dirinya yang tersedak, dia tidak fokus. "Seorang pendekar pedang sakti terbunuh karena terdesak. Apa kamu ingin membuat komedi dalam sejarah?"


Dans melakukannya sendiri. Dia menggunakan tangannya sendiri untuk memegang gelas. Ia menghabiskan air dalam gelas. Selesainya, Dans meletakkan gelas dan berkata, "Maaf, aku sedang memikirkan Sekar. Aku tidak bisa tenang karena terus memikirkannya."


"Dasar kau ini…." Suzuka menggerutu. Telah berhari-hari dia mengatakan pada Dans jika memikirkannya sama sekali tidak akan merubah apa-apa. "Dengar, aku sudah mengatakannya untuk kesekian kalinya padamu. Kau harus bisa menata suasana hatimu. Aku tahu kau kesal. Bahkan aku sendiri juga kesal. Tapi jika kau terjebak dalam depresi, pelatihan kita akan terganggu. Yang kau lakukan bukan menjadi kuat, kau hanya menyiksa dirimu."


"Ya, aku tahu. Dan sedang kuusahakan."


"Enggah-enggih ora kepanggih. Ucapannya hanya omong kosong."

__ADS_1


Tak berselang lama, Dayat datang menghampiri mereka. Dia membawa tas kain. Tas kain tersebut nampak kempis dengan sebuah benda di dalamnya menunjukkan wujudnya. Dari luar, bentukan tas kain kempis itu menampakkan bentuk sebuah botol. Dayat meletakkan tas tersebut di atas meja begitu saja.


"Kau dapat?" tanya Dans.


"Hehehe, tentu saja! Kau pikir aku siapa?" Dayat menunjuk dengan jempol mengarah pada dirinya. "Walau aku menggunakan cara yang biasanya aku gunakan, sih."


"Bagus, tanpa Dupa Pemurnian kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan," sahut Suzuka. "Tak kusangka area di sekitar Preceptor Crown Mountain berubah menjadi rawa dengan miasma beracun. Tanpa membawa Dupa Pemurnian, Dans tidak akan bisa pergi ke sana."


"Beruntung kita bertemu ahli Alchemist baik hati, ya." Dayat menambahkan.


"Oke, sekarang mari kita pergi," kata Dans dengan terburu-buru.


"Tapi…."


"Tidak mau, kita tidak pergi." Suzuka menyilangkan lengannya di depan dada.


Atas ucapan Suzuka itulah mereka pergi ke penginapan. Bukan hanya penginapan biasa, tetapi Suzuka memilihkan secara khusus. Dia memilih penginapan yang sekiranya lebih nyaman untuk ditinggali. Penginapan dengan kasur empuk, selimut lembut, dan tidak berisik. Pokoknya, dia ingin membuat Dans merasa nyaman sebelum perjalanan. Jangan pedulikan soal uang. Salah satu kemampuan Dayat untuk menciptakan benda-benda bisa ia gunakan untuk membuat uang. Yah, meski benda yang diciptakan akan menghilang setelah beberapa saat.

__ADS_1


Sudah bisa dikatakan curang juga, sih. Ini sudah mengalahkan pesugihan yang mengubah daun menjadi uang. Apalagi kalau di sana mata uang berupa emas, perak, dan logam lainnya. Andai saja yang digunakan adalah uang kertas bernomor seri, tentu Dayat tidak akan bisa atau sangat sulit meng-copy-nya. Di dunia ini, dia langsung menjadi orang terkaya. Itupun selama dirinya tidak ketahuan. Kalau ketahuan siap-siap babak belur diamuk masa.


Enak sekali mereka menciptakan uang dari kehampaan. Gift pemberian Suzuka pada Dayat membuat mereka bisa lebih santai, atau kurang lebih itulah yang mereka inginkan. Sebelum mereka naik ke lantai 2 tempat kamar mereka berada, terdengar keributan dari luar penginapan. Bukan hanya mereka bertiga yang terenggut perhatiannya, melainkan orang lain pula. Mereka memandang ke luar sebab penasaran pada apa yang terjadi.


Awalnya Dayat langsung ingin pergi saja ke ruangan sendiri karena toh bukan urusan mereka ada masalah apa di luar. Tapi setelah dipikir-pikir, bikin penasaran juga untuk melihat kejadian. Lagi pula TKP-nya berada tepat di depan penginapan. Kalau sampai ada orang sableng yang mengganggu istirahat mereka, bisa-bisa jadwal santai mereka terganggu.


Awalnya Dans sama tak berminatnya dengan Dayat. Tetapi semakin ke sini, semakin ia melihat siapa sosok yang terlibat masalah, dia semakin tertarik. Orang yang terkena masalah adalah salah satu teman sekelasnya yang lain. Dia adalah Udin. Memperhatikan secara sekilas, dia merasa jika mungkin saja orang ini hanya mirip. Dia masih berpikiran positif bahwa mana mungkin Udin ikut terlibat. Udin tidak ada di kelas saat itu. Tapi untuk memastikan saja, dia memanggil.


"Udin!"


Udin merespon. Dia mencari-cari asal suara. Di salah satu sisi, barulah ia menemukan Dans dan Dayat. Balik memanggil lah dia. "Eh? Kalian Dans dan Dayat?" Gembira rasanya untuk bertemu dengan teman sekelas. Tapi tak akan berlangsung lama, sebab dia harus mengatasi masalah di depannya.


Masalahnya simpel, Udin membawa Tiana ke mari—ke kota ini. Kota tempat mereka berada memang berada di pelosok bila dibandingkan dengan ibukota. Teknologi juga terbelakang beberapa tahun. Namun meski demikian, tetap saja mereka berada di wilayah manusia. Tidak semua, tapi ada kelompok manusia yang sangat rasis dan kolot mempertahankan bila manusia jauh lebih baik dibandingkan ras lain. Alhasil, ketika Tiana ketahuan sebagai beastman, belasan lelaki berseragam lengkap langsung mengepung mereka.


Para lelaki ini bukan penjaga. Slayer juga bukan semuanya secara menyeluruh. Mereka adalah kelompok rasis yang tidak suka akan ras lain. Selain itu, kalau bisa menangkap Tiana dan menjualnya sebagai budak akan memberikan uang saku yang lumayan. Masyarakat umum tidak akan peduli bila seekor beastman sampai dijadikan budak. Wajar. Ini adalah perebutan kuasa di mana ras yang lebih kuat memperbudak yang lemah.


Yah, meski memiliki pikiran begitu pun mereka tidak ingin ditindas.

__ADS_1


Merepotkan bagi Dans dan Dayat. Mereka merasa tidak bisa meninggalkan Udin begitu saja. Tidak seperti mereka akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk materi bila menolong Udin, namun meninggalkan kawan sendiri memberikan bekas rasa gundah dalam hati. Ditambah lagi, musuh mereka tidak kelihatan sulit. Setelah dipikir-pikir lagi juga, tidak seperti akan ada prajurit yang menangkap mereka ketika mereka berada di daerah kota pelosok. Bantu saja lah~.


__ADS_2