Classroom To Another World

Classroom To Another World
Musuh Bebuyutan (2)


__ADS_3

Zen mengeluarkan aura bertarungnya yang berwarna keemasan; tanda bahwa dia telah serius. Di hadapannya ada dua Administrator. Keduanya merupakan musuh dari Zen. Suzuka berunsur kegelapan dan Clodia yang mengendalikan angin. Ketiganya mungkin tidak berada di level yang sama, tetapi sudah pasti mereka kuat.


Pertarungan dibuka oleh Zen. Dia berlari zig-zag ke arah Suzuka dengan tujuan membuat bingung. Namun Suzuka bersama insting bertarungnya, dia berhasil memblokir serangan Zen yang datang dari sis kanan dirinya. Wakizashi kayunya seakan ingin terpotong oleh pedang kembar Zen.


“Ada apa? Hanya ini kekuatanmu!” Zen memekik. Berkeenaan dia melesatkan belasan tebasan dalam waktu singkat.


Suzuka terpelanting ketika menangkis serbuan serangan. Keseimbangannya sempat hilang selama sepersekian detik. Dan ketika fokus pada Zen, dia menyadari darah mengalir di pipinya. Terdapat luka goresan. Tanpa mempedulikannya, darah dari luka berubah menjadi kabut hitam yang membungkus garis goresan. Seketika cedera kecil tersebut hilang.


*Boom!* *Boom!* *Boom!*


Di sisi lain, Cloudia meledakkan bola-bola angin di sekitar Zen. Diteruskannya dengan menyerang topan kecil yang setajam silet.


“Serangan begini….” Zen menyilangkan kedua pedangnya. “Tidak ada apa-apanya!” Seketika dia menarik pedang kea rah berlawanan, terpaan hempasan kencang memadamkan serangan Cludia.


Kacau. Kacau dan bergemuruh medan peperangan mereka. Di bawah tanah, di mana sunyi menjumpai, pesta dari para pemabuk perang memenuhi arena dan mengikrarkan kebisingan sendiri. Di sela-sela rebut inilah Dayat beraksi. Sementara perhatian Zen, selaku Terminator, teralihkan pada Suzuka dan Cludia, Dayat menyelinap pergi. Ia berjalan pelan dan hati-hati. Langkahnya layaknya hantu. Dirinya menginginkan dan memastikan semua orang tertuju perhatiannya pada pertarungan sehingga dia bisa keluar ruangan dengan selamat. Amat disayangkan, ketika dia ketahuan.


“Oi, mau ke mana?” Meta tiba-tiba muncul dan memblokir pintu.


Dayat menengok ke belakang. Di samping Pangeran Albert masih terlihat tubuh Meta. Tetapi ketika dia memandang ke depan, di sini juga ada sosok Meta. Aneh?


“Klona. Apa kau paham yang dimaksud hologram?”


“Haha, aku tertipu, ya?” Dayat tertawa canggung dan kering.

__ADS_1


“Benar,” jawab Meta singkat.


“Tch.”Dayat mendikkan lidahnya. Ia memegang Telur Emas di tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil pedang. “Magic Strike!” Melapisi pedang dengan mana, dia menebas Meta.


*Clank!*


Tidak ada dampak. Serangan Dayat ditangkis oleh dinding transparan.


“Apa kau tahu meme yang mengatakan tidak semudah itu, Ferguso? Aku selalu bertanya-tanya siapa itu Ferguso? Apa kau tahu?” Meta mengangkat tangan kanannya. Telapak tangannya mengarah pada Dayat. “Impact!”


*Ngung!*


Bersamaan dengan terdengarnnya suara dengungan pelan, tubuh Dayat tiba-tiba terpental. Sudah mirip-mirip film horor ketika aktor atau aktris terkena serangan gaib.


“Tak perlu.” Meta berjalan menghampiri Dayat. Sebuah light cube melayang mengitari dirinya. “Dia mangsaku. Kau urus saja lelaki di sana dan beastman kucing.”


“Ya sudah.” Pangeran Albert berpaling tanpa minat.


Sekarang adalah Meta yang matanya terpaku pada Dayat. Sudut mulutnya agak terangkat. Dia berkata, “Kau ingin menyerah atau bertarung? Usulanku yang pertama jauh lebih irit dan hemat tenaga, lho? Sudah begitu, ada potongan tangan dan kaki. Mau?”


“Heh, seakan-akan akan kulakukan.” Dayat bangkit. Dia memasukkan Telur Emas pada tas kecil di pinggingnya, lalu memegang pedang erat-erat menggunakan kedua tangannya. Matanya tajam. Sebuah sorot mata prajurit yang akan masuk medan perang. “Satu-satunya hal yang akan kulakukan adalah mengalahkanmu.”


“Silahkan mencoba.” Meta mengendalikan light cube terbang ke arah Dayat.

__ADS_1


Jauh dari medang pertarungan, Dans menunggu di atas. Dia waspada. Saking waspadanya, ranting jatuh saja menyita perhatiannya. Matanya melotot tajam, seakan-akan dirinya bisa lupa untuk berkedip bila saja berkedip tidak dilakukan tanpa sadar. Dirinya masih berpikiran bila dalam waktu dekat rombongan Zen akan datang dan dia harus menghentikan semuanya. Dia harus mengulur waktu sampau harta didapatkan.


*Duar!*


Itu tak lama. Dans mendengar ledakan keras dari dalam tanah. Lebih buruk, semua temannya berada di dalam sana. Bila itu jebakan, Dans bisa percaya bila Suzuka pasti bisa mengatasinya entah bagaiman. Juga, tidak mungkin Suzuka lupa akan keberadaan jebakan. Kecil kemungkinan untuk terkena jebakan. Dari sana, Dans mendapatkan bayangan buruk dalam benaknya.


“Zen….”


Itulah mengapa dia langsung masuk ke dalam. Melewati koridor dan lorong-lorong rumit, ini kali pertamanya untuk berada di sini. Bagian-bagian fasilitas telah hancur dengan cat mengelupas dan dinding retak. Serasa telah menjadi bangunan angker. Namun unsur horornya bukan pada tampilan, melainkan pada jalan. Sangat mudah bagi Dans untuk tersesat hanya dengan sedikit tidak focus.


Lalu bagaimana cara Dans menemukan lokasi Suzuka dan yang lainnya?


Salah satu kemampuan yang Dans pelajari adalah kemampuan tipe sensorik. Sebuah kemampuan untuk menemukan keberadaan individu bersembunyi dan memetakan area secara kasar. Untuk saat ini, kemampuan sensorik Dans tidak sehebat itu untuk sampai mendeteksi area seisi fasilitas. Fokus, dia mencari sedikit demi sedikit.


Dans duduk bersila dengan matanya terpejam. Dia coba merasakan area sekitar yang penuh akan kesunyian. Secara samar terdengar dan terasa suara pertarungan, namun dinding dan bentuk bangunan mengaburkan arah asalnya dengan gema. Dans terus fokus. Alih-alih menggunakan area deteksinya seperti bola dengan dia sebagai pusatnya, dia memfokuskan pada satu sisi. Fokus terus ke bawah. Hingga akhirnya, dia menemukan keberadaan mereka.


Yang paling ia rasakan adalah aura bertarung Zen. Aura itu sendiri mengerdilkan hawa keberadaan kawan dan lawan Zen. Namun berkat itu juga Dans bisa menemukan lokasi pertarungan lebih jelas.


Remaja itu segera melesat. Mengorbankan sebagian mana di tubuhnya untuk mempercepat langkah, dia menelusuri lorong demi lorong yang disangkanya akan cepat membawa dia ke lokasi pertarungan. Yang disayangkannya, adalah dia kebanyakan menemukan lorong-lorong terblokir batuan. Terpaksa dia harus putar balik.


Semakin waktu, semakin berkeringat Dans. Bukan hanya keringat sebab berlari-lari ke sana-sini, namun juga keringat dingin. Setiap detik dari waktunya mengurangi kemungkinan untuk kawan-kawannya selamat. Berasa deg-degan di dada serta membuat cemas bersama rasa risau. Seperti pemain bola yang harus membobol gawang lawan di detik-detik terakhir sedang timnya akan kalah bila ia gagal. Hanya saja, kali ini hubungannya nyawa. Bila gagal, temannya akan kalap.


Hingga di saat-saat terakhir, dia menemukan satu lorong yang benar. Sudah tinggal satu jalur lurus. Di depannya adalah sebuah pintu besar yang menganga lebar dengan cahaya berkedip-kedip nampak menari-nari dari luar.

__ADS_1


Dans segera datang. Dia sampai di depan pintu dan menengok ke dalam. Menyesakkan baginya untuk melihat pemandangan di hadapannya. Kini Suzuka dan Cloudia telah terbaring di lantai tanpa daya. Udin bersama Tiana yang diurusi Pangeran Albert tak kalah menyedihkannya. Tubuh Udin bonyok; baru saja dipukuli, dan Tiana pingsan dengan darah mengalir dari luka. Yang tersisa adalah Dayat. Dia masih berdiri. Akan tetapi dirinya pun telah di ambang batas. Tubuhnya terluka. Bila bukan sebab gift-nya, dia mungkin sama dengan yang lainnya.


__ADS_2