
Zen kembali ke kerajaan bersama Meta, Sekar, dan Pangeran Albert. Ekspedisi kali ini dapat dikatakan berhasil dengan mereka mendapatkan Telur Emas yang selanjutnya benda itu diserahkan kepada Meta untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Untuk Zen dan lainnya, mereka kembali pada keseharian mereka sendiri-sendiri.
Saat ini, Zen berada di kamar putri Sistina. Hanya akan mereka berdua di sana yang saling bercakap satu dengan lainnya.
"Kau menjadi lebih kuat, ya," ujar Putri Sistina, "Dengan keabadianmu itu, kau sudah menjadi orang terkuat di dunia ini, bukan?"
"Tidak, masih terlalu cepat untuk mengatakan diriku sebagai yang terkuat," kata Zen, "Di luar sana masih ada orang yang bisa mengalahkanku."
Dan mengingat kembali saat Four Symbol menyerangnya hingga memojokkan dirinya. Dari sana dia tahu, masih mungkin untuk menyegel atau menahannya sekalipun dia abadi. Itu kan menjadi titik kelemahan baginya sebagai seseorang yang memegang keabadian. Dan lagi, kenyataan bahwa Zen buruk dalam sihir penyegelan, sekalian tersegel dia mungkin tidak akan bisa melarikan diri dan itu akan menjadi akhir baginya.
Putri Sistina menghela napas. Dia sendiri tahu bila kekuatan Zen, bahkan tanpa mempertimbangkan Keabadian Phoenix, remaja di depannya masih mungkin untuk menghancurkan ibukota sendirian. Memang bagus untuk memiliki bidak dan bawahan yang kuat, namun jika terlalu kuat, sampai ke tahap tidak bisa mengendalikannya, itu akan menjadi pedang bermata dua yang mungkin saja akan mengancam kerajaan untuk kedepannya.
Dan sekarang, meskipun Zen telah mendapatkan keabadian yang dapat meredam kebanyakan serangan, tetapi dia masih ingin menjadi lebih kuat. Sekarang saya sudah menjadi masalah. Lebih kuat lagi dan apa yang bisa dilakukan oleh kerajaan?
"Apa kamu tahu cara untuk menjadi lebih kuat?" tanya Zen.
"Kau ini… mau sampai jadi sekuat apa?" jawab Putri Sistina, "Hanya ada tiga cara untuk menjadi lebih kuat: Berlatih, memperkuat senjata, dan mendapatkan pengalaman. Kau hanya perlu mempertahankan ketiga hal itu dan kau akan kuat sedikit demi sedikit."
"Hmm, benar juga. Aku butuh meningkatkan 'pengalaman' untuk memperkaya 'pengetahuan'. Dan nampaknya, mengalahkan monster tidak akan cukup. Apa kau kepikiran cara untuk mendapatkan pengetahuan secara instan?" Zen tersenyum lembut.
__ADS_1
Putri Sistina tersenyum kering. Tak menjawab.
"Akan kau anggap itu sebagai 'tidak', dan aku perlu mencari tahunya sendiri." Zen angkat kaki. "Terima kasih atas waktunya."
\=\=\=
Zen berjalan-jalan di dalam istana kerajaan sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Memburu dan menyerang kerajaan iblis memang tujuan mereka dipanggil sejak awal dan bisa ia lakukan saat ini juga, cuma karena peperangan belum benar-benar dimulai, kerajaan terus-terusan melatih para pahlawan untuk memperkuat pion mereka. Akan semakin baik semakin memiliki tidak yang kuat dan pasti tidak akan dikalahkan daripada menyerang secara barbar saat ini juga.
Dan dalam jalan-jalan itulah Zen teringat akan salah satu temannya, Della.
Della merupakan salah satu teman sekelas Zen yang lihai dalam sihir kutukan dan sihir gelap. Kekuatan yang dianggap tabu identik dengan sihir para iblis yang merupakan musuh mereka.
Kemudian tentang sihir gelap, sebenarnya itu bukan merupakan nama yang cocok untuknya. Sihir gelap adalah kategori dari sihir yang masih unknown — tidak diketahui. Potensi dari sihir gelap tidak diketahui, dampaknya masih harus diteliti lebih lanjut, dan jenis dari sihir-sihir yang tidak diketahui berbahaya ketika terjadi kecelakaan. Tentu saja, alasan paling berbahayanya adalah bahwa tidak ada counter yang benar-benar efektif untuk melawan efek dari sihir-sihir yang tidak diketahui.
Della, sebagai pahlawan yang memiliki sihir terlampau unik, dia tidak mendapatkan pelatihan sama seperti lainnya. Selain pelatihan dasar, dia mempelajari sihirnya secara otodidak di dalam ruangannya yang terpencil. Saking terpencilnya ruangan tempat Della berada, Zen sampai melewati lorong bak koridor di dalam dungeon. Dan barulah di ujung terdapat pintu batu yang dingin saat disentuh juga berat.
"Apakah kerajaan yang menyiapkannya atau Della sendiri yang mendekorasinya? Seleranya cukup buruk kalau itu adalah yang kedua," gumam Zen.
Zen membuka pintu batu. baru saja terbuka, jadi sambut oleh angin dingin yang berhembus melewatinya. Dan di hadapannya, ia melihat Della yang bermain-main dengan lingkaran sihir yang memancarkan cahaya ungu gelap dengan petir violet sesekali menyambar dari sana.
__ADS_1
Nampak pula penampilan Della di dalam. Dia adalah gadis pendek dengan rambut acak-acakan. Dia memakai jaket dari dunia asalnya yang kini telah compang-camping. Pakaian yang digunakannya masih sama seperti ketika dia dipanggil ke mari. Dengan tampilan yang sudah buruk karena rusak tentunya.
"Yuhuu~ lama tak jumpa, Della," sapa Zen.
Della langsung saja menghentikan eksperimennya. Dia berbalik dan memandang Zen dengan wajahnya yang sama sekali tak senang. "Ada apa? Suka sekali kau menggangguku?"
"Maaf kalau aku mengganggu. Hanya saja, kenapa kamu tidak bosan berada di ruangan suram ini terus-terusan?" Zen mengangkat bahunya sambil tersenyum ramah. "Tidak ingin jalan-jalan?"
"Jalan-jalan? Mustahil!" Suara Della meninggi di kala mengatakan kata terakhir. "Untuk asosial sepertiku, berada di lingkungan sosial terlalu lama seperti pekerja nuklir yang terpapar radiasi. Mustahil aku bisa bertahan di sana."
'Tingkat asosialmu sudah terlalu ekstrem,' batin Zen.
"Lagi pula, ada urgensi apa sampai kau menemuiku?" tanya Della.
"Aku ingin mendapatkan kekuatan baru. Sebelumnya aku telah mendapatkan Keabadian Phoenix dan memiliki daya hidup tak terbatas. Sekarang aku kepikiran: Bagaimana bila kita membuat sihir yang dapat menyerap daya hidup seseorang dan mengubahnya menjadi energi sihir? Kalau kita menggunakan daya hidupku yang tidak terbatas, seharusnya kita memiliki sumber tenaga yang tidak terbatas, bukan?"
Della terkekeh dan tertawa. Semakin keras dan semakin menggila yang membuat Zen terdiam dengan wajah datar tanpa rasa ingin menginterupsi. "Kau ingin menggunakan dirimu sebagai 'sumber tenaga'? Benar-benar tak terduga!" Dia lanjut tertawa gila selama beberapa saat.
"Apa kau mau membantuku?" Zen mengeluarkan aura bertarungnya.
__ADS_1
Della seketika terdiam. Rasa teror dari aura Zen menjalar di punggungnya. "Tentu, tentu saja aku akan membantumu. Tapi setelah itu, aku akan meminta bantuanmu untuk menyempurnakan sihirku."