
Kelompok Dans berjalan di area rerumputan ilalang tinggi. Cukup tinggi hingga pandangan mereka tertutup ilalang di depan. Bila ada yang melihat dari atas dengan mudah, itu adalah Cloudia dengan kemampuan anginnya.
Awalnya, Cloudia telah memastikan bila padang ilalang yang mereka lewati tidak terlalu luas. Seharusnya mereka sudah menembusnya dalam beberapa menit. Namun hingga beberapa jam ini, mereka masih saja terjebak di dalam ilalang tinggi.
Di tengah perjalanan dalam ketersesatan itu, Cloudia coba terbang ke atas dan mengamati rute yang mereka ambil. Nampak normal melihatnya secara sekilas. Mereka berada di tengah-tengah hamparan ilalang, dan berjalan lurus seharusnya membawa mereka ke luar.
Namun ketika Cloudia mengalihkan pandangan pada sisi ujung padang ilalang, kemudian dia kembali memandang kelompok Dans, dia tidak bertemu dengan mereka. Menyelam kembali ke dalam ilalang lebat, dia sendirian dan terpisah dari kelompok.
“Aneh, bukankah seharusnya mereka ada di mari?” gumamnya.
Begitu pula untuk lima orang dalam kelompok Dans yang tersisa. Mereka memandang ke langit, menunggu Cloudia kembali dari pengamatannya. Seharusnya tidak lama, tapi belasan menit mereka menunggu, Cloudia tak kunjung juga kembali.
“Apakah sesuatu menimpanya?” tanya Dans.
“Tidak mungkin,” kata Suzuka, “Tidak peduli seberapa cerobohnya dia, dia tidak akan sebodoh itu untuk tersesat setelah terbang beberapa meter ke udara.”
“Aku akan coba melihatnya,” kata Dans.
Dans mengambil ancang-ancang. Kemudian dia melompat ke langit hingga beberapa meter dari tanah. Di atas sana, dia mengamati sekeliling, namun sama sekali dirinya tak menemukan keberadaan Cloudia di langit.
Dia mendarat. “Tidak ada. Ke mana dia pergi?”
Tepat setelah berucap demikian, barulah dia sadar dirinya hanya sendirian di dalam lautan ilalang. Sekelilingnya adalah rumput ilalang tinggi. Suzuka, Dayat, Udin, dan Tiana, mereka berempat tidak berada di tempat yang seharusnya. Hal ini membuat Dans bingung dan bertanya-tanya dalam benaknya.
Di tempat lainnya, mereka berempat menunggu Dans untuk turun. Tapi bahkan setelah waktu yang seharusnya, tetap tidak ada tanda-tanda dari Dans bahwa dia akan mendarat.
“Awalnya Cloudia, dan sekarang Dans. Apa yang sebenarnya terjadi?” celetuk Dayat.
“Tempat ini tidak normal,” kata Udin.
“Semua juga tahu akan hal itu,” timpal Tiana.
“Kalian jangan sampai terpisah,” ucap Suzuka. Dengan serius ia berkata, “Tempat ini tidak normal.”
__ADS_1
Tapi meski demikian, baru beberapa meter mereka berjalan bersama, masing-masing dari mereka terpisah satu demi satu. Ilalang tinggi yang menutup pandang tak membiarkan mereka selalu memperhatikan kawan dan di waktu itulah mereka terpisah.
Suzuka menyadarinya. Dia baru menyadari setelah suara di sekitarnya terlampau senyap. Hanya suara rumput ilalang di tempatnya lah yang ia dengar. Dia sama sekali tak mendengar suara teman-temannya.
“Oi! Kalian ada di mana!” teriak Suzuka.
“Aku ada di belakangmu!” suara Udin keras terdengar, “Kau tadi tiba-tiba menghilang di depanku!”
“Sini sini!” teriakan Tiana.
“Eh? Bukannya kalian harusnya bersama?” kata Dayat entah berada di mana.
Bukan hanya mereka bertiga. Dans juga Cloudia yang sudah terpisah lebih awal dapat mendengarkan suara Suzuka.
“Kalian! Apa yang terjadi pada kalian!” Dans berteriak.
“Halo~ Halo~” kata Cloudia di kejauhan.
Dalam ingatannya selama ribuan tahun, memang ada kasus di mana orang menghilang ketika berjalan melintasi hutan. Itu juga terjadi saat lewat di area luas lainnya. Tapi di dalam ilalang yang seharusnya tak terlalu luas, sama sekali tidak ada dalam database mengenai kejadian ini.
“Kalian semua! Kita akan melompat bersamaan! Kita pastikan posisi masing-masing!” kata Suzuka.
“Iya!” jawab lainnya.
Suzuka memberikan aba-aba dan mereka semua melompat sesuai dengannya. Aslinya dan terlihat, posisi mereka tak terlalu jauh antara satu dengan lainnya. Hanya beberapa meter. Namun ketika mereka coba melompat untuk kedua kalinya, posisi masing-masing dari mereka makin menjauh. Dan posisinya semakin menjauh pula setiap dicoba.
“Tak ada gunanya,” gumam Cloudia, “Aku akan memotong rumput-rumput ini!”
*Swoosh!* *Swoosh!*
Cloudia mengayunkan tangannya dan menciptakan bilah angin. Bilah-bilah angin itu menyapu ilalang dan memotong mereka. Tapi tak lama, rumput-rumput di sana beregenerasi dan tumbuh dengan cepat kemudian menutup pemandangan kembali.
“Tidak ada gunanya.”
__ADS_1
Di tempat Dans, suasananya menjadi semakin hening dan tenang setelah semua kawannya terpisah darinya. Dia menghela napasnya, kemudian memejamkan matanya. Dia memakai kemampuan persepsinya yang tinggi untuk mencoba merasakan keberadaan lainnya.
Sebelumnya, ketika mereka memastikan posisi satu sama lain dengan melompat, terlihat bahwa posisi mereka semakin menjauh. Tapi ketika Dans menggunakan kemampuan persepsinya, pergerakan kawan-kawannya terasa normal. Posisi mereka tepat menetap di tempat. Juga tak ada yang aneh dengan gerakan mereka.
Tapi ada masalah. Dia merasakan pergerakan beberapa sosok selain kawan-kawannya. Untuk mereka seperti binatang dengan kepintaran di atas mereka. Sama seperti yang Dans dan kawan-kawannya lakukan, sosok-sosok ini juga bergerak ke sana-sini mencoba keluar dari tempat ini. Gerakan mereka agresif. Dan ketika mereka sampai di satu titik tertentu yang lumayan jauh, keberadaan mereka menghilang dan muncul kembali ke titik lain. Ke titik jauh di dalam ilalang, jauh dari sisi tepian.
"Hati-hati! Ada musuh yang tak diketahui!" bentaknya.
Bila yang sebelumnya adalah kelinci, maka sekarang adalah serigala. Sosok-sosok hitam itu berjalan menyisir ilalang tinggi dan keberadaannya dapat dirasakan oleh Dans. Sekarang buruknya, salah satu dari serigala itu mendekatinya. Dans memfokuskan perhatiannya pada ilalang tempat serigala itu akan muncul.
Kemudian….
*Set!*
Sosok serigala hitam muncul di hadapan Dans.
Seluruh tubuhnya berwarna hitam bak bayangan. Kedua matanya berwarna merah menyala. Dia memang mirip dengan monster yang Dans dan temannya lawan di desa-desa sebelumnya.
“Bertarung tanpa senjata. Benar-benar menyebalkan!”
Dans menggunakan sihir penguatan. Dia mengepalkan kedua tangannya dan mengambil sikap ancang-ancang untuk bertarung.
Bukan hanya Dans seorang yang bertemu dengan makhluk bayangan itu. Semua kawan-kawannya berada di kondisi yang kurang lebih sama. Satu per satu serigala hitam muncul di hadapan mereka dan mengharuskan mereka bertarung.
Meski mirip, tapi makhluk ini berbeda. Mereka lebih kuat, cepat, dan ganas dibandingkan kelinci hitam yang mereka lawan sebelumnya. Tapi sebagai gantinya, mereka tidak memiliki kemampuan regenerasi. Mereka yang tidak memiliki gift seperti Dans sekalipun bisa mengalahkan mereka.
Akan tetapi, itu bukan pertarungan yang terus-terusan lancar. Kemampuan bertarung para serigala ini yang agresif mampu menyudutkan mereka. Apalagi kalau mereka sampai berkelompok. Jadi sangat merepotkan untuk melawan mereka.
\=\=\=
Di tempat lain, di depan ladang ilalang, Zen dan Della ada di sana mengamati dari kejauhan.
“Fix, di sini ada sihir gelap,” kata Della, “Baiknya jangan masuk, deh.”
__ADS_1