Classroom To Another World

Classroom To Another World
Keputusan Merepotkan


__ADS_3

Preceptor Crown Mountain merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berhasil bertahan semenjak era kuno. Bila saja ada organisasi yang mengamankan kebudayaan internasional, gunung ini seharusnya mendapatkan penghargaan sebagai situs warisan dunia. Meniti informasi dari Suzuka, Preceptor Crown Mountain dulunya merupakan akademi atau sekolahan yang berada di jenjang setelah SMA. Preceptor Crown Mountain menjadi tempat latihan bagi kalangan elit dalam menimba ilmu. Mereka selalu mendapatkan media belajar terbaik.


Lahan area Akademi Preceptor Crown Mountain sendiri menutupi seluruh gunung. Bila harus dipaksakan, bahwa rawa-rawa yang dilewati Dans dan kawan-kawan masih bagian dari akademi meski sudah tidak masuk area gunung. Semua itu adalah halaman depan yang menunjukkan betapa besarnya asset yang dimiliki akademi.


Sekarang semuanya telah menjadi peninggalan. Yang tersisa adalah bangunan rapuh di atas gunung yang dulunya digunakan sebagai aula, kelas, asrama, dan lain-lain. Itupun sudah tidak terawatt dengan baik. Banyak bagian bangunan yang telah menyatu dengan alam. Alam seakan mengambil kembali dominasinya atas peradaban manusia. Itulah yang dilihat Dans dan kawan-kawan.


Mereka berlima baru keluar dari lorong tangga. Ratusan anak tangga sungguh melelahkan untuk dilewati. Udin dan Tiana yang terlemah di antara mereka sampai ngos-ngosan dibuatnya. Keduanya kehabisan napas. Berbeda dengan Dans atau Dayat yang dalam benak keduanya fokus bila harus bertemu Zen. Mereka berdua sudah bersiaga semenjak tadi.


“Rasanya sangat nostalgia. Dulu aku juga tinggal di sini.” Suzuka memandang setiap pilar batu yang masih berdiri tegak. Tiang batu yang terbuat dari marmer telah tidak utuh dengan tanaman merambat dan akar tanaman mulai menyusupi mereka. Namun meski begitu, dalam angan Suzuka masih terlintas jelas bagaimana wujud pilar batu megah.


“Benarkah? Dulu kau menjabat sebagai apa? Dosen?” tanya Udin.


“Subjek penelitian,” jawab Suzuka dengan dingin. “Apa yang kamu harapkan dari robot artifisal? Apa kau lupa penjelasanku tentang Dewa-Dewi dunia ini yang tidak lebih dari robot super canggih yang memiliki program untuk melakukan tugas tertentu?”


“O-Oke….” Dalam benaknya, Udin berkata, ‘Tidak usah sampai begitu, ‘kan?’


“Sekarang apa yang kita lakukan?” tanya Tiana.


“Masuk ke area terdalam. Jika kau masuk ke dalam aula ini, mengikuti lorong yang menuju ke bawah, kau akan menemukan ruang ujian bawah tanah. Dalam ruangan itu disimpan artefak bernama Telur Emas.” Tangan Suzuka menunjuk arah yang dimaksud mengikuti penjelasannya.


“Telur Emas?” Empat dari mereka bertanya serentak.


Suzuka berbalik dan menunjukkan wajahnya yang tersenyum lebar pada mereka semua. “Telur Emas sebenarnya adalah tanda kelulusan bagi para mahasiswa. Dia menjadi simbol keagungan dan kehabatan. Orang yang memiliki Telur Emas selalu dielu-elukan oleh penduduk di Negara asalnya.”


“Dan kita ke mari bukan untuk mencari kebanggan,” timpal Dans menginterupsi.

__ADS_1


“Aku tahu.” Suzuka cemberut. “Bahkan jika kita tidak mendapatkan kebanggan dari memperoleh Telur Emas, kita tetap akan mencarinya untuk memiliki efeknya sebagai perlengkapan yang akan menambah kekuatan.”


“Oh, iya? Apa itu?”


“Menurutmu apa yang berkaitan dengan telur?” Senyuman misterius terbentuk ketika Suzuka memberikan tebak-tebakan.


“Ayam?”


“Sapi?”


“Makanan?”


“Mata?”


“Oh….”


“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita segera mengambilnya!” ajak Udin.


“Aku akan tinggal,” ucap Dans.


Itu cukup untuk membuat semua temannya bingung. Mereka mempertanyakan keputusan Dans. Bukankah dia yang paling antusias untuk mengalahkan Zen? Bahkan dia harus dipaksa istirahat.


“Kenapa?” tanya Suzuka.


“Aku akan berjaga. Tidak ada jaminan Zen dan regunya akan sampai setelah kita selesai. Aku tidak ingin mereka mencuri Telur Emas incaran kita.”

__ADS_1


“Dan apa kau bisa mengalahkan mereka?” Suzuka mengancam. “Dengar, aku akan ikut ke dalam. Itu artinya kau akan di sini dengan pedang biasa. Memakaiku saja kau masih belum bisa memberikan bekas luka di tubuh Zen. Apa kau bisa bertahan hidup menggunakan pedang biasa.”


Dans terdiam. Tidak ada argument yang bisa menentang fakta. Air yang mengalir dari tempat tinggi ke rendah tidak bisa dikatakan sebaliknya kecuali dalam kondisi berbeda. Dans kalah melawan Zen, itu fakta. Baru bisa ditentang bila dalam situasi tertentu.


“Aku tahu tapi… aku tahu… tapi aku tidak ingin kita gagal! Bila sedikt pengorbanan bisa menyelesaikan semuanya, aku tidak keberatab BERKORBAN!” Dans menegaskan dengan teriakan. “Kumohon…. Aku tidak berencana untuk mati….”


Suzuka memegangi dahinya sambil merintih. “Ugh… kenapa memgurusi orang keras kepala itu merepotkan….” Ia memandang Dans dengan sorot mata tajam. “Baik, kami akan meninggalkanmu di sini. Aku tidak berharap kau bisa mengulur waktu ketika Zen datang, tapi aku berharap kau bisa bertahan hidup.”


“Umu, terima kasih.”


Begitulah cerita sehingga mereka berpencar menjadi dua regu. Dans berjaga di sana, sedangkan Suzuka memimpin tiga lainnya untuk mencari Telur Emas.


Bila ada hal sulit untuk mencapai tempat Telur Emas disimpan, itu adalah koridor dan lorong telah banyak berubah. Alam mengambil alih atas peradaban manusia. Tidak jarang mereka menemukan lorong bawah tanah telah runtuh. Jika rumput dan ilalang tumbuh di sepanjang jalan, masih mudah untuk membabat menggunakan sihir angina yang berbentuk pisau. Namun menyingkirkan reruntuhan malah akan menyebabkan runtuhan lainnya.


“Kenapa juga mereka menyimpannya di bawah tanah, sih….” Suzuka menggerutu karena tidak bisa menahan kekesalannya.


Puluhan menit berlalu dengan mereka terus-terusan berkeliling di dalam reruntuhan bangunan. Masih hangat ingatan Suzuka mengani denah bangunan. Dia sangat hafal ke mana lorong ini akan membawa mereka. Tetapi ketika sudah memasuki area bawah tanah, di sana putar-putaran mencari jalan dilakukan. Mereka seperti tikus dalam labirin.


Hingga terus berlanjut, akhirnya penelusuran mereka berhasil membuahkan hasil. Suzuka berhasil menemukan jalan yang paling dekat menuju ke ruangan di mana Telur Emas berada. Memang, atap telah runtuh dan ini sangat mengahambat perjalanan dengan mereka melakukan penggalian sedikit demi sedikit. Tapi baguslah, mereka sampai.


Di hadapan Suzuka adalah pintu baja gelap yang berdiri menjulang belasan meter ke atas. Pintu tersebut polos---sama sekali tidak memiliki dekorasi. Namun ketika Suzuka melompat dan meletakkan telapak tangannya di tengah-tengah pintu, garis-garis berwarna biru membentuk pola-pola geometri yang rumit. Selanjutnya, mereka menemukan ruangan kosong yang teramat lebar di balik pintu.


“Hati-hati, di balik sana adalah ruang ujian akhir. Kemungkinam besar sudah tidak ada system yang bekerja di sini, tapi tetaplah berhati-hati dan jangan sampai mengaktifkan mekanisme apapun.”


“Baik!”

__ADS_1


__ADS_2