
Wind Lord Sword Style: Assault Attack, Zen bergerak dengan sangat cepat dan liar. Dia menyerang Dans dari berbagai sisi. Kecepatannya yang sungguh di luar nalar membuat Dans sampai kewalahan. Ketika Dans fokus pada satu sisi, Zen sudah berada di sisi lainnya. Ketika Dans berbalik, dia sudah menerima luka di sisi tubuh lainnya. Kondisinya sungguh menegangkan. Bernapas saja menjadi sangat sulit saling tegangnya. Sekali dia tidak fokus, siap-siap saja terluka fatal.
Mungkin Dans terlalu sombong untuk mengajak Zen bertarung. Sejak awal pertarungan pertama mereka, Dans sudah kalah jauh. Bahkan bantuan Dayat tidak banyak berpengaruh. Sekarang Dans telah berlatih keras bersama Suzuka, dan dia yakin bisa menang. Sayang angannya terlalu jauh. Zen masih ada jauh di atasnya. Perbedaan kekuatan mereka bagaikan Bumi dan langit. Dans masih di tingkat di mana dia berusaha melihat gerakan Zen.
Dalam konfrontasi ini Dans menerima banyak luka sayatan. Ada banyak serangan yang gagal ia blokir. Beruntung luka-luka tersebut tidak dalam meski jumlahnya banyak. Dan beruntung juga Zen tidak memiliki Anti-Regenerasi seperti miliknya. Sekarang, dia tidak merasakan sakit di setiap luka. Zen tidak mengizinkan fokusnya pudar.
*Bzrt!*
Dari kejauhan, seekor ulat petir meliuk-liuk di udara. Ular petir tersebut mengejar Zen. Meskipun pergerakan Zen cepat, bukan berarti tak terbatas. Dia menyadari serangan mengarah padanya. Segeralah Zen melemparkan salah satu pedangnya agar petir tersebut tidak menyalur pada dirinya. Pedang tertancap di tanah dengan medan petir muncul untuk sepersekian detik.
Dans menengok arah serangan. Di sana dia menemukan Dayat. "Kau? Kenapa kau di sini?"
"Sudah, bicaranya nanti saja." Dayat maju. Dia berdiri sejajar dengan Dans. "Lagian, kalau kau ingin menghajarnya, seharusnya kau membawaku."
"Bagaimana dengan Sekar? Jangan bilang kau meninggalkannya? Bagaimana jika ada yang berniat buruk padanya?" Dans melirik Dayat menggunakan sudut matanya. Tak berani ia memalingkan pandangan dari Zen. Lelaki di depannya bisa maju dengan cepat dan membunuhnya secara instan.
"Dia tidur. Aku meninggalkannya. Jangan khawatir, tidak akan ada yang masuk ke kamar kita. Juga, para prajurit dikerahkan karena ledakan tadi. Situasi kota benar-benar kacau balau," jawab Dayat.
Di hadapan mereka, Zen maju dan mengambil salah satu pedangnya yang tertancap di tanah. Pedang itu adalah pedang yang ia lepaskan untuk memblokir ulat petir. Abaikan pedang itu. Sekarang Zen tersenyum pada mereka berdua dengan senyum masam. "Tadi ada yang bilang bicaranya nanti saja, tapi kalian berdua malah asyik bicara sendiri. Dipikir-pikir jadi kepikiran."
"Noob, lawan cecungak kayak kamu palingan kamunya lari duluan." Dayat menunjuk Zen. Sangat percaya diri ia untuk menang, seakan-akan begitu. Dia hanya main provokasi. Dalam pikirannya, dia ingat tentang karakter villain yang marah lebih mudah dikalahkan.
__ADS_1
"Hou, sudah bosan hidup rupanya?" Zen menyeringai. "Tidak apa-apa, sih. Lagi pula, kerajaan selalu membutuhkan pupuk agar bunga jadi lebih sehat."
"Bruh, aku sendiri gak yakin bisa nahan Zen. Kalau dia sampai mencincangmu, jangan salahkan aku, ya." Dans memperingatkan.
Kemampuan Dayat berkebalikan dengan Dans. Dayat mempunyai kemampuan Anti-Debuff. Kemampuan ini memungkinkan dia tidak bisa menerima status buruk dari sihir lawan. Diserang menggunakan api dia tidak akan terbakar, menggunakan es dia tidak beku, dan menggunakan listrik dia tidak akan tersetrum. Akan tetapi lawannya adalah Zen. Zen hanya menggunakan kekuatan murni. Sayang sekali karena kemampuan Anti-Debuff tidak memiliki harga di depan Zen.
"Ja-Jangan begitulah, Brother. Ka-Kamu pasti bisa, 'kan? Aku bakal kasih sihir support dari belakang," suara Dayat gemetar.
Berlawanan dengan Dans, Dayat melatih sihirnya selama ini. Dalam pertarungan posisinya berada di garda belakang. Tugasnya menggunakan sihir pendukung maupun penyerang. Pernah juga dia maju ke depan, tetapi sangat jarang. Waktu itu saat musuh menggunakan serangan beracun. Waktu yang sangat tepat bagi dirinya menjadi tipe tanker. Sekarang, kalau musuhnya Zen, dia akan dicincang. Zen adalah counter tepat untuknya.
"Gak apa-apa, kok. Lagian aku juga gak marah." Zen tersenyum ramah.
"Ngomong-ngomong, dari percakapan kalian berdua bisa kukatakan kalian menemukan rekan perjalanan baru. Namanya Sekar, bukan? Nama yang mirip orang Jawa. Berarti dia adalah pengunjung lain. Bagaimana jika kalian berdua beritahu aku di mana dia?" Tak ada rasa bersalah. Zen tersenyum penuh kemisteriusan.
"ZEN!" Dans membentak.
Dayat memahami mengapa Dans bisa membentak. Dia marah. Dayat sendiri tidak bisa menyalahkan kekesalan Dans. Ia sendiri juga merasa marah saat teman mereka dianggap sebagai barang. Memang, dia dan Dans masih tidak tahu apa yang akan Zen atau Pihak Kerajaan lakukan pada Sekar. Namun apapun itu, pikiran mereka berisi hal-hal buruk bila menyangkut Pihak Kerajaan.
"Pihak Kerajaan mengumpulkan orang-orang kuat untuk memastikan kemenangan mereka. Semakin banyak, semakin baik. Dan kalian pasti juga mengetahui bila pengunjung dari dunia lain memiliki keistimewaan. Kita menjadi kuat lebih cepat, kita lebih hebat, kita dihargai. Ayolah, jangan membuang-buang kesempatan. Serahkan dia dan kalian bisa pergi."
"MATI!" Dans sudah berada di hadapan Zen. Dia memegang katana secara horizontal. Arah serangannya, dia akan menebas ke samping.
__ADS_1
*Prank!*
Zen dapat melihat, Zen cukup cepat untuk bereaksi. Dia mengangkat salah satu pedangnya untuk menangkis, tetapi pedangnya malah hancur menjadi kepingan pecahan. Sudah mirip kaca saja. Padahal, melihat dari bentuk senjata Dans, seharusnya pedang Zen terbelah.
"Sangat kasar," gumam Zen.
Dans melanjutkan dengan rentetan serangan. Vertikal, horizontal, membujur, Dans terus menyerang secara membabi-buta. Sklera matanya perlahan berubah hitam. Setiap tebasan yang ia ciptakan diikuti oleh arus bayangan hitam. Dia telah terbenam dalam amarah hingga menggunakan kekuatan Kurokami no Yakusoku.
Zen, di sisi lain, dia masih bisa mengikuti. Dalam taraf ini dia tidak bisa santai. Terlihat keringat mulai menetes melalui pelipisnya. Setiap Dans menebas, dia mengambil lompatan mundur. Mana dan auranya lebih fokus pada kaki untuk menambah kecepatan dari pada lainnya. Dia tahu serangan Dans bukan sesuatu yang bisa ia atasi dengan main-main. Pedangnya saja hancur berkeping-keping.
"Konsep Kehancuran…." Dans mengangkat katana tinggi-tinggi di atas kepala. Kabut hitam semakin pekat membungkus katana. "Tebas— akh!"
"Bodoh." Aura Zen telah padam. Setidaknya bila dilihat dari jauh. Lebih dekat, nampak bila aura keemasan sangat terang di betisnya. Menggunakan betisnya pula dia menendang perut Dans. "Jangan pernah membuka pertahananmu."
Dans dikirim terbang belasan meter. Di belakangnya adalah Dayat. Tubuhnya menabrak tubuh Dayat sehingga mereka berdua jatuh bersamaan. Kejadiannya sangat cepat sampai-sampai Dayat tidak bisa mengikuti pergerakan tubuh Dans.
"Gift adalah hadiah saat kita sampai ke dunia ini, gift bukanlah keharusan. Kemampuan bertarung tidak hanya tergantung pada gift. Dengan latihan yang cukup, bahkan tanpa gift sekalipun aku juga menguasai seni bela diri untuk jaga-jaga. Kau terlalu lengah." Zen berjalan perlahan ke arah mereka berdua.
'Berdiri…. Aku harus bertarung!' Dans berusaha bangkit. Dia keluar dari mode fusion dengan Suzuka. Selain itu, rasa sakit teramat sangat terasa di atas perutnya.
'Percuma, kau terluka parah. Rusukmu retak. Melanjutkan pertarungan akan memperburuk kondisimu.'
__ADS_1