Classroom To Another World

Classroom To Another World
Pertarungan Akhir (3)


__ADS_3

Della menahan pergerakan Cloudia, Tiana, dan Udin menggunakan sihir kutukan miliknya. Dengan menatap mereka bertiga, kutukannya akan menjalar ke target.


Dia juga berniat melalui hal sama pada Suzuka, Dans, dan Dayat, namun sayang sekali kekuatan Della terbatas.


"Dilihat-lihat lagi, sepertinya kamu tidak ikut terpanggil bersama kami, Udin," kata Della dengan suara datar, "Bagaimana kamu bisa sampai sini?"


Udin tak menjawab.


Lebih tepatnya, dia tak bisa menjawab.


Di bawah efek kutukan Della, menggerakkan tubuh sangat sulit, bahkan sebatas bicara. Udin menggertakkan giginya dan coba berusaha bergerak. Setidaknya, kelompoknya bisa menjadi bantuan.


Tapi sia-sia.


Dia terlalu lemah.


Tapi kemudian….


*Boom!*


Ledakan besar terjadi dan menghancurkan dinding. Pintu besar di belakang Della menahan efek ledakan sehingga dampak yang mereka terima tak signifikan.


Tapi itu membuat Della lengah hingga dia menengok ke arah lain.


"Sekarang!"


Udin dengan sigap menggunakan sihir cahayanya dan menggunakan teknik yang membuatnya dapat berpindah tempat dengan instan.


Dia berpindah ke hadapan Della, kemudian menghantam gadis itu dengan lengannya hingga terpelanting ke pintu.


"Uhhh…."


Della merintih dan terduduk di lantai.


Dibilang terluka, sih, tidak.


Udin tidak benar-benar menyakiti Della. Dia hanya melumpuhkannya.


Serangan sederhana bisa mengacaukan Della. Bagaimanapun, melumpuhkan lawan dengan mantap mereka, berarti bila dia mengedipkan mata bisa saja musuh mengambil celah di kesempatan itu. Sudah lumayan Della dalam berlatih menatap lawan. Cuma tetap saja, serangan sederhana yang dapat membuyarkan fokusnya bisa berakibat fatal untuknya.


Ini contohnya.


Cuma didorong saja dia langsung kalah.


"Aku akan melawan penyihir hitam itu — Melarosa!" teriak Cloudia.


"Aku juga!" Tiana mengikuti.


Namun setelah melihat bentrokan intens antara Dans, Zen, Meta, dan Mellarosa, dia mengurungkan niatnya.


"Dipikir-pikir lagi, mending aku bantu kamu jaga cewek itu," tambahnya.

__ADS_1


Udin yang melihat pertarungan "keras" di sana hanya bisa geleng-geleng kepala.


Menjaga Della terdengar lebih aman.


\=\=\=


Pertarungan Dans dengan Zen terus berlanjut.


Tiap-tiap tebasan senjata mereka berdua menggores lantai dan menciptakannya bilah angin. Mereka berpindah-pindah ke sana-sini sembari terus beradu pedang. Satu serangan diluncurkan, satu serangan ditangkis. Harmoni. Adu pedang antara dua profesional membentuk keselarasan seakan mereka sedang memerankan adegan pertarungan. Tapi di lapangan, mereka bergerak dengan sangat cepat dan tiap serangan mereka mematikan.


'Sial, ini tak ada akhirnya,' batin Dans.


Pertarungan daya tahan membawa posisi sulit pada Dans. Musuhnya — Zen — yang kini memiliki Keabadian Phoenix mempunyai daya pemulihan stamina yang cepat. Beradu pedang di level ini, seakan Zen bisa melakukannya selama 22/7 selama berminggu-minggu.


'Aku harus segera mengakhirinya!'


Dans melebarkan energi sihir ke sekitar pada area sejauh ± 3 meter. Kemudian dia memejamkan matanya dan "berfokus" pada apapun yang terdeteksi dalam areanya.


Yang Dans latih selama berada di istana roh adalah kemampuannya untuk fokus. Fokusnya yang terus diasah, lama kelamaan menjadi kemampuan persepsi — kemampuan merasakan sesuatu dengan intuisi. Teknik ini memungkinkannya mengetahui hal yang berada di luar bidang indera normal. Namun bukan berarti kemampuan ini tanpa batas. Detail dari apa yang ia "rasakan" terbatas.


Tapi di sisi lain, dalam teknik sihir, ada kemampuan yang dinamakan «Area Detector». Itu kemampuan untuk mendeteksi hal-hal di area tertentu, dan biasanya dipakai untuk mencari lawan di bidang yang luas. Ini bukan sihir ofensif maupun defensif, melainkan sihir pengintaian.


Tapi di tangan Dans, dia menggunakannya dengan cara lain.


Alih-alih melebarkan area pencarian hingga puluhan atau ratusan meter, Dans membuat area beberapa meter saja. Di radius beberapa meter itu, dia dapat merasakan "reaksi" dari "aksi" apa yang ada di dalam sana. Dia dengar lebih "detail" merasakan apa-apa saja yang terjadi di sana.


Sederhananya, kombinasi sihir deteksi ini dengan kemampuan persepsinya melahirkan kemampuan deteksi pada tingkatan yang baru.


Dans menyebutnya sebagai:


Kewaskitaan adalah kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara langsung. Berbeda dengan telepati, kewaskitaan menerima informasi secara langsung dari objek atau kejadian, baik dari masa lalu, saat ini, atau masa depan.


Dengan kapasitas otak Dans yang merupak manusia, kemampuan «Kewaskitaan»-nya terbatas. Tapi itu sudah cukup untuk mengingat gerakan musuh yang telah dilakukan, merasakan gerakan musuh saat ini, dan memprediksikan gerakan musuh selanjutnya.


Untuk sesaat, seluruh gerakan Zen berada dalam pengetahuannya.


*Slash!* *Slash!* *Slash!*


Dans meningkatkan kecepatan gerak lengannya. Dia menebas dengan mengincar celah-celah dari serangan Zen.


Zen melewati tubuhnya.


Mereka berdua saling membelakangi.


Punggung mereka berhadapan.


Dans bernapas berat. Hitungan detik yang berlalu tadi sungguh menguras kekuatan fisik maupun pikirannya. Dia membawa dirinya hingga ke batas tertinggi untuk membuat serangan yang memiliki akurasi tinggi dan tingkatan kerusakan kritis yang besar.


Dan sebagai hasilnya.


Beberapa luka sayatan terbentuk di tubuh Zen.

__ADS_1


Dada, bahu, dab lengan, terlihat bekas sayatan menghitam di sana. Dengan gift milik Dans yang membuat luka ciptaan Dans tak dapat dipulihkan, Keabadian Phoenix milik Zen tidak menyembuhkan luka sayat itu.


"Benar-benar… gift yang sangat mengerikan." Zen terkekeh. Dia berbalik dan memandang Dans di sana. "Kemampuan untuk membuat luka yang tak dapat disembuhkan, satu serangan yang mengenai titik vital lawan, meski gagal membunuhnya, kau membuat musuhmu menderita dan mati perlahan-lahan."


Dans membalikkan tubuh dan memandang Zen.


"Bagaimana? Latihanku selama ini bukan untuk main-main." Dia tersenyum tipis. Setelah sekian lama, akhirnya ada juga serangan yang berhasil mendarat di tubuh Zen.


"Tapi, ini masih kurang." Suara Zen yang berat terdengar menekan. "Luka yang kau timbulkan tidak dapat ditimbulkan, akan tetapi …."


*Burning!*


Kobaran api menyala di tubuh Zen, pada tempat-tempat yang terkena luka sayatan menghitam itu.


"Luka ini tak dapat disembuhkan, tapi bagaimana jika aku melukai diriku sendiri dan menimpa luka yang kau ciptakan dengan luka baru?" Zen menyeringai. "Itu sudah tidak dihitung sebagai luka yang kau buat lagi."


"Sialan…." Dans menggeram kesal.


"Phoenix: Self-Injury Phoenix!"


Konon menurut legenda, Phoenix membakar dirinya sendiri hingga menjadi abu, kemudian dia terlahir kembali dari abunya.


Zen membakar dirinya sendiri dengan api Phoenix yang menyala abadi. Dia memakai tubuhnya sebagai bahan bakar. Dengan itu, dia membuat serangan yang memilih daya ledak dahsyat dan membara.


\=\=\=


Pertarungan dahsyat bukan hanya antara Zen dan Dans. Di samping mereka, pertarungan antara Meta dan Mellarosa juga mengguncang Bumi. Ada juga Dayat yang di sana, tapi dia selalu "Tanker" tidak dipedulikan.


Tak seperti serangannya bisa melukai salah satu antara Meta atau Mellarosa.


Sebaliknya, tidak ada serangan Meta atau Mellarosa yang mengalahkannya.


Pertarungan tersebut semakin besar dan menjadi-jadi saat Cloudia terlibat. Mereka bertarung di langit dan membuat gemuruh di tiap-tiap serangan.


"🖤Wah~ Wah~ Nona Administrator juga ikut bermain? Anda sungguh pandai membuat pesta makin meriah!"


"Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, tapi aku akan mengalahkanmu!" bentak Cloudia.


Baru saja Cloudia menghimpun serangan, dia mendapatkan serangan dari Meta.


"Apa masalahmu!" Perhatiannya beralih ke Meta.


"Kita adalah musuh. Apa aku salah?" ujar Meta biasa saja.


"Kamu…." Cloudia menggeram.


"🖤Mah~ Kalau kalian saling bunuh aku juga bakal jadi lebih mudah."


Mellarosa menjentikkan jarinya.


Cermin-cermin bermunculan dan berjajar di langit. Bukan hanya satu atau dua, tapi belasan. Di dalam sana terlihat bayangan Zen yang berdiri menenteng kedua pedang kembarnya. Bukan bayangan yang persis aslinya. Mereka semua berwarna hitam dengan mata merah.

__ADS_1


Berikutnya, para "Doppelganger" Zen itu keluar dari Cermin.


"Mereka tak sekuat aslinya, tapi setidaknya, mereka bisa mengulur waktu."


__ADS_2