Complicated Bubble

Complicated Bubble
11. Batagor Tisu


__ADS_3

"Harapan itu memang indah. Namun, harapan indah itu hanyalah sebuah harapan yang tak kunjung menjadi kenyataan."


Complicated Bubble


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Syafa sambil memasuki kelas 12 IPA 1


"Wa'alaikumussalam," jawab beberapa orang yang berada di kelas, termasuk Rendra. Tetapi Rendra tidak menjawab salam Syafa, menyadari kedatangan Syafa pun tidak .


Syafa berjalan menuju Rendra yang sedang duduk di bangkunya, baris paling pojok dan kedua dari depan. 


Dilihatnya, Rendra sedang fokus membaca komik anime jepang, entah lah Syafa gak tahu itu anime apa.


"Nih pesenan lo."


Syafa menaruh susu full cream, roti keju, permen milkita dan bubble gum di meja Rendra. Lalu Syafa melirik loker meja Rendra yang terbuka.


"Itu buku apaan?"


"Hah?"


"Itu buku apa yang sampul warna biru, di loker lo."


"Buku gue lah!" pekik Rendra sambil menutup lokernya.


"Santai woi! Udah kan? Yaudah gue pergi dulu."


"Eh, siapa yang bilang gini doang?"


"Lah, lo kan cuma bilang gue beliin lo susu sama roti dan nyamperin lo ke kelas doang."


"Ada tambahan. Sini duduk."


Syafa pun duduk di bangku sebelah Rendra.


"Apa lagi?"


"Suapin."


"Hah?"


"Iya suapin gue, Syafa."


"Kan lo punya tangan."


"Lagi dipakai buat megang komik."


"Tangan satu kan bisa kali megang komik,"


"Gue sukanya pake dua tangan, udah cepat, suapin gue."


Syafa menyuapi Rendra roti dengan sangat-sangat terpaksa, double sangat.


Ya walaupun dia senang, tetapi kalau dia menunjukan dia senang, nanti ketahuan kalau dia mencintai Rendra, pikirnya.


"Yang so sweet dong, Sya,"


"Mana bisa."


"Bisa."


"Caranya?"


"Suapin gue lagi coba."


"Nih," ucap Syafa sambil menyuapi Rendra, lebih tepatnya hampir menyuapi, karena roti tersebut tidak mendarat di mulut Rendra, tetapi di bibirnya, karena rendra tidak membuka mulutnya.


"Lo niat disuapin gak sih? Buka bulutnya woi!"


Rendra hanya menatap Syafa kemudian dia menaruh komiknya, dan tangannya memegang tangan Syafa yang sedang memegang roti yang menembel dibibirnya.


"Mau ngapain lo?"


"Nyontohin cara nyuapin yang baik dan benar." sahut Rendra, memakan roti sambil disuapi Syafa dan tak lupa tangannya memegang tangan Syafa.


"Gak usah pegang-pegang juga kali! Ini kelas woi."


"Emang kenapa? " Rendra mengambil komiknya dengan tangan satu dan kembali membacanya.


"Dasar pembohong."


"Pembohong?"


"Tadi katanya megang komik pakai dua tangan, sekarang satu tangan."


"Semuanya berubah jadi bisa, kan tangan gue udah betah megang tangan lo ."


Syafa terdiam sejenak lalu kembali menyuapi Rendra yang fokus membaca komik.


"Lepas Ren! Sudah abis rotinya." ujar Syafa, Rendra justru menyatukan  telapak tangan Syafa dengan telapak tangannya. Lalu duduk menghadap Syafa.


"Aku mencintai mu, bukan 'karena' tetapi 'meskipun'. Meskipun kau tak memperdulikanku, meskipun kau tak membalas cintaku."


'Rendra cinta sama gue?' batin Syafa, sambil menatap Rendra.


"Bagus ya kata-kata Inuyasha?"


"Inuyasha?"


"Iya, tadi kata-kata anime Inuyasha, tadikan gue baca komiknya."


"Oh kata-kata anime, bagus kok bagus."


'Gue kira itu kata-kata lu buat gue, hahaha cukup tahu, gue mah," batin Syafa.


"Lo suka anime?"


"Sukanya sama Killua Zoldyck di anime Hunter X Hunter, itu pun baru kemarin."


"Hunter X Hunter? Gue punya sih videonya tapi belum gue tonton."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Sibuk luluhin hati lo."


"Itu kata-kata siapa lagi?"


"gue, untuk lo."


"Jijik gue."


"Sya, mau permen milkita sama bubble gum gak?"


"Mau!"dah bilang


"Ada syaratnya."


"Aneh, deh, sama orang-orang, apa-apa pake syarat," kesal Syafa.


"Hahaha. Syarat gue mah gampang kok."


"Emang apaan?"


"Mulai detik ini, lo gak boleh galak sama gue, okay!"


"Emang harus banget ya?"


"Terserah lo, sih. Kalau gak mau ya gua cium pipi lo."


"Gak! Lo gak boleh cium pipi gue. MENAJISKAN."


Cup


Rendra mencium pipi Syafa sekilas.


"Gue udah bilang jangan galak, kalau galak lo gue cium," bisik Rendra.


***


"Kamu bisa membuat aku bahagia. Namun tidak menutup kemungkinan, jika kamu juga bisa membuat hatiku patah."


Complicated Bubble


"Rai, Tik, ke kantin yuk!"


"Kuy, Sya! Lo ikut ga tik?"


"Gue mau ke perpustakaan."


"Sendiri, Tik?" tanya Syafa.


"Bukan urusan lo!" ucap Atika dan langsung pergi melewati Syafa seraya menginjak kaki Syafa.


"sshh," desah Syafa.


"Kenapa Sya?"


"Tangan gue digigit semut nih, Rai," alibi Syafa.


"Yeuh suka-suka gue."


"Tapi gue gak suka lo."


"Gak berharap disukain lo juga, sih."


"DURHAKA YA! SINI IKUT KAKAK KE KANTIN!" ucap Raina sambil menarik tangan Syafa.


"KAKAK TIRI GUE JAHAT WOI! TOLONGIN GUE TEMAN-TEMAN!"


***


"Kamu boleh ngeselin


Tapi kamu gak boleh nyakitin.


Karena apa?


Hati kalau sudah terluka,


Sulit untuk dihilangkan bekasnya."


Complicated Bubble


Kantin, tempat yang ramai, kira-kira seperti manasik haji, tempat yang sering dikunjungi siswa SMA Moonstarlight. Seperti siswa yang lain, Syafa dan Raina pun seringkali pergi ke kantin. Sesekali absen, untuk mengunjungi perpustakaan, ya seminggu sekali, lah, baca-baca buku.


Seperti saat ini, Syafa dan Raina sedang makan batagor disertai pop ice rasa 'taro' di meja nomor 7, angka kesukaan Syafa.


"Kita boleh gabung gak?"


"Eh kak Faiq, boleh kok Kak," ucap Raina


"Emang gak ada bangku kosong ya?"


"Udah penuh, Sya."


"Yaudah gue sama Faiq boleh duduk disini gak?"


"Duduk aja, Kak."


"Makasih, Rai," ucap kedua lelaki tampan itu, Rendra dan Faiq.


"Makasihnya ke Raina doang?"


"Makasih Syafa imut," ucap Faiq


"Hahaha makasih lho, Kak,"


 Syafa melirik Rendra sekilas. Yang dilirik, hanya diam dan langsung duduk di samping Syafa.


'Rendra gak cemburu apa?' batin Syafa

__ADS_1


"Eh batagor, nih! Tau aja gue suka batagor. Buat gue, ya, Sya," pekik Rendra, lahap memakan batagor Syafa yang tinggal setengah.


"Rendra! Itu kan punya gue, lo beli sendiri!"


"Yah udah habis, Sya! Bentar gue beli lagi batagornya."


Rendra  pergi memesan batagor, sementara Syafa? Sebal setengah mati sambil mengutuk Rendra dalam hati. Bagaimana tidak kesal? Lagi lapar, eh makanan dihabiskan orang lain. Setelah selesai, Rendra kembali duduk di samping Syafa sambil membawa batagor dan jus alpukat.


"Kok satu, untuk gue mana?"


"Untuk lo? Ini."


"Lah kalo lo?"


"Ini juga."


"Gak mau, maunya satu piring satu piring bukan satu piring barengan, gak kenyang."


"Tadi gue makan setengah batagor lo, jadi gantinya juga setengah."


"Yaudah sini, dibagi. Biar gak satu piring" Ucap Syafa hendak membagi batagor yang dibawa Rendra, dan hendak menaruh sebagian batagor kepiringnya yang hanya tinggal bumbu itu.


"Satu piring buat berdua, Sya."


"Gak mau, kayak gak ada piring aja."


Rendra langsung mengambil piring batagor Syafa yang sudah habis lalu meludahkan piring tersebut.


"Masih mau makan dipiring ini?"


"Kok diludahin sih?"


"Biarin."


"Yaudah barengan," ucap Syafa memakan batagor.


"Gantian."


"Gantian apa? Makan?"


"Gantian gue yang suapin lo."


"Gue bisa makan sendiri kali."


"Gak boleh nolak," paksa Rendra seraya mengambil sendok di tempat sendok yang disediakan di setiap meja. Setelah itu Rendra menyuapi Syafa bergantian Syafa yang menyuapi Rendra.


"Huaa! Dede baper liatnya!"


"Apaan sih, Rai."


"Eh cuma berdua? Kak Wahyu mana?"


"Nanti juga kesini, lagi jemput pacarnya."


"Hello everyone! I'm back!" Ucap Wahyu yang tiba-tiba datang bersama Qiqi dan langsung duduk di kursi yang kosong.


"Panjang umur, baru aja diomongin."


"Wah! Diomongin! Kenapa? Kalian ngefans, ya sama gue?"


"JIJIK!" teriak Faiq.


"Halah, jijik-jijik gini juga banyak yang suka, tapi sayangnya gue udah cinta sama yang di samping gue."


"Halah, kutil badak gombalan receh!" sahut Qiqi.


"Kan gombalnya cuma buat kamu, sayang."


"EKHEM! ORANG PACARAN DLARANG PACARAN!"


"Gak terima lo Iq?"


"Kaga!"


"Dasar jomblo."


"Besok gue ganti status!"


"Emang ada yang mau sama lo?" tanya Rendra.


"Gini gini juga banyak yang naksir kali, Ren! Lah lo ngambil hati Syafa aja gak bisa."


"Eh jangan salah! Gini-gini Syafa udah ada rasa sama gue, malu aja dia ngakuinnya. Iya gak, Sya?"


"Gak usah ge-er," sinis Syafa melempar tisu uang sudah ia gulung ke arah Rendra. Dan yap, tepat sasaran, mengenai jidat Rendra.


"Kok lo lempar  tisu ke gue, sih, Sya?"


"Suruh siapa ge-er."


"Hilangin bekas ciuman tisunya."


"Emang bisa?"


"Bisa."


"Gimana?"


"Elus-elus dahi gue, gak ada penolakan."


Syafa pun mengelus dahi Rendra.


"Udah hilang belum?"


"Belum. Mau tau gak biar cepat hilang?"


"Gimana?"


"Gini."

__ADS_1


Rendra memegang dan mengelus tangan  Syafa yang masih mengelus dahinya.


"Lo cantik."


__ADS_2