Complicated Bubble

Complicated Bubble
6. Benar-Benar Perih


__ADS_3

"Harusnya dari awal gue tau diri. Biar ga sakit hati."


Complicated Bubble


"Sya, cinta itu rasanya gimana, sih?" tanya Rendra. Mereka berdua sedang duduk di bibir lapangan hijau, lebih tepatnya lapangan golf dekat CFD. Melihat aksi pria paruh baya yang bermain golf bersama di tengah lapangan. Syafa jadi ingin mencoba bermain golf.


"Emang lo ga pernah jatuh cinta, ya?"


"Gak tau. Gue cuma pernah pacaran sekali pas kelas satu SD, dan gue rasa itu bukan cinta."


Syafa menegok kala mendengar penjelasan Rendra. Gadis itu tertawa lepas, ada gitu ya manusia seumuran Rendra pernah menjalin asmara sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, kelas satu pula, "Lo kelas satu SD udah berani nembak cewe?"


"Ya nembaknya ga langsung sih, tapi pakai bahasa isyarat terus dilanjut pakai surat."


"Bahasa isyarat?"


"Iya, pake jari, gue contohin, ya, gini nih." Rendra mengangkat kedua tangannya, membentuk huruf C yang saling berhadapan membentuk sebuah bentuk hati.


"Tapi bukan untuk dia, gue lagi nyontohin bentuk love ke teman cowo gue. Kebetulan mantan gue berdiri di depan temen gue, jadinya dia ge-er terus dia ngirim surat," jelas Rendra menceritakan kisahnya sewaktu dulu. Kalau diingat-ingat Rendra jadi merasa orang paling bodoh sedunia.


"Ngakak parah, surat apa? Surat cinta?" tanya Syafa dengan tawa yang tak hilang. Bagi Syafa, cerita Rendra sewaktu sekolah dasar layak disiarkan di stand up comedy.


"Surat kege-eran."


"Emang ada?"


"Ada, dong! Dia ngirim surat ke gue lewat temannya, isinya 'Hai Rendra, kamu tadi ngapain? Kamu nembak aku? Kamu ngajak aku pacaran? Yaudah aku mau kok jadi pacar kamu' gitu."


"Gue dulu masih kelas satu ga ngerti apa itu pacaran apa itu nembak jadi gue iyain aja, setelah gue tau pacaran itu apa, gue putusin deh, kalau ga salah pas SMP kelas satu," sambungnya.


Syafa semakin memperkeras suara tawanya. Bagaimana bisa lelaki di depannya ini berpacaran enam tahun tanpa tahu arti berpacaran itu apa! Syafa memukul-mukul rumput tanpa sadar.


Rendra tersenyum melihat Syafa bahagia bersamanya. Setidaknya mendengar tawa kepas Syafa sudah membuatnya bahagia. Rendra ingin memberhentikan waktu saja, menonton Syafa tertawa lepas seperti ini jarang sekali.


"Ke danau mau, Sya?" ajak Rendra.


"Danau kemarin? Danau dekat lapangan yang kita pakai untuk belajar sepeda?"


Rendra tak menjawab, dia menarik tangan Syafa, lebih tepatnya menggandeng, tidak seperti kemarin yang diseret-seret layaknya domba. Baru berjalan beberapa langkah, Rendra membalikkan badannya, menegadahkan tangan Syafa yang sebagian kotor. Menyapu telapak tangan Syafa dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Tiap kali kulit mereka bersentuhan. Tiap kali itu juga jantung Syafa berdebar semakin kencang. Tanpa sadar gadis itu memegang dada kirinya.


"Ngapain lo megang-megang dada? Oh, lo deg-degan dipegang tangannya sama gue?" ucap Rendra, tepat sasaran.


"GE-ER! Malah jijik tau ga tangan suci gue dipengang-pegang sama lo! Lepas-lepas! Gue bisa jalan sendiri," ujar Syafa sambil menarik tangannya.


"Dih, kok di lepas, sih? Yaudah, gue tinggal!" Rendra berlari seraya memeletkan lidahnya. Syafa membelalakan mata tak percaya jika Rendra benar-benar meninggalkannya. Gadis itu ikut berlari, karena tidak tahu jalan. Susah melewati jalan yang sudah dia lewati sebelumnya.


"Capek tau Ren! Tega banget sih!" ucap Syafa setelah sampai di depan Rendra dan motornya. Sedangkan Rendra merogoh kantong celana jeans-nya.


"Iya tau gue keringetan. Gausah sok nyari saputangan buat ngelapin keringet gue. Gak mempan! Gue udah terlanjur sebel sama lo!"


"Gue lagi nyari uang dua ribu buat bayar parkir bukan nyari saputangan buat ngelap keringet lo," kekeh Rendra, tangannya menunjukkan uang kertas nominal dua ribu tepat di depan mata Syafa dengan kekehannya.


"RENDRA! MALES GUE SAMA LO!"


"Jangan berisik, Sya! Coba lo ambil tiket parkir di kantong jaket gue," ingat Rendra, sekaligus menyuruh Syafa. Syafa awalnya memang tidak mau. Lagi pula Rendra bisa mengambilnya sendiri, kan? Namun karena dipaksa, Syafa merogoh saku jaket Rendra. Mendapati tisu dan satu tiket parkir dari sana. Diserahkannya dua benda itu pada Rendra.


Rendra hanya mengambil tiket saja, "Tisu buat lo." Syafa menatap Rendra tak percaya. Bukankah tadi Rendra tak peduli dengannya? Kenapa perubahan cowok ini cepat sekali?


"Ayo, naik, udah jam sebelas."


"Iya jam sebelas, yakali bohong, gaberfaedah."


"Coba sini liat jamnya," ucap Syafa sambil menarik tangan Rendra. "Eh kampret! Ini masih jam 10, dasar Musailamah Al-Kadzab KW," umpatnya ketika mengetahui Rendra berbohong.


"Eh jangan dilepas dong tangannya, kan tangannya masih betah dipegang sama lo." Rendra menarik dan memegang kemblai tangan Syafa yang tadi sempat dilepas gadis itu.


"Jangan proses, Sya, Sebentar kok. Mau tau ga? Hati dan jantung gue tak karuan jika berada didekat lo." Rendra memposisikan tangan Syafa tepat diatas denyut nadi dipergelangan tangannya.


***


"Melupakan itu mudah, yang sulit itu mengikhlaskan."


Complicated Bubble


"Eh, Ren, Berhenti di depan coba," celetuk Syafa di tengah perjalanan. Matanya memicing menatap seorang gadis berada ditrotoar sendirian. Kenapa dia ada di sini?


"Danau masih jauh, lho."

__ADS_1


"Iya tau gue juga masih jauh."


"Lah terus kenapa minta berhenti di depan? Mau ngamen di halte?"


"Enggak lah."


"Hahaha. Iya juga sih lo ga bakal ngamen, kan suara lo jelek, bukannya ngamen malah bikin orang pingsan."


"Cepat berhenti di depan halte Itu ada Atika," perintah Syafa. Rendra menuruti perintah Syafa untuk berhenti di depan sahabat gadis itu, Atika. Syafa turun dari motor, Rendra mengernyitkan alisnya. Heran dengan Syafa yang tiba-tiba turun.


"Tika!" panggilnya. Atika tersenyum pada Rendra juga Syafa, "Eh Syafa? Lho, ada kak Rendra juga?" Rendra hanya mengangguk sebagai jawaban. Lagi pula tanpa harus dijawab, Atika seharusnya sudah tahu jawabannya kan?


"Gue nunggu kereta, kok ga dateng-dateng, ya?"


"Ya mana ada kereta, rel keretanya aja gak ada," sergah Syafa sambil menjitak kepala Atika.


"Sya, jangan main getok-getok kepala orang!" ucap Rendra kepada Syafa yang sudah turn dari motor, "Eh ga sakit kan, Tik ? Sini gue sembuhin biar hilang bekas jitakan Syafa," imbuhnya seraya mengelus-elus rambut Atika.


Pipi Atika bersemu merah mendapat perlakuan manis Rendra. Jarang-jarang rambutnya dielus tangan Rendra. Sedangkan Syafa tersenyum kecut melihat adegan di depannya, lagi-lagi hatinya terasa sangat nyeri?


'Kok nyeri sih?' batin Syafa.


"Lo mau pulang ya, Tik?" tanya Rendra.


"Iya Kak. Tapi daritadi gak ada taksi lewat."


"Sama gue aja pulangnya, daripada nunggu taksi yang gak ngasih kepastian."


"Kalau gue sama lo, Syafa gimana?" tanya Atika tak enak hati dengan Syafa yang masih setia dengan senyumancdan rasa sesak yang semakin menjadi-jadi.


"Naik angkot juga bisa gue mah, santai aja kali."


Rendra menarik tangan Atika, "Ayo."


"Eh, iya kak. Duluan ya Sya, bye!"


"Hati-hati ya!" ucap Syafa sambil tersenyum menyakitkan. Sangat menyakitkan ternyata. Syafa baru merasakannya kali ini. Sbenarnya ini perasaan apa? Apa namanya? Kenapa bisa hadir? Dan kenapa harus sesakit ini?


'Bahkan dia biarin gue pulang sendiri dan dia ga inget kalau mau ke danau. Kok perih sih?' batin Syafa.

__ADS_1


__ADS_2