Complicated Bubble

Complicated Bubble
35. Usai?


__ADS_3

"Iya, aku kan pergi dan berhenti. Kamu tenang saja."


Complicated Bubble


Hari ini adalah hari Senin, Ya seminggu sudah para murid bertempur di medan soal. Akhirnya, keluar dari medan yang membuat kepala cenat-cenut. Dan sudah seminggu pula Syafa dan Rendra tak bertegur sapa. Ah, lebih dari itu, semenjak kejadian Syafa mengejar Rendra. Syafa tak pernah melihat Rendra di sekolah, ah atau mungkin Rendra menjauh darinya? Dan seminggu itu, tak ada kabar dari Rendra untuk Syafa. Awalnya Syafa ingin menghubungi Rendra, namun ia terlalu gengsi, ditambah banyak para murid yang membicarakan kedekatan Rendra dan Kaira.


Hari ini, so pasti, gak upacara, gak belajar, tapi free! Para murid berkeliaran mencari posisi ternyaman dengan laptop di depannya. Di kelas Syafa, para cewek berkerumun nonton film. Sedangkan para cowok ngamen di depan kelas. Syafa, Raina, Fiza, Naira  memilih untuk pergi ke kantin, biasa WI-FI an. Mereka kan orang gak modal.


Di tengah perbincangan, Syafa memikirkan desas-desus kedekatan Rendra dan Kaira. Apakah benar?


"Lo kenapa sih Sya? Tumben gak kayak orang gila?" ledek Raina.


"Kampret lo kumang!" ucap Syafa membuat teman-temannya tertawa. Apa yang lucu coba!?


"Serius Sya, lo kenapa?" tanya Naira, ah pengertiannya!


"Kaira itu siapa Rendra?" polos Syafa.


BRAK!


"JADI LO NGELAMUN MIKIRIN MEREKA!? ASTAGAH!" histeris Raina sembari memukul meja.


"SELAW KUMANG!" teriak Fiza.


"LO JUGA SELO SENDAL!" sahut Naira.


"LO JUGA BERISIK WIROG!" jawan Fiza dan Raina serempak.


"Diam woi! Gak usah malu-maluin gue!" kesal Syafa.


"Queen galau kalau udah galau mah beda aja," ledek Fiza.


"Najis lo temen nanya serius malah diledek," dengus Syafa.


"Emang lo nanya apa?" tanya Fiza.


"TAU AH!"


"Iya iya, lo nanya siapa Kaira kan?"


"Masa lo gak tahu Kaira sih Sya? Lo kan pacar Rendra." heran Fiza.


"Ya mana gue tahu."


"Btw gue sama Raina cabut yak, ada acara OSIS," kata Naira dan dibalas anggukkan oleh Fiza dan Syafa. Mereka pun pergi.


"Lanjut. Lo beneran gak tahu Sya?" tanya Fiza.


"Kalau gue tahu, gue gak bakal nanya ***!"


"Selaw bosque."


"Udah ah kasih tahu buruan."


"Gue gak tau cara ngasih taunya."


"Tinggal kasih tau doang ellah."


"Tapi ini bisa nyakitin hati lo."


"Gak papa Sendal udah ah bilang sekarang."


"Jadi, Kaira itu mantan gebetan Rendra sebelum dia dekat sama lo. Eh sekarang mereka dekat lagi, sampai gue kira lo udah putus sama dia."


"Mantan gebetan?" ada luka yang baru ketika mendengar perkataan Fiza. Rasanya ingin menangis sekarang.


"Iya. Masa lo gak tahu sih!? Gak update lo!"

__ADS_1


"Bodo amat!"


"Lo udah berapa lama gak chattan sama Rendra?"


"Semingguan lah."


"BUSET LO! Terkahir ketemu dan ngobrol kapan?"


"Semingguan juga."


"Lo harus tahu! Seminggu ini gue selalu liat Rendra berduaan nempel mulu sama Kaira *****! Dia gak ngasih kabar ke lo?"


"Kagak."


"***** KALO GUE JADI LO UDAH GUE INJEK-INJEL MUKANYE!"


"Injek woi bukan injel!"


"Suka suka gue!"


"Lo mah sukanya sama sendal!"


"Ih gue kesel ya sama lo!"


"Yaudah gue pergi ya bye-bye," kekeh Syafa sembari melangkahkan kakinya.


"SYAFA!" teriak Fiza. Bagaimana tidak? Sebelum Syafa melangkah, ia meludahkan permen karet ke arah Fiza. Ewh. Teriak Fiza membuat Syafa berlari kesetanan.


Syafa berlari sambil tertawa hingga ia menabrak dada bidang seseorang. Untung dia bisa menyeimbangkan diri, kalau tidak, habislah nyawa pantat Syafa.


"Eh sorry," Syafa mendongakkan kepalanya. Matanya bertemu dengan mata elang milik seseorang yang sedang ia rindukan. Ia, Rendra.


Rendra tak membalas perkataan Syafa, justru ia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Syafa. Syafa gak bisa! Syafa gak kuat! Syafa mau denger suara Rendra! Syafa butuh penjelasan! teriak Syafa dalam hatinya.


Syafa berjalan cepat mendekati Rendra. Namun Rendra ikut berjalan cepat seperti menghindarinya. Syafa berlari, Rendra ikut berlari. Syafa terus berlari, berbelok, melewati tangga mengikuti langkah Rendra. Sampai di koridor, Syafa mulai lelah. "Rendra berhenti! Aku mau ngomong!" tapi Rendra mengabaikan ucapannya.


"Rendra please!"


"Berhenti!"


"Aku capek!"


"Kasih aku kesempatan bicara sama kamu."


"Untuk yang terakhir kalinya."


"Kalau kamu mau putus, bilang, jangan ngejauh kayak gini," lirih Syafa, rupanya perkataan Syafa mampu membuat Rendra berhenti berlari. Dengan jarak yang lumayan dekat, Syafa berlari ke depan Rendra. Bukan apa-apa, ia hanya ingin merekam wajah Rendra untuk yang terakhir kalinya.


"Makasih. Makasih udah kasih kesempatan terakhir kalinya untuk aku hari ini."


"Makasih untuk kenangan yang kamu beri. Makasih sudah membuatku tersenyum. Makasih sudah memberitahu ku tentang perasaan cinta. Makasih untuk semuanya."


"Aku bahagia pernah kenal sama kamu."


"Aku boleh minta satu permintaan?"


"Aku mau dengar suara kamu sekali aja, habis itu udah," senyum Syafa, sedangkan Rendra menatap dalam Syafa yang berada di depannya.


"Kamu gak mau ngomong ya? Yaudah gak papa. Tapi maafin aku ya, untuk semua kesalahan yang aku lakukan. Aku pergi, selamat berhagia," kata Syafa, setelah itu ia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Rendra.


"Aku belum bilang putus." sahut Rendra, memberhentikan langkah Syafa.


"Dan aku gak akan bilang putus," perkataan Rendra mampu membuat Syafa membalikkan badannya.


"Aku gak mau kamu pergi."


"Aku gak akan bahagia kalau gak ada kamu. Karena kamu sumber kebahagiaanku," Rendra berjalan ke arah Syafa, namun langkahnya terhenti karena tangannya dicekal oleh seseorang. Dan seseorang itu adalah Kaira.  "Aku cariin taunya kamu disini," kesal Kaira tiba-tiba.

__ADS_1


Syafa tersenyum. "Sumber kebahagiaanmu bukan aku," setelah itu Syafa berlari sekencang-kencangnya.


Rendra menyentakkan tangan yang dicekal Kaira lalu berlari mengejar Syafa.


Syafa tetap berlari menapaki tangga menuju roftoop sekolah. Tetapi, langkahnya terhenti karena cekalan tangan seseorang. Yang Syafa yakini itu adalah tangan Rendra, orang yang dicintainya.


"Sya."


"Apa lagi?"


"Kita gak akan putus, aku gak mau putus!"


"Kenapa?"


"Karena aku cinta sama kamu."


"Nggak, kamu bohong," lirih Syafa. Ia berusaha menahan air matanya.


"Aku jujur Sya."


"Ren, lepas tangannya, aku mau sendiri."


"Gak! Gak akan aku lepas."


"Rendra please, Kaira pasti mau ketemu kamu, udah kamu ke Kaira aja."


"Aku maunya sama kamu!"


"Nggak. Kamu pinokio."


"Sya, percaya sama aku."


"Selama ini aku percaya kok sama kamu."


"Tapi untuk kali ini nggak," tambah Syafa.


"Ren please masa kamu gak kasihan sama Kaira, dia butuh kamu tuh, buktinya dia nyariin kamu tadi."


"Sya stop!"


"Iya aku berhenti, kamu tenang aja, lepas Ren,"


"Gak!"


"Dia bilang lepas, ya lepas!" sahut Zaldi yang tidak tahu sejak kapan ada di sini.


"Gak usah ikut campur lo!" jawab Rendra.


"Bodo amat! Udahlah, Syafa itu udah jijik sama lo."


"Jaga ucapan lo!"


"Gak percaya? Coba tanya Syafa, dia milih gue lah daripada cowok ******* kayak lo."


"Gak usah kepedean lo!"


"Dan lo gak usah ngarep hati Syafa lagi. Hati yang udah tersakiti itu gak bakal lo miliki lagi."


"Kalian berisik!" lerai Syafa.


"Lepas Ren! Dan lo Zal, gue mohon pergi, gue bisa jaga diri kok."


"Gue gak mau pergi sebelum dia lepasin tangan lo!"


"Zaldi please," bujuk Syafa.


"Oke fine, kalau dia bikin lo nangis, gue gak akan segan-segan turun tangan," kemudian Zaldi pergi.

__ADS_1


"Rendra lepas please!" Syafa menyentakkan tangannya. Setelah terlepas Syafa segera berlari menuruni tangga meninggalkan Rendra. Syafa benar-benar kecewa, membuat Rendra duduk lemah tak berdaya. Separuh jiwanya, sedang membencinya.


__ADS_2