Complicated Bubble

Complicated Bubble
47. Malam Kesedihan


__ADS_3

Kamu yang bikin janji buat gak sama sama pergi. Tapi kamu justru ngingkarin janji kamu sendiri. Se-bercanda itu ya makna janji bagi kamu?


Complicated Bubble


Syafa kini sudah berada di dalam UGD. Sedangkan yang lain berada di luar, berharap Syafa baik baik saja di dalam sana, Raina menangis di dalam pelukan Fiza saat ini. Shila tengah menelpon orang tuanya agar datang ke Bogor, Wahyu dan Faiq mencoba mengajak bicara Remdra yang sedari tadi menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, matanya memerah seperti menahan tangis yang pecah.


"Ren, dengerin gue," ucap Faiq, tangannya memegang bahu Rendra dan menatapnya intens, tapi Rendra tetap saja menatap kosong ke depan. "Ren, dengerin Faiq, bisa gak sih!" bentak Wahyu, pasalnya dia sudah kesal dengan Rendra yang msngabaikan omongan Faiq sedari tadi.


"LO GAK AKAN KEHILANGAN SYAFA. GAK USAH SELEBAY ITU!" tegas Wahyu.


Rendra berdiri, menonjok muka Wahyu sampai yang ditonjok terjatuh, Faiq langsung memegang tangam Rendra dari belakang, Rendra memberontak, "MAKSUD OMONGAN LO BARUSAN APA? SYAFA BAKAL PERGI GITU? IYA?!"


"Gak gitu maksud gue Ren." Wahyu memperlembut ucapannya, dia mengenal Remdra, jika Rendra sudah tersulut emosi seperti itu,sudah dipastikan tidak bisa ditenangkan dengan emosi juga, jadi Wahyu mengalah. "Lo," Rendra menunjuk Wahyu, "GAK NGERTI RASANYA DI POSISI GUE!"


Jari telunjuk Rendra berpindah haluan, menunjuk ruang UGD, "Lo liat di dalam? Syafa lagi berjuang! Dan, semua ini gak akan terjadi kalau gue jagain dia!"


"Gue gagal. Gue gagal jagain dia. LO TAU? GUE GAGAL!" Rendra terduduk, tak kuasa lagi menahan tangis, Rendra benar benar cengeng saat ini.


"Gimana keadaan Syafa?" tanya Dara--Mama Syafa yang baru saja datang bersama Erlan. Mereka datang dengan raut wajah sangat panik, lebih tepatnya hanya Dara saja, Erlan terlihat biasa saja.


"Mama..." Shila berhambur ke pelukan Dara, kembaran Syafa terlihat sedih malam ini, "Shila takut... Shila takut Syafa ninggalin Shila kayak Kak Ari ninggalin Shila sama Syafa, Ma..." ucap Shila sesegukan.


"Halah, gadis lemah itu memang lebay dan merepotkan orang!" celetuk Erlan.


"Pah!" tegas Dara.


"Loh memang benarkan? Jika saja dia tidak kekeuh mengajak Ari bermain bola, Ari tidak akan meninggalkan kita! Jika saja dia tidak kekekuh mengajak Oma berenang, Oma masih ada sekarang!"

__ADS_1


Dara mengelus rambut putrinya, sebelum akhirnya menanggapi ucapan suaminya, "Kamu selalu saja menyinggung soal itu. Syafa tidak pernah bersalah, itu takdir!"


"Terserah, aku benci takdirku mempunyai anak seperti dia. Lebih baik dia mati saja. Dia hidup juga gak berguna."


"Papa! Jaga ucapan Papa!" teriak Shila yang kini melepas pelukannya lalu berdiri tepat di depan Erlan. "Papa tau? Shila dapat pertukaran pelajar karena siapa? Karena Syafa yang waktu itu keterima mengundurkan diri, demi aku! Agar Papa gak kecewa sama aku!"


"Dan, Papa tahu? Siapa yang mendonorkan ginjalnya pada Shila saat Shila membutuhkan donor ginjal? Syafa Pah!" ucap Shila dengan sesegukan.


"Syafa yang mendonorkan ginjalnya waktu itu?" tanya Dara. Shila mengangguk lemas, "Maaf. Shila baru ngasih tau, Syafa yang nyuruh Shila gak ngasih tau tentang itu." Dunia Dara rasanya berhenti begitu saja, bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa anaknya sendiri yang mendonorkan ginjalnya pada saudara kembarnya? Dan, bagaimana bisa selama beberapa tahun ini Syafa terlihat begitu biasa saja, normal seperti orang yang hidup dengan dua ginjal?


Tiba tiba saja dokter keluar dari UGD, semua orang yang awalnya sibuk bertengkar dan menangis, kini mendekat pada dokter, "Bagaimana keadaan anak, saya Dok?" tanya Dara yang kini sudah menangis.


"Syafa perlu di pindahkan ke ICU, keadaannya kritis. Ginjal satu satunya, sudah tidak berfungsi secara normal, ditambah, Paru parunya mengalami luka dibagian alveolus," jelas dokter Ani, dokter yang merangkap menjadi dokter di UKS sekolah Syafa kalau kalian masih ingat.


"Kenapa bisa seperti itu Dok?" tanya Dara.


"Syafa harus segera mendapatkan donor ginjal dan harus segera melakukan tranplatasi paru paru." Setelah menjelaskan, dokter Ani pamit untuk memindahkan Syafa ke ruang ICU.


Syafa yang berada di brankar, di dorong oleh suster dan di bawa ke ruang ICU. Semua orang tak kuasa melihat keadaan Syafa saat ini. "Pah, Syafa Pah..." Dara menangis di pelukan Erlan yang menatap sayu Syafa yang di bawa ke ruang ICU. Putrinya yang selalu dia anggap tak ada, bahkan Erlan menitikkan air matanya saat ini, dia menyesal telah mencambuk Syafa waktu itu, memukulinya, menamparnya lalu menyuruhnya berenang berjam jam di kolam renang malam itu. Semua salahnya.


Rendra memukul tembok rumah sakit berkali kali hingga tangannya lembam merah, "Udah, Ren, udah!" tegas Wahyu mencoba menenangkan Rendra. "Syafa, Yu... Syafa..." lirihnya.


"Kenapa gue gak tau kalau dia punya penyakit separah itu? Kenapa gue gak peka sama tanda tanda dia kalau dia sakit? Gue **** banget Yu. ****. ****. ****," kata Rendra yang kini yak berhenti memukul mukul kepalanya. Wahyu memegang tangan Rendra, "Lo cinta gak sama dia?!" bentak Wahyu. Rendra mengangguk.


"Kalo lo cinta. Doain dia sembuh! Bukan kayak gini. Cara lo salah!"


"Tapi gue takut... takut Syafa pergi ninggalin gue," lirihnya.

__ADS_1


"Gue yakin Syafa bakal baik baik aja, dia perempuan kuat yang bisa naklukin hati lo kan?" ucap Faiq. Rendra lagi lagi mengangguk. "Temui dia, doakan dia."


Rendra berjalan ke ICU, Erlan baru saja keluar dari sana. Rendra meminta izin untuk lebih dulu masuk ke dalam ruangan, dan disetujui oleh Dara. Rendra merangkap baju khusus yang disediakan di ruang Icu untuk orang yang ingin menengok pasien. Di dalam ruangan, Rendra berdiri di samping kiri brankar Syafa. Memperhatikan kondisi gadis ini yang membuat hatinya teriris iris.


Berbagai alat yang menempel di seluruh badannya, ditambah alat bantu pernafasan dengan selang yang lebih besar dari biasanya, dan juga alat pedeteksi jantung yang memecah keheningan di ruangan ini. Bibirnya pucat, kulitnya putih pasi, Rendra memengang tangan gadis itu, dingin, itulah yang Rendra rasakan. "Jangan pergi, ya?"


Rendra duduk di kursi yang disediakan. "Kita belum balikan, dan lo udah nyerah gitu aja?"


"Cemen deh lo hahaha," ejek Rendra, dengan tawa yang sumbang dan dibuat buat. Dia tertawa, namun yaang keluar justru air mata, ah, memang benar malam ini adalah malam tercengengnya sepanjang sejarah dia hidup. Tangan Syafa yang digenggamnya sengaja ditempelkan di pipinya, agar dia dapat mengecup tangan itu berkali kali.


"Gue masih cinta sama lo, dan lo belum tau itu. Bahkan, cinta gue ke lo semakin besar setiap harinya, Sya..."


"Gue serius Sya, waktu gue bilang gue gak akan pergi ninggalin lo. Tapi kenapa sekarang lo yang bikin gue takut, gue takut lo pergi ninggalin gue, Sya."


"Bangun, ya? Kalo lo bangun, gue mau ngajak lo ke tempat yan bakal lo suka. Gue bakal ngajak lo pergi ke festival yang waktu itu gue batalin Sya. Gue gak akan bentak bentak lo lagi, gue gak akan mementingkan gadis lain lagi, gue bakal ngajak lo makan es krim yang waktu itu gagal karena tutup kedainya, lo inget gak? Itu pertama kali kita nge-date kan? Hahaha."


Di luar, mereka ; Raina, Fiza, Shila, Dara, dan Erlan tak bisa menahan tangis menatap kedua makhluk yang sedang berada di dalam sana, melihat dari kaca besar di samping ruangan. Sedangkan, Wahyu dan Faiq menatap sendu Rendra. Padahal, Rendra sudah membuat rencana untuk mengajak Syafa balikan di Bogor dengan sengaja memanas-manasi Syafa dengan dekat dengan Shila. Tapi apalah daya, Rendra hanyalah manusia biasa yang hanya dapat merencanakan. Di sana juga sudah ada Rara-Bunda Rendra dan suaminya, Rian. Mereka berdua menatap sedih anaknya.


"Bangun Sya, Bangun..." Rendra mengelap air matanya dengan tangan kanannya. Lalu mengecup lama tangan Syafa yang berada di gemggamannya. Rendra tidak tahan, dia akan terus menangis jika berlama lama di sini. Rendra menaruh tangan Syafa seperti semula lalu langsing lari keluar dari ICU.


"Rendra," panggil Rara. Rendra langsung memeluk bundanya, tak kuasa dengan apa apa yang terjadi hari ini. "Syafa, Bun..." Rara mengelus rambut anaknya, menyalurkan energi positif dari sosok ibu, yang bisa menguatkan anaknya.


***


Untuk kamu yang merasa ditinggalkan, jangan pernah membenci dia, tapi bencilah bagaimana dia meninggalkanmu. Jangan menyalahkan takdir, setidaknya belajar dari luka itu penting.


Complicated Bubble

__ADS_1


__ADS_2