Complicated Bubble

Complicated Bubble
44. Holiday?


__ADS_3

Mencintai sendirian itu melelahkan. Gue perlu liburan untuk mengistirahat hati sejenak. Nanti kalau udah siap sakit hati lagi, gue balik ke firah gue, mencintai lo.


Complicated Bubble


"Rendra?"


Suara payau Syafa menghentikan aktivitas Rendra yang sedari tadi berdo'a komat kamit, udah kayak mbah dukun yang ngucapin mantra mantra, sampai Syafa yang baru sadar mengerutkan keningnya, bingung dengan apa ia lihat.


Rendra membuka matanya lebar lebar lalu tersenyum sumringah karena Syafanya sudah membuka mata. Rendra awalnya ingin memegang tangan Syafa, namun Syafa langsung menepis pelan. Rendra mengerti, ia hanya bisa pasrah dan tersenyum menanggapinya.


"Lo gila ya?"


Pertanyaan Syafa, dijawab tawa renyah oleh Rendra, tawa yang terdengar menjengkelkan di telinga Syafa, namun tetap Syafa sukai. "Ck, sinting lo."


"Sinting karena kangen sama lo."


Syafa bergedik jiji mendengar jawaban menggelikan yang dilontarkan Rendra, "Najis."


"Hahaha."


"Insap gue punya mantan super gila kayak lo."


"Gue mantan lo? Gak ngaku sih gue."


"Bodo!"


Lagi lagi Rendra tertawa, Syafanya sungguh menggemaskan seperti biasanya. "Gue kan calon imam lo, bukan mantan lo."


"Jiji!"


"Gaboleh jiji sama ciptaan Allah, dosa."


"Astagfirullah, maapkan Hamba Ya Allah. Ga lagi lagi, swear," ucap Syafa dengan gaya memohon dengan mata yang mengadap ke atas. "AW!" Syafa meringis, pipinya dicubit oleh Rendra yang masih saja tertawa.


"Ih. Lepas!" Syafa mencoba melepaskan cubitan Rendra, namun tetap saja tidak bisa. Huh, Syafa paling tidak suka dicubit pipinya.


"Gamau. Lo lucu, gendut!"


"Sakit tau, udah woi! Nanti pipi gue jadi gondongan."


"Biarin, kalo lo sakit, gue yang jadi dokternya."


"Hih. Nambah parah iya. Udah lepas!"


"Gamau, besok besok mana boleh gue cubit pipi lo lagi."


"Ih Rendra. Nanti pipi gue nambah lebar!"


"Biarin, biar tambah lucu."


"Heh kampret! Lepas! Sakit ini woi!"


Mau tak mau, Rendra melepaskan cubitannya, sedangkan Syafa mengelus pipinya yang memerah. "Mantan sialan."


"Tapi lo sayang kan?"


"Hih, najisin jangan?"


"Cintai aja, boleh?"


"NO!"


"Hahaha."

__ADS_1


Syafa menatap Rendra sinis, ia membuka oxigennya lalu duduk dan mulai berbicaraxdengan nada yang tak kalah sinis dengan tatapannya. "Apa lo ketawa-ketawa?"


"Lagian lo baru sadar udah marah marah aja. Orang sakit tuh kalem dikit kenapa sih."


"Bacot."


"Gapapa deh, gue suka lo yang kayak gini dari pada diem."


"Labil," cibir Syafa.


"Tapi gue ga pernah tuh labil mencintai lo."


"Ngomong mulu gede, buktinya nol."


"Gue udah buktiin lo nya aja yang ga percaya."


"Lah gue mau percaya kayak gimana kalo lo nyakitin gue terus."


"Harus seribu kali kayaknya gue bilang kalau di hati gue itu cuma ada nama lo."


"Itu cuma omongan,gak ada bukti, ga perlu gue pake percaya percaya sama lo lagi."


Rendra menghela nafas panjang, berbicara dengan sosok gadis yang keras kepala, sangat menguras tenanga. Oh tidak, sangat menguras kata kata maksudnya. Syafa tersenyum puas dengan gaya sedikap dada mirip chef Juna yang lagi marah karena ulah Daniar. "Kicep kan lo."


"Susah ngomong sama petir berjalan."


"Heh!"


"Kan tiap deket lo, hati gue cenat cenut kek kesetrum petir."


"Kok ga mati?"


"Kan petirnya petir cinta."


"Lo pulang sama gue."


"Ogah."


"Harus. Ga boleh nolak."


"Apaan si lo maksa-maksa, gue mau pulang tanpa lo, minggir deh." Syafa sudah berdiri, namun Rendra menghalangi langkahnya lagi dan lagi.  "Lo itu masih sakit, ****."


"Gue udah sembuh heh."


"Udah sih kayaknya, soalnya lo ngomong mulu dari tadi. Kangen gue kan lo?"


"Bisa ga?"


"Apa?"


"Gak usah ngarep!!!"


"Gak bisa. Gue kan tiap hari ngarepin lo."


Syafa memutar dua bola matanya kesal. Berurusan dengan Rendra membuat hatinya tak karuan dan kesal setengah mati. Mau bunuh Rendra rasanya, tapi sayang, gimana dong?


"Bacot. Gue mau pulang, minggir lo."


Syafa memukul lengan Rendra, namun tak berpengaruh pada posisi lengannya yang masih saja menghalangi langkah Syafa. "Yaudah, lo pulang sendiri. Dengan satu syarat. Lusa, kita liburan ke Bogor."


Baru ingin berbicara, tiba tiba suara cewek yang Syafa kenali menghalang semuanya. "Syafa! Gue cariin juga, taunya di sini."


Rendra dan Syafa nenoleh ke sumber suaara, Rendra memasang tampang masa bodo sedangkan Syafa mengerutkan dahinya. "Shila? Ngapain lo?"

__ADS_1


Yap, gadis itu Shila. Shila cengegesan tak jelas mendengar pertanyaan yang dilontarkan spontan oleh saudara kembarnya itu. "Jemput lo, jarang jarang kan gue? Mumpung hati gue lagi berbunga bunga."


"Lah? Kenapa gitu?"


"Ketemu cogan." Mata Shila seakan menunjuk nunjuk Rendra yang sedang menatapnya heran. "Gue?" tanya Rendra. Shila mengangguk yakin.


"***** mata lo bisulan, Shil sumpah."


"Apaan dah, emang dia beneran ganteng kok."


Rendra tertawa mengejek melihat Syafa yang mati kutu, ya Syafa akui Rendra memang tampan. Manusia mana yang tidak mengakui ketampanan Rendra? Haduh, seantareo ALKP udah ngaku secara resmi dan ilegal.


"Eh, tadi gue denger liburan ke Bogor? Siapa?" tanya Shila.


"Gue sama Syafa."


Syafa langsung menatap Rendra dengan tatapan tajam, setajam luka yang ditancapkan oleh Rendra di hatinya. "Ga. Gue gamau."


"Mau aja Sya! Liburan sama cogan jangan ditolak."


Rendra menganguk, "Nah, gue setuju." Syafa memutar bola matanya lalu bersedikap dada. Ia sejenak berpikir lalu mendesah pelan. "Iya, tapi gue gamau pulang sama lo. Gue pulang sama Shila."


"Nah gitu dong. Good girl." Rendra mengacak-acak rambut Syafa dengan gemasnya. Baru beberapa detik, langsung Syafa tepis. "Lo gada hak buat gitu lagi ke gue. Ayo Shil."


"Eh bentar." Ucapan Shila menghentikan langkah Syafa. "Apa?"


"Gue ikut ya ke Bogornya!!!"


Syafa dan Rendra saling tatap sebentar, Syafa yang mengakhiri tatapan mereka, lalu berkata, "Iya, kita juga liburan bareng temen temen yang lain."


Rendra melotot tak terima, ia ingin menyanggah, namun Syafa lebih dulu menginjak kakinya. "Gausah keluarin bacot lo yang bau jigong."


"*****, gaboleh nginjek nginjek kaki pangeran, Sya. Nanti lecet, bahaya!" ujar Shila, ia menarik lengan Rendra agar deket dengannya. Syafa agak sedikit terkejut dengan hal itu, namun ia berusaha senormal mungkin. "Cih. Pangeran apaan."


"Pangeran hati lo," celetuk Rendra. Syafa bergedik ngeri lalu berjalan ke luar ruangan, "Gue ke mobil duluan."


Syafa berjalan di koridor seorang diri sambil menghentak hentakan kakinya, kesal setengah mati. Cemburu itu masih ada, 'Kenapa Tuhan? Kenapa? Kenapa Syafa harus cinta sama orang kayak dia dari beribu cogan di dunia!!!' batinnya berteriak.


"Eh kodok nyasar."


Suara jin krempeng, alias Zaldi kembali terdengar di gendang telinga Syafa. Huh mengaoa hidupnya di kelilingi oleh orang orang ajaib kayak mereka?!


"Mending lo gausah deket deket gue, gue lagi bete!"


Zaldi tertawa terbahak bahak, "Gue deket deket sama lo? OGAH. Rabies yang ada."


Syafa menggeram kesal, di buka sepatunya lalu dilemparkannya tepat di kepala alien milik Zaldi. "Sakit pekok!" ujarnya, Zaldi memungut sepatu laknat yang tadi menerjamnya sangat keras.


"Bodo. Ga peduli. Ga ngurus. Ga mikirin!"


"Oh ga peduli ga ngurus ga mikirin? Oke, sepatu lo gue buang ke TPA aja kalo gitu." Zaldi beranjak pergi, namun teriakan Syafa yang menganggil namanya, menghambat perjalanan mulusnya. Syafa berlari dan berdiri tepat di depannya.


"Balikin," ucap Syafa dengan santainya, dengan tangan menodong. Zaldi menepuk tangan itu tanpa memberi sepatu milik Syafa. "Gue minta sepatu kampret."


"Sepatu lo gue buang, kan lo ga peduli tadi."


"Gue ga pedulinya sama lo bukan sama sepatu gue!"


"Sepatu lo sekarang milik gue, tadi kan gue pungut."


"Sialan! Balikin!"


"Ada syaratnya. Besok lo ke rumah sakit disuruh dokter Ani, ke sana berdua, bareng gue. Gak sama yang lain." kata Zaldi sebelum pergi dan melemparkan sepatu Syafa tepat mengenai hidung Syafa.

__ADS_1


"ZALDI LAKNAT!"


__ADS_2