Complicated Bubble

Complicated Bubble
33. Bertengkar?


__ADS_3

Gue tahu lo sedih, jadi biarin gue bikin lo bahagia untuk saat ini.


Complicated Bubble


"Sya, kantin yuk!" ajak Kiyya.


"Kesambet apaan lo ke kantin?" heran Syafa. Bagaimana tidak heran? Kiyya setiap hari menghabiskan waktunya dengan membaca buku di perpustakaan, alasannya untuk mendapatkan piala duta perpustakaan. Hadeuh.


"Cinta!" jawab Kiyya sebal.


"Heh! Selingkuh dari babang Alfa ya lo!? Oh my God! Kiyya insap Ya! Sejak kapan lo jadi playgirl gini buset!"


"Ih apaan sih, gue ga suka sama Alfa Sya!" elak Kiyya.


Alfa El Fakhri Gelkano, ketua eskul band. Gitaris band MARS. Kelas 11 IPS 3. Cukup tampan, dengan mata elang yang memukau disertai kulit sawo matang. Teman sekelas Syafa dan Kiyya ketika kelas 8 SMP lebih tepatnya kelas 8 B. Dulu, ketika kelas 8, Alfa diisukan menyukai Kiyya. Alfa pernah menceritakan hal tersebut kepada Syafa dan Raina. Syafa yang merasa kasihan dengan Alfa membantu Alfa agar dekat dengan Kiyya. Mereka sekarang dekat, namun Kiyya masih saja menganggap Alfa sebagai seorang teman. Padahal, dari sorot mata Kiyya, bisa terlihat jika ia mulai mencintai Alfa. Hal itu dibuktikan Syafa saat Alfa melihat Kiyya dan melemparkan senyumnya, Kiyya menunduk malu dengan pipi yang merah merona. Memang benar, Kiyya itu gengsian akut.


"Gengsian lo mah!" kata Syafa sembari merangkul Kiyya.


"Dengar ya Ki, Alfa itu tulus sama lho, dari SMP dia ngejar lo, gue tahu lo juga suka kan sama dia? Lo belum sadar aja, mangkanya sekali-kali liat perhatian dia ke lo,  percuma jadi duta perpustkaan kalo gak pernah peka sama keadaan sekitar. Yuk lah ke kantin." Syafa menarik tangan Kiyya yang terlhat sedang mencerna setiap kata yang dilontarkan Syafa. Syafa yang bisa membaca gerakan Kiyya pun tersenyum samar.


"Pesan apaan? Gue traktir." kata Kiyya, membuat mata Syafa melotot tak percaya.


"YA ALLAH TERIMA KASIH TELAH MEMBUKAKAN HATI KIYYA YANG PELIT CEM SUEB AKHIRNYA SEKARANG MENAWARKAN DIRI UNTUK NTRAKTIR SYAFA!"


"Diem bocah!" jitak Kiyya. "Mereka liatin lo!" kesal Kiyya.


"Hilih gue ini yang diliatin. Santai aja kali, plototan mereka ga berpengaruh banyak bagi kebahagian gue yang ditraktir sama spesies pelit kayak lo," santai Syafa.


"Kampret. Tau gini gak mau gue traktir lo!" sahut Kiyya.


"Hahaha canda Ki, sensi amat lo," tawa Syafa menderai melihat muka sebal Kiyya yang memerah. Fakta tentang Kiyya adalah, ketika sebal dan sedang malu itu pasti semua mukanya mendadak jadi warna merah udah kayak bakpou strawberrynya pak Zen sumpah!


"Ck yaudah mau mesen apa?" tanya Kiyya, lagi dengan menahan emosinya. Sabar Ki Sabar.


"Mie setan, basreng, sosis bakar sama Milkshake Vanilla ya."


"Gak lagi-lagi gue traktir lo, Sya!" ucap Kiyya sebelum pergi menuju stand pak Zen berhasil membuat Syafa tertawa kegirangan.


"Sya," kata Zaldi sukses mengangetkan  Syafa. Syafa memberhentikan tawanya ketika melihat Zaldi yang sedang tersenyum. Syafa akui, senyuman itu manis.


"Apa?" jawab Syafa, singkat.


"Gue boleh duduk di sini kan?" tanya Zaldi.


"Emang gak ada bangku kosong ya?" Syafa mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, masih sepi.


"Ada sih, tapi gue maunya sama lo."


"Terserah lo, deh." pasrah Syafa.


"Sya," panggil Zaldi lagi.


"Apaan?"


"Lo bisa main basket?" tanya Zaldi.


"Gue gak suka olahraga, capek!" elak Syafa.


"Pantesan lo cebol," ledek Zaldi.


"APA LO BILANG!?"


"Cebol. Lo. Cewek. Cebol," kata Zaldi penuh penekanan.

__ADS_1


"Daripada lo kurus, tulang semua, kekurangan gizi lo!" balas Syafa.


"Gini gini gue ber-ABS, gak kayak lo. Pasti buncit."


"Najong. Kurus tanpa danging kayak gini mana ada berABS! Btw gue gak buncit!"


"Oh ya? Bukannya lo buncit ya? Kan lo cebol."


"Zaldi! Lo tuh ya alien darimana sih ngusik hidup gue mulu!"


"Tapi senengkan diganggu sama cowok tampan kayak gue?"


"ENGGAK! BIG NO!"


"Nanti juga lama-lama suka."


"Kepedean lo tinggi banget. Pantes kurus."


"Apa hubungannya cebol!"


"Mana gue tahu, gue kan Syafa."


"Ihh lucu kamu ya!!!" kata Zaldi dengan gemasnya menarik hidung Syafa.


"ZALDI KAMPRET YA LO! HIDUNG GUE MERAH!" teriak Syafa. Zaldi melepaskan tarikannya dan tertawa lepas melihat hidung Syafa yang merah. Syafa pun melakukan aksi balas dendam, ia menjewer kuping Zaldi dengan kuat tanpa ampun!


"Lepas Sya, gila jeweran lo maut banget dah."


"Gak mau gue lepas sebelum merah!"


Zaldi tersenyum mendengar ucapan Syafa, entah apa yang membuatnya tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum, gue tahu gue cantik."


"Ih Zaldi!" Syafa mengeratkan jeweranya. "******! Tuman! Rasain!" kesal Syafa.


"Ampun Sya, sakit ini sumpah!"


"Bodoamat. Gapeduli. Gangurus. Gananya!"


"Kalo lo ga lepas, gue ambil boneka ollafnya ya Syafa."


Syafa melepaskan jewerannya. "Hih mainnya ancaman lo! Ga seru ah," kata Syafa.


"Mau seru-seruan sama gue kan? Ayo," Zaldi menarik tangan Syafa.


"HEH KUPING GAJAH GUE MAU MAKAN MUMPUNG GUE DITRAKTIR KIYYA!"


"Nanti sama gue aja, gue traktir apapun."


"Dasar tukang maksa!" decak Syafa.


"Gue tahu lo sedih, jadi biarin gue bikin lo bahagia untuk saat ini," ucap Zaldi, matanya tetap menatap lurus ke depan. Membuat Syafa keheranan setengah jiwa raga hidup, alay.


Zaldi tetap menarik tangan Syafa, sedangkan Syafa sekarang pasrah sudah, lagian Zaldi lelaki baik bukan?


"Lapangan basket in door?" tanya Syafa.


"Iya ini lapangan basket. Kayak baru masuk ke sini aja lo, udah kelas 2 juga," ledek Zaldi, ia berjalan menuju kumpulan bola bakset diikuti oleh Syafa di belakang.


"Ish lo tuh jelek-jelekin gue mulu!" Syafa memukul bahu Zaldi.


"Gak dijelek-jelekin sama gue juga, lo udah jelek," tangan Zaldi yang memegang bola basket, dengan gerakan cepat menekankan bola basket itu di kening Syafa, pelan.

__ADS_1


"ALIEN DARI MANA SIH LO!" teriak Syafa sangat super duper kesal setengah mati!


"Marah-marah mulu, darah tinggi baru tahu lo," sahut Zaldi, tangannya mulai memantulkan bola basket itu, ia melempar senyum ke arah Syafa.


"Mau belajar basket?" tanya Zaldi, namun Syafa hanya diam dengan menampakan muka kesal.


"Gue tahu lo mau belajar basket. Nih," Zaldi melemparkan basket ke arah Syafa, dan dapat ditangkap Syafa. Syafa berdecak lagi dan lagi. Untung dia bisa menangkap basket yang hampir mengenai hidungnya. Zaldi sial! umpat Syafa.


Syafa melemparkan basket itu ke arah Zaldi, dan Zaldi kembali melemparkan basket kepada Syaa membuat Syafa semakin kesal. Sabarkan Syafa Ya Allah.


"Gue gak bisa main basket ih!"


"Ya mangkanya belajar," jawab Zaldi.


"Gue gak suka olahraga Zaldi!"


"Harus suka Sya! Gini nih caranya." Zaldi memegang tangan Syafa yang memegang bola basket. Syafa mendongkakan kepalanya, matanya melihat Zaldi dengan intens.


"Gak usah pegang-pegang tangan Syafa!" Rendra tiba-tiba datang langsung melepaskan tangan Zaldi yang memegang tangan Syafa. Syafa terkejut melihat kehadiran Rendra yang mendadak sedangkan Zaldi tetap santai dengan tampang watadosnya.


"Santai aja kali," kata Zaldi.


"Lo siapa!?" ucap Rendra.


"Bukannya gue udah pernah ngenalin diri ke lo ya?"


"Jangan megang-megang tangan cewek gue!" tekan Rendra.


"Cowok mana yang tega ninggalin cewenya malam-malam?" tanya Zaldi mampun me-skak-Rendra.


"Gak bisa jawab kan lo. Jangan deketin Syafa kalau ujung-ujungnya lo sakitin."


"Kalau lo nyakitin Syafa sekali lagi, yang harus lo tahu adalah, lo cowo pecundang!" perkataan Zaldi ini mampu membuat Rendra naik pitam dan hampir melayangkan tonjokan kepada Zaldi kalau saja Syafa tidak menahannya.


"Jangan Ren!" cegah Syafa. Rendra menurunkan tangannya dan menatap Syafa.


"Ikut aku," Rendra menarik tangan Syafa keluar dari tempat ini. Sedangkan Zaldi hanya tersenyum sinis melihat kepergian mereka "Kalo lo diapa-apain sama dia, jangan lupa bilang sama gue." Syafa bisa menangkap lontaran Zaldi sebelum akhirnya ia benar-benar pergi bersama Rendra.


"Hebat ya kamu, bahagia sama cowok lain." kata Rendra.


"Kamu jauh lebih hebat, selalu bahagia sama cewek lain," jawab Syafa.


"Sya, tadi malam Kanaya butuh aku, kenapa sih? Biasanya juga kamu ngertiin aku?"  heran Rendra.


"Aku juga butuh kamu Rendra!"


"Kanaya sakit Sya," Rendra mengelus rambut Syafa, mencoba menenangkan gadisnya.


"Sesayang itu kah kamu sama Kanaya?" lirih Syafa.


"Kamu cemburu?" goda Rendra.


"Kalau tahu aku cemburu, kenapa kamu lebih milih dia dibanding aku!?"


"Oke kamu boleh marah, tapi tolong jangan dekat dengan cowok lain, hatiku sakit."


"Kamu boleh dekat sama cewek lain, dekat banget. Kenapa aku gak boleh?!"


"Kamu cinta gak sih sama aku?"


"Kamu raguin aku iya?"


"Bukannya aku raguin kamu, tapi sikap kamu yang bikin aku bingung!"

__ADS_1


__ADS_2