
"Perjalanan cinta itu tak semulus yang ada difikiran. Entahlah, mencintaimu itu tak ada berhentinya.Rambu lalu lintas pun tak mengentikan cinta ini.
Jalanan selalu saja berbatu. Aku terjatuh dan terluka.Lama sudah aku berjalan sendiri di perjalanan cinta ini. Aku berjuang seorang diri
Nyarisku ingin berhenti, namun aku sudah terlanjur berjuang sejauh ini. Nelangsa sendiri, dan kau sama sekali tak peduli."
Complicated Bubble
Hari ini Kamis, seperti biasa, Syafa memberikan roti keju, susu full cream, bubble gum dan milkita.
Syafa masih di dalam kelasnya dan bersiap untuk mengantarkan pesanan Rendra. Dia melirik ke arah jam tangannya, ah sudah siang, Syafa telat bangun tadi, biasa wanita sedang datang bulan, ya, mager untuk bangun shubuh.
Karena kesiangan, Syafa tidak sarapan, dia pun terburu-buru mencari plastik berlogo indomart di dalam tasnya.
Teman-temannya, Raina, Atika, Fiza, Kiyya dan Naira sedang pergi ke perpus tadi pagi. Biasa, piket perpustakaan. Sekadar pemberitahuan, mereka anggota pencinta perpustakaan, setiap anggota pencinta perpustakaan diwajibkan piket dan mendapatkan hak meminjam lebih lama, dan diperbolehkan meminjam banyak buku. Syafa juga anggota pencinta perpustakaan, tetapi Syafa piket perpus di hari lain.
"Santai aja kali, Sya," ucap Rendra yang tiba-tiba muncul.
"Ih ngangetin aja!" kaget Syafa refleks menginjak kaki Rendra.
"Sakit tau Sya!"
"Bodoamat, by the way ngapain kesini?"
"Buat lo," Rendra menyodorkan kotak makan berwarna biru, ah warna kesukaan Syafa, darimana Rendra tahu?
"Bekal?"
"Iya, lo lagi PMS, pasti kesiangan, sengaja gue bawain bekal, lo punya maag kan? Makan, gue gak mau lo sakit. Gue pergi dulu, ada perlu di OSIS."
Deg
'Dari mana Rendra tahu semua tentang gue? Padahal gue jarang update tentang diri gue di sosial media deh,' batin Syafa heran.
Saat syafa sedang beradu argumen dengan batinnya, tiba-tiba bel berbunyi, pertanda jam pertama akan dimulai, syafa menaruh kotak makan Rendra di laci nya dan langsung mempersiapkan buku tulis, tempat pesil, LKS dan buku paket pelajaran Matematika.
***
"Cinta itu anugrah terindah. Indahnya seindah fajar di pagi hari. Namun setelah keindahan ada namanya sebuah ujian cinta.
Terlanjur mencintai tapi juga sedang disakiti. Aku ingin berhenti, tapi telat, hati ini sudah terkunci."
Complicated Bubble
"Tik, kanti kuy," ajak Kiyya, kebetulan di kelas hanya tersisa Syafa, Kiyya, Tika, Naira. Raina dan Fiza pergi ke toilet, biasa, wanita kalau ke toilet pasti diantar, right?
"Gak ah, gak laper Ki."
"Lo kan belum makan, Tik," sahut Naira.
'Tika belum makan?' batin Syafa.
"Gue gak mau makanan kantin ah."
"Tik makan gih," celetuk Syafa sambil menyodorkan kotak makan yang diberi Rendra.
"Gak usah sok care deh."
"Hm, ini dari Rendra buat lo, tadi pagi nitip ke gue, soalnya lo gak ada di kelas," ucap Syafa. Mata Atika langsung berbinar mendengar Rendra membuat bekal untuknya, lalu Atika mengambil kotak makan berwarna biru itu.
"Serius Sya?"
"Iya, makan gih," ucap Syafa sambil tersenyum melihat Atika sedang makan dengan lahap.
"ADA SYAFA?"
"Gue Syafa."
__ADS_1
"Lo dipanggil kak Dona."
"Ngapain?"
"Gak tahu."
Syafa akhirnya berjalan seorang diri ke lapangan basket, awalnya Kiyya dan Naira ingin ikut dengannya, namun dia menolaknya dengan alasan, Atika masih makan.
Saat Syafa tiba di lapangan basket yang ramenya naudzubillah, ah gimana tidak, kak Dona lho yang akan tanding basket, Kak Dona ketua eksul basket putri melawan Syafa, gadis biasa yang gak jago-jago amat bermain basket.
Syafa menuju ke tengah lapangan, menemui Dona yang sedang memegang bola basket sambil menatap nya.
"Ada apa ya kak?"
"Kita tanding basket, one by one, kalau lo kalah, lo harus jauhin Rendra, kalau lo menang terserah mau ngasih gue hukuman apa."
"Emang harus banget ya tanding basket sama gue?"
"Terserah sih, kalau gak mau, sahabat lo yang jadi jaminan."
"Yaudah kita tanding sekarang, tapi gue ganti baju dulu."
"Gak usah ganti baju, keburu masuk."
Pertandingan dimulai, Dona dengan gesit memasukan bola ke dalam ring, ah Syafa ketinggalan jauh, mengingat hukuman dia jika kalah yaitu menjauhi Rendra, akhirnya dengan seluruh tenaga, dia mencoba mengalahkan Dona, sampai akhirnya dia berhasil memang, lalu Syafa memberi hukuman kepada Dona, yaitu jangan pernah menyakiti sahabat-sahabatnya, simple kan?
"Syafa lo keren banget tadi ngalahin Dona,"
"Syafa gak nyangka gue."
"Sya badan lo bocil tapi kok bisa ngalahin kak Dona ya?"
"Selamat ya Sya."
"Wuih keren lo Sya."
Ah begitulah beberapa perkataan yang dilontarkan beberapa siswa kepada Syafa yang berhasil mengalahkan ketua basket putri.
***
"Kala itu, kamu bersamanya. Ada sebagian hatiku yang tidak rela."
Complicated Bubble
Sekarang sudah istirahat kedua, Syafa berniat untuk pergi ke kantin bersama Raina dan Fiza.
"Syafa."
"Eh apa Nai?"
"Ke perpus yuk, temenin gua."
"Hmm. Yaudah yuk."
"Lah lo gak ke kantin Sya?"
"Gak dulu deh, lo duluan aja sama Fiza, gue ke perpus sama Naira."
Ketika sampai di perpus, pemandangan yang pertama kali Syafa lihat membuat hati Syafa sakit, bagimana tidak, Syafa melihat Rendra yang sedang mengobrol dengan Atika, yang sekarang bertugas mencatat buku yang dipinjam oleh siswa, karena komputer perpustakaan sedang rusak.
"Naira!" panggil Atika.
"Apa?"
"Lo gantiin gue, gue mau pup dulu."
"*****."
__ADS_1
"Eh Sya, kesana dulu ya."
"Iya."
Syafa menuju ke rak khusus novel, hari ini Syafa berniat untuk meminjam novel, jadi Syafa membaca sinopsis yang sekiranya menarik untuk dipinjam.
Saat Syafa sedang memilih novel, tiba-tiba saja perut Syafa mendadak sakit disertai kepalanya yang pusing, ah ini sudah siang, dan Syafa belum makan, pasti maagnya kambuh, karena Syafa belum meminjam novel, akhirnya dia memaksakan dirinya untuk tetap diperpustakaan.
"Ih kaget tau!" ucap Syafa sambil menampar pipi Rendra dengan novel yang ia pegang, bagaimana tidak terkejut? Saat Syafa sedang membaca sinopsis novel, tiba-tiba muncul muka Rendra yang datar seperti lantai.
"Lain kali gak usah tanding basket sama Dona."
"Kenapa?"
"Jangan tanya kenapa, pokonya gak boleh!"
"Ish udah sana, ganggu aja," ucap Syafa sambil mendorong pelan bahu Rendra.
"Lo akit? Muka lo pucat," Rendra memegang dahi Syafa dengan telapak tangannya, panas, itu yang dirasakan kulit Rendra saat bersentuhan dengan dahi Syafa.
"Gue gak sakit."
"Kita ke UKS," Rendra langsung menarik lembut tangan Syafa.
***
"Sudah kesekian kalinya kamu membuat aku patah hati. Sedangkan kamu? Tidak peduli sama sekali."
Complicated Bubble
"Lia, ada obat maag?" tanya Rendra kepada Lia, petugas PMR.
"Habis Ren,"
"Ck, harusnya ada stock nya dong!"
"Kita lupa beli obat bulan ini, sorry,"
"Ck, yaudah beliin bubur mang Icih, sana! Gak pake lama."
Setelah itu, Rendra dusuk disamping Syafa yang tengah berbaring.
"Kenapa?" tanya Rendra, datar.
"Apa?"
"Kenapa bekal dikasih ke Atika?"
'Ah pasti Rendra tahu dari Atika, tadikan mereka ngobrol di perpus, ****** deh gue, ntar dikira gue gak suka bekal dia, gimana?' batin Syafa.
"Atika belum makan."
"Lo juga belum makan Sya!" ujar Rendra tegas.
"Sekarang lo sakit kan!"
"Sorry," lirih Syafa.
"Jangan bikin khawatir setengah mati Sya."
"Ekhem, nih Ren buburnya," ucap Lia yang tiba-tiba datang.
"Gua pergi ya, takut ganggu hehe."
"Makan, gue gak mau lo tambah sakit."
"Jangan sakit lagi, gue cemas."
__ADS_1