
Perkataan sama tindakan kamu bikin aku hancur. Kalau hati bisa berbicara, bisa dipastikan akan bilang kamu jahat. Jadi tolong, kalau mau nyakitin, jangan keterlaluan.
Complicated Bubble
Mereka kini sudah siap untuk menaklukan labirin yang menjulang di depan mereka. Dengan Wahyu sebagai jurinya. Pasangannya yaitu ; Rendra dengan Shila, Faiq dengan Fiza dan Syafa dengan Raina. Sebelum Wahyu mengibarkan bendera Start. Rendra menatap Syafa dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Syafa yang merasa diperhatikan, melihat sekitar dan tepat berhenti pada tatapan Rendra yang hanya dibatasi oleh Shila. "Kenapa?"
"Hati-hati, kalau ada apa apa telpon gue."
Syafa tersenyum sinis, "Bukannya kata lo gue bisa jaga diri sendiri?"
"GO!" Ujar Wahyu sambil mengibarkan bendera Start. Shila lari menarik tangan Rendra. Dan Syafa melihat itu semua. Harusnya, dia yang memegang tangan Rendra bukan Shila. "Ayo, Sya!" Ujar Raina yang ikut menarik tangan Syafa sekaligus membuyarkan lamunan gadis itu.
Di dalam labirin, Syafa dan Raina tidak berharap cepat cepat keluar dari sana, mereka tidak ingin menang sama sekali, bahkan mereka justru berfoto foto dan selfie. Menikmati detail keindahan labirin yang merupakan labirin terbesar dan terindah di Asia. Di sana juga banyak kupu kupu yang beragam warnanya.
"Sya, kejar kupu kupu itu yuk," ajak Raina, jarinya menunjuk seekor kupu kupu berawarna biru pink dengan bentuk yang cukup langka bagi mereka. Syafa mengangguk saja lalu ikut berlari bersama Raina, berniat menangkap kupu-kupu yang makin cepat terbang ke langit.
Semakin cepat kupu kupu itu terbang, semakin cepat Raina berlari menyamakan kecepatan kupu kupu yang dia kejar, Syafa mencoba menambah kecepatan larinya, namun tiba tiba saja perut bagian kirinya serasa ditusuk tusuk dan diremas remas.
Syafa tetap mencoba berlari sambil memegang perutnya, pasalnya Raina sudah tidak terlihat dari pandangannya, dia ketinggalan jejak, entah Raina berbelok ke kanan atau kiri, Syafa mencoba berbelok ke arah kanan, terus berlari terpegal pegal, sampai akhirnya dia terjebak di jalan buntu. Ikat rambutnya terjatuh, rambutnya kini tergerai, dan Syafa tidak terlalu mempersalahkan itu.
Kepalanya pusing karena terus berlari, dia terduduk di atas rumput labirin, menyenderkan kepalanya ke tembok labirin, memukul perutnya yang sangat menyiksa itu. "Bisa gak sih, sakitnya ditunda dulu, gak tau waktu banget sih!"
Dengan sisa tenaganya, Syafa mengambil handphone di tas selempang berwarna biru yang dia bawa, batrenya tersisa 5%. Buru-buru dia menelpon Raina. Ah, dia baru ingat, tadi Raina menitipkan handphonenya di tas selempang Syafa karena batrenya habis. Sial. Syafa menelpon Shila, Faiq dan Fiza, namun nihil tidak diangkat.
Tiba tiba saja terlintas di benaknya untuk menelpon Rendra. "Angkat, Ren... Please, gue butuh lo." Namun harapannya sia sia, Rendra tidak mengangkat telponnya, padahal tadi lelaki itu sendiri yang bilang jika terjadi apa apa hubungi dia saja. Tapi apa buktinya?
__ADS_1
Tinggal satu harapan Syafa, yaitu Wahyu. Dengan sisa batre 2% Syafa menelpon Wahyu, berharap kali ini Wahyu mengangkat telpon darinya. "Ada apa Sya?"
Handphonenya mati total. "Yah.. kok mati?! Sialan." Syafa menyumpah serapahi handphonenya yang tiba tiba mati sebelum dia berkata satu kata kepada Wahyu yang sudah mengangkat telponnya. Syafa tidak takut sendirian di dalam labirin, hanya saja, rasa sakit ini yang membuatnya ingin cepat keluar dari labirin ini.
Hujan mengguyur kota hujan hari ini. Dan, tepat hari ini Syafa membenci kehadiran hujan di dalam hidupnya. Di mana dia lemah tak berdaya terjebak sendirian tanpa bisa bermain hujan saat ini. Syafa memeluk dirinya sendiri yang sudah basah kuyup. Dia kedinginan, dan dingin itu membuat dirinya sesak, entah kenapa. Pandangannya kini sudah berputar-putar.
tes. tes. tes.
Itu bukan hujan atau air mata, melainkan darah yang keluar dari hidung Syafa. Syafa memegang hidungnya, dan setelah itu telapak tangannya penuh dengan darah. Dadanya yang sesak membuatnya ingin muntah. Ini bukan muntah biasa, yang Syafa muntahkan adalah muntah darah. Setelah itu, pandangannya memutar dan menghitam.
***
Jika kebahagianmu adalah pergi dariku untuk mengejar cintanya. Silahkan. Asal, kalau gagal, jangan kembali lagi. Hatiku bukan tempat pelarian.
Complicated Bubble
"Bukannya Syafa daritadi sama lo? Tadi dia nelpon gue terus dimatiin, gue kira itu lo, kan lo suka gak jelas kalau nelpon," heran Wahyu.
Terlihat raut kecemasan dari wajah Raina. Fiza yang sudah mengenal Raina, tahu bahwa ada yang tidak beres hingga Raina terlihat begitu cemas sekarang, "Kenapa, Rai?" tanyanya.
"Gue sama Syafa kepisah gatau sejak kapan, gue sama dia lagi ngejar kupu-kupu, tiba tiba pas gue nengok ke belakang, Syafa udah gak ada," jelas Raina. Rendra yang awalnya sedang bercanda tawa dengan Shila, kini langsung memberhentikan tawanya. "Terus Syafa sekarang di mana?" tanya Fiza. Raina menggeleng lemah.
Rendra berlari masuk ke dalam labirin. "Rendra, mau ke mana?!" teriak Shila. Namun diabaikan oleh Rendra. Wahyu ikut berlari menyusul Rendra. Tapi sebelum itu, Wahyu memberi amanah ke pada Faiq untuk menjaga Shila, Fiza dan Raina dan membawanya ke gazebo, pasalnya hujan semakin deras. Dan, Faiq mengiyakan permintaan Wahyu, dia membawa para wanita untuk ke gazebo. "Tapi gue mau nyari Syafa!" kekeh Raina.
"Tapi hujan, Rai," ucap Faiq.
__ADS_1
"Syafa juga pasti di sana kehujanan!"
"Rai, tenang, Rai, kak Wahyu sama kak Rendra lagi nyari Syafa. Mereka pasti bisa nyari Syafa berdua," kata Fiza. Raina menatap bengis Shila di depannya yang sedang menangis.
"Coba kalo lo gak kekeh Rendra sama lo. Pasti Rendra jagain Syafa, dan kejadian kayak gini gak bakal terjadi tau gak!" Raina dengan penuh emosi, mendorong Shila. Raina sudah sebal dengan Shila dari kemarin. Faiq menahan Raina agar tidak mendorong Shila, dan Fiza merangkul Shila yang kini ikut tersulut emosi.
"Rendra sendiri yang mau jagain gue!"
"Cih. Sadar diri, Rendra ngomong gitu dengan sangat ter.pak.sa! Dia cuma menghargai lo sebagai cewek. Lo nya aja yang ke.ba.pe.ran!"
Shila tidak terima, dia menjambak rambut Raina, dma terjadilah aksi jambak-jambakan di antara mereka. Hingga Faiq memisahkan mereka berdua, "Udah-udah, kalian bisa gak sih diem, berdoa biar Syafa baik baik aja? Berantem kayak gini cuma nambah masalah baru doang!"
Sementara itu, Rendra kini sudah berlari dan meminjakkan kakinya hampir setengah dari luasnya labirin ini. Namun, dia belum menemukan Syafa. Tadi juga, dia sudah sempat membagi wilayah dengan Wahyu. Tapi sampai saat ini masih belum ada kabar dari Wahyu.
Rendra panik, dia takut kejadian beberapa bulan lalu kembali terulang. "SYAFA LO DI MANA?!!!!" Teriak Rendra frustasi. "ARGH!!!" Kakinya menendang temhok labirin di sampingnya. Lalu tatapannya terhenti ketika melihat ikat rambut Syafa, Rendra berjongkok, mengambilnya. Benar, ini ikat rambut Syafa.
"SYA LO DI MANA?" Teriak Rendra yang kini mempercepat laju larinya. Rendra memberhentikan langkahnya ketika melihat Syafa yang berjarak sepuluh kaki darinya, dan Rendra pastikan gadis itu tidak sadarkan diri. Rendra kembali berlari, setelah tepat di depan Syafa, Rendra duduk di samping Syafa. Tangannya menyingkirkan rambut gadis itu yang menutupi wajahnya.
Rendra terkejut melihat keadaan gadis itu, hidung yang mengalirkan darah, juga darah berceceran ke mana mana yang berasa dari mulut gadis itu, terbukti dengan pipi sebelah kanannya yang berlumur darah. Lemas. Itu yang dirasakan Rendra saat ini, "Hey... bangun," lirih Rendra, berulang kali Rendra menepuk pipi gadis ini, namun tak kunjung sadarkan diri.
Rendra tak bisa menahan air matanya kali ini, berkali kali air matanya jatuh tepat di pipi Syafa. Rendra mengendong Syafa, membiarkan bajunya berlumur darah. "Sya, jangan tinggalin gue, yang kuat ya, gue mohon," kata Rendra, setelah itu mencium lamat dahi Syafa, kemudian lari ke luar labirin.
***
Punya hati itu ditegasin. Udah tau bakal disakitin lagi, ya jangan terima dia masuk ke hati lagi. Kalau dia udah pergi terus balik lagi, percayalah, dia datang cuma mau nyakitin lagi.
__ADS_1
Complicated Bubble