Complicated Bubble

Complicated Bubble
15. Kesetrum


__ADS_3

"Candamu  itu mungkin terdengar biasa, tetapi aku merasa terhibur dengan hadirnya kamu dihidupku.


Namun, sekarang hatiku sakit mendengar candaanmu, dinding cintaku retak, saat tau kamu hanya bercanda dengan perasaanku.


Aku sudah terlanjur mencintamu, tetapi kau malah menghianati cintaku."


-aku, gadis yang lebih cantik dari Raisa.


Complicated Bubble


"Sya."


"Apa?"


"Bahaya tau ada kabel yang kebuka gini."


"Kalau bahaya jangan dipegang."


"Kalau bahaya ya pindahin, Sya."


"Jangan, nanti kesetrum."


Rendra beranjak dari sofa dan berjalan menuju samping stopkontak.


"Mau ngapain?"


"Pindahin kabel."


"Hati-hati."


"Siap bidadari."


Saat Rendra memindahkan kabel tersebut, aliran listrik langsung menyambut tubuhnya.


"Sya!"


"Eh kenapa?" ucap Syafa panik, sangat panik, melihat tubuh Rendra yang berguncang.


"Cabutin steker"


"Yang mana?!"


"Yang itu!"


"Ih yang mana?"


"Yang itu!"


"Lo lepas kabelnya juga Rendra!"


"Gak bisa."


"Sini gue lepasin."


"Jangan nanti lo kesetrum juga."


"Terus gue harus apa!" ujar Syafa tambah panik.


"Cabut steker."


Karena terlalu panik, akhirnya Syafa mencabut satu persatu steker yang ada.


"Cepetan Sya! Ini sakit banget!"


Syafa makin panik lalu mempercepat mencabut steker, saat dirasa sudah semua steker tercabut, ia melihat Rendra. Syafa shock melihat Rendra yang pingsan.


"Rendra!" teriak Syafa sambil lari menuju Rendra.


"Bangun Ren!" ucapnya sambil terus menepuk pipi Rendra dan menguncang-nguncangkam badan Rendra.


"Lo bercanda kan?"


"Rendra jangan bercanda ih!"


"Kan tadi gue bilang jangan dipindahin."


"Ngeyel sih."


"Rendra ih!"


"Jangan bercanda!"

__ADS_1


Setelah beberapa menit Syafa berbicara sendiri sambil menguncangkan badan Rendra. Syafa langsung mengambil kaus kaki nya dan ditaruhnya di hidung Rendra.


"Ren bangung woi!"  ucapnya sambil menyumpal hidung Rendra dengna kaus kakinya. Karena Renda tak kunjung bangun, akhirnya dia menggelitiki telapak laki Rendra.


"Rendra bangun! Jangan bercanda!"


Sudah berbagai cara Syafa lakukan, mulai dari menyumpal kaus kaki, menginjak kaki Rendra, menggelitiki Rendra, tapi Rendra tak kunjung bangun.


Awalnya Syafa fikir itu bercanda, tetapi setelah Syafa melalukan hal gila itu, Rendra belum kunjung bergerak sedikit pun panik, ah sangat sangat panik.


"Rendra! Lo gak bercanda?"


"Rendra bangung ih!" Syafa lari menuju kamarnya untuk mengambil minyak kayu putih.


"Rendra bangun," ucapnya lirih sambil menaruh kepala Rendra di pahanya lalu mengoleskan minyak kayu putih di hidung Rendra.


"Rendra ih bangun."


Rendra yang tak kunjung sadar membuat Syafa menangis sesegukan. Syafa mengambil bantal Sofa dan menaruhnya dibawah kepala Rendra. Syafa kembali menepuk wajah Rendra dan menguncangkan tubuh Rendra sambil menangis.


"Rendra bangun."


"Rendra bercanda lo gak lucu ya."


"Lo sih pake acara mindahin kabel segala."


"Rendra ih bangun."


Ah sudah berapa menit Syafa berbicara sambil menangis? Sudah beberapa menit Rendra tak sadarkan diri membuat dirinya takut kehilangan Rendra.


"RENDRA BANGUN WOI." teriak Syafa di kuping Rendra.


"Rendra," ucapnya sangat lirih, lalu memeluk tubuh Rendra dengan posisi kepalanya berada di atas dada bidang Rendra, tangis Syafa semakin pecah saat memeluk tubuh Rendra.


"Ren-ndra ja-jangan ting-gal-lin gue."


"Ren ba-bangun i-ih."


Rumah sakit, Syafa dari tadi memikirkan caranya agar bisa membawa Rendra ke rumah sakit. Lalu ia mengambil handphonenya. Sial, baterai habis. Ia ingin menelpon rumah sakit lewat telepon rumah tapi jauh, didekat kamar Rifa, Syafa tidak ingin meninggalkan Rendra akhirnya meneriaki nama Rifa.


"RIFA! RIFA! BANTU TETEH! RIFA KELUAR! RIFA SINI KE RUANG TAMU, RIFA!" Teriak Syafa sambil memegang erat tangan Rendra.


"Apa Teh?"


"Teleponin rumah sakit,"


"Aku gak tau nomornya,"


"Search di google,"


"Iya, bentar,"


"Cepat dek,"


"Rendra bangun," ucapnya sambil mengeratkan pegangan tangannya dan mengelus dahi Rendra.


"Udah belum dek?"


"Belum,"


"Cepetan ih,"


"Bangun please hiks," Syafa kembali memeluk tubuh Rendra dengan mengeratkan pegangan tangannya.


"HAHAHAHAHAHA," tawa Rendra terdengar membuat Syafa melepaskan pelukannya dan melihat Rendra yang tertawa.


"Lo... bohongin gue?"


"Hahaha ciee khawatir ya? Sampai nangis gitu hahaha gimana? Akting gue bagus kan?"


"Ih, gak lucu sumpah!" ucap Syafa kemudian lari menuju kamarnya.


"Hayoloh kak Rendra, teh Sya kalau ngambek susah lho dibujuknya," celetuk Rifa.


Rendra lari menuju kamar Syafa dan mengetuk pintu kamar Syafa uang terkunci.


"Syafa, buka pintunya."


"Syafa maaf."


"Sya buka."

__ADS_1


Syafa tidak menyahuti Rendra, hanya suara isak tangis yang terdengar di indra pendengaran Rendra.


"Syafa maafin gue," teriak Rendra.


"Sya, gue pulang ya."


"PULANG AJA SANA!" teriak Syafa dari dalam.


"Yaudah gue pulang."


Setelah Rendra mengucapkan kalimat itu, Syafa membuka pintu. Ia ingin mengambil handphone nya yang masih berada di ruang tamu dalam keadaan mati. Ya tentu Syafa ingin men-charger handphonenya.


"Rendra?" ucapnya lalu segera menutup pintu kamarnya, namun dihalangi Rendra.


"Sya, jangan ditutup lagi."


"Sya, maafin gue, gue tau tadi kelewatan, gue minta maaf," ucap Rendra sambil memeluk Syafa.


"Syafa ngomong, jangan diam aja."


"Tadi gue ngomong sendirian lo gak jawab kan!"


"Maaf."


"Maafin gue Sya."


"Syafa maaf,"


"Lo jahat tau gak!" ucap Syafa kembali menangis.


"Gue kira beneran tau! Gue panik! Mikir dong kalau mau bercanda!"


"Maaf," bisik Rendra.


"Gue janji gak ngulangin lagi deh, lagian lo percaya aja, mana ada kabel yang bisa nempel, hahaha," ucap Rendra sambil menangkup wajah Syafa dan menghapus air mata Syafa.


'Iya juga sih, mana ada kabel yang bisa nempel, gue bodoh banget sih!' Batin Syafa.


"Gak lucu!"


"Maaf."


"Lain kali kalau mau bercanda difikir dua kali!"


"Iya gue salah, maaf."


"Gue janji gak bakal gitu lagi."


"Janji?"


"Janji."


***


D I L E M A


Dilema hati ini saat tahu bahwa aku mencintaimu


Indahnya hari saat bersamamu, membuat aku ingin terus berada di dekatmu


Lalu saat teringat sahabatku, yang juga mencintaimu


Entahlah, rasanya aku ingin mengalah, aku bingung harus berbuat apa


Memilih berhenti memperjuangkan cintamu


Atau terus memperjuangan cintamu?


Syafa sedang menulis puisi dengan judul DILEMA, untuk mencurahkan keluh kesalnya.


"Drtt drtt drtt."


Handphone Syafa bergetar lalu Syafa mengambil handphonenya yang bergetar yang berada di atas nakas. Syafa tersenyum saat mengetahui siapa yang mengirinnya SMS.


Rendrazha Di Hatiku


Tidur Sya, udah larut.


Ya, nomor Rendra sudah disimpan, oleh Rendra tentunya, lihat saja namanya, sangat alay.


Sudah larut? Iya sekarang jam sudah menunjukan angka 23.23. Waktu yang cukup larut untuk para pelajar, kecuali saat liburan pasti jam segitu masih banyak yang memegang hp.

__ADS_1


Setelah membaca pesan dari Rendra, tanpa membalasnya, Syafa lansung berbaring di atas kasurnya lalu memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpi indahnya.


__ADS_2