
"Cemburu itu tandanya cinta, bukan? Kalau saya sudah cemburu, seharusnya kamu tahu, tanpa harus saya beritahu, bahwa saya mencintaimu."
Complicated Bubble
"Ren, ambilin air sana!" ujar Syafa sambil menyodorkan ember kepada Rendra.
"Lo nyuruh gue?"
"Iya lah, siapa lagi."
"Ambil aja sendiri, punya kaki kan lo?"
"Ih kok gitu sih."
"Gitu apa?"
"Gak jadi," ucap Syafa serasa pergi ke tempat wudhu yang terdapat banyak keran air untuk mengisi air di dalam ember. Setelah cukup, Syafa pun kembali ke gudang.
***
"Jangan dekat-dekat yang lain, selain diriku,
Bukannya aku egois
Tetapi harusnya kau tahu, Bahwa hatiku sedang menangis."
Complicated Bubble
"Mau gue bantuin gak?" ucap seseorang.
"Lo siapa?"
"Zaldi kelas 11 IPA 4, lo Syafa kan?" ucap Zaldi, sok tahu.
"Kok lo tau gue?"
"Ya siapa, sih, yang gak tau Syafa Sabila yang pintar dan selalu di puji guru, belum lagi kadang tampil di depan."
"Gak usah berlebihan, Zal."
"Fakta tau, Sya."
"Eh, tadi katanya mau bantuin, nih embernya," ucap Syafa seraya memberikan ember kepada Zaldi.
"Mau kemana?"
"Gudang."
"Lah ngapain? Mau berduaan sama setan?"
"Mau konser."
"Terus ini air untuk apa coba?"
"Buat mandiin setannya."
"Kenapa gak buat minum lo aja?"
"Lo aja yang minum."
"Gak ah, gak segar."
"Terus yang segar apa?"
"Air kencing."
"Emang pernah nyoba?"
"Sering, setiap selesai makan."
"Hahahaha, yakali."
"Gak percaya? Perlu bukti? Nih gua bawa kencing gue. Minum gih, enak lho!" ucap Zaldi sambil menyodorkan tupperware berwarna merah kepada Syafa.
"Dih, ogah!"
"Tenang, kencing gue manis kok."
"Hahaha mana ada!"
"Siapa lo? Kenapa bisa sama Syafa?" ucap Rendra yang tiba-tiba datang dengan membawa dua botol teh pucuk.
"Gue? Zaldi."
"Sini biar gue yang bawa!" ujar Rendra sambil merebut ember yang berada di genggaman Zaldi.
__ADS_1
"Eittss! Santai, dong."
"Udah, yuk Sya, keburu sore," ucap Rendra sambil menarik tangan kiri Syafa dan mengabaikan ucapan Zaldi.
"Eh, entar dulu, Sya!" celetuk Zaldi seraya memegang tangan kanan Syafa.
"Gak usah pegang-pegang tangan Syafa!" Rendra sambil menaruh kembali embernya ke lantai danĀ menepis tangan Zaldi yang memegang tangan Syafa.
"Apa masalahnya? Syafa aja gak papa, ya, gak Sya?" tanya Zaldi, Syafa yang ditanya hanya meringis melihat dua lelaki yang sedang memegang tangannya.
"Masalahnya, yang boleh nyentuh Syafa, cuma gue!"
"Lah aturan darimana!"
"Aturan di kamus gue."
"Bodoamat. Eh, Sya nih minum dulu air kencing gue, biar seger."
"Jangan mau, Sya, air kencing dia asin, mending air kencing gue aja, dijamin manis karena sudah tersebar dan dikonsumsi oleh masyarakat," ucap Rendra seraya menyodorkan teh pucuk yang dibawanya.
"Jangan, Sya, gak ada sensasi segarnya, mending punya gue aja."
"Sya minum ini aja, ini ada rasa cintanya."
"MINUM AJA SENDIRI!" pekik Syafa sambil melepaskan genggaman mereka dan langsung lari ke arah gudang.
"SYAFA TUNGGUIN GUA!" ucap kedua lelaki itu.
"Ngapain lo ikut-ikut? Gak, gak boleh."
"Terserah gue dong, siapa lo ngatur-ngatur."
"ZALDI! LU BELUM PIKET WOI!" teriak seseorang.
"Hahaha ******! Sana piket, byebye Zalblay!" ucap Rendra
"Sialan!"
***
"Kamu manis, aku suka
Kamu nyebelin, aku juga suka
Kamu jail, aku suka
Complicated Bubble
"Lo kenapa lari, sih, Sya?" ucap Rendra ketika sudah sampai di gudang.
"Kalian berisik!"
"Makannya, lain kali jangan mau diajak ngobrol sama cowo, selain gue."
"Lah, kenapa?"
"Cuma gue yang punya hak buat dekat dengan lo."
"Cih."
"Oh iya, Sya! Nih minum, gue tau lo pasti haus."
"Nanti aja," ucap Syafa sambil berusa membuka kemasan pewangi lantai.
"Jangan ditunda, Sya,"
"Terserah gua, dong."
"Ck, susah amat sih tinggal minum doang. Buka mulut lo!" ucap Rendra sambil memegang dagu Syafa, agar Syafa membuka mulutnya. Syafa pun meminum teh pucuk dari Rendra, dengan posisi tangan kanan Rendra memegang botol teh pucuk yang menempel di bibir Syafa, dan tangan kirinya memegang dagu Syafa.
"Ih, maksa banget, sih, jadi orang!" ucap Syafa, kesal, mengembungkan pipinya.
"Lucu deh," celetuk Rendra sambil mencubit pipi Syafa, lembut dan pakai hati tentunya.
"Lepas, ah, gue mau nge-pel," ucap Syafa, memegang tangan Rendra, berniat untuk melepaskan tangan Rendra yang masih mencubit gemas pipinya.
"Bentar, Satu kali lagi nyubitnya."
"AWW! SAKIT WOI!"
"Hahaha, rasain, suruh siapa tadi bikin gue cemburu."
'Aduh, keceplosan lagi, ck dasar mulut gak bisa diajak kompromi,' batin Rendra.
"Cemburu?"
__ADS_1
"Eh, Sya, kok airnya belum dikasih pewangi?"
"Oh iya, belum gue buka, kan tadi diganggu sama lo."
Syafa pun berusaha membuka kemasan pewangi lantai dengan kemasan bermerek super pel disertai gambar lemon.
"Ih susah banget, sih."
Karena geram tak kunjung bisa membuka kemasan tersebut, Syafa pun menggunakan giginya sebagai alat untuk membuka kemasan. Sedangkan Rendra tertawa kecil saat melihat tingkah Syafa.
"Kemasannya terbuat dari apa, sih? Padahal udah sedikit berlubang, tapi kenapa ga keluar-keluar juga sih."
"Lo gak pake hati kali bukanya."
"Ih udah pake hati tau,"
"Atau mungkin kemasannya gak mau sama lo, kan lo galak."
"Ih Rendra!" Geram Syafa, karena terlalu geram dengan Rendra ia sampai menekan kemasan super pel dengan sangat kuat.
"AW!"
"Eh, Sya, kenapa?"
"Mata gue kemasukan pewangi," ucap Syafa lalu mengucek-ngucek mata sebelah kanannya.
"Jangan dikucek-kucek, Sya," cegah Rendra
"Perih tau, Ren."
"Iya tau, tapi kalau di kucek bisa makin parah. Coba lo merem dulu."
Syafa pun memejamkan sebelah matanya, menuruti perintah Rendra.
"Kalau udah gak terlalu perih, bilang ke gue."
"Buat apa?"
"Udah, tinggal bilang."
"Udah lumayan gak perih, nih."
"Sini gue tiupin, jangan nolak."
Rendra pun meniup mata Syafa, secara perlahan.
"Sshh, perih," adu Syafa yang kembali memejamkan matanya. Rendra yang melihat Syafa memejamkan matanya langsung membuka mata Syafa secara perlahan dengan tangannya, lalu meniupnya kembali.
***
"Saya rindu, rindu masa-masa kamu membuat saya bahagia."
Complicated Bubble
"udah gak perih?"
"Iya sudah gak perih, thanks."
"Lain kali, kalau sebel-nya ke gue jangan dilampiasin ke yang lain, kan kena batunya, jadi intinya lo dilarang sebel sama gue."
"Eh, gimana gak sebel coba, kan lo emang dasarnya nyuebelin!"
"Yasudah, cepat bersihkan gudang ini."
Syafa pun menge-pel lantai gudang.
"Ck, masa gue doang."
"Mau dibantuin, nih?"
"Ya, mau lah!"
Detik itu juga, Rendra langsung berdiri dibelakang Syafa. Lalu meletakkan tangannya diatas tangan Syafa yang sedang memegang pel-an.
"Mau ngapain?"
"Bantuin lo."
"Ya, gak gini juga kali."
"Gue maunya gini,"
"Lo kan bisa pake pel-an yang lain."
"Kita bersihkan bersama-sama."
__ADS_1
Mereka mengepel lantai gudang, hingga bersih.
"ASTAGA! GUE LUPA! RAINA NUNGGUIN GUE! GUE DULUAN, BYE!" ucap Syafa sambil berlari meninggalkan Rendra, sedangkan Rendra tersenyum tipis melihatnya.