Complicated Bubble

Complicated Bubble
14. Nasi Goreng


__ADS_3

"Mencintai dalam doa itu lebih mulia. Karena sejatinya cinta itu, saling mendoakan dalam diam."


Complicated Bubble


Saat ini, Syafa sedang berada di ruang MIPA club. Ya, Syafa mengikuti eskul MIPA. Syafa sangat suka pelajaran fisika, tetapi tidak suka pelajaran matematika terlebih biologi. Eits, siapa sangka cita-cita Syafa menjadi seorang dokter. Aneh bukan? Bercita-cita dokter tetapi tidak suka mata pelajaran biologi.


Tadi, ketika di lapangan, Rendra mengajak Syafa membuat kue dirumahnya. Tapi Syafa menolak, dengan alasan eskul.


Ah, mengingat kejadian di lapangan tadi membuat Syafa tersenyum sendiri layaknya orang gila yang sedang menemukan anaknya.


"Syafa?"


"Eh iya, apa Ki?"


"Lo kok senyum-senyum sendiri? Sehat?"


"Alhamdulillah, sehat kok, Kak Kiyya perhatian banget deh, haha."


Kiyya Sari Pratiwi, teman sekelas Syafa yang juga mengikuti eksul MIPA, ah Kiyya sangat suka pelajaran matematika, tetapi kiyya tak suka pelajaran fisika, berbanding terbalik dengan Syafa. Selain kiyya ada juga Naira yang menyukai pelajaran biologi.


"Pulang berapa menit lagi, Sya?" tanya Naira.


"Tumben nanya pulang? Biasanya betah banget eskul."


"Hari ini kan bahas fisika, gue sukanya biologi."


"Enakan fisika tau, Nai. Biologi bukunya tebal."


"Fisika ngitung-ngitung, gak suka gue."


"Rumus fisika itu dikit tau, Nai gak kayak matematika."


"Eh tapi rumitan fisika tau, Sya," celetuk Kiyya.


"Yeuh dasar aja lo sukanya matematika."


"Lah lo juga dasarnya aja pinter fisika."


"Udah-udah, gue nanya apa malah jawabannya merembet kemana-mana, berapa menit lagi woi?" lerai Naira.


"Harusnya sih udah pulang, tapi Pak Wawan belum ngebubarin," jawab Syafa


"Kan fisika itu selalu lama, karena yang ngajar pak Wawan, cepat-cepat lagi ngajarinnya, gue mana ngerti."


"Gak boleh gitu, Nai, gitu-gitu juga guru."


Setelah berbicang sebentar, akhirnya pak Wawan mengakhiri pertemuan kali ini. Semua orang yang eskul MIPA pun keluar dari ruangan.


"Rendra?" 


Syafa terkejut dengan kehadiran Rendra yang duduk di bangku dekat ruangan MIPA club. Siswa yang mengikuti  keclub itu pun kaget akan kedatangan Rendra. Diantara mereka juga ada yang menyapa Rendra, tapi Rendra malah mengajak Syafa pulang.


"Yuk, pulang, bikin kue di rumah gue."


"Tapi udah sore tau, sekarang sudah jam 3 lewat 45 menit."


"Gue udah nunggu lo dari tadi."


"Gue gak boleh pulang terlalu sore apalagi sampai malam."


"Yaudah, kalau gitu gue anterin pulang aja deh, gausah bikin kue."


"Ehm, yaudah deh, yuk."


"Ki, Nai, gue duluan ya,  bye," ucap Syafa setelah itu berjalan di belakang Rendra, menuju parkiran.


"Jangan di belakang ah, Sya, sini, di samping gue," ucap Rendra sambil merangkul Syafa.


"Jangan jauh-jauh, nanti gue rindu," 


***


"Rasa cinta ini membuat hidupku tak karuan. Aku bahagia bisa mencintaimu. Saat kau tertawa, melepaskan semua beban bersamaku, aku ingin memberitahu pada semesta, bahwa aku mencintaimu."


Complicated Bubble


"Mau mampir gak, Ren?"


"Emang di rumah lo ada siapa?"


"Ada mama sama adik gue."


"Yaudah deh, gue mampir, mau kenalan sama calon mertua dan calon adik ipar."


"PD banget sih,"


Syafa turun dari mobil Rendra dan berjalan menuju pintu rumahnya, diikuti Rendra.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Syafa pulang!" teriak Syafa sambil membuka pintu rumahnya, yang memang tidak di kunci, karena mamahnya sudah pulang mengingat ini sudah jam 4, pasti mama sudah pulang.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," ucap mama, Syira dan Rifa yang berada di ruang tamu, sedang menonton televisi bersama, biasalah nonton kartun kesuakaan Syira.


"Sama siapa teh?" tanya Rifa yang menyadari Syafa tidak sendiri.


"Sama teman."


"Ralat, calon imam," tukas Rendra.


"Ciee teteh udah punya pacar," ucap Syira dan Rifa berbarengan.


"Teman doang tau, gak usah sok tau ish," sebal Syafa,  lalu berjalan ke arah mamahnya dan menyalami tangan mamahnya lalu duduk di sofa.


"Assalamu'alaikum Tante," ucap Rendra sambil menyalimi tangan mama Syafa lalu duduk samping Syafa.


"Wa'alaikumussalam, kamu siapanya Syafa?" Tanya mamah Syafa, dengan penuh keheranan.


"Aku Rendra, kakak kelas Syafa yang nanti akan menjadi imam Syafa."


"Calon imam? Suami maksudmu?"


"Iya Tante, habis anak Tante manis, sih."


"Cieeee manis," goda Rifa, adik pertama Syafa, sekarang duduk di bangku SMP kelas 2, dari dulu memang rifa sangat suka sekali menggoda kakaknya itu, dengan alasan lucu jika wajah kakaknya memerah.


"Ya manis lah ga kek lo, pait,"


"Dih manis lah gue mah, lo aja pernah ngakuin."


"Dulu sih iya manis, sekarang mah pait,"


"Udah-udah manisan juga Syira," ucap Syira, si bungsu yang masih duduk di bangku SD, kelas 3.


"Kapan lamaran?" Goda mama.


"Mama mah, jangan percaya sama dia, dia mah suka ngada-ngada, mah," ucap Syafa


"Sebenernya sih mau sekarang Tan, tapi Sya pasti gak mau, jadi nanti saja beberapa tahun kemudian, saya juga sekalian ingin menyiapkan semuanya."


"Ditunggu lho, lamarannya."


"Siap 45 Tante,"


"Jangan Tante ah, mama saja,"


"Mah, Sya ganti baju dulu, gerah," ucap Syafa yang tidak suka dengan topik pembicaraan mamanha dan Rendra langsung pergi ke atas, menuju kamarnya.


Selesai ganti baju, Syafa langsung menemui Rendra seorang diri yang duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Mama mana Ren?"


"Mama sama Syira pergi ke sekolah, ada urusan mendadak. Kalau Rifa di kamarnya."


"Oh," Syafa ber-oh ria, sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Lalu berjalan menuju dapur.


"Mau kemana?"


"Dapur."


"Gue ikut."


"Ngapain ikut-ikut?" 


"Lo mau masak?" 


"Iya."


"Gue masakin buat lo."


"Emang bisa?"


"Bisa."


"Masak apa?" 


"Nasi goreng,"


"Terus kalau lo yang masak, gue ngapain?" tanya Syafa yang melihat Rendra sedang mempersiapkan bahan-bahan.


"Bikin minum aja, ada buah naga tuh, bikin es naga aja."


"Di jus?"


"Jangan,"


"Lalu?"

__ADS_1


"Potong-potong saja dulu buah naganya."


Syafa memotong buah naga menjadi kotak-kotak, lalu memasukannya kedalam sebuah wadah kaca.


"Terus diapakan lagi?"


"Kasih susu secukupnya, setelah itu beri air secukupnya tambahkan perasan lemon, ehm lemonnya setengah aja."


"Seperti ini?"


"Iya, coba sini gue minum, takut kurang manis,"


"Gue saja yang minum,"


"Eh jangan,"


"Kenapa?"


"Kalau lo  yang minum duluan, es nya bisa manis banget, nanti diabetes."


"Lah kok bisa manis banget?"


"Kan lo manis banget, gue aja gak bosen liatnya,"


"Terserah,"


"Tambahkan susunya Sya," sahut Rendra setelah mengicip minuman itu.


"Aw," sahut Rendra tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Kecipratan sambal dikit. Grogi masak ditemani bidadari."


"Kan udah gue bilang, gue aja yang masak."


"Bukannya tiupin malah nyalahin gue."


Syafa meniup pelan mata Rendra. Dengan memegang tsngan rendra yang dipakai untuk membuka matanya yang perih. Ya karena dia jinjit menyamakan tinggi badan Rendra, biar tidak jatuh tentunya.


"Udah belum?"


"Belum."


"Itu udah gak merah matanya," ucap Syafa sambil mengalihkan pandangannya ke arah muka tampan Rendra. Ah Rendra tampan sekali.


"Ngapain liat-liat muka gue?"


"Ge-er!" sahut Syafa, melepaskan genggamannya pada tangan Rendra.


Setelah selesai masak dua porsi nasi goreng dan menaruhnya di piring, Rendra langsung meletakkannya di depan Syafa.


"Dimakan Sya,"


"Iya," ucap Syafa sambil memakan nasi goreng buatan Rendra.


'*****, nasi goreng buatan Rendra lebih mantap daripada buatan gua! Kampret,' batin Syafa.


"Gimana Sya?"


"Enak banget Ren, lain kali masakin lagi ya."


"Makannya jangan cepat-cepat Sya."


"Uhuk uhuk'"'


"Kan jadi keselak, nih cepat minum," ucap Rendra sambil menyodorkan es naga.


"Ih enak banget es nya, segar!"


"Muka lo lucu," ucap Rendra sambil mencolok-colok pipi Syafa.


...


"Sya," panggil Rendra.


"Apa? Gue lagi nyuci piring."


"Sini gue bantuin."


"Gak usah, tadi lo kan udah masak."


"Memangnya kenapa?"


"Nanti capek."


"Yaudah, gue bantuin liat aja ya," ucap Rendra sambil melihat Syafa yang sedang menyuci piring.

__ADS_1


"Lo selalu cantik. Gue suka."


__ADS_2