Complicated Bubble

Complicated Bubble
30. Luka


__ADS_3

Luka. Hanya diri sendiri yang bisa merasakan sakitnya. Sedangkan orang lain tidak bisa merasakan betapa perihnya. Kenapa? Karena luka mengajarkan ketegaran.


Complicated Bubble


"Lo pulang sama siapa Sya?" tanya Raina ketika latihan paskibra telah usai.


"Lo bawa motor?"


"Bawa tapi gue cuma bawa helm satu."


"Teman lo gak ada yang bawa helm?"


"Entah. Coba gue tanya Gery," ucap Raina ingin menghampiri Gery yang sedang berbicang dengan Rendra.


"Jangan Rai," kata Syafa memegang siku Raina.


"Lo mau pulang gak?" tanya Raina.


"Ya mau lah!"


"Yaudah." Raina melepas cekalan Syafa dan berjalan menuju Gery. Sedangkan Syafa mencak mencak gak jelas, komat kamit menyerumpah separahkan tindakan Raina.


"Gery!!!" teriak Raina membuat Gery menaikan satu alisnya. Seperti sedang bertanya "Apaan?"


"Lo bawa helm dua gak?"


"Bawa."


"Pinjam dong, please."


"Buat apa?" Ya, Gery itu sangat pelit kalau soal pinjam meminjam barang, hanya orang tertentu yang boleh memakai barang punyanya.


"Gue mau pulang sama Syafa, tapi gue cuma bawa helm satu."


"Syafa pulang sama gue." sahut Rendra, ia berjalan menuju Syafa yang sedang mematung mendengar ucapan Rendra.


"Ayo, Sya," kata Rendra menarik tangan Syafa.


"RENDRA!" teriak Kanaya tiba-tiba membuat Rendra melepaskan genggaman tangannya dari tangan Syafa. Kanaya berdiri di samping Rendra dan melihat Syafa. "Hai, Syafa!" sapa Kanaya.


"Iya Kak," ramah Syafa.


"Kalian saling kenal?" tanya Rendra heran.


"Barusan kenalan, iya gak Sya?" sahut Kanaya.


"Iya Kak," jawab Syafa.


"Duluan ya Sya, ayok pulang Ren." Kanaya menarik tangan Rendra namun Rendra yang memiliki tenanga lebih kuat berhasil menahan diri agar tidak pergi meninggalkan Syafa.


"Gue anter pacar gue dulu Nay."


"Pacar? Siapa?"


"Syafa," jawan Rendra, tangannya merangkul pundak Syafa.


"Kalian pacaran?" tanya Kanaya tak percaya. Rendra menganggukan kepalanya, membuat Kanaya diam seribu bahasa. Syafa yang melihat reaksi Kanaya langsung tidak enak kepadanya.

__ADS_1


"Heum, Ren, kamu antar kak Kanaya aja, aku bisa pulang sama Raina kok."


Baru saja Rendra membuka mulut ingin berbicara Syafa langsung berbicara lagi "Aku gak papa. Aku duluan, yuk Rai." Syafa menarik tangan Raina. Namun langkah Syafa berhenti karena Gery memanggil namanya.


"Lo pulang sama gue," kata Gery. Awalnya Syafa menolak, namun Gery tidak mau meminjamkan helmnya membuat Raina was-was takut ditilang. Akhirnya Syafa pulang bersama Gery dengan sangat terpaksa, itu pilihan terakhir bukan? Sedangkan reaksi Gery tersenyum bahagia, ia merangkul Syafa berjalan menuju parkiran. Dan hal itu tak lepas dari penglihatan Rendra.


Ingin sekali rasanya Rendra melepaskan rangkulan Gery, namun apa daya, ia tak bisa melakukannya. "Yuk Ren." Kanaya menggengam tangan Rendra, Rendra tersenyum sekilas ke arah Kanaya dan mereka berjalan ke arah parkiran.


***


Jangan tanya kenapa aku bisa mencintaimu. Karena bukan aku yang mau. Tapi itu semua kehendak hatiku.


Kalau cinta bisa aku pilih sendiri, aku mungkin memilih untuk mencintai orang lain yang tak pernah menyakiti.


Complicated Bubble


"Baru pulang?" tanya Rian yang sedang membaca koran di teras rumah, ia bertanya kepada Syafa ketika melihat Syafa berjalan memasuki rumah.


"Iya," jawab Syafa sembari mencium tangan Papanya, gitu-gitu Syafa masih tau adab kok teman-teman.


"Habis ngapain?"


"Eskul."


"Ikut Papa!" tangan Rian menarik tangan anaknya menuju kamar Syafa. Syafa meringis kesakitan karena cekalan papanya itu sangat kuat. Rian melepaskan cekalan tangannya dan memperlihatkan memar merah di tangan Syafa. Tapi itu tidak membuat seorang Rian iba.


"Belajar! Bentar lagi ulangan kan!? Kamu gak boleh keluar dari kamar sampai besok! Dan untuk besok gak ada pulang telat! Gak ada eskul-eskulan!" bentak Rian lalu pergi dan mengunci kamar Syafa dari luar.


Sementara Syafa menangis, bukan, bukan karena tangannya yang memar namun karena hatinya yang sakit mendengar ucapan papanya. Papanya selalu memaksanya ini itu, selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Selalu mengancamnya agar selalu menjadi yang terdepan.


Kadang Syafa berfikir bahwa dunia ini kejam, bagai penjara. Setiap dia bahagia sedikit saja, kebahagiaan itu hangus terbakar oleh api sengsara dan luka. Untuk apa ia dilahirkan di dunia? Hanya untuk merasakan artinya dikekang?


Dia ingin mendengar suara Rendra. Iya, dia butuh Rendra sekarang. Syafa segera menghapus air matanya dan menenangkan dirinya sebelum ia berbicara dengan Rendra. Syafa mengambil handphonenya dan menghubungi Rendra. Namun sayangnya, bukannya mendengar suara Rendra, ia malah mendengar suara operator. Syafa mencoba berkali kali menghubungi Rendra namun tetap saja tak diangkat olehnya.


"Rendra angkat," lirih Syafa. Mata Syafa berbinar ketika Rendra mengangkat telfonnya. Namun itu hanya berlaku sementara, ketika telinganya mendengar suara perempuan, Syafa mengetahui dengan jelas, itu suara Kanaya.


"Hallo? Rendranya lagi ke toilet, ini siapa ya? Ganggu orang lagi ngedate aja."


"Hallo?"


"Ada orang di sana?" Syafa memutuskan untuk mematikan telpon itu, matanya kembali memanas, tanpa disuruh air mata itu kembali menetes membasahi pipi Syafa.


Aku butuh kamu, Rendra.


...


Sementara di tempat lain, Rendra dan Kanaya sedang berada di cafe Green Coffe's. Itu bukan keinginan Rendra, tapi keinginan Kanaya. Awalnya, Rendra ingin langsung pulang. Namun Kanaya memintanya untuk mampir ke cafe terlebih dahulu. Dan Rendra menuruti permintaan Kanaya.


"Gue mau ke toilet dulu ya Nay."


Saat Rendra pergi ke toilet, handphonenya bergetar. Awalnya Kanaya tidak memperdulikan itu. Namun handphone itu terus kembali berdering berkali kali, hingga Kanaya mengambil handphone Rendra. Senyumnya mengembang melihat layar handphone Rendra "Syafa Is Mine calling you"


Kanaya mengankat telfon itu. "Hallo? Rendranya lagi ke toilet, ini siapa ya? Ganggu orang lagi ngedate aja." Ya, Kanaya pura-pura tidak tahu jika orang di seberang sana yang menelfon Rendra adalah Syafa


"Hallo?"


"Ada orang di sana?"

__ADS_1


Kanaya tersenyum kemenangan saat Syafa mematikan telfonnya. Ia segera menaruh handphone Rendra.


Malam sudah tiba, Rendra mengantar pulang Kanaya, rumah Kanaya berada tepat disamping rumah Rendra. Awalnya, Kanaya menawarkan Rendra untuk mampir ke rumahnya, namun Rendra menolak mengingat ia belum mengerjakan pr fisika.


Sebelum tidur, Rendra mengirimi beberapa pesan untuk Syafa.


Hello Sweety


Kok gak dibalas?


Udah tidur kah?


Aku kangen kamu


Aku gak rela tadi kamu dirangkul sama Gery


Besok harus dihapus rangkulan Gerynya ya


Caranya dengan aku rangkul kamu selamaaaaaa lamanya


Dipeluk juga boleh


Eh udah tidur beneran ya?


Aku tidur juga ah


Mau ketemu kamu di mimpi


Good Night Syafa


Lalu setelah terasa cukup, ia mengambil ancang ancang untuk segera terjun ke dalam mimpinya.


Pagi harinya, setelah Rendra ingin menjemput Syafa, Kanaya lagi lagi meminta Rendra untuk mengantarkannya ke sekolah. Ya sama seperti kemarin. Rendra pun menuruti permintaan Kanaya.


Setelah mengantarkan Kanaya, Rendra segera menuju ke sekolahnya untuk bertemu Syafa. Ya benar, tepat sekali, ketika ia selesai memarkikan motornya, ia melihat Syafa sedang bertegur sapa dengan Satpam sekolah. Rendra menggembangkan senyumnya saat Syafa berjalan ke arahnya. Tapi anehnya Syafa berjalan sembari menundukan kepalanya.


"Pagi tuan putri," ucap Rendra.


"Pagi," balas Syafa disertai senyuman singkat. Sebelum akhirnya Syafa menundukan kepalanya lagi.


"Buru-buru banget?" tanya Rendra.


"Iya, aku belum ngerjain pr, duluan ya," jawab Syafa berbohong, ia hanya tak ingin Rendra melihat matanta yang bengkak akibat menangis semalaman.


Syafa berjalan menunduk, mendahului Rendra, tapi Rendra menahannya, Syafa meringis ketika Rendra memegang tangannya yang memar. Rendra yang menyadari tangan Syafa yang memar itu langsung melepaskan genggaman tangannya. Tangannya terulur untuk mengangkat dagu Syafa. Rendra melihat mata Syafa yang membengkak membuatnya semakin khawatir dengan gadis itu.


"Kenapa?" tanya Rendra.


"Gak papa," jawab Syafa dengan senyuman manisnya.


"Sya please jangan bohong lagi, kamu kenapa hey?" kali ini kedua tangannya beranjak untuk menangkup kedua pipi Syafa. Pandangan mereka saling bertemu.


"Apa yang kenapa? Perasaan aku gak papa deh," kekeh Syafa.


"Jangan bikin aku khawatir Sya, jujur sama aku, kamu kenapa? Kenapa mata kamu bengkak? Kenapa tangan kamu memar? Kenapa kemarin pipi kamu merah?" tanya Rendra bertubi-tubi.


"Lepas Ren, aku mau ke kelas." Syafa menarik kedua tangan Rendra agar melepaskan tangkupanya. Matanya tak sengaja melihat Fiza.

__ADS_1


"PIJAH TUNGGUIN GUE!" teriak Syafa. "Aku duluan ya," ucapnya sebelum berlari meninggalkan Rendra.


__ADS_2